
Ibu Susu Bayi Presdir
Bab 3
Liana duduk di mejanya, tatapan matanya masih terpaku pada botol obat dan catatan kecil dari Ethan. Pikirannya berputar cepat, mencoba mencari alasan yang masuk akal.
Kenapa Ethan melakukan ini?
Pria itu bahkan tidak mengingatnya. Jadi, apa yang membuatnya cukup peduli untuk memberikan obat ini?
Apakah Ethan mulai curiga?
Sebelum Liana bisa menemukan jawabannya, suara berat Ethan terdengar dari dalam ruangan.
"Liana, masuk ke dalam."
Liana terkesiap. Tangannya mengepal erat di pangkuannya sebelum ia menghela napas panjang dan berdiri. Dengan langkah hati-hati, ia berjalan menuju pintu, mengetuknya sekali, lalu masuk.
Ethan sedang berdiri di depan jendela besar yang menghadap ke pemandangan kota. Siluetnya tampak tegas dan dingin.
"Kau terlihat gelisah," katanya tanpa menoleh.
Liana berusaha menjaga ekspresinya tetap tenang. "Saya hanya tidak menyangka Anda memberikan ini."
Ethan berbalik, matanya menatap lurus ke arahnya. "Kau terkejut karena aku perhatian, atau karena sesuatu yang lain?"
Liana menelan ludah. Pria ini terlalu tajam.
"Saya hanya tidak menyangka Anda tahu tentang anak saya," jawabnya hati-hati.
Ethan menyandarkan tubuhnya ke meja, kedua tangannya terlipat di depan dada. "Aku tidak tahu," katanya pelan, tetapi nadanya penuh arti. "Tapi sekarang aku penasaran."
Jantung Liana berdetak lebih cepat.
"Tentang apa?"
"Tentang anakmu," Ethan menatapnya lebih dalam. "Berapa umurnya?"
Liana menegang. Ia tahu ia tidak bisa menghindari pertanyaan ini, tetapi bagaimana pun, ia harus hati-hati.
"Empat tahun lebih," jawabnya, mencoba terdengar santai.
Ethan mengangguk pelan, tetapi tatapan matanya tak lepas dari wajah Liana. "Di mana ayahnya?"
Liana merasakan tenggorokannya mengering. Ia sudah menyiapkan jawaban ini selama bertahun-tahun.
"Ayahnya sudah pergi sejak sebelum dia lahir," katanya, suaranya sedikit bergetar.
Ethan menyipitkan matanya. "Jadi, kau membesarkannya sendiri?"
Liana mengangguk. "Ya. Dan saya harap, tidak ada masalah dengan itu."
Ethan terdiam sejenak, lalu tiba-tiba berjalan mendekat. Napas Liana tercekat saat pria itu berdiri di hadapannya, terlalu dekat.
"Apa aku pernah mengenalmu sebelumnya?"
Jantungnya hampir melompat keluar dari dadanya.
"Tidak, Tuan," jawabnya cepat.
Ethan terus menatapnya, seolah sedang menilai kebenaran di balik kata-katanya.
"Aneh," gumamnya. "Karena aku merasa… kau tidak sepenuhnya asing bagiku."
Liana merasakan kakinya melemas.
"Tidak mungkin," katanya, mencoba tersenyum kecil. "Mungkin Anda hanya terlalu sering bertemu orang baru."
Ethan tidak menjawab. Ia hanya menatap Liana lebih lama sebelum akhirnya berkata, "Kembali bekerja."
Liana langsung berbalik dan berjalan cepat keluar ruangan, tetapi ia tahu, ini belum selesai.
Ethan mulai curiga.
Dan itu berbahaya.
—
Malamnya, Liana duduk di tepi tempat tidur Noel, menatap wajah kecil anaknya yang sedang tertidur lelap. Tangannya terulur, mengelus rambut Noel dengan penuh kasih sayang.
"Apa yang harus Mama lakukan, Sayang?" bisiknya.
Noel menggeliat sedikit, lalu bergumam dalam tidur, "Papa…"
Liana mengatupkan bibirnya erat. Air mata hampir jatuh, tetapi ia menahannya.
Sebelum ia bisa terlalu larut dalam pikirannya, ponselnya bergetar di atas nakas. Liana mengambilnya, lalu matanya membesar saat melihat nama yang tertera di layar.
Ethan Alvaro.
Kenapa pria itu meneleponnya malam-malam begini?
Dengan tangan sedikit gemetar, ia mengangkat panggilan itu.
"Halo?"
"Saat ini kau ada di mana?" suara Ethan terdengar dalam dan dingin.
Liana mengerutkan kening. "Di rumah. Kenapa, Tuan?"
"Aku butuh kau kembali ke kantor sekarang."
Liana terkejut. "Tapi sekarang sudah malam."
"Aku tidak suka mengulang permintaan," kata Ethan tegas. "Datang ke sini dalam waktu tiga puluh menit."
Tanpa memberi kesempatan bagi Liana untuk membantah, Ethan langsung menutup telepon.
Liana menatap ponselnya dengan bingung. Apa yang sebenarnya terjadi?
—
Setengah jam kemudian, Liana berdiri di depan kantor Alvaro Corp. Gedung megah itu masih terang, meskipun sebagian besar karyawan sudah pulang.
Dengan hati-hati, ia masuk ke dalam dan menaiki lift menuju lantai tertinggi. Saat pintu lift terbuka, ia melihat Ethan berdiri di depan jendela kantornya, sama seperti siang tadi.
"Ada apa, Tuan?" tanya Liana, berusaha menjaga nada suaranya tetap profesional.
Ethan berbalik, lalu melemparkan sebuah amplop ke atas meja. "Aku ingin kau menjelaskan ini."
Liana melangkah maju dan mengambil amplop itu. Tangannya sedikit gemetar saat ia menarik keluar isinya.
Matanya membesar.
Dokumen itu berisi informasi tentang dirinya. Tentang kehidupannya sebelum ini. Tentang… Noel.
Ia menelan ludah, berusaha menjaga ekspresinya tetap tenang. "Dari mana Anda mendapatkan ini?"
"Aku memiliki sumberku sendiri," Ethan menjawab. "Kenapa kau tidak pernah menyebutkan tentang anakmu saat wawancara kerja?"
Liana mencoba berpikir cepat. "Karena itu adalah kehidupan pribadi saya. Dan saya tidak berpikir itu relevan dengan pekerjaan ini."
Ethan mengamati ekspresi wajahnya dengan seksama. "Menarik."
Liana mengepalkan tangannya erat. "Jika Anda hanya memanggil saya ke sini untuk menanyakan ini, saya rasa kita sudah selesai."
Ia berbalik untuk pergi, tetapi suara Ethan menghentikannya.
"Liana."
Ia terpaksa berbalik.
Ethan menatapnya tajam. "Anakmu… benar-benar tidak memiliki ayah?"
Liana merasakan jantungnya hampir berhenti.
Ia tahu, ini saatnya ia harus memilih.
Akankah ia terus menyembunyikan kebenaran?
Atau membiarkan Ethan mengetahui semuanya?
Anda Mungkin Juga Suka





