
Hot Game
Bab 3
Angelina terbangun pagi-pagi sekali, dia terduduk lama di atas tempat tidurnya memikirkan kembali tentang rencananya untuk merayu Dody. Dia mendengus kesal karena tak tahu apa yang akan dia lakukan tentang hal itu. Dia harus punya rencana yang matang.
Angelina memutuskan untuk mandi dan bersiap-siap lalu turun untuk sarapan. Saat tiba di dapur dia melihat Dody sudah duduk di sana. Di hadapannya sudah tersedia secangkir kopi dan sepiring sarapan. Pria itu hanya meliriknya sekilas dan kembali membaca ponselnya.
‘Menyebalkan!’ dengus Angelina.
Dody melirik Angelina, hati kecilnya ingin meminta maaf atas ucapan kasar yang dia lontarkan semalam. Dia memang sedikit keterlaluan, dia merasa bersalah saat melihat gadis itu menangis dan berlari masuk kamar. Tapi dia terlalu gengsi untuk memulainya.
Dody memegang erat ponsel di tangannya saat melihat penampilan gadis itu yang memakai hotpans dan tanktop. Dilihatnya gadis itu duduk di sisi kirinya membuat Dody bisa melihat dengan jelas belahan dadanya.
Andai saja Angelina bukan putri Sudrajat. Sial! Kenapa diriku harus berpikir ke arah sana, batinnya.
“Aku akan pergi jalan-jalan hari ini.” Suara Angelina membuyarkan lamunan Dody.
“Supir akan mengantarmu,” kata Dody datar. Mencoba untuk bersikap seperti biasanya. Tetap tenang dan fokus.
“Mmm, ada temanku yang akan menjemputku,” jawab Angelina.
“Siapa?” tanya Dody tajam.
“Lucas,” jawab Angelina lirih.
“Pria semalam yang mengantarmu pulang?” tanya Dody. Tangannya mencengkram erat garpu yang dia pegang.
“Ya,” jawab Angelina. “Tapi aku janji akan pulang cepat, sungguh” kata Angelina cepat.
Dody terdiam lama, melihat ke arah Angelina dengan intens membuat Angelina jengah. Sial! kenapa pria ini terlihat tampan, batin Angelina. Angelina menundukan wajahnya yang merona, berpura-pura menikmati sarapannya.
“Baiklah, kamu kuijinkan. Tapi ingat, jangan pulang terlalu larut,” kata Dody dengan nada dingin.
“Ya, Om.” Angelina tersenyum lebar ke arah Dody.
Sesaat Dody terpana karena ini pertama kalinya gadis itu tersenyum padanya. Sebenarnya Dody enggan untuk memberikan ijinnya, tapi dia teringat kalimat gadis itu tadi malam, Dody tak berhak mengaturnya. Dody sadar akan hal itu.
Tapi semalam amarahnya tersulut saat melihat gadis itu dengan berani mencium pria itu di depan matanya, dan pria itu balas menciumnya.
Dody tak mengerti kenapa dia sangat marah. Dan tak mampu mengontrol emosinya malam itu. Dan itu membuatnya merasa gelisah.
Dody beranjak dari kursinya, menyambar jasnya dan berlalu pergi, sebelum dia melakukan hal-hal bodoh.
Angelina yang melihatnya mendengus kesal. Bagaimana bisa dia punya pikiran akan menggoda pria menyebalkan itu. Melihat ke arahnya saja, pria itu sudah enggan.
Lucas menghubungi Angelina dan berkata dia akan menjemput Angelina di penthouse Dody. Lucas datang satu jam kemudian dan langsung mengajak Angelina ke lokasi pemotretannya di daerah Sanur.
“Katakan padaku, apakah si Om seksi benar-benar marah padamu?” tanya Lucas saat mereka berada di dalam mobil.
“Yeah, begitulah” jawab Angelina bosan.
“Apakah menurutmu dia marah karena kamu pulang malam, atau karena kamu bersama seorang pria yang menciummu di depan matanya?” tanya Lucas menggerak-gerakan alisnya.
Angelina memutar bola matanya. “Tentu saja karena aku terlambat pulang,” jawab Angelina dengan suara bergetar.
Dadanya bergemuruh memikirkan apakah mungkin kemarahan Dody tadi malam disebabkan juga karena Lucas menciumnya. Ah, tak ada alasan untuk Dody marah melihat dirinya bersama pria lain.
Mereka tiba di lokasi pemotretan. Lucas memperkenalkan Angelina pada yang lain. Angelina sedang melihat-lihat saat Lucas menghampirinya dengan wajah kesal.
“Ada apa Lucas?” tanya Angelina
“Pemotretan ditunda sampai model yang menjadi pasanganku datang,” katanya kesal.
Angelina dan Lucas berbincang-bincang mengisi waktu seraya menanti model yang menjadi pasangan Lucas tiba. Lalu salah seorang kru menghampiri mereka.
“Lucas, Kania tak bisa datang. Dia membatalkan kontraknya. Marissa sudah bicara dengan pihak klien dan mereka ingin kita mencari model penggantinya agar hari ini bisa melakukan pemotretan. Masalahnya kami belum menemukan model yang cocok untuk dipasangkan denganmu,” katanya dengan lesu.
Lucas menggeram marah, dia sangat kesal. Lalu dia melirik ke arah Angelina. Dia melihat Angelina dari atas sampai bawah. Angelina mempunyai wajah yang cantik dan eksotis, tubuh yang indah dan cukup tinggi. Kenapa dia tidak menyarankan Angelina saja untuk menjadi partnernya.
“Kenapa kamu tak menawari temanku ini untuk menjadi partnerku?” kata Lucas tiba-tiba.
Angelina yang mendengarnya sangat terkejut dan menggeleng ngeri. Orang-orang yang berada di ruangan itu bergumam dan berbisik-bisik. Angelina melihat fotografer mangarahkan kamera ke arahnya. Lalu berteriak penuh semangat bahwa saran Lucas benar-benar sempurna.
Seorang wanita bertubuh mungil bernama Marissa menghampirinya. “Ya, Lucas benar. Kamu cocok sekali. Wajahmu juga sangat cocok di kamera, kamu fotogenik,” katanya tersenyum
“Tapi.. tunggu, aku bukan model!” kata Angelina tergagap.
“Kamu punya bakat alami Bestie. Lagipula, selalu ada yang pertama kali.” kata Lucas menimpali. “Ayolah kali ini saja,” bujuknya.
Angelina terdiam, memikirkan tawaran itu. “Baiklah, aku terima tawaranmu,” katanya lirih.
“Bagus!, ayo kita bergegas mengganti pakaianmu dan merias wajahmu,” kata Marisa tersenyum.
Angelina diajak menuju ruang ganti. Dan betapa terkejutnya dia saat tahu pakaian apa yang akan dia pakai untuk pemotretan. Dia menatap Marissa tak Percaya.
“Apakah aku harus memakai ini?” tanya Angelina tak percaya.
“Ya, kamu pasti akan terlihat menakjubkan memakai itu,” kata Marissa.
Angelina menelan ludah gugup bagaimana ini, dia tak mungkin menarik ucapannya untuk menyanggupi pemotretan bersama Lucas. Dipandanginya gaun yang sedang dia pegang. Gaun itu berwarna khaki dengan bahan lace yang hanya menutupi dada dan bagian vital lainnya.
Marissa dan dua orang perempuan lainnya membantu Angelina mengganti pakaiannya dan merias wajahnya. Angelina terus saja berpikir dan merasa sangat gugup.
“Kamu memiliki tulang wajah yang sempurna, ya Tuhan kamu sangat cantik dan seksi,” desah salah seorang penata rias. “Aku yakin setelah ini, kamu akan dapat banyak tawaran untuk menjadi model,” lanjutnya.
Angelina menatap penampilannya di cermin, dia juga merasa takjub melihat dirinya yang terlihat sangat dewasa. Sulit dipercaya bahwa dirinya bisa terlihat seperti ini dengan sedikit riasan.
Angelina diantar menuju tempat pemotretan. Semua orang yang berada di sana merasa takjub dan terkagum-kagum melihat penampilan nya. Bahkan Lucas pun tak mampu berkata-kata.
Mereka mulai melakukan sesi pemotretan dan Angelina harus berganti pakaian sampai empat kali.
Semua berjalan lancar, awalnya Angelina sangat canggung tapi semua orang sangat baik berusaha membantunya untuk relaks.
Pemotretan berakhir pada malam hari, semua orang mengajaknya ke salah satu club untuk bersenang-senang. Angelina menolaknya, tapi Lucas terus memaksanya.
*^*
Suara hingar bingar club memekakkan telinga. Ini pertama kalinya Angelina datang ke tempat seperti ini. Dia berpegangan pada Lucas. Lucas yang mengetahuinya mencoba menenangkan. Angelina melihat ke selilingnya dan merasa sangat tidak nyaman, dia sudah cukup lama berada di tempat ini dan ingin segera pulang.
Angelina melirik jam tangannya, dia sangat panik saat waktu menunjukan pukul sembilan malam. Dia sudah berjanji untuk pulang cepat, dia segera berdiri dan berpamitan.
“Aku harus cepat pulang Lucas, aku tak ingin membuat Om Dody marah lagi,” kata Angelina cepat.
“Tapi Angelin, ini baru pukul sembilan. Hari masih sore,” kata Lucas.
“Maaf Lucas, aku sudah janji untuk pulang cepat. Aku akan naik taksi saja. Kalian lanjutkan saja acaranya,” jawab Angelina seraya pergi tanpa menunggu jawaban Lucas.
Untungnya tak butuh waktu lama untuk Angelina mendapatkan sebuah taksi, dan jalanan tak begitu padat. Angelina sangat gelisah dan terus menerus berdoa agar Dody tak memarahinya.
Setibanya di penthouse, Angelina berpapasan dengan Juliet saat dia naik ke lantai atas.
Dia menanyakan apakah Dody sudah datang, dan Juliet mengatakan bahwa Dody belum datang. Angelina bernapas lega. Kali ini dia selamat, doanya terkabul.
*^*
Dody setengah berlari menaiki tangga menuju kamar Angelina. Amarahnya menggelegak. Bahkan Juliet tak pernah melihat Dody semarah ini.
“Dimana gadis itu?” tanya Dody pada Juliet.
“Di kamarnya,” jawab Juliet.
Dody berjalan menuju kamar Angelina. Lalu dia membuka pintu kamar Angelina dengan kasar membuat gadis itu terkejut. Dilihatnya gadis itu berdiri hanya memakai handuknya dan rambutnya diikat asal. Aroma sabun dan shampo menusuk indera penciuman Dody.
Angelina panik saat Dody berjalan mendekatinya. Kedua tangannya mencengkram erat handuk di depan dadanya.
Dody terlihat sangat marah, tangannya memegang sesuatu dengan erat membuat urat-urat tangannya menonjol.
Dody melemparkan sebuah majalah ke arah Angelina. “Apa yang ingin kamu jelaskan tentang foto-foto ini?” katanya dengan nada dingin.
Angelina meraih majalah yang terjatuh di kakinya, dan mulai membukanya. “Ya Tuhan, astaga!” Seru Angelina menutup mulutnya dengan tangan.
Mata Angelina terbelalak saat melihat foto-fotonya beberapa hari yang lalu kini terpampang di salah satu majalah fashion.
“Jadi ini yang kamu kerjakan saat berjalan-jalan dengan temanmu?” desis Dody tajam.
Angelina tak mengerti kenapa Dody begitu marah padanya. Ini hanya sebuah foto. Ya, walaupun dengan pakaian yang sangat seksi dan nyaris membuatnya terlihat telanjang.
Tapi apakah Dody tak bisa melihat nya dari sisi seni dan keindahan lagipula bukankah mantan istrinya dulu juga seorang model?
“Apa yang Om ributkan sebenarnya. Ini hanya foto. Beberapa hari yang lalu Lucas mengajakku ke lokasi pemotretannya. Tapi ketika tiba di sana, partnernya membatalkan kontrak. Aku diminta untuk menggantikan wanita itu. Hanya itu!” jelas Angelina.
Rahang Dody menegang. “Dengan pakaian seperti nyaris memperlihatkan tubuhmu. Apa yang kamu pikirkan sebenarnya nona manis? Setiap pria bisa melihat tubuh polosmu. Atau memang itu yang kamu harapkan?” tuduhnya.
Angelina menganga tak percaya mendengar perkataan Dody. Berani sekali pria itu.
“Dengar ya, pria tua sok suci! Aku tak pernah mencoba merayu pria dengan tubuhku. Aku bukan pelacur seperti wanita-wanitamu. Dan aku sangat tidak suka dengan sifat bossy-mu itu. Kamu bersikap seolah-olah kamu adalah ayahku.”
“Atau Om senang memikirkan untuk mencoba mengendalikanku dan mengatur hidupku?” bisik Angelina tajam di depan wajah Dody.
Dody menggeram, sudah cukup! teriak batinnya. Dody menggenggam erat rambut Angelina, membuat gadis itu memekik sakit.
“Ide untuk mengendalikanmu memang sempat melintas di kepalaku. Jadi, mari kita lihat apakah kamu bisa aku kendalikan?” desisnya.
Anda Mungkin Juga Suka





