
I am always waiting for you (I'm fine 2)
Bab 2
Selama sembilan tahun, Aldy sering berkunjung kerumah yang tak ditempati itu, meskipun tak setiap hari. Ia akan memarkirkan mobilnya didepan gerbang dan menatap rumah itu lama.
Harapannya, gerbang itu terbuka, menampakkan seorang wanita cantik yang melambaikan tangannya, dengan senyuman indahnya.
Aldy juga sering menelepon Faiz, dan Eza, hanya sekedar ingin bertanya tentang Ara. Namun, jawaban yang sama selalu Aldy dengar. Tak menemukan apa-apa.
Terkadang Aldy ingin menyerah, tapi entah kenapa mengingat kenangan manisnya dengan Ara mampu membuatnya bertahan.
Aldy ingin mengakhiri hidupnya, tapi ia berpikir jika ia tiada, ia tak bisa melihat wajah Ara-nya.
Tiba-tiba lamunannya buyar, ketika ponselnya berdering. "Sudah selesai?" tanya Aldy.
"......"
"Baiklah akan saya ambil nanti sore," jawab Aldy lalu mematikan ponselnya sepihak.
Hari ini dirinya libur. Ia hampir saja lupa jika mamanya memintanya untuk mengantar berbelanja hari ini.
Aldy langsung menancap pedal gas, dan pergi meninggalkan rumah Ara.
Sesampainya di rumah, Aldy langsung duduk di depan tv, bersama Abel, dan Zen (putra kedua Alfa). "Dimana Oma?" tanya Aldy.
"Oma pelgi, kata Oma om Aidy mau Oma mayahin," jawab Zen dengan suara cadelnya.
"Mama papa dimana?" tanya Aldy lagi. Ia bertanya karena rumah sangat sepi, hanya bibi dan kedua anak Alfa yang bermain.
"Mama sama papa, periksa kandungan om," jawab Abel, sambil menyatukan mainan legonya.
Aina adalah istri Alfa, ia memiliki dua putra dan putri. Abelia Azof Fathee, yang kedua Zen Azof Fathee, dan satu calon anaknya yang berada didalam kandungan.
Terkadang Aldy berpikir, jika dirinya juga memiliki anak, pasti lebih banyak dari Alfa. Dan mungkin anaknya lebih tua dari Abel, pastinya lebih cantik dan tampan dari Abel dan Zen.
"Om," panggil Zen.
"Hmm," jawab Aldy.
"Kita jayan-jayan yuk om," ajak Zen.
"Kemana?" tanya Aldy.
"Ke mall," jawab Abel senang.
"Ya ke moy."
"Bukan moy, tapi mall dek mall," koreksi Abel, yang membetulkan ucapan adiknya yang salah.
"Kakak jahat, Zen gak tahu biyang ey sama ey." Mata Zen berkaca-kaca, karena kakaknya mengejeknya dalam berbicara.
"Lah kan emang salah? Kakak cuman ngebetulin, biar mulut kamu gak tipo," jawab Abel yang tak mau kalah.
"Tipo apa?" tanya Zen bingung.
"Om jelasin tipo itu apa?" jawab Abel, malah menyuruh Aldy untuk menjelaskan kepada adiknya.
Aldy menatap kedua keponakannya jengah. "Jadi atau tidak?"
"Kemana?" tanya Abel.
Semua orang pasti langsung tau jika Abel adalah anak Alfa, ia jahil, suka mengundang emosi, humoris, mudah akrab, dan satu hal yang sangat sama dengan Alfa, ngeselin.
Sifat Alfa sangat sama dengan Abel. Apa anak pertama lebih cenderung sama dengan ayah dari pada dengan ibu? Sedangkan Zen, ia lebih condong kepada Aina, sifatnya yang mudah menangis dan ngambekkan.
"Ke neraka," jawab Aldy jengah.
"Om kalo mau masuk neraka jangan ajakin Abel dong, Abel itu wanita Solehah, rajin solat, baik, dan suka menabung, jadi gak mungkin Abel masuk neraka."
"Mau ke mall atau ke neraka?" tanya Aldy sekali lagi.
"Ke moy dong," jawab Zen menghampiri Aldy.
"M O L mol bukan moy, salah. Mulut tipo kok di pelihara," jawab Abel mengoreksi.
Aldy berdiri dari duduknya memegang tangan satu persatu keponakannya. "Stop, om capek dengernya."
"Makanya punya anak, biar tambah capek," celutuk Abel.
Aldy, Abel dan Zen berangkat ke mall. Kepala Aldy ingin pecah mendengar celotehan Abel dan Zen yang tak masuk akal.
"Cita-cita kamu mau jadi apa dek?" tanya Abel.
"Mau jadi supeymen," jawab Zen.
"Kenapa?" tanya Abel bingung.
"Supeymen gak peynah disayahin meskipun pakek sempak diluar, dia juga bisa terbang. Ngeng-ngeng-ngeng." Zen mengepalkan tangannya layaknya supermen yang akan terbang.
"Ngeng-ngeng-ngeng itu bunyi motor bukan terbang. Kalo terbang tuh gini. Wusssssss," beri tahu Abel.
"Oh." Zen hanya mangangguk saja. "Kayo kakak jadi apa?" tanya Zen balik.
"Jadi plakor," jawab Abel.
Seketika Aldy langsung mengerem mendadak. Untung saja dua keponakannya memakai sabuk pengaman, jadi tak sampai jatuh.
"Gak boleh ngomong kayak gitu Abel," tegur Aldy.
"Kenapa om? Plakor kan terkenal, di tv di film, sampai ada nyanyiannya loh om."
Aldy melihat Abel tak paham. Seperti apa lagu plakor. "Lagu apa?"
"Dengerin nih ya om." Abel menarik nafasnya dalam-dalam. "Plakor ada dimana-mana. Cuman gitu yang Abel tau," ucapnya.
"Kamu tau plakor itu apa?" tanya Aldy.
"Plakor adalah orang terkenal. Bisa masuk tv, dan ada dimana-mana. Wah hebatnya plakor." Abel bertepuk tangan senang, karena cita-citanya sangat hebat menurutnya.
Otak anak jaman sekarang sudah rusak akibat teknologi yang semakin canggih. Coba kalian analisa. Di jaman modern seperti sekarang tayangan di tv saja banyak yang mengandung adegan yang tak pantas dilihat oleh anak seusia Abel.
"Tau dari mana plakor?" tanya Aldy.
"Dari tv, sama teman Abel. Abel juga buat circle plakor dikelas Abel."
"Apa aku harus memindahkan kedua keponakanku ke sekolah lain? Kenapa otaknya seperti ini?" batin Aldy.
Ia menegakkan badannya, lalu kembali menancap pedal gas. Abel belum cukup umur untuk mengerti arti dari kata plakor.
Sesuai rencana yang diminta dua keponakannya. Aldy dan kedua keponakannya sedang berada di mall tempat bermain.
Meskipun tak ada senyuman yang ia tampakkan, tapi Aldy senang, melihat kedua keponakan absurdnya bermain dengan ceria.
"Om, kita makan yuk om, Abel laper," rengek Abel yang sudah ada didepan Aldy.
"Mau makan apa?" tanya Aldy.
"Ayam goreng dong om."
"Panggil Zen sana, terus kita makan."
Abel mengangguk, ia langsung menghampiri Zen, yang sedang bermain mobil-mobilan. "Kita makan Zen, aku udah laper."
"Ayo kak," jawab Zen. Ia menabrakkan mobilnya, lalu game pun kalah. Namun, Zen malah berteriak kesenangan karena gamenya kalah.
"Ye kayah. Aku gak mau menang nanti aku gak makan." Zen langsung berlari menghampiri Abel dan Aldy. "Ayo kita makan ayam goyeng. Kukkyukyuk." Zen menirukan Kokok ayam yang berada di tv.
Semua orang menatap Zen, Abel dan Aldy, karena teriakan Zen yang sangat nyaring.
"Ya Tuhan apa kesalahanku hingga mempunyai keponakan setengah waras seperti mereka," batin Aldy meringis karena malu.
Setelah acara makan selesai. Aldy dan kedua keponakannya akan pulang. Tak ada suara dari keduanya, ternyata keduanya tengah tertidur dengan kepala yang saling menyandar. Sangat lucu.
Tanpa Aldy ketahui, ia hampir saja menabrak seseorang, untung saja ia langsung mengerem, jika tidak Aldy pastikan anak kecil yang ia tabrak akan melayang ke udara.
Aldy langsung turun. Ia berjongkok, memeriksa kondisi wanita kecil dengan pakaian compang-camping, dan bungkus permen yang Aldy yakini, itu pasti wadah uang hasil mengamen. "Kamu gak papa?" tanya Aldy.
Wanita kecil yang tadinya menunduk, kini menatap Aldy dengan senyuman lembutnya. "Aku gak papa," jawabnya dengan suara lemahnya.
Aldy tertegun ketika melihat mata anak kecil itu. Mata itu sangat mirip dengan mata Ara. Tak disadari air mata Aldy jatuh begitu saja. Ia memeluk anak kecil yang memakai baju compang-camping itu tanpa rasa ragu.
Anak kecil itu hanya diam, ia tak membalas pelukan Aldy atau memberontak.
Aldy melepaskan pelukannya, ia menatap anak kecil itu nanar. "Siapa nama kamu?" tanya Aldy.
"Om kenapa menangis?" tanya anak kecil itu karena melihat bekas air mata yang turun.
"Gak papa, om gak papa. Nama kamu siapa?" tanya Aldy lagi.
"Nama aku Sisil," jawabnya dengan senyuman hangat.
"Orang tua kamu dimana?" tanya Aldy celingak-clinguk.
"Orang tua aku pergi ninggalin aku, katanya aku pembawa sial," jawabnya. Tatapannya kini menyiratkan kepediahan dan kekecewaan. Aldy bisa merasakan itu.
"Kau tinggal dengan siapa?" tanya Aldy lagi.
"Aku tinggal sendiri om."
"Dimana rumah kamu, biar om antar pulang."
"Gak usah om, rumahku banyak, jadi aku gak tau harus pulang kemana."
Anak kecil itu masih bisa tersenyum, dengan apa yang telah terjadi padanya.
Aldy tau maksud dari kata itu. Ia mengerti dengan kata rumahku banyak. "Mau ikut om?" tanya Aldy.
Anda Mungkin Juga Suka





