
Ibu Susu Bayi Presdir
Bab 2
Liana keluar dari ruangan Ethan dengan napas yang sedikit tertahan. Rasanya baru beberapa menit saja ia berada di dalam sana, tetapi tekanan yang diberikan pria itu begitu kuat hingga hampir membuatnya kehilangan keseimbangan.
Tangannya masih menggenggam ponselnya erat, matanya menatap pesan dari pengasuh Noel.
"Noel demam. Aku sudah memberinya obat, tapi dia terus memanggil ‘Papa’ dalam tidurnya."
Jantungnya mencelos. Noel memang sering bertanya tentang ayahnya, tetapi Liana selalu berhasil mengalihkan pembicaraan. Namun, bagaimana jika nanti ia mulai menyadari bahwa ayahnya benar-benar ada—dan berdiri tidak jauh darinya saat ini?
Tidak. Aku tidak boleh membiarkan itu terjadi.
Liana buru-buru memasukkan ponselnya ke dalam tas, lalu berjalan menuju meja kerjanya. Sebagai sekretaris pribadi Ethan, mejanya berada tepat di depan ruangan pria itu. Ini berarti, setiap hari ia akan melihat pria yang telah mengubah hidupnya tanpa ia sadari.
"Liana, kau baik-baik saja?" suara seorang wanita membuyarkan lamunannya.
Liana menoleh dan mendapati seorang wanita dengan rambut hitam sebahu berdiri di depannya dengan senyum ramah.
"Aku Amanda. Sekretaris senior di sini," wanita itu memperkenalkan diri. "Biasanya sekretaris eksekutif tidak bertahan lama dengan Tuan Alvaro. Aku harap kau cukup kuat untuk bertahan."
Liana tersenyum kecil. "Aku akan mencoba."
Amanda terkekeh. "Kau harus lebih dari sekadar mencoba. Tuan Alvaro itu… tidak mudah ditangani."
Liana menghela napas. Tentu saja, ia sudah menyadarinya sejak pertama kali berbicara dengan pria itu.
Belum sempat ia menanggapi, ponselnya kembali bergetar. Kali ini, ia melihat panggilan dari pengasuh Noel.
Liana langsung menjawab, suaranya sedikit khawatir. "Ada apa, Mia?"
"Dema Noel makin tinggi, Liana. Aku sudah memberinya obat, tapi dia tetap lemas dan terus mengigau," suara Mia terdengar panik.
Liana langsung berdiri. Ia tidak bisa menunda ini.
"Aku akan segera pulang," katanya cepat.
Tanpa berpikir panjang, ia berbalik dan berjalan cepat menuju ruangan Ethan. Tanpa mengetuk, ia langsung membuka pintu.
Ethan mengangkat alisnya, tampak tidak senang karena Liana masuk begitu saja. "Apa kau tidak tahu cara mengetuk?"
Liana tidak peduli. "Saya perlu izin pulang lebih awal."
Ethan menyipitkan matanya. "Baru hari pertama bekerja dan kau sudah ingin pulang lebih awal?"
Liana mengangguk cepat. "Ini darurat."
Ethan menutup dokumen yang sedang ia baca, lalu melipat tangannya di depan dada. "Apa alasanmu cukup kuat untuk meninggalkan pekerjaan ini?"
Liana menggigit bibirnya. "Anak saya sakit."
Sejenak, ekspresi Ethan berubah.
"Anak?"
Liana merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Ia lupa bahwa pria ini tidak tahu tentang Noel.
"Ya," katanya cepat. "Saya seorang ibu tunggal, dan anak saya sedang sakit parah. Saya harus pulang."
Ethan menatapnya lama. Ada sesuatu di matanya yang sulit diartikan.
"Baiklah," katanya akhirnya. "Tapi pastikan ini tidak terjadi terlalu sering."
Liana mengangguk dengan lega. "Terima kasih, Tuan Alvaro."
Ia berbalik dan berlari keluar dari ruangan, sama sekali tidak menyadari bahwa Ethan masih menatapnya dengan pandangan penuh tanda tanya.
---
Liana tiba di apartemennya dengan napas terengah. Begitu ia masuk ke dalam, ia melihat Noel terbaring di sofa dengan wajah pucat. Mia, pengasuhnya, duduk di sampingnya dengan ekspresi cemas.
"Noel," Liana langsung berlutut di samping anaknya, meraba dahinya yang panas.
Mata Noel terbuka sedikit, lalu tersenyum lemah. "Mama…"
Air mata menggenang di mata Liana. "Mama di sini, Sayang."
Noel menggenggam tangan ibunya erat, lalu bergumam lemah. "Papa…"
Liana membeku.
Mia menatapnya ragu. "Dia terus mengigau seperti itu sejak tadi."
Liana menghela napas dan mengelus rambut anaknya. "Noel, Papa tidak ada di sini, Sayang."
Noel menggigit bibirnya, matanya mulai berkaca-kaca. "Kenapa Papa tidak pernah datang?"
Liana menutup matanya sejenak. Hatinya sakit mendengar pertanyaan itu.
"Karena…" suaranya tercekat. "Karena Papa sedang jauh."
Noel tidak menjawab. Ia hanya menutup matanya kembali, tertidur dalam pelukan ibunya.
Liana menatap anaknya dengan perasaan campur aduk. Sampai kapan ia bisa menyembunyikan kebenaran ini dari Noel?
---
Keesokan harinya, Liana kembali ke kantor dengan hati-hati. Ia sudah menyiapkan banyak alasan jika Ethan bertanya tentang kepergiannya kemarin.
Namun, saat ia tiba di meja kerjanya, sebuah kejutan menunggunya.
Di atas mejanya, ada sebuah kantong kertas cokelat.
Liana mengernyit. Ia mengambilnya dan membuka isi di dalamnya.
Sebuah botol sirup obat anak-anak.
Jantungnya berdegup keras.
Tidak mungkin…
Ia buru-buru membaca catatan kecil yang terselip di dalamnya.
"Untuk anakmu. Pastikan dia segera sembuh. – E.A"
Liana membeku.
Ethan Alvaro… memberikan ini untuk Noel?
Tapi bagaimana dia tahu jenis obat yang Noel butuhkan?
Liana menoleh ke arah ruangan Ethan, hatinya dipenuhi kebingungan.
Pria itu tidak mungkin tahu, kan? Tidak mungkin dia menyadari sesuatu…
Atau… apakah Ethan mulai curiga?
Liana menggigit bibirnya, merasa seluruh dunianya mulai bergetar. Jika Ethan tahu kebenarannya, apa yang akan terjadi?
Anda Mungkin Juga Suka





