Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Hubungan Gelap Sekretaris dan Suami Pembawa Petaka

Hubungan Gelap Sekretaris dan Suami Pembawa Petaka

Sebuah foto viral memperlihatkan Charlie bersama sekretarisnya di hotel. Saat dikonfirmasi, Charlie justru memarahi istrinya sebelum memblokir panggilannya. Tragedi mengerikan terjadi ketika sang putra ditemukan tewas dengan menggenggam kartu identitas sekretaris tersebut. Bukannya peduli, Charlie yang dibutakan oleh bisnis malah balik memarahi sang istri karena membawa pergi anak mereka yang dibutuhkan untuk penandatanganan kontrak. Kehilangan segalanya, sang istri kini bertekad menggunakan kekuasaannya untuk menghancurkan seluruh masa depan suaminya.
Bab
Bagikan

Bab 4

Sebelum tamparan itu mendarat di wajahku, Tamara tiba-tiba menahan tangan Charlie. Dia menggeleng sambil berkata, "Anak kecil nggak ngerti soal kontrak. Dia sendiri mungkin nggak tahu barang apa yang dirobeknya. Dia pasti nggak sengaja. Nanti malam aku buatkan yang baru saja."

Charlie malah makin marah mendengarnya. "Kontrak itu memang nggak penting. Masalahnya aku nggak bisa melihat anakku rusak begitu saja! Kontrak itu senilai puluhan miliar. Kalau nggak dididik sekarang, apa jadinya setelah dewasa nanti?"

Aku membelalak dengan murka, "Charlie, kamu sudah gila ya? Mana mungkin putramu merobek kontrakmu! Kamu lebih percaya pada jalang ini daripada putra sendiri?"

Putraku sudah tiada, tetapi masih difitnah Tamara. Hal ini membuat akal sehatku dilahap amarahku.

Sementara itu, Charlie sontak melepaskan tangan Tamara dan menamparku kuat-kuat. Tamparan ini akhirnya membuatku sadar.

Mataku telah terbuka sepenuhnya! Pemuda yang kucintai telah mati saat mendirikan perusahaan!

Setelah menamparku, Charlie masih merasa tidak puas. Dia menghardik, "Kamu menyuruh anakmu menghancurkan kontrak perusahaan dengan menggunakan mesin penghancur kertas. Kamu tahu berapa lama kami bekerja keras untuk proyek ini?"

"Pantas saja, aku menyuruhnya mengambil kontrak, tapi dia nggak balik-balik! Rupanya dia nggak berani menemuiku!"

Aku memelototi Charlie lekat-lekat. Nada bicaraku terdengar dingin saat bertanya, "Kamu punya buktinya? Kalau nggak punya, jangan fitnah putraku!"

Saat berikutnya, Charlie mengangkat tangannya lagi dan menamparku. Demi melindungi guci abu di pelukanku, aku hanya bisa menahan rasa sakit itu. Wajahku terasa kebas.

Charlie memekik, "Satpam melihat semuanya! Kamu mau bilang apa lagi? Kamu mau bilang satpam memfitnah putramu? Jangan bicara omong kosong lagi! Cepat suruh dia keluar! Aku bakal interogasi dia sendiri!"

Begitu mendengarnya, aku terkekeh-kekeh dingin. Putraku mati di depan perusahaan. Dia bahkan belum sempat memasuki perusahaan. Apa satpam itu melihat hantu?

Sebelum aku menjelaskan, Tamara berucap dengan lembut, "Kak Naomi, jangan bela anakmu lagi. Suruh dia keluar dan minta maaf. Nggak ada dendam di antara ayah dan anak. Aku tahu kamu nggak menyukaiku, tapi proyek ini hasil kerja keras kami. Kamu nggak boleh seegois ini ...."

Ketika mendengar ini, aku langsung memelotot dengan gusar dan menyergah, "Berhenti berakting di depanku! Kamu kira kamu siapa? Saat perusahaan baru didirikan, mungkin kamu lagi di ranjang pria lain! Dasar menjijikkan!"

Ketika aku meronta-ronta, guci abu di pelukanku pun terlihat. Mata Tamara sontak berbinar-binar. Wanita itu menunjuk guci dan berujar, "Pak Charlie, apa itu? Apa mungkin isinya adalah serpihan kontrak? Mau diperiksa nggak?"

Aku termangu sesaat. Seluruh darahku seolah-olah membeku. "Bukan! Ini bukan! Jangan sentuh!"

Charlie tidak peduli pada penolakanku dan memberi isyarat mata pada pengawal. Saat berikutnya, kedua pengawal di belakang langsung menahanku dan satu lagi mengambil guci itu dari pelukanku.

Aku menggunakan tenaga terakhirku untuk melawan, tetapi semuanya sia-sia. Tatapanku dipenuhi keputusasaan. Air mata berlinang di wajahku.

Demi membantu pengawal, Charlie menendang bahuku. Aku kesakitan hingga melepaskan tanganku.

Pada akhirnya, guci itu terhempas dari tangan pengawal dan membentur dinding di depanku. Untuk sesaat, napasku terhenti. Aku kehilangan kemampuan untuk berpikir, hanya bisa melihat abu putih tanpa bersuara.

Charlie melirik sekilas, lalu menoleh dan membentak dengan tidak sabar, "Kuberi kamu kesempatan terakhir! Jangan sampai aku lapor polisi!"

Tidak peduli apa yang dikatakan, aku sama sekali tidak merespons dan hanya menatap abu putih di depan.

Charlie pun maju dan menginjak abu putih itu, lalu mengambilnya. "Apa ini? Ini bukan surat kontrak."

Kemudian, Charlie mengempaskannya dengan kesal dan menyeka tangannya di pakaian pengawal. Sambil memelototiku, Charlie menelepon asistennya. "Lapor polisi. Naomi menculik anakku. Dalam satu jam, aku mau tahu lokasi putraku!"

Asisten terdiam sesaat, lalu berkata dengan terbata-bata, "Pak Charlie ... anakmu sudah dikremasi. Malam saat kamu dan Kak Tamara bertemu klien, anakmu ditabrak mobil dan meninggal di depan perusahaan ...."

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "B11376" di goodnovel para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Goodnovel untuk melanjutkan membaca.
B11376
Salin

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku gundik
8.0
Ragazza Perfetto dikenal sebagai sosok pria kaya raya yang memiliki kepribadian hampir tanpa celah. Namun, kesempurnaan hidupnya seketika hancur saat wanita yang ia cintai dengan sepenuh hati justru tega mengkhianatinya. Tanpa belas kasihan, belahan jiwanya tersebut menginjak-injak harga diri Ragazza dan menyerahkan kehormatannya kepada seorang gundik. Kini, sang miliarder harus menghadapi kenyataan pahit saat martabatnya dilemparkan begitu saja dalam konflik romansa ini.
Sampul Novel Balas Dendam Seorang Ibu
7.9
Dunia Alana runtuh saat mengetahui Kenzo, suami yang ia puja, berselingkuh dengan adik tirinya, Risa. Meski amarah memuncak, Alana menahan diri demi melindungi masa depan kedua buah hatinya, Arya dan Luna. Ia menolak hancur begitu saja dan mulai menyusun rencana balas dendam yang dingin serta terstruktur. Alana bertekad membuat para pengkhianat itu membayar rasa sakitnya. Ikuti perjuangan Alana menuntut keadilan demi martabatnya sebagai seorang ibu.
Sampul Novel Dunia Baru Alyssa
9.2
Alyssa, alumni pesantren yang terbiasa hidup religius, kini harus beradaptasi di SMA Safir. Lingkungan barunya sangat kontras karena pergaulan bebas dan interaksi tanpa batas antara lelaki dan perempuan. Di sana, ia bertemu Debo, Via, Bagas, Riki, dan Denis yang mewarnai hari-harinya. Akankah Alyssa hanyut dalam budaya pacaran dan ikhtilat yang asing baginya? Ataukah ia justru mampu membawa pengaruh positif serta kedamaian ajaran Islam di sekolah tersebut?
Sampul Novel KEPINCUT PAPA MUDA
8.2
Althea, dokter mandiri pewaris kekayaan kakeknya, tak sengaja bertemu anak kembar yang mengiranya ibu mereka. Sebagai sesama anak yang tumbuh dengan orang tua tunggal, ia merasa iba dan menjalin ikatan erat dengan mereka. Namun, warisan besar itu memicu konflik tajam dengan tantenya. Di tengah kemelut, Althea justru jatuh hati pada Evander, ayah duda si kembar yang awalnya menutup hati. Hubungan unik mereka pun berkembang penuh tantangan serta romansa yang manis.
Sampul Novel Pemuas Nafsu Keponakan
9.0
Rina, wanita 30 tahun, terjebak dalam dilema saat tinggal bersama kakaknya karena suaminya bekerja di kapal pesiar. Namun, ketenangan yang ia cari sirna ketika Aldi, keponakannya yang berusia 17 tahun, mulai memaksakan nafsu terlarang padanya. Di balik ketidaktahuan sang kakak, Rina berjuang melawan rasa bersalah dan tekanan batin yang menyiksa. Setiap malam menjadi medan tempur antara dosa dan keinginan untuk bebas dari jeratan obsesi gelap keponakannya tersebut.
Sampul Novel Pengantin SMA
8.4
Laura dan Kavin terpaksa menikah di usia sekolah setelah tertangkap basah berada dalam satu kamar. Meski kepribadian mereka bertolak belakang, keduanya tak punya pilihan selain patuh pada keluarga. Menjalani rumah tangga ternyata jauh lebih rumit daripada pelajaran sekolah yang paling sulit sekalipun. Di tengah gejolak emosi masa muda, mereka hanya ingin bercerai namun belum berdaya. Sambil menunggu saat berpisah, mampukah pasangan ini tetap waras menghadapi satu sama lain?