Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel IBU YANG KAU BUANG

IBU YANG KAU BUANG

Memasuki usia senja, tubuh ini tak lagi berdaya untuk terus membanting tulang. Alih-alih mendapatkan kasih sayang, aku justru ditelantarkan oleh anak-anak kandungku sendiri tepat setelah aku berhenti bekerja. Di tengah perlakuan buruk dari darah dagingku, mampukah aku menemukan secercah kebahagiaan untuk menghabiskan sisa umurku? Sebuah kisah pilu tentang perjuangan seorang ibu yang dikhianati oleh anak-anak yang telah ia besarkan dengan penuh pengorbanan.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Di rumah saja Bu Ratmi?"

Aku menolehkan kepalaku saat mendengar pertanyaan yang ditujukan padaku. Kulihat Bu Darti sedang berdiri di depan halamanku dengan menenteng kresek belanjaan. Aku tersenyum tipis ke arahnya.

"Iya, Bu," jawabku singkat.

"Loh, sudah nggak kerja lagi, Bu?" tanya Bu Darti lagi.

Aku menghela napas pelan, Bu Darti adalah tetanggaku yang suka kepo dengan urusan orang lain. Dia selalu mencari gosip untuk dibicarakannya dengan ibu -ibu tetangga lain.

"Nggak, Bu," jawabku sembari mengisi kembali ember dengan air. Aku sedang menyirami tanaman di halaman rumahku ketika Bu Darti sedang lewat.

"Lha kenapa sudah nggak kerja lagi, Bu?" tanyanya lagi.

"Nggak ada apa-apa, Bu. Cuma ingin istirahat saja." Benar 'kan, dia pasti akan kepo denganku yang sudah tidak bekerja ini.

"Assalamu'alaikum, Buk." Dina baru saja datang dengan menaiki sepeda motor.

Aku lega karena dia datang. Aku sedikit malas berbincang dengan Bu Darti. Dia pasti sedang mencari bahan untuk gosip-gosipnya.

"Wa'alaikumussalam, Din," sahutku.

"Eh, Nak Dina. Dari mana nih?" tanya Bu Darti pada Dina.

Dina turun dari motornya, lalu melangkah ke arahku dan meraih tanganku, kemudian mengecup punggung tanganku.

"Dari rumah, Bu," jawabnya pada Bu Darti. "Buk, masuk yuk. Ada yang ingin Dina katakan," ucapnya beralih menatapku.

Aku menganggukkan kepala, lalu meletakkan ember yang aku bawa.

"Bu Darti, kami permisi masuk dulu," tuturku sopan.

"Eh, iya, Bu," sahutnya, kemudian berlalu pergi.

Sementara aku dan Dina masuk ke dalam rumah. Lalu meneruskan langkah ke dapur untuk membuatkan minum sulungku yang baru saja datang.

"Bu Darti kenapa tadi, Buk?" tanya Dina saat kami masih dalam perjalanan ke dapur.

"Cuma sekedar menyapa ibu saja, Din," sahutku.

"Hati-hati loh, Buk. Bu Darti orangnya kan kayak gitu, suka kepo cari bahan gosip," pungkas Dina mengingatkanku.

"Iya, Din. Kamu mau minum apa? Teh atau kopi?"

"Teh aja deh, Buk," jawabnya.

"Ya sudah, kamu tunggu dulu sebentar di depan. Ibu buatkan dulu tehnya."

"Nggak, Dina ikut Ibu ke dapur aja."

"Baiklah, terserah kamu aja," sahutku.

Kami pun telah tiba di dapur. Aku langsung mengisi air di panci, kemudian menaruhnya di atas kompor. Tak lupa aku juga menyalakan kompor tersebut. Lalu aku mengambil gelas, mengisinya dengan gula dan teh.

"Kata Damar, Ibu berhenti bekerja. Bener, Buk?" tanya Dina, dia telah duduk di kursi meja makan sembari bermain ponsel.

"Iya, Din. Ibu sudah terlalu tua untuk terus bekerja. Ibu sering sekali masuk angin," jawabku sembari sibuk menuangkan air panas yang telah mendidih ke dalam gelas. Setelah gelas terisi, aku mengaduknya perlahan.

Dina berdiri dari kursinya, lalu berjalan mendekat ke arahku. "Lalu apa rencana Ibu selanjutnya?"

Aku mengernyitkan keningku ketika mendengar pertanyaan Dina. "Rencana apa maksudnya, Din?"

"Ya ... rencana Ibu setelah berhenti bekerja. Ingin membuka usaha atau bagaimana gitu lho, Buk. Masak Ibu tidak paham," tukas Dina.

"Rencananya ibu mau berangkat ke Tanah Suci dulu, Din. Ibu sangat ingin ke sana."

"Ngapain sih, Buk? Ibu buang-buang uang saja," celetuk Dina.

Aku seketika menghentikan gerakanku mengaduk teh. Lalu aku menoleh ke arah putriku yang sedang berdiri di sampingku itu dengan sorot terluka. Apa salahnya jika memang aku menghabiskan uangku sendiri sesuai dengan keinginanku? Padahal aku tidak meminta uang pada mereka untuk memenuhi keinginanku itu. Tapi mengapa seolah aku meminta uang pada mereka untuk pergi ke Tanah Suci.

"Ibu, harusnya Ibu memakai uang yang Ibu miliki untuk membuka usaha atau tanam modal. Ibu kan sudah tidak bisa bekerja lagi, jadi Ibu juga harus memikirkan masa tua Ibu. Bagaimana nanti kalau Ibu sudah tua dan tidak bisa apa-apa, sakit? Pasti perlu uang untuk berobat kan, Buk?" papar Dina. Seolah tidak memikirkan perasaanku sama sekali.

Hatiku mencelos mendengar ucapan sulungku itu. Bagaimana kata-kata yang menyakitkan hatiku itu keluar dari bibirnya. Bukankah ketika aku tua nanti anak-anakku lah yang berkewajiban mengurusku? Sama ketika aku mengurus mereka di waktu kecil hingga sekarang. Tapi kenapa rasanya seolah mereka tidak membiarkan aku berisritahat di masa tua dengan tenang.

"Buk ... Ibu berikan saja uang yang Ibu miliki pada Damar untuk membuka usaha. Nanti jika usaha Damar berkembang dengan pesat, dia pasti akan memberangkatkan Ibu ke Tanah Suci. Kasihan dia, Buk. Ingin membangun usaha tapi belum memiliki modal," cetus Dina tiba-tiba.

Jadi ini alasan Dina mendatangiku, dia ingin membujukku untuk memberikan uangku pada adiknya. Ternyata kakak beradik itu sama saja. Mereka tidak pernah mengerti aku. Ibunya sendiri.

Ternyata memberikan kasih sayang pada anak-anakku dengan memanjakannya, memberikan apa yang mereka inginkan adalah salah. Aku telah salah dalam mengasuh mereka.

"Jadi kalian tidak mau mengurusku saat aku sudah tua? Begitu maksudmu, Din?" tanyaku dengan suara parau.

"Loh, bukan seperti itu, Buk. Ibu jangan salah paham." Dina terlihat gelagapan mendengar pertanyaanku. "Kami pasti akan bergantian mengurus Ibu. Tapi kami juga butuh biaya untuk melakukannya, Buk. Maka dari itu, Ibu harus mempunyai tabungan. Jangan Ibu habiskan uang yang Ibu miliki untuk hal-hal yang tidak perlu."

"Tidak perlu katamu? Kamu tahu, pergi ke Tanah Suci adalah impian ibu sejak dulu. Tapi teganya kamu mengatakan kalau itu hal yang tidak perlu." Aku menatap Dina dengan raut sendu.

Hatiku sungguh terluka oleh sulungku itu. Susah payah aku membesarkannya, tapi ini balasannya kepadaku. Sungguh tega sekali.

Kenapa yang ada di pikiran mereka hanya ada uang dan uang. Apa kebahagiaan ibunya ini tidak penting sama sekali?

"Ibu tahu bukan itu maksudku, Buk. A-ku hanya ingin Ibu tidak menyalahgunakan uang yang Ibu miliki," ucap Dina terbata.

Aku bergeming mendengar alasan Dina. Hatiku sudah terasa bagai disayat-sayat mengetahui anak-anakku tidak mengerti apa keinginanku.

Aku menghela napas kasar. "Minumlah, Din. Aku ingin istirahat. Jika kamu masih ingin di sini. Silahkan berbincang dengan adikmu," ucapku meraih teh yang baru saja selesai aku buat, lalu menyodorkannya pada sulungku itu.

Setelah cangkir teh berpindah tangan ke tangan Dina. Aku beranjak pergi, meninggalkan Dina yang tampak mematung. Karena tidak biasanya aku mengabaikan kedatangannya. Aku selalu menemaninya ketika dia datang kemari.

Dina selalu datang setiap minggu kemari, saat aku libur bekerja. Katanya dia ingin menghabiskan waktu denganku saat aku libur bekerja.

Aku melangkahkan kaki ke kamar. Saat keluar dari dapur, aku melihat Damar dan juga Feni. Mereka sedang duduk di depan ruang televisi. Nampaknya mereka sedang menunggu hasil pembicaraan Dina denganku.

Aku meneruskan langkah menuju ke kamar. Tidak menghiraukan mereka sama sekali. Hatiku sedang sakit saat ini. Aku tidak mau menambahkannya lagi dengan berbincang dengan mereka.

Setelah tiba di kamar, aku menguncinya dari dalam. Aku tidak mau mereka menggangguku saat ini. Aku sedang ingin sendiri merenungi semua yang terjadi.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95FMN" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95FMN
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Balas Dendam
8.0
Pasca kematian orang tuanya, Alena Geraldine terjebak dalam pernikahan paksa dengan CEO kejam, Azam Dirgantara, akibat ulah paman dan bibinya. Alena diperlakukan layaknya tawanan tanpa cinta, karena Azam hanya memanfaatkannya demi membalas dendam pada Jonatan. Namun, benih cinta justru tumbuh di hati Alena bagi Azam. Ironisnya, Azam masih terobsesi pada cinta pertamanya. Sanggupkah Alena bertahan saat suaminya sendiri mendambakan wanita lain?
Sampul Novel Dendam dan kehilangan
9.1
Kebahagiaan Ardian, polisi muda berbakat, hancur seketika saat istrinya, Mira, tewas mengenaskan. Mira adalah wartawati kriminal yang terbunuh saat meliput kasus pembunuhan berantai yang tengah diselidiki Ardian. Di hadapan jenazah sang istri dan ayah mertuanya, Ardian bersumpah untuk menuntaskan misteri ini. Ia bertekad memburu sang pembunuh dengan tangannya sendiri demi membalaskan dendam atas hilangnya nyawa wanita yang paling ia cintai.
Sampul Novel Gairah sang gadis hiper
7.9
Revi tumbuh dalam kehangatan keluarga yang harmonis, namun sebuah peristiwa kelam merenggut segalanya dan mengubah dirinya menjadi sosok yang terobsesi pada kepuasan seksual. Terjebak dalam lingkaran kegelapan yang seolah tanpa ujung, ia mulai meragukan harga dirinya sendiri. Di tengah kehancuran moral tersebut, Revi terus mempertanyakan apakah wanita dengan masa lalu sepertinya masih layak dicintai oleh pria baik-baik yang tulus.
Sampul Novel Mantan Istri Saya Seorang Konglomerat?
8.3
Tiga tahun Loraine setia mengabdi, namun Marco justru memperlakukannya dengan hina. Muak dengan pengkhianatan suaminya, Loraine memilih cerai demi mengejar warisan triliunan rupiah. Publik awalnya mengira ia gila, hingga identitasnya sebagai miliarder termuda terungkap. Saat Marco melihat mantan istrinya dikelilingi pria tampan, ia menyesal dan memohon untuk rujuk demi aliansi bisnis. Namun, Loraine hanya menatapnya penuh rasa jijik dan sudah tak lagi mencintainya.
Sampul Novel Marriage Life
9.1
Andara Jeo harus menghadapi kenyataan pahit saat mengetahui perselingkuhan Vante Adinan. Padahal, pria itu pernah berjanji untuk selalu menjadikannya prioritas utama dalam hidupnya. Namun, janji manis tersebut hancur seketika saat Vante memilih untuk mengkhianati kepercayaan Andara dan kembali ke pelukan Dena Adisti. Apa yang sebenarnya mendasari pengkhianatan Vante terhadap istrinya? Kisah pilu ini mengungkap retaknya sebuah komitmen pernikahan.
Sampul Novel My Baby
9.5
Kalla Rei memilih mengakhiri hubungan sebelum Romeo Evans mendepaknya demi sebuah taruhan. Mengetahui cinta Romeo hanyalah kepura-puraan, Kalla berusaha bangkit meski harus menanggung luka sendirian. Namun, menghapus jejak pria yang selalu ada di hidupnya bukanlah perkara mudah. Di sisi lain, Romeo justru terjebak dalam dilema besar saat sosok dari masa lalunya muncul kembali secara tak terduga, tepat ketika ia mulai memiliki tambatan hati yang baru.