
I Fall Endlessly
Bab 2
Brian meniup ujung pistolnya mengejek lantas kembali menyimpan benda kesayangannya itu di balik jas.
"Aku membantumu menghabisi penghianatmu, Albert," kekeh Brian yang disambut gelak tawa anak buahnya.
Pria itu mengeluarkan sebatang rokok dan membakar ujungnya. Menghisap dalam-dalam rokok itu dan menyuapkan asapnya ke udara dengan tenang, menatap cincin-cincin asapnya dengan begitu santai seolah tak terusik sedikit pun dengan ceceran darah di sana.
"Bukankah ini sangat menyenangkan?" Brian tertawa kecil, seperti mendapat mainan baru yang tidak ternilai harganya. "Ayolah tua bangka, kenapa kau hanya diam, huh?" Brian sungguh menikmati pemandangan ini.
Albert menatapnya sengit. Ia lebih baik kehilangan hidupnya daripada memberikan apa yang diinginkan Brian.
"Kau perlu sedikit permainan sepertinya." Brian menoleh ke belakang, menatap wanita-wanita yang terkurung di jeruji besi.
Brian mengisyaratkan anak buahnya ke arah tempat tahanan itu.
Perempuan-perempuan itu terlihat panik saat satu anak buah Brian membuka sel tahanan.
Fira meremas kuat jemari Neva agar tak melakukan apa pun.
Neva sudah bercucuran keringat dingin.
Anak buah Brian menarik Fira yang memakai baju berbeda dengan yang lain untuk keluar.
Neva hampir mencegahnya tapi para pelayan lain menahannya dengan tatapan memohon dan dua orang menggenggam lengannya.
Neva menggeleng pelan. Ia tak sanggup lagi. Neva tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Fira di tangan pria kejam seperti Brian.
"Jangan biarkan pengorbanannya sia-sia, Nona," bisik salah satu pelayan saat Neva melangkah satu kali untuk menghentikannya.
Neva mendesah kasar. Bisakah ia melihat pelayan pribadinya tersiksa karena menggantikan posisinya?
Kenapa juga ia mau bertukar pakaian tadi dengan Fira?
Fira didorong hingga tersungkur di sebelah kaki Brian.
Pria kejam itu membungkuk dan menarik rambut belakang Fira hingga gadis itu mendongak dan meringis menahan perih di kepalanya.
"Kau cantik juga. Siapa namamu, hm?" tanya Brian begitu lembut tapi masih ada seringai mengerikan di ujung bibirnya.
Fira hanya diam dan memandang benci pada Brian. Tentu saja itu membuat amarah Brian terpancing.
Brian menarik rambut Fira semakin kuat hingga gadis malang itu memekik. "Kau ingin ayahmu bebas, Cantik?"
Dari sudut matanya, Fira mencuri pandang pada Albert yang menatapnya iba. Fira tersenyum samar, memberi tahu bahwa ia baik-baik saja. Sampai mati pun Fira bersumpah akan setia pada Albert dan keluarganya.
"Kau bisu, heh?" tanya Brian geram.
"Apa maumu?" balas Fira sinis.
Brian tertawa nista dan melempar wajah Fira ke samping begitu saja hingga perempuan itu kembali tersungkur di lantai yang kotor karena tergenang darah Doren. "Sayang sekali kau tak punya waktu lagi untuk bertanya pada ayahmu, Cantik. Jadi ...." Brian menghisap rokoknya dalam-dalam lantas mengembuskan asapnya perlahan ke udara. "Katakan saja apa kode rahasia tempat penyimpanan senjata milik ayahmu."
Brian berjongkok di hadapan Fira dan mengepulkan asap rokok di wajah gadis itu hingga Fira terbatuk-batuk dibuatnya. Brian terkekeh senang kemudian berbisik dengan suara seraknya. "Jika kau mengatakannya, aku akan membebaskan kalian. Kau, ayahmu, dan para pelayan cantikmu itu."
Fira tersenyum sinis. "Meskipun aku tahu kodenya, aku tidak akan pernah mengatakannya pada pria licik sepertimu. Iblis!"
Brian tertawa kencang karena merasa tertantang oleh gadis ini. "Oh, benarkah? Meskipun aku melakukan ini?" Brian bangkit dan menghampiri Albert, menekan ujung rokoknya pada leher Albert hingga pria berusia empat puluh tujuh tahun itu memekik kesakitan.
Fira memalingkan wajahnya karena tak kuasa melihat orang yang ia hormati merasa kesakitan seperti itu.
"Ja-ngan ka-takan apa pun Nak, argghh!!" jerit Albert menguatkan Fira pada keputusannya. Albert sengaja memancing Brian seolah Fira tahu sesuatu agar Brian tak sampai membunuh gadis itu. Juga agar Brian menyiksanya saja.
"Ck!" Brian berdecak tak suka dan berjalan cepat ke arah Fira. Sepatu besarnya menendang dada Fira hingga gadis itu terjungkal ke belakang. Tanpa belas kasih sedikit pun Brian menginjakkan sepatunya di leher Fira, membuatnya sesak napas dan mencoba menyingkirkan kaki besar Brian dari lehernya yang semakin tercekik.
Brian menekannya semakin kuat. "Bagaimana?" tanyanya pada Albert yang diam-diam berderai air mata yang bercampur darah di wajahnya menyaksikan gadis itu tersiksa karena dirinya. "Apa kode rahasia tempat penyimpanan senjatamu, Pak Tua?"
"Kau a-kan membu-suk di ne-raka," ucap Albert dengan nada parau dan terbata.
"Oh ya? Bagaimana jika aku mengajak putri cantikmu ikut aku ke neraka juga?" Brian menyeringai. "Ini benar-benar drama anak dan ayah yang menyebalkan," decak Brian dan menurunkan kakinya dari leher Fira.
Gadis itu terbatuk hebat dengan leher yang memerah.
Brian menyeringai lagi dan berjongkok di hadapannya, menarik rambut Fira dengan kuat. "Apa kau benar-benar tak takut padaku, Nona? Ayolah, katakan saja kodenya dan aku akan menghentikan penderitaanmu."
Fira meludahi wajah Brian tanpa rasa takut. "Aku tak pernah takut padamu, pria lemah! kau hanya pria lemah yang tega menyiksa wanita dengan keji. Kau tak punya perasaan. Hatimu mati, kosong, dan dingin. Apa ada hidup yang lebih menyedihkan dari perasaan milikmu yang memilukan itu? Kau bahkan tak punya cinta. Kau tak punya tujuan hidup bahagia. Kaulah yang seharusnya mengkhawatirkan hidupmu sendiri. Kau pria dengan kelainan mental, kau akan merasakan mencintai seseorang tanpa dicintai orang itu. Aku bersumpah! Aku yakin takkan ada wanita yang akan mencintaimu dengan tulus. TIDAK AKAN PRRNAH ADA!!"
BRAKK!
Brian memukul wajah Fira dengan tangan kirinya yang memegang pistol hingga mulut wanita itu memuntahkan darah segar.
Brian benar-benar tertohok dengan ucapan Fira. Tujuan hidup bahagia? Apa itu bahagia yang sesungguhnya?
"Kau wanita busuk! beraninya memberiku ceramah memuakkan seperti ini huh?!" maki Brian murka dan menendang perutnya.
Brian mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan. Menghitung anak buahnya yang ada di sana. "Hanya empat? Hm?" tanyanya pada diri sendiri dan seperti berpikir sesuatu. "Kalian, nikmati tubuh indah Nona Zetrix sampai tua bangka itu mau buka mulut," ucap Brian santai dan menginjak putung rokoknya kemudian keluar dari ruangan berbau anyir itu. Membiarkan empat anak buahnya melecehkan Fira dengan jerit tangis kesakitan gadis itu.
Neva menggelengkan kepalanya saat pandangannya bertemu dengan Albert. Air matanya tak henti mengalir.
Albert menatapnya sendu dan ikut menggeleng lemah. Melarang Neva melakukan apa pun.
"Bos B memberikan kesenangan yang sangat indah hari ini," ucap salah seorang anak buah Brian yang menatap mesum pada Fira dan dengan cepat merobek piyama yang Fira kenakan.
Fira menjerit-jerit dan mencoba meronta sebisanya, berharap ia masih memiliki harapan setelah ini.
Neva mengibaskan tangannya ingin menolong, tapi para pelayan menahannya agar tidak melakukan apa-apa.
Anda Mungkin Juga Suka





