
Pembalasan Istri yang Direndahkan: Penyesalan Suami Pengkhianat
Bab 4
"Analisis laporan keuangan harus selesai sebelum jam pulang siang."
Elara kembali ke meja kerjanya. Meskipun dia dipindahkan ke posisi pegawai kecil di departemen sekretaris, Shireen justru memberinya banyak tugas yang sebenarnya bukan bagian dari pekerjaannya. Semua itu pun dia terima satu per satu.
Dia terus bekerja tanpa mengeluh di perusahaan ini, sejatinya hanya bentuk penipuan diri sendiri. Deon sama sekali tidak akan meliriknya sedikit pun.
Setelah Elara menyelesaikan analisis laporan itu, dia menyerahkan versi digital beserta cetakan kertasnya kepada Shireen, lalu memesan makanan pesan antar.
Meskipun perusahaan memiliki kantin, selama ini dia selalu membawa bekal sendiri. Dia tidak ingin pergi ke tempat ramai, tidak ingin terus-menerus menjadi bahan tatapan orang lain, tidak ingin berurusan dengan siapa pun. Dia hanya ingin makan sendirian dengan tenang.
Karena pagi ini tidak sempat menyiapkan makan siang, dia pun terpaksa memesan makanan.
Saat menunggu pesanan datang, beberapa rekan kerja yang sudah makan siang masuk ke kantor sambil mengobrol dengan penuh semangat.
"Pacar Pak Deon masih sangat muda ya? Mahasiswi, 'kan?"
"Sepertinya begitu. Cantiknya luar biasa, seperti boneka."
"Tatapan Pak Deon ke dia benar-benar lembut. Tak disangka beliau yang selalu serius punya sisi selembut itu. Versi nyata presdir dominan dan istri muda!"
Kedua rekan itu terus mengobrol sambil masuk ke kantor, lalu menyadari keberadaan Elara di mejanya. Dia duduk di sana, kaku, tak bergerak, seperti patung penjaga gunung.
Sejak dipindahkan ke departemen sekretaris, selain urusan pekerjaan, dia nyaris tidak pernah berkomunikasi dengan siapa pun. Kini, dia bahkan semakin menyendiri, setiap hari memakai masker seolah-olah wajahnya tak pantas dilihat orang.
Sulit membayangkan bahwa setengah tahun lalu dia masih merupakan asisten presdir yang sangat disegani.
Setelah menerima telepon dari kurir makanan, Elara pun bangkit. Saat dia turun ke lantai bawah untuk mengambil pesanannya, dia kebetulan melihat dua staf hotel membawa hidangan dan bertanya ke meja resepsionis. Resepsionis menggesekkan kartu lift khusus presdir untuk mereka.
Elara melihat sebotol anggur merah di tangan salah satu staf. Harga satu botol itu sekitar 4 miliar. Bagi Deon, itu hanyalah uang yang bisa dia hasilkan dalam waktu kurang dari satu menit.
Elara membawa pesanannya dan kembali ke atas.
Pukul 2 siang, Shireen menghampirinya dan berkata, "Pak Deon mencarimu."
Jantung Elara berdegup kencang. Dalam hatinya, muncul firasat buruk yang tak bisa dijelaskan.
Firasat itu benar adanya. Begitu Elara tiba di kantor presdir, tekanan rendah langsung menyergapnya. Dia berjalan ke depan meja kerja dan menyapa pelan, "Pak Deon."
Saat Deon mengangkat pandangan ke arahnya, wajah tampannya tampak dingin dan muram. Dia mengayunkan tangan, melempar berkas di tangannya tepat ke arah wajah Elara. "Ini yang kamu sebut laporan analisis?"
Kertas A4 yang tajam itu menggesek pipi Elara. Dia merasakan perih sesaat. Berkas-berkas berserakan di kakinya. Itulah laporan yang dia kerjakan pagi tadi.
Dengan satu tangan menopang perutnya, Elara membungkuk dengan susah payah untuk memungut berkas-berkas itu.
Sepasang mata hitam pria itu menatap dingin gerakannya yang lambat saat dia berjongkok sambil menahan perut.
Elara meneliti laporan di tangannya dan langsung menyadari beberapa angka yang tidak sesuai. Dia membela diri. "Pak Deon, ini bukan laporan yang kubuat."
"Cukup. Aku nggak ingin mendengar pembelaanmu."
Elara menggenggam erat berkas itu.
Bukan Deon tidak tahu kemampuan Elara. Bukan pula dia tidak ingin mendengar penjelasan. Dia hanya memilih menganggap Elara memang pantas disalahkan.
Dibenci sampai sejauh ini oleh pria yang begitu dicintai, sungguh membuatnya merasa menyedihkan sekaligus konyol.
Elara menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata sejenak, lalu membukanya kembali dan mengumpulkan keberanian. "Aku menyimpan salinannya. Aku bisa langsung mengirimkannya untuk Pak Deon periksa. Setelah itu, Pak Deon boleh memarahiku sesuka hati."
Mata hitam Deon menyipit, kekesalan jelas terpancar.
Saraf Elara menegang. Di dalam hatinya, dia selalu menyimpan rasa takut terhadap Deon. Takut pada otoritasnya, terutama saat wajahnya sedingin ini. Biasanya, dia sama sekali tidak berani membantah.
Namun saat ini, dia memaksa dirinya untuk tenang. Lagi pula, mereka akan segera bercerai. Dia juga akan menuruti keinginan Deon, tak akan pernah lagi menginjakkan kaki di tempat ini. Dia tak akan berharap apa pun dari Deon lagi. Lalu, apa lagi yang perlu ditakuti?
"Kamu merasa sangat terzalimi?" Suara pria itu dingin seperti serpihan es, sarat ejekan.
Elara menatap balik mata hitam yang tajam itu. Ujung jarinya menancap dalam ke telapak tangan. Suaranya terdengar lebih berat. "Pak Deon menuduhku tanpa bertanya sebabnya. Apakah aku nggak pantas membuktikan diriku sendiri?"
Wajah Deon sepenuhnya suram. "Itu memang pantas kamu terima."
Hati Elara terasa seperti diremas kuat. Rasa sakit menjalar hebat, wajahnya seketika pucat.
Saat itu juga, pintu ruang istirahat terbuka. Seorang gadis muda keluar dengan mengenakan gaun tidur sutra bertali tipis berwarna pink. Rambut panjangnya hitam berkilau, kulitnya putih bersinar, wajahnya begitu indah hingga sulit mengalihkan pandangan.
"Kak Deon!" Suara gadis itu lembut seperti angin musim semi, halus dan menenangkan.
Akhirnya, Elara melihat jelas wajah gadis itu. Memang secantik itu, sampai membuat orang merasa rendah diri.
Dia baru melirik sekilas ketika mendengar bentakan dingin pria itu. "Keluar!"
Elara menarik kembali pandangannya, menekan gejolak emosinya, lalu berbalik dan berjalan ke luar.
Begitu keluar dari kantor, dia mendengar suara lembut gadis itu menenangkan Deon dan pria itu pun segera menjadi tenang.
Elara mendongak, menahan air mata agar tidak jatuh. Dia pergi ke sudut tangga yang sepi. Dengan satu tangan berpegangan pada pagar, emosinya akhirnya runtuh. Air mata mengalir deras, dadanya terasa seperti diremas, perutnya pun bergejolak.
Menyingkirkan pria yang telah dia cintai selama delapan tahun dari lubuk hati terdalamnya tak ubahnya menguliti daging dan mengorek tulang. Namun, tak masalah. Semua akan membaik. Dia akan benar-benar melupakan Deon.
Entah berapa lama berlalu, akhirnya Elara menenangkan diri. Saat naik kembali menuju mejanya, dia berpapasan dengan gadis itu.
Gadis itu mengenakan busana bermerek yang dipesan khusus, tampak sempurna dari ujung kepala hingga kaki. Sekilas saja sudah jelas, dia adalah gadis yang dibesarkan dengan kemewahan dan kasih sayang.
Mikie mengantarnya secara pribadi. Mikie adalah asisten khusus Deon.
Melihat Elara, gadis itu tersenyum dan melangkah mendekatinya, lalu berhenti. Dengan suara lembut, dia berkata, "Sudah nggak apa-apa. Kak Deon nggak akan menyalahkanmu lagi."
Sambil berkata demikian, dia mengeluarkan sebuah mutiara dari tasnya, menggenggam tangan Elara, lalu meletakkan mutiara itu di telapak tangannya. "Ini untukmu. Jangan bersedih lagi. Luka di wajahmu jangan lupa diobati. Kalau wajah perempuan punya bekas luka, itu nggak bagus lho."
Betapa cantik dan baiknya gadis ini. Dibandingkan gadis yang memancarkan pesona ini, Elara merasa dirinya seperti badut yang hidup di dunia gelap.
Melihat Elara tidak bereaksi sama sekali, Mikie mengerutkan kening dan mengingatkan dengan dingin, "Nggak tahu berterima kasih pada Bu Doreen?"
Ternyata namanya Doreen.
Doreen Adhisti menarik kembali tangannya dan berkata, "Nggak apa-apa. Ayo kita pergi."
Keduanya pun pergi.
Elara berdiri di tempat, menatap mutiara putih berkilau biru perak di telapak tangannya. Teksturnya sempurna tanpa cela, sebersih gadis itu sendiri.
Hanya saja, dia tidak tahu apakah gadis itu mengetahui fakta bahwa Deon sudah menikah.
Setelah kembali ke mejanya, Elara mencetak ulang dokumen versi asli dan menyerahkannya ke hadapan Shireen. Saat melihatnya, tidak ada sedikit pun rasa bersalah di wajah Shireen, yang ada justru kepuasan.
"Kamu sudah lihat jelas, 'kan? Seperti apa gadis yang pantas bersanding dengan Pak Deon."
Elara membanting berkas itu ke depan Shireen dengan keras. "Aku nggak pantas, kamu juga nggak pantas. Jadi, kamu hanya bisa memainkan cara-cara murahan seperti ini? Seumur hidupmu pun kamu nggak akan punya masa depan. Sudah kepala tiga, cepat cari orang untuk nikah. Berhentilah bermimpi di siang bolong."
Anda Mungkin Juga Suka





