Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Identitasku Dipakai di Pernikahan Mantanku

Identitasku Dipakai di Pernikahan Mantanku

Hidup Rani hancur saat Angela, sahabatnya sendiri, mencuri identitasnya demi menikahi Azlan Bagaskara. Tak cukup mengkhianati cinta Rani, Angela bahkan memaksa wanita itu bekerja sebagai pelayan di rumah mereka. Setiap hari Rani harus menelan kepahitan saat menyaksikan kemesraan palsu sang mantan kekasih dengan sahabatnya. Di tengah siksaan batin tersebut, akankah Rani tetap diam atau bangkit menuntut keadilan atas pengkhianatan keji yang menghancurkan masa depannya?
Bab
Bagikan

Bab 3

Azlan berjalan keluar menuju balkon kamar. Ia menghubungi Ron untuk memastikan kondisi Rani. Namun, hingga panggilan yang entah keberapa Ron tidak mengangkatnya. Azlan tentu saja sangat marah. Pria itu menghubungi Rani.

"Halo, akhirnya kamu menghubungi juga, Tuan Azlan Bagaskara."

Suara Rani terdengar tenang dan tegas. Tidak ada tanda-tanda wanita itu habis menangis atau terpuruk.

"Jangan melakukan tindakan bodoh, Ran!"

"Tergantung sikap Anda, Tuan. Anda-lah yang membuat saya bertindak seperti itu."

"Aku bisa jelaskan, Ran. Ini tidak seperti yang kamu bayangkan. Aku tidak mengkhianatimu. Ini semua serba mendadak, aku tidak bisa mengambil keputusan yang akan merugikan perusahaan."

"Ck, bagi keluarga Anda harta memang satu-satunya barang berharga. Tidak peduli jika harus mengorbankan perasaan orang lain. Saya tahu dan dengan sadar mundur dari percaturan nasib ini. Saya bukan pion untuk kalian.''

"Ran, kamu bicara apa, hah?"

"Saya sedang berbicara tentang seorang pecundang dari keluarga Bagaskara."

"Apa yang kamu inginkan, Deswita Maharani?"

"Temui saya secepatnya, atau saya akan membuat keluarga Bagaskara menjadi lelucon seluruh negeri! Bye!"

"Halo, Ran!"

Tut. 

Panggilan diputus sepihak. Azlan mengepalkan tangan erat. Terlihat rahangnya mengeras. Sial, seharusnya kau tidak berurusan dengan Rani.

***

"Dimana Rani ? Aku harus menemuinya sekarang."

Pria berwajah tampan dan mempunyai rahang tegas itu bertanya dengan mata yang berkilat marah. Bagaimana dia tidak marah, rencana bulan madunya harus gagal total gara-gara ancaman Rani. Yang seharusnya ia menghabiskan waktu selama satu minggu di Bali, ini hanya sehari semalam. Dia kembali terbang ke Jakarta untuk menyelesaikan permasalahan yang dibuatnya.

"Dia tidak ada di sini, Az," jawab Ron.

"Aku menyuruhmu untuk menjaganya. Bagaimana dia bisa kabur, hah!" Wajah pria itu terlihat sangat marah. Matanya semakin tajam mengintimidasi sang sahabat. Ron seperti tidak mengenal Azlan lagi.

"Kau benar-benar tidak punya hati, Az. Kau tega mem-"

"Minggir ! Aku mau melihatnya." Azlan mendorong Ron agar menjauh dari pintu kamar yang digunakan untuk menyekap Rani. 

Brak!

Pintu langsung terbuka sempurna. Azlan mengedarkan pandangan matanya ke seluruh penjuru kamar. Namun, dia tidak menemukan Rani. Dengan wajah memerah Azlan segera keluar. Tatapan tajam bak mata elang itu mengarah pada Ron Ibrahim. Tersangka utama hilangnya Rani. Azlan tidak akan memberikan toleransi apapun pada Ron jika Rani benar-benar pergi dari tempat itu. Apalagi sampai terbukti bahwa Ron ikut andil dalam kaburnya Rani.

"Aku sudah bilang, Rani tidak ada di sini. Kau tidak percaya padaku," ucap Ron dengan tenang.Tanpa rasa bersalah Ron memberikan pembelaan untuk dirinya sendiri. Tentu saja sebelum Azlan, si muka menyebalkan itu memuntahkan lahar panas amarahnya.

"Dimana dia?" Kali ini Azlan bertanya dengan nada rendah meskipun masih terdengar geram.

Ron Ibrahim tertawa. Dia menatap netra setajam elang itu dengan sedikit keberanian.

"Mengapa harus semarah itu, Bro? Dia sudah menandatangani surat itu. Kamu juga sudah membuangnya. Seharusnya kamu tidak terprovokasi dengan ucapannya.

Azlan masih tidak tergoyahkan oleh ucapan Ron, menurutnya Ron hanya buang-buang waktunya saja. Ia harus bertemu Rani dan mengendalikan perempuan itu. Jangan sampai perempuan itu mengacaukan semuanya.

"Kau mencari surat kontrak itu 'kan?"

"Apa maksudmu, Ron?"

"Kau hanya butuh surat kontrak itu untuk mengikat Rani. Tidak perlu orangnya ada atau tidak ada di dekatmu. Dalam surat kontrak itu tertulis perjanjian di antara kalian. Ada jam kerja untuk Rani. Bahkan menemanimu termasuk dalam jam kerjanya dia."

Azlan membeku. Yang membuat surat perjanjian itu adalah Angela, ia hanya tahu perjanjian itu mengikat dan mengatur Rani. Azlan sama sekali tidak mengetahui detailnya.

"Lalu untuk apa kamu datang ke sini? Untuk memberikan penjelasan seperti katamu tadi malam? Memberikan penjelasan yang seperti apa?"

"Jaga batasanmu, Ron !" Hardik Azlan.

"Aku selalu menjaga batasanku. Aku hanya bicara fakta saja. Surat kontrak itu berlaku efektif mulai besok hari Senin, sekarang hari Sabtu. Dia bebas pergi kemanapun dia mau."

Azlan mengepalkan tangannya. Entah kenapa kepergian Rani tanpa memberinya kabar, membuatnya ketakutan setengah mati. Bagaimana kalau gadis itu bunuh diri ? Batinnya bertanya-tanya sendiri.

"Selamat datang Tuan Azlan yang terhormat!"

Tiba-tiba suara yang dinantikannya itu terdengar sopan di rungu Azlan Bagaskara. Azlan menoleh. Rani, istri palsunya sekarang berada di hadapannya. Mata sembab wanita itu membuktikan bahwa ada banyak kesedihan dan rasa sakit yang disembunyikannya. Sebuah senyum tipis lebih tepatnya senyum sinis terlukis jelas di bibirnya.

"Persiapkan dirimu! Kita akan bertemu istriku sekarang!"

Hanya jawaban itu yang Rani terima. Sebuah perintah yang mau tidak mau, suka tidak suka harus dia terima. Tidak ada lagi suara lembut dan sikap hangat yang ditunjukkan oleh Azlan.

Rani tidak membantah, hanya melemparkan lirikan lewat ekor matanya ke arah Ron. Wanita itu bergegas masuk ke dalam kamar tanpa mengucap sepatah katapun.

"Semoga kamu tidak menyesal," ucap Ron kepada Azlan, membuat pria itu kembali menatap tajam pada sahabat sekaligus salah satu orang kepercayaannya. Hanya Ron yang berani terang-terangan memberi komentar tentang hidupnya. Biasanya Ron akan mendukung apapun yang dia lakukan. Namun, kali ini Ron memilih berseberangan dengannya.

"Kau berani membantahku!"

"Aku bersaksi Rani adalah gadis yang baik. Kamu akan menyesal melepaskan wanita dengan effort yang besar sepertinya."

"Tahu apa kamu tentang effort? Cari pasangan dulu baru berkomentar tentang hubunganku," balas Azlan. Pria itu mengejek sahabatnya.

Tidak berapa lama Rani keluar dengan pakaian yang lebih rapi. Wanita yang telah menjadi kekasih seorang Azlan Bagaskara selama lima tahun itu terlihat cantik dan segar. Azlan segera menarik Rani untuk keluar dari rumah itu.

"Tolong lepaskan tangan saya!"

Azlan menoleh, tidak biasanya sang kekasih menolak genggaman tangannya. Azlan terlihat tidak suka dengan sikap Rani. Baginya, suka tidak suka Rani harus mau menuruti keinginannya. Bukankah sudah cukup selama lima tahun ini dia memberikan perhatian pada wanita itu? Ah, dimana-mana memang yang namanya wanita itu selalu menyebalkan.

"Apa Anda sama sekali tidak mendengar ucapan saya, Tuan Azlan?"

Rani menghempaskan tangannya dengan kasar. Pegangan tangan Azlan pun terlepas. Setelah itu Rani melangkah terlebih dahulu. Dia tidak mau berjalan bersama dengan Azlan. Sepanjang perjalanan mereka tidak saling bicara. Dua sejoli yang dulunya selalu tampil sempurna kini sudah berubah menjadi dua orang asing yang tak saling kenal hanya dalam hitungan jam.

****

Kediaman Bagaskara.

Rani akan mengingat dengan kuat hari ini. Kalau perlu dia akan memahat semua urutan kejadian hari ini di sudut dinding hati. Merasakan pedihnya sayatan dan juga asinnya air mata. Dia akan mengingat setiap detail rasa sakit yang ditorehkan oleh keluarga terpandang Bagaskara. 

Lihatlah, Adi Bagaskara dan Selin Bagaskara duduk santai menikmati secangkir americano. Mereka terlihat bahagia tanpa beban. Mereka juga tidak menunjukkan rasa penyesalan sedikitpun saat Rani sampai di tempat itu. Rani terasing dalam rumah yang seminggu lalu masih menerimanya dengan begitu hangat. Namun, sebagai anak muda yang baik, Rani menyapa terlebih dahulu kedua mantan calon mertuanya.

"Selamat siang Om, Tante," sapa Rani ramah.

Dua orang itu hanya menoleh sesaat dengan wajah yang begitu sinis. Rani cukup tahu diri. Dia memilih duduk di depan dua orang yang katanya sedang menunggunya itu sementara Azlan berlalu menuju kamarnya di lantai atas.

"Apa kamu tahu kenapa kamu dibawa ke sini, Deswita Maharani?"

Rani enggan menjawab. Dia tidak perlu lagi menjawab pertanyaan itu. Pertanyaan yang hanya akan menyudutkannya, sekalipun dia sudah menjawab dengan benar. Kekuasaan memang selalu menang dimana-mana. Bagaimana dia mengombang-ambingkan orang kecil seperti dirinya hingga karam di tengah lautan air mata dan putus asa.

"Menantuku yang cantik ingin berkenalan denganmu." Pada akhirnya sebuah pengakuan itu keluar juga dari mulut Selin Bagaskara. Wanita yang selama ini bertopeng malaikat di depannya. Tidak masalah. Rani sudah bersahabat dengan rasa sakit itu sendiri.

"Menantu yang mana, Nyonya?"

Rani mengutuk dalam hati, kenapa pertanyaan bodoh itu sampai keluar begitu saja.

"Pertanyaan yang bagus sekali. Siapa lagi menantu keluarga Bagaskara kalau bukan Angela Parker," ucap Selin dengan jumawa.

"Tetapi sangat disayangkan sekali, Anda menyembunyikan menantu hebat Anda itu. Dia tidak akan pernah bergandengan tangan dengan suaminya untuk tampil di muka umum," balas Rani menohok.

Balasan dari Rani tentu saja membuat keduanya terdiam. Adi Bagaskara mengepalkan tangannya, sementara Selin memilih menatap tajam pada Rani. 

Rani terkekeh meski pada akhirnya air mata yang sejak tadi ditahannya harus keluar juga.

"Tak apa, memang aku yang terlalu bodoh. Kupikir ketulusan itu nyata. Namun seiring berjalannya waktu aku menyadari itu hanyalah bayangan di air yang tenang. Terlihat indah namun semu."

"Bagus sekali kamu menyadari posisimu, kami akan membayarmu dengan mahal atas kasus pemakaian identitas ini."

Adi Bagaskara bertepuk tangan melihat ketegaran mantan calon menantunya. Lebih tepatnya menantu yang pura-pura diakuinya.

"Aku kira Ron sudah menjelaskan semuanya kepadamu. Jadi, aku tidak perlu mengulanginya lagi."

Rani mengangguk. Mau seperti apapun dia berlari, dia belum punya modal untuk bertahan hidup di luar sana. Jadilah mulai hari ini dia akan bertahan sekuat tenaga di rumah ini. Seperti perjanjian yang tertulis di surat kontrak, tetapi dalam kontrak itu tertulis bahwa perjanjian berlaku mulai hari Senin besok.

Sebenarnya hati Rani bertanya-tanya tentang Angela Parker. Apakah dia mengenal perempuan itu atau tidak. Rasanya tidak sabar untuk bertemu dengan wanita pecundang itu.

"Dimana menantu hebat Anda itu, Nyonya. Saya tidak sabar ingin bertemu dengannya," ucap Rani sinis.

"Sebagai orang rendahan seharusnya kamu bersabar menunggu majikan kamu datang, Rani."

Rani tidak menjawab lagi, mereka terdiam untuk sementara waktu hingga suara cempreng itu mengagetkan Rani.

"Apa kabarmu Deswita Maharani?"

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95LWS" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95LWS
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CEO YANG MENKUJGKIRBALIKKAN DUNIAKU
8.3
Delia, mahasiswi sederhana, terjerat asmara dengan Arkan, sang pewaris konglomerat. Namun, kebahagiaan itu sirna saat tunangan Arkan muncul dan mempermalukan Delia. Sikap Arkan yang diam membisu meninggalkan luka dalam. Empat tahun berselang, takdir membawa Arkan kembali sebagai CEO di kantor baru Delia. Di tengah bayang masa lalu, Delia harus memilih antara mengundurkan diri, bertahan, atau menuntut balas atas rasa sakitnya yang belum usai.
Sampul Novel Dari Istri Tercampakkan Menjadi Pewaris Berkuasa
9.3
Dunia Kirana runtuh saat suaminya, Bima Nugraha, memamerkan kehamilan selingkuhannya di depan publik. Demi kelancaran bisnis, Bima dan keluarga angkat Kirana bersekongkol menjadikannya tahanan di rumah sendiri. Kirana difitnah gila dan dipaksa menggugurkan kandungannya. Namun, mereka tidak tahu identitas asli Kirana. Dengan satu panggilan, ia menghubungi ayah kandungnya, Antony Suryoatmodjo, konglomerat kuat yang siap menghancurkan Bima hingga tak bersisa.
Sampul Novel Derita Istri Penurut
9.7
Arini adalah sosok istri yang sangat patuh meski harus menghadapi perilaku kasar suaminya, Bagas. Selama ini, ia memilih bungkam dan menutupi penderitaan rumah tangganya dari orang tua. Namun, kesabaran Arini akhirnya mencapai batas hingga ia memutuskan untuk menggugat cerai ke pengadilan agama. Di tengah amarah yang memuncak, mampukah Bagas membujuknya kembali, ataukah tekad Arini untuk berpisah sudah bulat akibat luka batin yang terpendam lama?
Sampul Novel Istri kedua tuan Salman
8.5
Aisyah Sholehatun Nisa, gadis rupawan yang terjebak dalam belenggu utang orang tuanya, terpaksa menerima perjodohan rumit. Ia harus menjadi istri kedua bagi Salman Alfarizki, pria dari keluarga konglomerat yang statusnya hanyalah putra seorang selir. Di tengah pernikahan Salman yang sudah ada, mampukah benih cinta tumbuh di antara mereka? Ikuti perjuangan Aisyah menghadapi takdir dan konflik perasaan dalam dinamika rumah tangga yang penuh tekanan ini.
Sampul Novel Kebenaran Tentang Gundiknya
7.8
Hamil empat bulan, fotografer ini hancur melihat suaminya, Baskara, memperkenalkan bayi wanita lain sebagai putranya. Bukannya menyesal, Baskara justru mempermalukannya dan membela selingkuhannya, Serena. Dianggap lemah dan dramatis, sang istri justru memendam amarah dingin atas pengkhianatan terencana ini. Di balik ketenangan palsunya, ia menyusun strategi besar. Ia bukan lagi istri penurut, melainkan ancaman yang siap menghancurkan sandiwara keluarga sempurna mereka.
Sampul Novel Kembar Manis: Memuaskan Diri dalam Cinta Ayah
8.1
Demi biaya operasi sang ibu, Ningsih rela mengandung anak dari pria asing. Lima tahun berselang, ia kembali sebagai dokter anak sukses dan bertemu Charles, pria misterius dari masa lalunya yang membawa seorang putra. Kejutan tak berhenti di sana, seorang pria lain muncul membawa bayi perempuan yang diklaim sebagai darah daging Ningsih. Di tengah pusaran rahasia lama yang mulai terkuak, mampukah Ningsih menghadapi takdir rumit yang menantinya?