
Hold My Hand
Bab 2
Serpihan air hujan yang masuk dibawa angin, dibiarkan begitu saja. Menerpa wajah Barra yang kini menatap lurus pepohonan di halaman rumah.
Lampu kuning keemasan yang menyala di atas pagar terlihat serupa rembulan yang bersembunyi di balik kegelapan. Rasanya malam ini tak jauh berbeda, kecuali perasaan hampa juga kosong setelah ditinggal pergi oleh ayah ibunya, untuk selama-lamanya.
Barra yang semula hanya berniat memeriksa Khanza dari balik pintu kamar, tiba-tiba harus merangsak masuk setelah ia mendengar rintihan-rintihan kecil dari dalam sana.
Adiknya mengigau. Suhu tubuh Khanza meninggi menyebabkan tubuh gadis itu terasa sangat panas saat Barra meletakkan punggung tangannya di kening sang adik.
"Ibu ... Ayah ... " Selama beberapa saat Barra hanya mampu terdiam. Mencerna rasa kehilangan yang sedang Khanza rasakan. Sebelum kemudian ia bergerak mengambil air hangat juga kain yang kemudian Barra balurkan di tubuh Khanza, berharap agar demam adiknya bisa sedikit mereda.
Selama berulang kali Barra mengganti air dalam mangkok kecil itu. Akan tetapi demam Khanza tetap tinggi dan tidak turun sama sekali.
Melihat sejenak ke arah jarum jam yang kini sudah menunjukkan pukul dua petang, akhirnya Barra membawa gadis itu ke luar. Memasukkannya ke dalam mobil, lalu mencari rumah sakit terdekat yang bisa menangani Khanza.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, Dokter berkata bahwa kondisi tubuh Khanza memburuk akibat rasa kehilangan yang begitu mendalam.
Gadis itu sudah mengalaminya selama beberapa kali. Dan kehilangan ayah ibunya kali ini membangkitkan trauma Khanza kecil akibat kecelakaan yang menimpa gadis itu beberapa tahun yang lalu. Yang naasnya itu juga merenggut nyawa orang tua kandung Khanza.
"Saya sudah memberi obat penenang juga pereda demam. Namun, meski kondisi Khanza mungkin setelah ini akan terlihat membaik, ia harus tetap mendapat penanganan dari psikiater," ucap Dokter pada Barra yang hanya mendapat anggukan pelan dari pemuda itu.
Pekatnya langit malam seolah tengah mendeskripsikan perasaan dua kakak beradik yang masih berada di dalam ruang perawatan. Dokter benar, Khanza sudah merasakannya lebih dari satu kali. Yaitu saat ayah ibunya meninggal akibat kecelakaan yang akhirnya mengantarkan Khanza ke keluarga ini. Juga saat orang tua mereka pergi beberapa hari yang lalu.
Karena hal itu, wajar bila Khanza akhirnya menjadi seperti ini.
"Kakak ... "
"Khanza, kau sudah sadar?"
Tatapan gadis itu terlihat sayu ke arah Barra. Di mana pemuda itu langsung menggenggam tangan adiknya dan tersenyum agar Khanza merasa lebih baik setelah melihatnya.
"Jangan khawatir, kakak ada di sini. Lekaslah pulih."
.
Setelah kejadian hari itu. Sekilas tak tampak ada yang berbeda dari keluarga mereka. Selain Barra yang harus menyiapkan segala jenis keperluan untuk Khanza. Mulai dari sarapan, bekal makan siang. Lalu beberapa hal yang biasanya dilakukan oleh ibu mereka, kini harus Barra yang menggantikannya.
"Mulai besok Khanza saja yang membuat sarapan. Kakak tidak perlu lagi bangun pagi pagi hanya untuk memasak," ucap Khanza pada Barra saat mereka hendak melakukan sarapan pagi bersama-sama di meja makan.
"Kenapa? Masakan kakak tidak seenak ibu ya?"
Gadis itu selama beberapa saat termenung. Menatapi Barra dengan sorot yang tak dapat Barra mengerti.
"Kakak, kakak juga bersedih kan, atas kematian ayah dan ibu?"
Pertanyaan Khanza membuat Barra terdiam. Yang membuat Khanza akhirnya melanjutkan kalimat yang selama ini begitu ingin ia katakan. Namun, tertahan di benaknya.
"Semenjak kepergian ayah dan ibu, Khanza tak pernah melihat kakak menangis. Kakak selalu terlihat tenang. Seolah tanpa mereka pun kehidupan kita masih bisa terus berjalan. Apa kakak tidak merasa kehilangan sama sekali? Apa ... Kepergian ayah dan ibu tak mengubah hidup kakak sedikit pun?" Kali ini Khanza mengatakannya sambil berurai air mata. Rasanya begitu menyedihkan saat ia hanya merasa kehilangan sendirian.
Di hadapan Khanza, kakaknya selalu bertindak seolah semua baik-baik saja. Bahkan Barra bisa tersenyum dan tertawa ceria bersama Daris di rumah mereka. Sementara Khanza, untuk bertahan sampai sejauh ini ia merasa begitu kesulitan. Malam-malam nya terasa sangat panjang. Jika bukan karena terapi dan obat yang Psikiater beri, sepertinya Khanza masih merasa sulit untuk tidur sampai saat ini.
"Kau benar. Kehidupan harus terus berjalan walau tanpa ayah dan ibu," jawab Barra. Meletakkan air mineral di hadapan Khanza.
"Manusia tidak bisa terus hidup dalam rasa kehilangan. Sekuat tenaga, walaupun susah, mereka harus bangkit untuk menghadapi esok hari. Tersenyumlah. Ayah dan ibu juga tidak suka melihatmu seperti ini." Tangan Barra menghapus air mata Khanza. Membuat gadis itu tak bisa menjawab apa-apa.
Mungkin benar yang dikatakan Barra. Manusia tak bisa terus terpaku dengan rasa kehilangan mereka. Harus melakukan sesuatu agar kekosongan itu terisi kembali dengan semestinya. Yaitu menjalani hari seolah semuanya tak terjadi apa-apa.
Menghapus sisa-sisa air matanya sendiri, Khanza memasukkan makanan dengan begitu lahap. Berusaha mengenyahkan bayangan ayah dan ibunya, yang biasanya selalu ada bersama mereka menikmati makanan di pagi hari. Meskipun hal itu membuat air mata Khanza menetes lagi. Dan lagi.
.
Suara aliran sungai di belakang rumah, adalah satu-satunya hal yang dapat menenangkan Barra dari riuhnya suara dalam kepala.
Sebatang rokok dihisap kuat oleh pemuda itu, hingga kepulan asap mengudara sesudahnya.
Sementara di samping Barra, seorang sahabat yang telah lama membersamai pemuda itu juga terlihat. Daris. Mereka memperbincangkan suatu hal. Tentang apa saja yang akan Barra lakukan setelah semua properti dan aset yang orang tuanya miliki terjual untuk menutupi hutang.
"Jadi, kau mau membuka usaha di dekat kampus kita?"
"Ya. Masih ada sedikit sisa tabungan untuk aku dan Khanza. Aku akan menggunakannya menjadi penghasilan utama untuk memenuhi kebutuhan kami ke depan."
"Mau tidak mau kau memang harus melakukan itu, Barra. Tapi tenang saja, aku bisa menjadi asistenmu nanti."
Hal itu membuat Barra tertawa. Ia mengalihkan pandangan ke arah lain. Kembali memperbincangkan hal-hal yang membuat tawa mereka semakin terdengar keras dari arah kamar Khanza.
.
Selayaknya sosok pengganti orang tua. Seiring bertumbuhnya Khanza saat ini, Barra mulai dengan tegas mengajarkan nilai-nilai kehidupan pada gadis itu. Tentang apa saja yang boleh dilakukan, juga yang dilarang untuk seorang perempuan.
Meskipun tidak ada lagi sosok ayah dan ibu di dalam rumah mereka, Barra memastikan bahwa Khanza ... Tak akan kehilangan rasa kepercayaan.
Di bawah teduhnya mentari sore, Barra mengajari gadis itu pelatihan seni bela diri. Yang nantinya ia yakin akan sangat berguna untuk kehidupan Khanza ke depan.
Bersama dengan gugurnya dedaunan, Khanza merenggangkan otot-otot tangan, memukul udara, melayangkan tendangan. Kemudian Barra membenahi letak posisi tangan gadis itu, menunjukkan padanya bagaimana posisi yang benar. Lalu memerintah Khanza untuk mengulangi gerakan yang salah, seperti yang telah ditunjukkan oleh Barra.
Anda Mungkin Juga Suka





