
Hitungan Mundur Di Atas Kepala
Bab 4
Seketika, tubuhku langsung membeku, lagi-lagi Selina.
Aku sudah bisa menebak siapa yang meneleponnya, pasti Stephen.
Wajar saja, sejak kecil aku dianggap sebagai pembawa sial. Jika bukan karena diriku, mana mungkin keluargaku meninggal satu per satu?
Mengingat ancaman Samuel, tubuhku gemetaran tak terkendali.
Dulu, saat ibu baru saja meninggal, aku pernah diantar pulang oleh seorang dokter wanita yang baik hati.
Tiga hari penuh, aku dikunci di gudang kecil rumah oleh Samuel. Tak ada yang memberiku makan dan minum.
Pengalaman itu menjadi trauma masa kecil yang sulit kulupakan hingga saat ini.
Pada hari ketiga, saat aku merasa hidupku akan segera berakhir, kakak pertamaku, Sherwin tiba-tiba muncul seperti malaikat penyelamat.
Dia melepasku keluar.
Meskipun setelah itu, dia tak pernah benar-benar peduli padaku, setidaknya dia adalah orang yang paling baik padaku di rumah ini.
Aku yakin kabar tentang permintaanku tadi pagi sudah sampai ke telinganya.
Melihatku hanya diam, Samuel mengira diriku ketakutan. Dia pun mendekatkan wajahnya ke telingaku dan berkata dengan suara yang santai, tapi mengancam,
"Kamu tahu dengan kemampuanku, mudah sekali untuk menghilangkan seseorang."
Mendengar kata-katanya, tubuhku gemetaran. Sementara dia pergi masuk ke gedung kampus tanpa melihatku lagi.
Dengan langkah terhuyung, aku melanjutkan perjalanan ke tempat tujuanku semula. Tapi, kepalaku terlalu kosong untuk berpikir.
Aku tiba di studio foto. Petugas resepsionis di sana melihatku dengan tatapan penuh simpati setelah aku memberitahunya bahwa aku datang untuk memotret foto pemakaman.
Dia mengucapkan beberapa kata lembut untuk menghiburku.
Semua rasa sakit dan kesedihan yang kutahan selama ini tiba-tiba meledak begitu saja.
Manusia memang mudah kehilangan kendali hanya karena satu kata perhatian dari orang asing, seperti yang kualami sekarang.
Air mataku membasahi bahunya, tetapi dia juga tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya bisa menepuk punggungku dengan lembut.
Meski tidak saling kenal, kehangatannya memberiku kekuatan yang luar biasa.
Setelah keluar dari studio foto, aku duduk di pinggir jalan. Aku memeluk kotak abu dan foto pemakaman yang telah kupersiapkan untuk diriku sendiri, sambil melamun menatap kejauhan.
Aku memutuskan untuk pergi ke kantor Sherwin. Karena belum pernah pergi ke sana, aku membutuhkan waktu lama untuk menemukannya, tapi aku malah dihentikan oleh resepsionis.
Mereka mengatakan bahwa aku tidak bisa masuk tanpa janji dan bosnya sedang rapat sehingga tidak bisa menerima telepon.
Aku tidak menyerah dan menelepon nomor yang sudah kuhapal di luar kepala berkali-kali, tapi tak ada yang menjawab.
Lalu, aku mencarinya melalui media sosial.
Hari ini adalah hari terakhirku. Aku hanya ingin Sherwin menemaniku, meski hanya sebentar.
Aku mengirimkan pesan yang sudah kususun dengan hati-hati, lalu menunggu dengan cemas.
Dua jam berlalu tanpa ada balasan.
Waktuku tidak banyak lagi. Aku tidak ingin mati di luar, jadi aku pun kembali ke rumah.
Semua pelayan sedang pergi berbelanja.
Rumah besar itu terasa sunyi, sepi dan kosong.
Aku mulai memasak, berharap mereka pulang tepat waktu.
Tidak ada pesan yang masuk di ponselku. Pesan yang kukirim pun tidak dibalas.
Aku duduk di kursi, menatap pantulan cermin yang memperlihatkan hitungan mundur di atas kepalaku.
Sisa tiga jam terakhir ...
Aku ingin mereka menemaniku di saat-saat terakhir ini. Aku ingin tahu bagaimana reaksi mereka saat diriku benar-benar meninggal.
Mungkinkah mereka senang?
Tidak ada seorang pun yang peduli dengan hidup matiku di dunia ini.
Orang-orang terdekatku bahkan membenciku, muak dengan keberadaanku.
Aku memasak hidangan satu meja penuh. Tanganku beberapa kali terkena percikan minyak panas. Rasanya sakit, tapi tidak bisa menutupi rasa tidak nyaman yang perlahan tumbuh di hatiku.
Aku sadar ada sesuatu yang salah dengan tubuhku. Tubuhku bergetar hebat, begitu juga dengan perasaanku yang memuncak tanpa kendali.
Waktu tersisa dua jam lagi. Aku duduk di kursi, menatap pintu dengan penuh harapan.
Dengan tangan gemetar, aku menelepon Sherwin.
"Kak Sherwin."
Teleponnya tersambung, tapi dia tidak berkata apa-apa.
Suaraku mulai gemetar, "Bisakah kalian ... menemaniku makan malam?"
"Aku ... sudah mau mati."
Anda Mungkin Juga Suka





