
Hitungan Mundur Di Atas Kepala
Bab 5
Kata-kata yang selama ini kupendam akhirnya terucap dan aku bisa mendengar jelas detak jantungku sendiri.
Dulu, aku selalu merasa bisa menerima kematian dengan tenang. Tapi saat ini, tiba-tiba aku merasa ingin melihat dunia ini sekali lagi.
Ruangan menjadi sunyi, hanya suara napasku yang terdengar sedikit tersengal.
Ketika aku berpikir dia tak akan menjawab, suara dari balik telepon justru mematahkan harapanku, langsung menjatuhkanku ke neraka.
"Samantha, kamu pikir dengan berbohong seperti ini kami akan merasa kasihan padamu?"
"Kamu benar-benar bisa menggunakan segala cara agar kami pulang. Kamu pikir kami masih sebodoh saat masih kecil dan mudah tertipu olehmu?"
"Jangan lupa bagaimana ayah, ibu dan kakek meninggal."
Hatiku jatuh ke dasar jurang. Bukan ... bukan seperti itu!
Aku berteriak dalam hati dengan penuh keputusasaan, tapi tidak ada satu pun kata yang bisa keluar dari mulutku.
Air mata mengalir di pipiku, menetes ke lantai.
Seperti boneka yang kehilangan kendali, aku hanya bisa terus berkata, "Aku nggak bohong, kumohon ... kumohon untuk terakhir kalinya saja, bisakah kalian pulang?"
Telepon itu langsung diputuskan. Sebelum diputuskan, aku mendengar Selina yang tertawa gembira sambil memanggil Sherwin.
Kegembiraan yang sempat kurasakan kini digantikan oleh keheningan yang menyakitkan.
Aku duduk kembali ke meja makan dengan tubuh kaku dan mulai berbicara sendiri, membayangkan perlakuan hangat mereka terhadap Selina yang pernah kulihat secara diam-diam.
Aku merasa seperti orang gila. Dalam dunia khayalanku sendiri, aku mulai tertawa.
Suara tawa itu semakin lama semakin keras, hingga akhirnya bercampur dengan isak tangis.
Waktu terus berlalu, detik demi detik dan tidak ada satu orang pun yang kembali.
Aku menunggu hingga tengah malam. Waktu yang tersisa kini hanya tiga menit terakhir.
Aku mulai mengingat kembali perjalanan hidupku.
Namun, hidupku begitu sederhana, bahkan tidak ada yang pantas untuk dikenang.
Sejak lahir, hidupku sudah menjadi sebuah tragedi.
Waktu mulai menghitung mundur. Aku duduk diam di meja makan, tubuhku bersandar di atas meja. Di sebelahku, tergeletak kotak abu dan foto pemakamanku sendiri.
5, 4, 3, 2, 1 ...
Hitungan mundur berakhir, aku pun merasakan sekelilingku tiba-tiba menjadi begitu hening.
Tidak ada suara apa pun di ruangan ini, bahkan suara napasku sendiri terasa menghilang.
Pada saat yang bersamaan, terdengar suara dari arah pintu. Ada yang kembali!
Anda Mungkin Juga Suka





