Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Suamiku Pura-Pura Buta Demi Menyembunyikan Kebohongan Besar

Suamiku Pura-Pura Buta Demi Menyembunyikan Kebohongan Besar

Selena Atmadja diceraikan Davin Hartanto tepat setelah akad karena skandal kehamilan wanita lain. Demi menjaga martabat, Madame Ratih memaksa Selena menikahi putra keduanya, Leonard Hartanto, pria dingin yang penuh misteri. Meski awalnya menolak, Selena akhirnya terjebak dalam pernikahan hampa bersama pria yang terasa asing. Keadaan berbalik saat Selena mengungkap rahasia besar bahwa Leonard hanya berpura-pura buta. Apa motif di balik sandiwara ini dan mampukah Selena bertahan?
Bab
Bagikan

Bab 3

Hari-hari setelah percakapan di taman itu berubah menjadi labirin emosi bagi Selena. Ia merasa hidup dengan pria asing yang setiap gerak-geriknya adalah teka-teki. Leonard, suaminya, tak lagi sekadar dingin-ia kini menjadi sosok penuh rahasia yang menyesakkan.

Selena sering mengingat tatapan mata Leonard saat berjongkok di hadapannya. Tatapan itu terlalu nyata untuk dimiliki seorang pria buta. Dan sejak malam ketika ia berpura-pura tidur lalu mendengar bisikan lirih Leonard, hatinya semakin dipenuhi tanda tanya.

"Seandainya kau tahu... mungkin kau akan membenciku selamanya."

Kata-kata itu terngiang-ngiang, menusuk telinga Selena, membuatnya sulit bernapas setiap kali menatap wajah suaminya.

Pagi itu, Selena bangun lebih cepat dari biasanya. Ia turun ke dapur, membuatkan sarapan sederhana-roti panggang, telur rebus, dan teh hangat. Ia sengaja menatanya rapi di meja makan, berharap Leonard akan terkesan.

Tapi yang ia dapatkan justru sebaliknya. Leonard turun dengan ekspresi dingin, duduk tanpa bicara, lalu menyesap tehnya tanpa komentar.

"Kau tak suka sarapannya?" tanya Selena, berusaha menjaga suaranya tetap tenang.

Leonard menoleh sekilas. "Bukan begitu. Aku hanya tidak terbiasa dengan orang lain yang menyiapkan untukku."

"Kau... tidak terbiasa dilayani istri?"

Leonard menaruh cangkirnya perlahan. "Aku tidak terbiasa dengan pernikahan, Selena."

Jawaban itu membuat Selena terdiam. Ada sesuatu dalam nada suaranya-bukan sekadar dingin, melainkan getir. Seolah Leonard menyimpan masa lalu yang tak ingin ia bagi.

Selena ingin bertanya lebih jauh, tapi Leonard sudah bangkit berdiri. "Aku harus pergi. Ada urusan."

"Urusan apa? Boleh aku ikut?" Selena mencoba menahan.

"Tidak perlu." Leonard mengambil jasnya, lalu menambahkan dengan nada datar, "Beberapa hal sebaiknya tidak kau ketahui."

Dan ia pun pergi, meninggalkan Selena yang hanya bisa mematung di kursinya.

Siang itu, rasa penasaran Selena mencapai puncaknya. Ia mulai berpikir, kalau Leonard tidak akan memberitahunya apa pun, maka ia harus mencari tahu sendiri.

Dengan hati-hati, ia menyusuri ruangan-ruangan di rumah itu. Ia masuk ke perpustakaan, membuka laci-laci meja kerja Leonard, membaca setiap buku catatan yang ia temukan. Sebagian besar hanyalah tumpukan berkas keuangan, dokumen perusahaan, atau catatan singkat yang tak banyak menjelaskan apa pun.

Namun, di sebuah laci terkunci, Selena menemukan sebuah amplop cokelat. Ia berhasil membukanya dengan bantuan penjepit rambut. Di dalamnya ada beberapa foto lama.

Selena menahan napas. Foto itu menunjukkan Leonard berdiri tegak bersama seorang wanita muda yang sangat cantik. Mereka terlihat mesra, bahkan bahagia. Tapi yang mengejutkan, mata Leonard dalam foto itu jelas-jelas normal-terang, hidup, penuh cahaya.

"Jadi benar," bisik Selena. "Kau tidak pernah buta."

Jantungnya berdetak cepat. Ia menyelipkan foto itu kembali, lalu buru-buru menutup laci. Tapi ketika ia hendak keluar dari ruangan, pintu terbuka.

Leonard berdiri di sana.

Selena membeku, wajahnya pucat. "Aku... aku hanya sedang mencari buku."

Leonard menatapnya tajam, lalu melangkah masuk. Ia mendekat, membuat Selena mundur hingga punggungnya menyentuh rak buku.

"Apa yang kau lakukan di sini, Selena?" suaranya rendah, berat, nyaris mengancam.

Selena mencoba tegar. "Aku hanya ingin tahu siapa sebenarnya suamiku. Apa salah?"

Leonard berhenti tepat di hadapannya. Tatapannya menusuk, membuat Selena sulit bernapas. "Ada batas yang tidak boleh kau lewati."

Selena menggigit bibir, matanya berkaca-kaca. "Bagaimana aku bisa jadi istrimu kalau kau bahkan menutup semua pintu untukku? Kau menyembunyikan semuanya, Leonard. Bahkan tentang matamu."

Wajah Leonard mengeras. Ia menunduk sedikit, menatap Selena dari jarak sangat dekat. "Kau terlalu penasaran. Itu bisa membahayakanmu."

"Bahayakan aku?" Selena hampir berteriak. "Aku istrimu! Apa yang lebih berbahaya daripada hidup bersama seseorang yang bahkan aku tidak tahu siapa dirinya?"

Untuk sesaat, Leonard tak berkata apa-apa. Hanya suara napasnya yang berat terdengar. Lalu ia berbalik, berjalan ke arah jendela, menatap ke luar.

"Ada hal-hal, Selena, yang jika kau tahu... kau tidak akan bisa kembali. Kau akan kehilangan rasa percayamu. Kau mungkin bahkan akan membenciku."

Selena menatap punggungnya, tubuhnya gemetar. "Mungkin aku sudah mulai membencimu sekarang," katanya lirih.

Kalimat itu membuat Leonard terdiam lama.

Malamnya, Selena tak bisa tidur. Ia mondar-mandir di kamar, pikirannya kalut. Ia merasa harus bicara terus terang, tapi setiap kali menatap Leonard, kata-kata itu hilang begitu saja.

Akhirnya, ia mendekati pria itu yang sedang duduk di kursi dekat jendela, membaca buku.

"Leonard," panggil Selena.

Pria itu mengangkat wajahnya sekilas. "Apa?"

"Aku tidak tahan lagi. Aku butuh jawaban. Kau harus jujur padaku."

Leonard meletakkan bukunya, menatap Selena lama. "Tentang apa?"

"Semua. Tentang matamu. Tentang alasanmu berpura-pura buta. Tentang wanita di foto itu."

Leonard terhenyak, meski wajahnya tetap tenang. "Jadi kau memang menggeledah ruanganku."

Selena mendongak dengan keberanian baru. "Ya. Karena aku berhak tahu."

Leonard berdiri perlahan. Ia berjalan mendekat, berhenti tepat di depan Selena. Lalu, dengan nada dingin, ia berkata, "Wanita itu... adalah seseorang yang sudah mati."

Selena terbelalak. "Apa maksudmu?"

Leonard menunduk, suaranya bergetar samar. "Ia meninggal karena aku. Dan sejak hari itu... aku memilih untuk menjadi buta."

Kata-kata itu membuat Selena terdiam. Air matanya mengalir tanpa ia sadari. "Leonard..."

Pria itu berbalik, berjalan menjauh, seolah menutup semua pintu lagi. "Kau sudah cukup tahu. Jangan cari lebih jauh."

Selena menatapnya dengan hati bergetar hebat. Ia tahu, ini baru permulaan. Masih banyak kebohongan yang belum terungkap.

Dan ia tak akan berhenti sampai menemukan kebenarannya.

Hujan turun deras malam itu. Suara derasnya menimpa kaca jendela kamar, mengisi keheningan yang selama ini selalu mendominasi hubungan Selena dan Leonard. Selena duduk di sisi ranjang, memeluk lututnya, sementara pandangannya terus mengarah ke punggung Leonard yang berdiri membelakangi, menatap keluar jendela.

"Wanita itu... meninggal karena aku."

Kata-kata Leonard dari malam sebelumnya masih terngiang di telinga Selena. Hatinya kalut, pikirannya bercampur antara rasa ingin tahu dan rasa takut. Apa sebenarnya yang terjadi dalam hidup pria itu? Apa arti semua kebohongan, semua kepura-puraan tentang kebutaan?

Selena menarik napas dalam, memberanikan diri. "Leonard," panggilnya pelan.

Pria itu tidak menoleh, tapi bahunya sedikit menegang. "Hm?"

"Aku tidak bisa tidur kalau terus memikirkan ucapanmu. Kau bilang... ada seorang wanita yang meninggal karena kau. Siapa dia sebenarnya?"

Leonard masih diam. Hanya suara hujan yang menjadi jawaban panjang. Selena menunggu, jantungnya berdetak kencang.

Akhirnya, Leonard berkata pelan, "Dia pernah menjadi segalanya bagiku."

Selena terperanjat. Ada getar emosi dalam suara Leonard-sesuatu yang belum pernah ia dengar sebelumnya. Biasanya, Leonard selalu datar, dingin, tanpa rasa. Tapi kali ini... ada luka. Luka yang dalam.

"Aku... istrinya sekarang," suara Selena nyaris bergetar. "Jika kau terus mengurung semua ceritamu, bagaimana aku bisa memahami siapa dirimu sebenarnya?"

Leonard memejamkan mata, kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya. "Kau tidak akan mengerti, Selena. Aku bahkan tidak pantas menjelaskan padamu."

"Biarkan aku yang menilai itu." Selena bangkit, mendekat, berdiri di sampingnya. "Kalau kau tidak jujur padaku, aku akan selalu merasa asing. Aku sudah muak hidup dengan kebohongan."

Leonard akhirnya menoleh, menatap wajah Selena dari jarak sangat dekat. Mata itu-mata yang katanya buta-bersinar tajam, namun penuh kesedihan. "Kau terlalu keras kepala."

"Aku hanya ingin tahu," desak Selena.

Leonard terdiam lama, lalu berjalan menuju kursi. Ia duduk, bersandar, dan menghela napas panjang seolah menyerah. "Namanya Celestine."

Selena menahan napas. Nama itu asing, tapi dari cara Leonard mengucapkannya, jelas sekali wanita itu pernah menjadi bagian penting dari hidupnya.

"Dia... tunanganku."

Selena merasa dadanya sesak mendengar pengakuan itu. Bukan cemburu yang dominan, melainkan rasa takut pada apa yang akan Leonard ceritakan selanjutnya.

"Kami bertunangan tiga tahun lalu," lanjut Leonard. Suaranya berat, seolah setiap kata adalah beban. "Dia adalah gadis yang penuh cahaya. Selalu tertawa, selalu percaya pada kebaikan orang lain. Aku... aku yang merusaknya."

Selena duduk perlahan di hadapannya, tak berani memotong. "Apa yang terjadi?" tanyanya pelan.

Leonard menunduk, jari-jarinya menggenggam erat. "Celestine meninggal karena sebuah kecelakaan. Mobil yang kutumpangi bersamanya... ditabrak oleh orang yang selama ini menjadi musuh keluargaku. Mereka tidak berniat membunuhku saat itu, tapi aku yang menjadi target. Sayangnya... Celestine ada di sana. Dia tidak selamat."

Suara Leonard pecah di akhir kalimat, meski ia berusaha keras menahannya. Selena terpaku. Hatinya ikut terhimpit mendengar cerita itu.

"Aku... aku seharusnya yang mati malam itu," ucap Leonard getir. "Tapi justru dia yang pergi. Sejak saat itu, aku memilih untuk hidup sebagai orang buta. Aku tidak pantas melihat dunia, Selena. Dunia yang sudah kurenggut dari seseorang yang kucintai."

Selena menutup mulutnya, menahan air mata yang mulai mengalir. Ia tak menyangka di balik sikap dingin Leonard, ada luka sedalam ini.

"Lalu kenapa... kau mau menikah denganku?" tanya Selena akhirnya, suaranya bergetar. "Kalau kau masih terjebak dalam masa lalu, kenapa aku harus menjadi bagian dari hidupmu?"

Leonard menatapnya lama, sorot matanya tajam tapi penuh kebingungan. "Karena aku tidak bisa menolak permintaan ibuku. Dan karena aku... terlalu pengecut untuk hidup sendirian."

Selena tercekat. Kata-kata itu menghantamnya seperti badai. Ia merasa sekaligus kasihan dan marah. Kasihan karena Leonard terluka begitu dalam. Marah karena dirinya dijadikan sekadar pelengkap dalam hidup pria itu.

"Jadi aku hanya... obat sementara untuk lukamu?"

Leonard tidak menjawab. Diamnya justru semakin menyakitkan.

Hari-hari berikutnya, suasana di rumah itu semakin dingin. Selena berusaha keras menjaga sikapnya, tapi dalam hati ia mulai menyusun tekad. Ia tidak akan diam. Ia tidak akan membiarkan pernikahannya berjalan tanpa kepastian.

Suatu sore, Selena memutuskan untuk menemui Aya, ibu Leonard. Ia merasa hanya wanita itu yang bisa memberinya jawaban lebih banyak.

"Aya," ucap Selena setelah mereka duduk di ruang tamu. "Aku tahu Leonard tidak mudah didekati. Tapi aku juga tahu, kau pasti tahu lebih banyak tentang masa lalunya."

Aya menatapnya penuh perhatian, wajahnya lembut. "Kau sudah mulai tahu, ya?"

Selena menunduk. "Tentang Celestine."

Aya menarik napas panjang. "Itu luka terdalam dalam hidup Leonard. Sejak Celestine meninggal, dia berubah. Dia menutup dirinya, dan memutuskan berpura-pura buta. Katanya, itu caranya menebus rasa bersalah. Aku sudah mencoba segalanya, tapi dia tak pernah mau benar-benar membuka hati lagi."

Selena menggigit bibir. "Lalu kenapa aku yang harus masuk ke dalam hidupnya? Kenapa aku yang dipaksa menikah dengannya?"

Aya menggenggam tangan Selena lembut. "Karena aku percaya hanya kau yang bisa membawanya kembali ke cahaya. Kau punya sesuatu yang berbeda, Selena. Hatimu tulus, sabar, dan aku yakin, suatu hari Leonard akan menyadari itu."

Selena menahan air mata. Kata-kata Aya seperti beban sekaligus harapan. "Tapi bagaimana kalau dia tidak pernah melihatku? Bagaimana kalau aku hanya bayangan di sisinya?"

Aya tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca. "Kalau begitu, buat dia melihatmu. Tidak dengan matanya, tapi dengan hatinya."

Malam itu, Selena duduk sendirian di kamar. Kata-kata Aya terus terngiang. Ia menatap Leonard yang sudah berbaring di ranjang dengan mata terpejam, berpura-pura tidur.

Pelan, Selena mendekat, lalu duduk di tepi ranjang. Ia menatap wajah suaminya lama-lama, berusaha menembus dinding dingin yang selama ini mengelilingi pria itu.

"Aku tidak tahu apa aku bisa," bisiknya lirih. "Tapi aku akan mencoba, Leonard. Karena aku tidak mau hidup sebagai istri yang tak pernah kau lihat."

Air matanya jatuh tanpa ia sadari. Dan meski Leonard tampak tertidur, matanya perlahan terbuka, menatap ke arah Selena dalam diam. Ada kilatan emosi di sana-takut, rindu, sekaligus rasa yang tak mau diakui.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95FKX" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95FKX
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ditinggal Nikah Dengan Adikku
8.3
Lysandra Harrison hancur saat Vincent, mantan kekasihnya, justru melamar Amelia, adik kandungnya sendiri. Di tengah penolakan karena statusnya sebagai anak adopsi, Arthur Sterling hadir membawa pernikahan kontrak demi memenuhi wasiat kakeknya dan ambisi bisnis. Namun, rahasia identitas Lysandra yang sengaja ditutupi ayahnya terancam terbongkar. Akankah Arthur tetap bertahan saat mengetahui istri yang baru dinikahinya bukanlah putri kandung Harrison?
Sampul Novel Hari Pernikahannya, Pembalasan Dendam Sempurnanya
9.2
Dahulu aku menyelamatkan Arya Wicaksana, membangunnya menjadi raja bisnis, dan menikahinya secara rahasia. Namun, ia mengkhianatiku dengan menyebutku beban dan menghancurkan klinik kenangan putri kami demi kekasih barunya. Arya menyalahkan ambisiku atas kematian anak kami, berusaha menghapus jejak masa lalu kami sepenuhnya. Ia pikir ia telah menang, namun undangan pernikahannya justru menjadi awal kehancurannya yang akan aku eksekusi tepat di hari bahagianya.
Sampul Novel Merebut Kekasih Selingkuhan
8.5
Sienna hancur saat memergoki Miranda, kakak iparnya, berselingkuh dengan musuh bisnis Damian di klub malam. Demi melindungi kakaknya yang rapuh, Sienna merahasiakan pengkhianatan ini. Ia pun merancang rencana nekat: menggoda Alec, selingkuhan Miranda, agar hubungan gelap itu hancur. Namun, misi balas dendam ini menjadi rumit saat Sienna mulai terjebak dalam permainan emosi yang ia ciptakan sendiri. Akankah ia berhasil menyelamatkan Damian atau justru ikut tenggelam?
Sampul Novel Pembalasan Dendam yang Munafik
9.3
Menjadi putri orang terkaya di Kota Silo adalah impian semua orang, tetapi bagi gadis yang tidak bisa merasakan sakit ini, itu adalah awal dari neraka baru. Setelah diselamatkan dari penyiksaan kejam sang istri miliarder demi publisitas, ia menyadari bahwa status barunya menuntut bayaran yang fatal. Keluarga munafik itu menginginkan kematiannya sebagai bentuk balas budi. Dalam novel Pembalasan Dendam yang Munafik, ia memilih untuk tidak menyerah dan bersiap membalikkan takdir demi menghabisi mereka.
Sampul Novel Pengantin Bekas CEO
9.1
Nadine dihina suaminya pada malam pengantin sebelum menyadari itu hanyalah alasan untuk menutupi perselingkuhannya. Status janda setelah cerai membuat Nadine jadi bahan ejekan, hingga seorang CEO tampan datang melamarnya. Meski merasa tidak pantas karena masa lalunya, Nadine tidak tahu bahwa sang miliarder telah lama mengejarnya. Di balik kemewahan, sang CEO siap membuktikan cintanya dan membungkam semua orang yang pernah merendahkan wanita pujaannya itu.
Sampul Novel Pengkhianatanmu Adalah Kesalahan Terbesarmu
9.4
Alya, anak angkat keluarga Haris, harus menanggung luka saat dikhianati Revan hingga hamil. Diusir dan diminta menggugurkan kandungannya demi reputasi, Alya memilih pergi demi membesarkan putranya, Rayan, sendirian. Bertahun-tahun kemudian, ia sukses bangkit namun takdir membawanya kembali pada Revan yang kini memohon maaf. Meski Revan berusaha menebus dosa masa lalu, luka hati Alya terlalu dalam. Akankah ia memberi kesempatan atau menutup pintu selamanya?