Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Hingga Menjadi Kita

Hingga Menjadi Kita

Nissa, seorang siswi SMA, menaruh hati pada guru Bahasa Indonesianya yang masih muda dan rupawan, Ilyas. Berbagai upaya ia kerahkan demi memikat perhatian sang guru di sekolah. Namun, akankah Ilyas membalas perasaan muridnya tersebut? Ataukah perbedaan usia dan status menjadi penghalang besar? Di tengah kebimbangan, muncul pilihan bagi Ilyas untuk menikahi wanita dewasa. Akankah cinta remaja Nissa berakhir manis atau justru bertepuk sebelah tangan?
Bab
Bagikan

Bab 2

Duh, kenapa setelah melihat camilan yang dibawa Lili, malah menjadi teringat-ingat dengan perkataannya itu. Aku baru sadar, ia sebelas dua belas dengan Nisa; ratu bucin. Bedanya, kalau Lili lebih sopan disertai malu-malu kucing. Sementara Nisa ceplas-ceplos dengan suara cemprengnya yang khas.

Akan tetapi, kalau disuruh memilih, tak ada yang kuberatkan. Alasannya? Keduanya sama-sama wanita di luar kriteriaku. Bukan soal kasta atau keturunan, apalagi seperjuangan, melainkan tidak ada rasa untuk mereka.

Akan tetapi, kalau dipaksa, aku lebih memilih Lili. Aku menggeleng, tidak mungkin. Ia sudah memiliki kekasih, aku pun tidak ingin dicap sebagai perebut pasangan orang.

Jadi, apakah harus memilih Nisa? Oh, belum tentu. Masih banyak perempuan dewasa di luar sana.

"Den, dipanggil Nyonya," ucap pekerja tukang kebun atau suami Mbok Dami. "Didawuhi ke ruang tamu."

(Dipanggil ke ruang tamu)

"Baik, Pak. Terima kasih," balasku disertai anggukan.

Bangkit dari duduk, kuputuskan menaruh nampan di dapur sebelum melangkah ke rumah bagian depan.

Setelah sampai di dapur, kulihat wajah Lili yang cemberut. Kenapa dia?

"Kenapa monyong gitu, Li? Lagi ada masalah sama pacarnya?" tanyaku, membuatnya melengos.

"Ndak kenapa-kenapa." Ia menaruh sendok di meja keramik dengan keras. "Tahu begini, ndak akan pernah menaruh perasaan."

"Menaruh perasaan ke siapa?"

"Ah, pingin tahu saja. Sudah, sana keluar, ditunggu Ibu dari tadi!"

Aku menuruti perintahnya, tetapi rasanya ada yang berat. Serasa aku yang dimaksud ucapannya. Ya, bukan ke-PD-an, lebih ke menebak saja. Kalau memang iya, berarti aku salah dan tidak seharusnya memberi ruang untuk pengharapannya.

Seraya berjalan ke depan, aku menggeleng cepat. Mungkin yang dimaksud itu orang lain.

"Ilyas!" panggil Mama, tersenyum ke arahku.

Bukan menanggapi panggilan Mama, justru fokusku pada gadis di depannya yang mendongak, lalu tersenyum ke arahku. Manis, semanis warna jilbab dan baju panjangnya yang berwarna merah muda.

"Si–siapa dia, Ma?" bisikku, mendekat pada Mama.

"Anak teman Mama. Kamu mau kenalan? Dia baik, lho."

"Jadi, sekarang masih kuliah?"

Gadis bernama lengkap Alesha Najma yang kuketahui dari Mama itu mengangguk dengan pandangan menunduk.

"Tinggal sama Mama Papa?"

"Ha!" Ia tersentak, menatapku dengan pipi merona.

Apakah pertanyaanku salah?

"Ti–tinggal sama mama papa saya."

Aku mengembuskan napas. Menatap depan dengan datar. Sepertinya ia menangkap maksud lain dari pertanyaan tadi.

Suasana kembali canggung, aku tak tahu lagi harus membahas apa. Ia pendiam, introvert sepertinya. Berbeda jauh dengan Nisa yang bawel dan bisa mencairkan suasana kelas, meski sering menyebalkan.

Eh, kenapa malah teringat Nisa?

Kutarik napas dalam-dalam, mengurangi kejenuhan yang mendera. Ini gara-gara Mama, meninggalkanku dengan perempuan yang masih menunduk itu. Alasannya ingin membuatkan minum, padahal ada Lili atau Mbok Dami yang bisa membuatkan.

"Emm, Mas Ilyas sudah lama di rumah?" Akhirnya, Alesha memberi pertanyaan juga.

"Sudah. Sekitar tiga bulan di sini."

"Oh."

Lagi, setelah menjawab dengan dua huruf itu, ia kembali diam seribu bahasa. Sementara aku sibuk dengan pikiran sendiri, mencari topik untuk dibahas. Namun, entah sudah berapa puluh detik, tidak ada satu kata pun melintas di pikiran.

Sangat canggung. Rasanya bukan menjadi Ilyas yang biasanya.

Apa karena dia cantik, aku menjadi grogi?

"Lho, kalian kenapa cuma diam saja?" Mama datang membawa tiga gelas minuman. "Kamu itu biasanya banyak omong, kok, malah cuma diam, Yas?"

Aku yang salah? Padahal, gadis itu juga sama; hanya diam. Bahkan ia membalas dengan satu kata pendek yang jelas, padat, dan singkat. Memang, ya, laki-laki itu serba salah. Diam salah, banyak bicara juga salah.

"Ini, diminum, Nak Lesha. Kuenya juga dicicipi. Buatan Tante sendiri, loh." Mama duduk di sampingku, tetapi wajahnya tak berpaling menatap wanita itu.

"Baik, Tante," jawab Alesha sambil tersenyum.

Sangat kalem. Kriteriaku sekali. Perempuan berjilbab yang diharap mampu menjaga harga dirinya, bisa menjaga setiap tutur kata, dan tentunya anggun.

Terlalu berlebihan sepertinya. Belum tentu juga ia mau denganku.

"Besok libur, kan, Yas?" tanya Mama yang kubalas dengan anggukan.

"Kalau gitu, tolong temani Alesha seminar, ya."

Aku terbelalak, begitu pun dengan gadis itu. Tak sengaja, mata kami berserobok, lalu sama-sama memalingkan wajah.

"Tidak usah, Tante. Nanti merepotkan," tolak Alesha. Lalu memandang Mama dengan tatapan tak enak.

"Nggak apa-apa, Sayang. Lagian Ilyas juga libur, daripada berangkat sendiri. Tante yang akan minta izin sama mamamu. Pasti dibolehkan."

"Alesha sendiri saja, Tante, supaya Mas Ilyas bisa istirahat."

"Sudah, nggak apa-apa. Kamu bisa, kan, Yas?"

Aku mendadak tidak bisa menjawab. Tidak menolak, tidak juga mengiyakan. Namun, demi menyenangkan Mama, aku mengangguk saja.

Mama tersenyum.

Tiba-tiba bayangan wajah siswi itu hadir begitu saja. Ada rasa yang tidak bisa dijelaskan. Seperti takut ia akan ... ah, peduli apa? Kenapa harus muncul di saat-saat seperti ini? Lagi pula, aku tidak akan mungkin mau dengannya. Kalau sampai kami bersama, apa nanti kata para fans?

"Ilyas bisa, kok. Kamu tenang saja, Lesha. Nggak ada yang merasa direpotkan."

"Eh! Emm, maksudnya bisa apa, Ma?"

Kedua wanita itu menatapku bersamaan. Tatapan Mama tajam, sedangkan Alesha menampakkan raut kecewa.

Bisa apa? Membuka hati untuknya? Kalau itu, aku belum siap. Semuanya butuh waktu, bukan?

"Mengangguk tanda setuju, jadi Mama anggap kamu bisa mengantarkan Alesha besok menghadiri seminar di gedung dekat pendopo kota. Jangan ada penolakan!"

"Kalau Mas Ilyas tidak bisa, sebaiknya Alesha sendiri saja, Tan."

"Bisa! Iya, kan, Yas?"

"Emm ...."

"Iya. Bisa, kok."

Pasrah sudah.

Menurut saja perintah orang tua. Hanya mengantarkan, tak masalah, 'kan?

Ponselku bergetar, menandakan pesan masuk melalui aplikasi hijau. Penasaran, segera kubuka.

[Pak Sayang!]

Mataku langsung melotot mendapati nomor baru mengirimkan pesan tersebut. Tidak ada sopan sama sekali. Aku ini seorang guru, bukan bapak kesayangannya.

Sebelum membalas, aku pamit pada Mama untuk ke kamar. Beliau sempat memicingkan mata, tetapi kuusap pundaknya meyakinkan bahwa aku lelah.

Setelah sampai, kurebahkan diri di kasur. Memandang langit-langit yang terlukis estetik. Teringat pesan tadi, jariku meluncur pada chat yang masuk.

[Siapa?]

Terkirim.

Tak lama, ponselku bergetar lagi. Segera kubaca balasan dari sana.

[Calonnya Bapak. Masak lupa? Atau pura-pura nggak tau biar saya yang menjelaskan pakai kata-kata romantis?]

Haish!

Bar-bar sekali dia. Aku yakin, seseorang di balik nomor tak dikenal itu pasti Nisa. Anak bucin kelas kakap yang tergila-gila padaku.

Tak salah lagi, profil WA terpasang fotonya dengan pose berdiri, sedang tangan satunya menenteng pinggang.

Sempat speechles, tetapi buru-buru kutekan tombol kembali. Pesonanya jangan sampai mengalihkan perhatianku.

[Kok, cuma di-read, sih, Pak? Masih ngerangkai kata-kata buat reply, ya? Jangan sungkan, hati saya terbuka buat Bapak kok. Oh ya, besok kan libur, CFD yuk!]

Membaca pesan itu, membuat bulu kudukku merinding.

Baru kali ini dibucinin anak didik sendiri, apalagi diajak jalan. Makan apa dia bisa se-bar-bar itu?

Anehnya, kenapa ada yang berdesir di dalam sini?

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balas dendam sang pewaris yang tak bertopeng
8.1
Saat tiba di bar miliknya, sang pemilik terkejut mengetahui Lucas, kekasihnya yang mengaku bangkrut, memesan ruang mewah. Lewat kamera pengawas, terungkap Lucas hanya menjadikannya bahan taruhan dan memanfaatkannya demi uang. Lucas bahkan menghina dirinya miskin di depan wanita lain. Merasa dikhianati, sang pewaris asli ini akhirnya mengungkap identitas aslinya. Ia mempermalukan Lucas yang berlutut dengan tumpukan uang sebagai pembalasan yang setimpal.
Sampul Novel Bismillah, Aku Ikhlas
8.2
Kehidupan rumah tangga yang seharusnya indah berubah menjadi penderitaan akibat lisan tajam ibu mertua. Tuduhan mandul dan penyesalan atas pernikahan terus dilontarkan, menambah beban pekerjaan rumah yang tiada habisnya. Sang istri terus dipojokkan dan dituntut memberikan cucu dalam tekanan mental yang berat. Di tengah badai konflik dan sikap mertua yang semena-mena, ia kini berdiri di persimpangan jalan antara terus bertahan atau memilih menyerah.
Sampul Novel CEO mengejar cinta adik mafia
8.0
Rio jatuh hati pada Kikan, adik dari musuh bebuyutan ayahnya. Hubungan mereka terhalang restu keluarga hingga fitnah keji muncul, menuduh kakak Kikan yang seorang mafia sebagai pembunuh abang Rio. Didorong dendam, Rio melancarkan aksi balas budi yang menyakitkan. Namun, kebenaran terungkap bahwa ibu tirinyalah dalang sebenarnya. Kini Rio terjebak penyesalan mendalam karena telah menghancurkan keluarga Kikan, sementara cintanya pada gadis itu tetap tak bisa padam.
Sampul Novel Direndahkan Oleh Keluarga Suami
8.9
Terlahir dengan keterbatasan fisik, Jasmine Bintang tumbuh di bawah bayang-bayang kekecewaan ibunya. Ia berharap menemukan kebahagiaan saat menikahi Ardan Mahendra yang sukses. Namun, keluarga Ardan justru menghina keterbatasannya. Luka Jasmine kian dalam saat Anindya, mantan kekasih Ardan, kembali dan mengungkap kebohongan cinta mereka. Meski Jasmine mantap meminta cerai demi martabatnya, Ardan justru menolak keras dan mengancam tidak akan melepaskannya begitu saja.
Sampul Novel Mau Dimadu Demi Membalas Suami Peselingkuh
8.3
Fiona Larasati telah berkorban segalanya, mulai dari menjaga penampilan hingga mengabdi di dapur demi kebahagiaan suaminya. Namun, kesetiaannya dikhianati saat ia memergoki sang suami berselingkuh dengan iparnya sendiri. Luka hatinya kian dalam karena mertuanya justru merestui hubungan terlarang tersebut. Tak sudi tinggal diam setelah dikhianati, Fiona kini menyusun rencana pembalasan yang matang untuk menghancurkan mereka yang telah merusak hidupnya.
Sampul Novel Menikahi Seorang Abusive
8.6
Impian Dewi tentang rumah tangga harmonis hancur seketika saat menghadapi kenyataan pahit. Sebagai istri, ia terjebak dalam pernikahan beracun bersama Raihan, sosok suami yang sangat kasar dan abusif. Setiap hari menjadi perjuangan batin yang menyiksa di tengah perlakuan buruk pasangannya. Kini, Dewi berdiri di persimpangan jalan yang sulit. Haruskah ia tetap bertahan demi komitmen, atau berani melangkah pergi demi keselamatan jiwanya?