Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel I am always waiting for you (I'm fine 2)

I am always waiting for you (I'm fine 2)

Aldy Fathee, CEO arogan dari Fathee Grup, menjadi makin kejam sejak ditinggal Ara Valeria. Ara pergi tanpa kabar demi mengobati HIV akibat trauma masa lalu. Takdir mempertemukan mereka kembali dalam proyek besar saat Aldy telah bertunangan dengan Melly. Meski Aldy ingin mendekat, Ara kini bersikap dingin dan tak tersentuh. Setelah sebuah kecelakaan menimpa Ara, Aldy bertekad mengungkap rahasia di balik sikapnya. Akankah cinta mereka bersatu atau Ara kembali menghilang?
Bab
Bagikan

Bab 3

"Kemana om?" tanya Sisil lagi.

"Ke rumah, om," jawab Aldy dengan senyuman mengembang. Ia tak henti-hentinya menatap mata Sisil yang sangat persis dengan mata Ara.

"Ara, kakak nemuin orang yang memeliki mata yang sama, apa kamu tak mau kembali Ara?" batin Aldy.

"Gak usah om, aku harus bekerja siang ini, supaya nanti malam aku bisa makan," tolak Sisil.

"Kita makan di rumah om aja, disana makanannya gratis. Sebagai tanda maaf om karena hampir nabrak kamu."

"Gimana ya om," pikir Sisil menimang-nimang. "Oke aku mau, tapi om bukan orang jahatkan?" tanya Sisil lagi.

"Om orang baik kok," kekeh Aldy.

Akhirnya Sisil pun mau mengikuti Aldy. Ia membukakan pintu samping kemudi, untuk Sisil duduki. Tak mungkin ia dibelakang dengan kedua keponakannya.

Sisil terkejut ketika melihat dua anak yang tertidur pulas di belakang. Ia menatap Aldy takut. "Om penculik ya?" tanya Sisil dengan suara bergetar.

"Om bukan penculik. Dia keponakan om, yang ketiduran karena lelah bermain," jawab Aldy membela diri. 

"Apa wajah tampanku seperti pencuri anak?" batin Aldy meringis.

Sesampainya di rumah, Aldy membangunkan kedua keponakannya. Umurnya sudah tiga puluh empat tahun. Ia tak mau sakit pinggang, tak ada yang akan memijatnya.

"Abel, Zen, udah nyampek."

Zen bangun terlebih dahulu, ia mengguncang tubuh kakaknya, dan membuat Abel bangun. 

Masalah ke randoman ponakannya tak berhenti disitu. Abel membersihkan beleknya lalu mencolekkannya ke wajah Zen, yang membuat Zen akan menangis.

"Gitu aja jijik, kakak sendiri juga," balas Abel singit.

"Kakak joyok, mama papa." Zen keluar dari mobil, berlari memanggil Alfa dan Aina.

"Haaa," teriak Abel ketika melihat anak yang memakai baju compang-camping menatapnya dengan mata yang berkedip-kedip.

"Apalagi Abel?" tanya Alif jengah dengan keponakannnya satu itu.

"Kok orang dimimpi Abel keluar om? Sekarang mana raksasa yang mau makan anak itu?" tanya Abel takut. Kali ini dirinya tak berbohong.

Ia bermimpi seorang raksasa yang akan memakan seorang anak yang memakai baju compang-camping.

"Kenalin dia Sisil. Sisil kenalin dia keponakan om, namanya Abel."

Abel memajukan badannya mengucek matanya masih tak percaya. "Kamu beneran gak papa kan?" tanya Abel.

"Aku gak papa, memangnya aku kenapa?" tanya balik Sisil.

"Aku tadi mimpiin raksasa mau makan orang kayak kamu," jawab Abel.

"Udah Abel? Sekarang kamu masuk, siap-siap kena marahin mama."

Abel menjelurkan lidahnya, dan memebersihkan beleknya lagi, lalu mencolekkan ke pipi Aldy. "Harumkan belek penghuni surga kayak Abel!" Abel pergi keluar mobil.

Aldy membuang nafasnya, lalu memebersihkan wajahnya dengan tisu.

"Ayo sil, kita kerumah om."

"Aku malu," jawab Sisil menunduk.

"Kenapa malu? Hidung kamu gak berlubang? Atau mata kamu gak ada bola matanya?" tanya Alif bercanda supaya Sisil mau masuk.

"Gak papa kan om?" tanya Sisil lagi.

Aldy memegang tangan Sisil sambil tersenyum mengembang. "Gak papa."

Aldy dan Sisil masuk kedalam rumah. Melihat anggota keluarga yang berkumpul, Sisil bersembunyi dibalik badan Aldy.

"Siapa?" tanya Alfa.

Abel langsung menarik Sisil, supaya tak bersembunyi lagi.

 "Mohon perhatiannya untuk segenap keluarga. Namanya Sisil, kata om Aldy. Itu artinya dia akan jadi teman Abel." Abel langsung memeluk Sisil dari samping.

"Abel, pinjemin Sisil baju kamu ya? Terus ajak main," ucap Aina. Tak mungkinkan jika satu keluarga mengintrogasi Aldy perihal Sisil didepan Sisil.

"Siap istri bapak Alfa, alias mama Abel, karena Zen anak pungut." Sebelum terkena semprotan dari Aina, Abel sudah berlari dengan Sisil menuju kamar.

"Mama, kak abey nakay ma," rengek Zen meminta pembelaan.

"Udah ya Zen, kak Abel emang gitu, kamu harus sabar," jawab Aina, supaya Zen tak jadi menangis.

"Ya ma, Zen seyayu sabay kok sama keyakuan kak Abey," jawab Zen dengan senyuman layaknya pemeran protagonis di sinetron azab.

"Ya udah sana gih main bareng mereka," suruh Elva, yang disetujui oleh Zen.

Aldy duduk disamping ibunya. "Dia anak yang hampir aku tabrak," ucap Aldy yang mengerti dengan tatapan penuh interogasi.

"Terus kenapa Lo bawa kerumah?" tanya Alfa bingung. Sisil baik-baik saja, lalu apa yang harus dihawatirkan hingga Aldy membawa kerumah.

"Gue inget Ara," jawab Aldy jujur.

"Lalu ketika kau menabrak tiga orang anak kau membawanya kerumah, hanya karena ingat dengan kekasih yang meninggalkanmu?" sambung Elva tak suka.

Ia tak suka Aldy masih terbelenggu dengan Ara, wanita jahat yang meninggalkan Aldy hingga Aldy menjadi seperti ini. Hidup tanpa semangat.

"Ma, Ara bukan wanita seperti itu," bela Aldy tak suka, jika mamanya selalu menjelek-jelekkan Ara.

"Kenapa? Salah? Mama gak mau kamu seperti ini Aldy, mama mau kamu menjadi Aldy yang penuh semangat dan ambisi."

Alfa tau Aldy menahan amarah, ia mengelus punggung mamanya, menenangkan. "Ma udah, darah tinggi mama nanti kumat."

"Maaf, ma, tapi Aldy gak bisa, buat jadi Aldy kayak dulu," jawab Aldy dan pergi meninggalkan keluarganya.

"Mama akan jodohkan kamu, dengan anak teman mama!" teriak Elva, membuat Aldy memberhentikan jalannya.

Aldy menatap mamanya bingung, dijodohkan? Suatu hal konyol. Menurut Aldy, ini sudah jaman modern, turunan Siti Nurbaya saja mungkin juga tak mau dijodohkan.

"Aldy gak bisa ma," jawab Aldy dengan terus menahan amarahnya yang sebentar lagi akan meledak.

"Mama tidak menerima penolakan. Selama ini kamu menunggu, sembilan tahun supaya wanita tak berhati itu datang, tapi apa Al? Menghubungimu saja dia tak pernah."

Aldy hanya diam. Apa penantiannya selama ini harus pupus? Bukankah Ara berjanji akan pulang? Tapi dia belum juga pulang.

"Mama benarkan Al? Cukup bertindak konyol hanya menunggu kedatangan wanita yang mungkin sudah memiliki putra diluaran sana." Elva tersenyum remeh, sambil menyilangkan kakinya.

"Aldy tetap gak bisa. Ara akan tetap pulang. Maaf." Aldy membalikkan badannya dan pergi menaiki tangga menuju kamarnya.

"Ma, cinta gak bisa di paksa ma. Menikah, tinggal bersama, gak menjamin kita bisa jatuh cinta," sambung Alfa.

"Tapi mama yakin anak teman mama, bisa buat Aldy jatuh cinta."

Di kamar Aldy, ia membuka bajunya, dan pergi ke balkon untuk melampiaskan amarahnya. Aldy memasang sarung tinju, untuk menghantam samsak yang biasa ia lakukan ketika ia marah.

Bugh

Bugh

Bugh

"Argh kapan kamu datang Ara!"

Aldy terduduk, ia menekuk lututnya menghantam lantai. "Argh gue capek."

Tiba-tiba sebuah tangan kecil memberikan tisu kepadanya. "Udah besar kok masih nangis?"

Aldy menatap Sisil yang sudah mandi, dan menggunakan baju milik Abel. Aldy mengambil tisu pemberian Sisil, menghapus air matanya.

"Om menangis karena aku?" tanya Sisil.

"Tidak, aku tidak menangis, aku hanya kelilipan debu tadi."

"Aku kira om menangis." Sisil duduk di samping Aldy, dengan kaki yang ia selonjorkan.

"Kenapa om memukul guling ini?" tanya Sisil polos. Ia tak tau nama benda yang Aldy tinju tadi. Jadi ia menyebutnya guling, karena mirip dengan guling.

"Aku hanya mengasah kekuatanku," jawab Aldy.

Sisil bangun dari duduknya, ia membetulkan rambut Aldy yang berantakan. "Aku tau om berbohong. Maaf tadi aku mendengar om berteriak memanggil nama Ara."

Aldy terdiam, mata anak kecil itu seakan aliran air yang mampu memadamkan api kemarahan yang Aldy rasakan saat ini. Mata itu sangat sama dengan Ara. Ia tak mungkin salah, apa mata itu milik Ara-nya?

"Om boleh peluk kamu?" tanya Aldy.

"Boleh kok om," jawab Sisil. Ia membentangkan tangannya, memberi isyrat supaya Aldy memeluknya.

~~~

Sesuai rencananya Aldy pergi ke tempat pembuatan patung. Sudah hampir setengah bulan Aldy memesan patungnya.

Patung yang diukir semirip Ara. Bukan Aldy yang mau, tapi ada dari salah satu kliennya, menawarkan patung, dengan percuma. Aldy tak nyaman jika ia menolak, dan akhirnya ia membuat patung Ara, yang akan ditempatkan di apartemennya.

Aldy terdiam ketika patung itu seperti nyata. Warna kulit yang begitu sama, rambut, dan lainnya. Bedanya patung itu terbuat dari semen.

Dengan perlahan, ia menyentuh patung Ara, mengelus pipinya dengan mata yang terpejam. "Tolong kembali sayang," lirih Aldy.

Sang pengrajin melihat Aldy menatap patung buatannya begitu dalam. Ia yakin patung itu pasti memiliki arti tersendiri.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Aku, Kamu, dan Gundikmu
8.4
Anisa Amanda, seorang istri berparas jelita, harus menelan pil pahit saat dikhianati oleh suaminya, Hendra, dan adik sepupunya sendiri, Tia. Tak tinggal diam, Anisa bertekad membalas dendam atas sakit hatinya. Di tengah rencananya, ia tak sengaja bertemu Fras Ramadhan, seorang tukang parkir tampan. Siapa sangka, Fras sebenarnya adalah CEO sukses Bintang Group yang menyamar. Pertemuan itu memicu konflik baru sekaligus menumbuhkan benih cinta di antara mereka.
Sampul Novel Bukan Pelayan Biasa
8.8
Dunia Amanda Felicia runtuh saat kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan di hari kelulusannya. Kesedihannya kian mendalam ketika Fanny, sahabat setianya, harus pergi ke luar negeri. Di tengah keterpurukan, Amanda mencoba bangkit dengan bekerja sebagai pelayan di kediaman Alexander Mattew. Namun, pria kaya itu justru kerap menyulitkan hidupnya dan sengaja membuat Amanda tidak betah. Mampukah Amanda bertahan menghadapi sikap dingin Alex demi menyambung hidupnya?
Sampul Novel Cinta Melawan Syarat
9.4
Demi kesembuhan sang ayah, Helena terpaksa menggantikan saudara tirinya menikahi pewaris kota yang tuli. Namun, malam pertama mereka justru diawali peringatan dingin bahwa pernikahan ini hanyalah bisnis. Helena harus bertahan menghadapi sikap suaminya yang sulit ditebak. Meski banyak yang meramal kehancurannya, sang suami justru menjadi pelindung utama. Saat kontrak usai dan Helena bersiap pergi, pria itu memohon sambil menangis agar ia tetap tinggal.
Sampul Novel Gadis Penghibur Tuan CEO
8.5
Ajeng Kirei Aswari dijual ayahnya ke tempat prostitusi saat berusia 18 tahun. Selama sepuluh tahun, ia menjalin hubungan dengan Reynold Bill Timur, CEO sukses yang menjadi tumpuan hidupnya. Namun, keluarga Bill menentang status Ajeng dan menjodohkan Bill dengan wanita sederajat. Tak mampu menolak, Bill tetap membawa Ajeng ke dalam skandal di tengah pernikahannya. Mampukah Ajeng bertahan bersama Bill meski harus menyakiti perasaan wanita lain yang tak bersalah?
Sampul Novel Harta, Tahta, Anak Tungal Kaya Raya
9.4
Ella terjebak dalam dilema rasa terhadap William, sahabat masa kecilnya yang kini menjadi pewaris tunggal kaya raya. Meski William menganggap Ella sosok terpenting, ia justru jatuh hati pada Camelia. Posisi Ella kian sulit saat ia dituduh sebagai penghambat asmara mereka, sementara William tidak peka atas penderitaan batin sahabatnya itu. Akankah William tetap memprioritaskan Ella, atau justru Camelia akan memutus ikatan lama mereka selamanya?
Sampul Novel Hasrat Cinta Terlarang CEO
8.8
Ditinggal pergi oleh kekasihnya tepat di hari pernikahan membuat Rachael hancur dan berhenti memercayai cinta. Namun, takdir membawanya kembali bertemu dengan Andrew Collins. Merasa tak punya harapan lagi dalam asmara, Rachael akhirnya setuju menikahi Andrew yang merupakan putra sahabat ayahnya. Tanpa ia sadari, keputusan ini menjadi awal dari rencana besar takdir yang akan mengubah pandangannya terhadap hubungan dan masa depannya selamanya.