Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Hot Love - Gairah cinta sesama wanita

Hot Love - Gairah cinta sesama wanita

Kara, mantan karyuki yang kini kaya raya, menjadi incaran FBI setelah suaminya tewas dalam kecelakaan pesawat di New York. Pimpinan FBI, Carlos, mencurigai Kara sebagai dalang teror tersebut. Di tengah penyelidikan, Kara menjalin cinta terlarang dengan notarisnya, Rose, dan mengaku telah menyabotase pesawat itu karena dendam. Rose meminta bantuan pengacara hebat, Rebeca, yang justru turut jatuh hati pada Kara. Kini, mampukah Rebeca melindungi kekasihnya dari ancaman hukuman mati?
Bab
Bagikan

Bab 3

Hampir sepuluh tahun Kara tinggal di Amerika dan dia telah terbiasa dengan cara hidup negeri paman Sam itu.

Budaya, makanan dan kebiasaan Jepang sudah berangsur-angsur dia tinggalkan dan lupakan. Kini dia hidup dengan budaya liberal Amerika.

Kara keluar dari kamar mandinya dengan handuk membalut tubuhnya. Dan handuk lain melingkar di kepala gadis Jepang itu.

Kara langsung menggoreng dua buah telur mata sapi dan membuat beberapa sandwitch untuk sarapan paginya dan mengambil dua kaleng minuman dingin untuk menyegarkannya.

Dia membawanya ke meja makan besar di tengah ruang makan itu.

"Ok, perutku harus diisi."

"Auuu ... " Niko melolong.

"Ok, Niko kamu duduk di dekatku sekarang." Kara menggendongnya dan meletakkannya di kursinya.

"Aku makan sendiri sekarang. Tuanmu sudah tidak ada lagi. Dia sudah tewas bersama wanita-wanita bayarannya itu."

Niko mendekati paha Kara dan menjilatinya.

"Niko, geli. Sebentar aku mau makan dulu." tukasnya.

Niko, robot anjing pintar itu mengerti dan menghentikan aksi usilnya. Dia melomapat ke meja makan. Terlihat robot anjing kecil itu memperhatikan Kara yang sendang menikmati telur mata sapi buatannya.

"Auu ..."

"Kamu mau makan?" ejek Kara.

Robot anjing kecil itu menggeleng. Lalu dia duduk dengan tenang.

------

Ponsel Kara menyala, Niko dengan sigap langsung melompat turun dan mengambilkannya. Lengan robotik keluar dari punggung Niko dan mengambil ponsel Kara dengan sangat hati-hati. Lengan-lengan robotik itu mencengkeram kuat ponsel Kara.

Niko berlari dan melompat naik ke meja makan Kara. "Ok, thank's anjing pintar!"

Kara mengambil ponsel itu. Telepon dari sang notaris pribadi Veron. Wanita Amerika berambut pirang bergelombang bertubuh seksi dan stylist.

"Nyonya, aku segera ke rumahmu. Ada yang perlu Anda tandatangani untuk membereskan prosedur pengalihan saham-saham milik suami kepada Anda."

"Ok, nyonya Rose. Aku di rumah sekarang, sarapan. Kamu bisa ke mari." jawab Kara.

"Ok, nyonya. Lima belas menit lagi aku sampai di situ."

Kara meletakkan ponselnya dan melanjutkan sarapan paginya.

-----

Niko terlihat berkedip dan sesekali menggerakkan ekor kecilnya.

"Hmm .. lima belas menit lagi notaris wanita Amerika itu ke mari. Kamu jangan usil dan mengejar-ngejarnya lagi." kata Kara.

"Auuu ..." Niko menggonggong dengan suara kecilnya.

Ha ha ha ... Niko ... Niko. Kamu memang benar-benar usil. Sama persis dengan tuanmu, Veron.

"Au ... au ... " Niko menggonggong lagi.

-----

Kara telah menyelesaikan sarapan paginya, dia keluar dari ruang makan itu dan menuju ruang tamu, menunggu kedatangan nyonya Rose. Wanita setengah baya berkacamata.

Kara rebahan di sofa, tubuh mulusnya masih terbalut handuk besar hingga menutup dada. Rambutnya belum kering, handuk putih melingkar menutup kepalanya.

Niko mondar mandir di samping sofa panjang itu.

"Niko, come here."

Robot anjing kecil itu berhenti lalu melompat ke atas tubuh Kara.

"Ho ho ho ... Niko, my cute puppy!" Kara memegangnya dengan kedua tangan, menaruh di dadanya dan menciuminya. Niko pun menjilat-jilat dengan ekor bergerak-gerak. Robot anjing kecil itu menunjukkan rasa senang.

Niko menjilati leher Kara, "Oh no! No no no! Niko!" Kara menggelinjang geli.

Niko terus menjilati lehernya, robot anjing kecil itu sangat gembira. Lalu dia diam, hanya mengedipkan kedua matanya.

"Niko, you're smart puppy. I love you." Kara menciumi Niko lagi, lalu mendekapnya.

Niko memancarkan layar hologram, terlihat mobil nyonya Rose memasuki gerbang rumah mewah itu.

Robot anjing kecil itu dirancang sebagai asisten pribadi Veron dan Kara, dia dilengkapi teknologi Artificial Intellingence (AI) dan terhubung dengan sistem keamanan rumah mewah itu.

Dia dapat mendeteksi siapa yang datang dan masuk dan merekam semua kejadian yang terjadi di dalam rumah dan lingkungan sekitarnya. Dia akan memberitahu Veron atau Kara semua informasi yang mereka butuhkan. Seolah dapat membaca apa yang ada di kepala mereka. Niko asisten pribadi yang sangat handal dengan bentuk fisik robot anjing kecil yang pintar dan lucu.

Pintu terbuka otomatis, Rose masuk ke ruang itu.

"Au .. au .. au." Niko melompat menyambut kedatangan notaris pribadi Kara.

Kara bangun dan duduk di sofa itu.

Notaris itu ketakutan karena Niko melonjak-lonjak manja, dia ingin digendong oleh wanita berkacamata itu.

"Niko, ... don't do that!" Come here!" panggil Kara. Robot anjing kecil itu diam dan berbalik berjalan menghampiri Kara. Ekornya bergerak-gerak. "Au .. au .. au ..."

"Ok, cute puppy. Sit down." Niko duduk manis di samping Kara.

-----

"Maaf nyonya Rose, aku belum sempat ganti pakaian." ungkap Kara.

"Oh, tidak mengapa, aku hanya ingin meminta beberapa tanda tanganmu untuk mengalihan kepemilikan saham beberapa perusahaan milik mendiang suamimu."

"Mereka masih meminta tanda tangan manual sebab sistem baru maintenance. Jadi aku harus menemuimu langsung di sini." jelas Rose.

"Oh, ok. Tak masalah. Aku juga tidak kemana-mana." ungkap Kara mengehela nafas panjang.

Notaris itu menyodorkan beberapa lembar berkas yang harus ditandatangani Kara. Sebuah pulpen mahal dia ambil dari tas kerjanya.

"Silakan tanda tangani semua berkas ini, di kotak tanda tangan yang bermeterai."

"Ok." Kara langsung menandatangani semua berkas yang diperlukan.

"Ok, semua sudah beres."

"Aku bisa mengurus semua pengalihan kekayaan Tuan Veron kepadamu. Kamu satu-satunya ahli warisnya dan berhak menerima semua harta suamimu." Notaris itu tersenyum.

Kara pun membalas senyumannya. Keduanya berbincang akrab karena mereka sudah lama saling mengenal. Semua urusan legalitas yang dibutuhkan oleh Veron diurus olehnya.

"Aku turut prihatin dengan kecelakaan yang dialami Veron." ungkap Rose.

"Ya, thank's nyonya." jawab Kara dengan ekspresi sedih.

"Ya, kini hanya Niko satu-satunya yang menjadi hiburanku."

"Ya, dia robot anjing yang lucu dan pintar." ungkap Rose.

"Au .. au .. au." Niko langsung melompat ke pangkuan Kara. Robot anjing kecil itu tahu mereka memperbincangkannya.

"Sebentar, nyonya aku ambilkan minum, agar kita bisa berbincang lebih lama." Kara berdiri dan menggendong Niko.

Niko usil menggigit-gigit handuk yang melingkar di tubuh Kara. Kara pun mengambil beberapa minuman ringan menentengnya dengan satu tangan.

Niko terus menggigit handuk Kara. Saat Kara ingin menaruh minuman ringan itu di meja depan Rose. Handuk yang dikenakan Kara terlepas. "Oh, sorry." kata Kara.

Niko melompat turun, dia masih menggigit ujung handuknya. Hingga handuk itu jatuh ke lantai. Niko menarik dan menyeret handuk itu, Kara pun lari mengejarnya. "Niko! Don't do that!"

Niko berhenti dan duduk menunduk. Kara mengambil handuknya dan melingkarkannya untuk menutup tubuhnya. "Don't do that! Ok!" marah Kara.

Niko duduk dan terus menunduk. "Ok, I'm sorry." kata Kara mengelus kepala Niko dan menggendongnya lagi.

"Sory, nyonya Rose, Niko memang nakal dan usil."

Rose tersenyum, memaklumi insiden kecil itu.

"Ok, silakan diminum." pinta Kara sambil membetulkan ikatan ujung handuk yang melingkar di tubuh seksinya.

Rose mengambil satu kaleng dan meminumnya. Keduanya berbincang akrab. Kara senang dengan kedatangan notaris setengah baya itu ke rumahnya. Kedatangannya sangat berarti bagi Kara. Setidakmya bisa menghibur dari kesepiannya.

------

Niko, robot anjing kecil itu terlihat mengantuk. Beberapa kali dia menguap seperti anak anjing asli.

"Oh, Niko kamu mengantuk sayang. Tidurlah sana." Robot anjing kecil itu melompat turun dan berjalan menuju tempat tidurnya. Sebuah lingkaran berdiameter 30 cm, alat charger khusus Niko. Robot anjing kecil itu akan menguap jika daya batre di tubuhnya mulai menipis. Dia harus tidur di atas lingkaran itu untuk mengisi daya batrenya kembali.

"Begitulah keunikan Niko, robot anjing kecil pintar dan lucu asisten pribadi Veron." tukas Kara.

Rose berdiri duduk di samping Kara. "Sorry aku harus bergeser dekatmu agar aku bisa bersandar di sofa ini."

"Ok, silakan."

Kara melepas handuk yang menutupi kepalanya, "Kita berbicang sambil kukeringkan rambutku." kata Kara, dia mengelap rambut basahnya pelan.

"Hmm ... bagus juga rambutmu? Sangat terawat." puji Rose.

"Iya, aku harus perawatan seminggu sekali karena rambutku mulai bercabang."

"Seperti ini. Jika dibiarkan akan semakin parah kata hair stylistku." Kara menunjukkan bagian rambut yang bercabang itu.

"Oh, ternyata kita harus perhatikan rambut kita sedetil itu," gumam wanita tengah baya sambil mengelus dan membelai rambut Kara.

"Hmmm ... maaf, omong-omong hmm ... nyonya ada rencana mencari pengganti Veron?"

"A ... sepertinya tidak. Aku trauma dengan kelakuannya. Perilaku seks nya sangat menyimpang. Sebenarnya aku aku tidak tahan hidup dengannya." keluh Kara sambil memegangi handuknya.

"Aku sebenarnya tidak ingin berhubungan dengan pria. Sejak kecil aku sering mengalami perlakuan tak baik dari para pria."

"Oh, separah itu kah?" tanya Rose yang ingin lebih tahu tentang kehidupan Kara.

"Ya, nyonya. Saat masih kanak-kanak aku telah dijual kepada pria-pria kaya, itu tradisi di tempat asalku. Orang menyebutnya kami sebagai 'karayuki', gadis-gadis kecil yang dijual ke pria-pria kaya di negara lain."

"Karena kami lahir di daerah miskin mungkin hanya itu satu-satunya jalan bagi kami agar dapat mempertahankan hidup." Kara jujur mengungkapkan pengalaman hidup pahitnya kepada Rose, wanita paruh baya yang sabar mendengarkan keluhan-keluhannya.

Kara sering menelponnya malam-malam untuk mencurahkan semua masalahnya kepada wanita yang sudah dianggap sebagai ibunya sendiri.

"Oh, seperti itu ceritanya?" Rose memeluk dan mencium keningnya.

"Sabar, sayang. Hidup memang penuh warna. Yang terpenting sekarang alam sudah membayar semua kepahitan hidupmu."

"Iya, nyonya. Aku sekarang lega." ungkap Kara.

Rose mengelus punggungnya, "Jika ada masalah kamu bisa menelponku kapan saja. Aku ada untukmu."

"Nyonya masih single juga?" tanya Kara.

"Iya. Kisah hidupku juga mirip dengan kisah hidupmu. Sedikit berbeda." ungkap wanita paruh baya itu.

"Itulah alasanku untuk tidak berhubungan dengan lelaki."

"Saat aku kecil terjadi perampokan di rumahku. Ayahku seorang peternak sapi. Kami memiliki ribuan sapi penghasil susu yang oleh ayahku dipasok ke pabrik-pabrik susu guna memenuhi kebutuhan susu segar di seluruh Amerika."

"Namun suatu hari saat libur akhir tahun, para pekerja ayahku pulang ke kampung halaman masing-masing, tiba-tiba ratusan orang bertopeng menyerang peternakan kami. Orang tuaku dan tiga kakak laki-lakiku dibunuh oleh mereka."

"Seluruh sapi di bawa ke peternakan mereka. Dan akupun disekap oleh pimpinan mereka di sebuah gudang bawah tanah. Di sana setiap hari aku disetubuhi olehnya selama bertahun-tahun. Namun selama itu aku tidak hamil."

"Suatu hari aku bisa lolos dari neraka itu dan meminta pertolongan. Mantan seorang marinir Amerika menolongku dan membawaku ke rumah sakit. Aku mendapat perawatan intensif dari dokter-dokter militer dan dapat sembuh. Salah satu dokter itu mengatakan aku beruntung karena ternyata dalam pemeriksaan mereka aku memang dilahirkan mandul. Sehingga tidak hamil walaupun mengalami pemerkosaan brutal setiap hari oleh pimpinan perampok itu."

"Saat itu tentara menggerebek mereka, menangkap semua gerombolan perampok itu. Mereka dihukum seumur hidup dan beberapa dihukum mati, termasuk pimpinan mereka."

"Itulah sebagaian kisah pahit perjalanan hidupku. Sedih jika mengingatnya. Namun aku harus bisa melupakannya dan bangkit kembali menjalani hidup ini." ungkap Rose dengan mata berkaca-kaca. Sesekali dia menahan nafasnya, air mata mengalir di kedua pipinya.

"Nyonya kita sama." kata Kara.

Kedua wanita itu saling berpelukan untuk menguatkan satu dengan lainnya.

"Nyonya, maukah kamu tinggal bersamaku disini? Aku sangat berharap Anda mau. Aku sangat kesepian setelah Veron tidak di sini lagi. Please, nyonya Rose." pinta Kara.

"Hmm ... ok. Mulai besok aku akan tinggal bersamamu. Hari ini aku harus mengurus berkas-berkas ini agar di kemudian hari kamu tidak mengalami masalah." jawab Rose.

"Thank's nyonya Rose." ucap Kara.

"Iya. Aku juga kesepian di rumah sendiri. Ok besok pagi aku kemari membawa pakaianku."

"Baik, nyonya Rose. Aku menunggu Anda."

Keduanya berpelukan lagi.

Beberapa detik kemudian Rose melepaskan rangkulannya. "Ok, aku harus pergi membereskan berkas-berkas ini. Jaga dirimu baik-baik."

Rose keluar dari ruangan itu.

------

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Sang Ladyboy
8.4
Vanya adalah ladyboy menawan yang kecantikannya mengancam wanita tulen. Di sebuah klub, ia terpikat pada Ricardo Esteban, namun ragu akan statusnya. Pesonanya sebagai penari juga memicu obsesi Peter Hallmark, miliarder New York, serta Don Salvatore, bos mafia Italia yang ingin mengubahnya. Di balik karier MUA, Vanya terjebak dalam gelapnya perdagangan manusia. Mampukah ia bertahan hidup dan menemukan cinta sejati di tengah badai penderitaan tersebut?
Sampul Novel Destination Reveange
8.3
Jiang Shiqi kembali ke Kekaisaran Ming demi menuntut balas pada keluarga yang pernah mengadopsinya. Di tengah intrik kekuasaan, ia berhadapan dengan Xuan Ming, pangeran paling bengis dan kejam yang tak mengenal rasa bersalah. Meski Xuan Ming mencoba menahannya dengan paksa, Shiqi tetap teguh menolak cinta sang pangeran. Di malam pernikahan yang dingin, Shiqi justru meminta surat cerai dan bersumpah akan menghilang selamanya dari hidup pria jahat tersebut.
Sampul Novel En-PD161
9.1
Dua tahun menikah, sang suami berubah drastis menjadi pria yang gemar bersenang-senang dengan banyak wanita. Meski sang pria telah berjuang mempertahankan hubungan hingga berurusan dengan polisi, suaminya hanya memberikan balasan dingin yang menyakitkan. Terungkap bahwa pernikahan ini hanyalah alat balas dendam atas kematian cinta pertama sang suami. Saat kesabarannya habis melihat pengkhianatan itu, sang pria akhirnya memilih bangkit dan menerima tantangan cerai.
Sampul Novel Karena Aku Ingin Mati, Aku Jadi Belok
8.2
Gala adalah pria yang dihantui rasa takut akan luka emosional, sementara Lingga merupakan sosok haus popularitas yang justru membenci sanjungan. Di balik topeng kemunafikan, keduanya terjebak dalam hubungan penuh ancaman dan pemerasan untuk meraih kebahagiaan semu. Kolaborasi antara jiwa yang fasik dan munafik ini melahirkan dinamika cinta yang destruktif, di mana mereka saling menyakiti demi memuaskan hasrat batin serta obsesi gelap masing-masing.
Sampul Novel Kebohongan Sang Alfa, Pemberontakan Sang Omega
8.4
Kebahagiaan Omega ini hancur saat memergoki Alpha Baskara bersama wanita lain dan seorang putra rahasia. Ternyata, pernikahan mereka hanyalah alat politik yang dirancang oleh Baskara dan orang tua angkatnya. Meski dikhianati dan disebut pajangan, ia tetap tenang saat Baskara berpura-pura rindu. Di balik amarah yang membeku, ia menyiapkan pembalasan. Sebuah kristal berisi rahasia busuk mereka akan segera mengungkap kebenaran di tengah pesta akbar.
Sampul Novel MR. AKSA
9.1
Menikah muda demi bakti kepada orang tua terpaksa kujalani meski harus bersanding dengan pria asing. Namun, duniaku runtuh saat mendengar rahasia besar bahwa calon suamiku ternyata tidak menyukai wanita. Bagaimana mungkin orang tuaku tega menjodohkanku dengan pria seperti itu? Kini aku terjebak dalam dilema besar, meratapi nasib dan berharap bisa melarikan diri. Aku butuh pertolongan untuk lepas dari jeratan pernikahan dengan pria yang tak normal ini.