Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Hingga Menjadi Kita

Hingga Menjadi Kita

Nissa, seorang siswi SMA, menaruh hati pada guru Bahasa Indonesianya yang masih muda dan rupawan, Ilyas. Berbagai upaya ia kerahkan demi memikat perhatian sang guru di sekolah. Namun, akankah Ilyas membalas perasaan muridnya tersebut? Ataukah perbedaan usia dan status menjadi penghalang besar? Di tengah kebimbangan, muncul pilihan bagi Ilyas untuk menikahi wanita dewasa. Akankah cinta remaja Nissa berakhir manis atau justru bertepuk sebelah tangan?
Bab
Bagikan

Bab 3

[Saya nggak bisa!] balasku.

[Kenapa? Nggak bisa nolak, ya?]

Elah!

Ini anak siapa? Awas saja besok, nilainya kukurangi. Salah siapa sudah lancang dengan gurunya.

[Pak, bisa, dong. Penting banget, nih.]

Penting apanya?

[Saya sudah ada janji sama orang lain.]

Mengirim itu, ada rasa tidak enak. Takut mengecewakannya. Kalau dia nekat, bisa-bisa menghadangku di sekolahan.

Huh! Kenapa harus memikirkan itu? Bodo amat bagaimana perasaannya. Siapa suruh dia begitu? Aku juga tidak mengharapkannya.

[Sekali aja, Pak. Pliss!]

Gadis ini ... memang keras kepala. Apakah ia saudaranya batu?

[Kalau penting, bicarakan di sini saja.]

Setelah menekan tombol send, aku memutuskan membersihkan diri. Meraih handuk yang tergantung di tempat jemuran, lalu masuk kamar mandi.

Beberapa menit, aku telah mengenakan kaos putih dan celana santai. Duduk di samping kamar sembari menunggu magrib tiba.

Memandang senja pun sangat mudah karena kamarku terletak di sayap kiri yang artinya sebelah belakang. Berhadapan langsung dengan sawah yang terbentang luas juga tempat terbenamnya matahari.

Aku melongo setelah membuka ponsel yang ternyata ada panggilan tak terjawab. Mengecek nomornya, lagi-lagi Nisa.

Niat mengabaikan, tetapi jari malah menekan pesan masuk darinya.

[Nggak bisa, Pak. Nisa mau ngomong langsung. Ini menyangkut hati, perasaan, dan masa depan. Tolong Bapak mengerti.]

[Kenapa nggak bales? Udahlah, bisa, ya. Plisss.]

[Pak.]

[Pak Sayang.]

[Tuh, kan, dicuekin. Bapak gitu amat sih jadi guru. Nggak takut karma? Oh, jangan-jangan mau ngasih kejutan besok ya. Makanya cuek dulu, perhatiannya besok. Iih, Bapak so sweet banget, sih.]

[Ya udah. Aku tunggu jam enam pagi di alun-alun, ya, Pak. Bye-bye!]

Ya Tuhan!

Aku harus bagaimana? Gadis itu memang terlalu berani. Terlanjur banyak berharap pula.

Dia menyukaiku, tetapi bukan berarti aku harus membalas perasaannya, bukan? Pantang bagiku mencintai siswa. Bagiku, ia atau siapa pun siswa itu masih memiliki masa depan yang cerah. Masih panjang perjalanan yang harus dilalui untuk mencari jati diri.

Tak salah memang ketika masa sekolah merasakan jatuh cinta sebab beranjak dewasa. Namun, bukan cinta buta seperti ini yang kumaksud. Bukan merasa sok-sokan dengan jabatan atau pendidikan, aku hanya tidak ingin membuat gadis itu makin terpelosok pada hal asmara.

Mungkin, kalau tidak mengiyakan suruhan Mama, sudah pasti kutemui gadis itu dan mengatakan penolakan perasaannya. Aku ingin dia menjauh. Tidak pantas rasanya seorang siswa menyukai pengajar, bagiku siswa tugasnya belajar bukan mengejar cinta gurunya.

Magrib tiba, aku langsung masuk kamar, lalu mendirikan salat tiga rakaat. Setelahnya, berzikir dilanjut membaca al-qur’an. Semua itu kulakukan dengan rutin. Sehari tidak melakukannya, terasa ada yang kurang.

Menjelang malam, mengoreksi tugas para siswa atau sekadar membuka WA grup untuk memberi tugas pada mereka. Aku memang berbeda dengan guru yang lain. Selalu memberi tugas dadakan melalui grup. Namun, tetapi esoknya tetap kuberi di sekolah agar tidak ada yang beralasan tidak membuka grup atau kuota habis.

Kalau sedang bosan, aku membuka sosial media di aplikasi Facebook. Menyapa teman-teman FL atau di grup menulis besar. Tak jarang pula, aku mem-posting cerita pendek, puisi, atau sekadar quotes.

***

"Ilyas, bangun, Nak!" Aku menggeliat, mendengar teriakan Mama dari luar.

"Iya, Ma."

Melihat jam menunjukkan pukul 04.00, aku bergegas bangun, lalu mengambil air wudu. Seperti biasa, setelah salat Subuh, olahraga di samping kamar. Jadi, jangan heran kalau tubuhku ideal, perut six pack, dan terlihat selalu bugar.

Tak satu hari pun kulewati berolahraga. Kebiasaan ini sudah kumulai sebelum Papa meninggal beberapa tahun yang lalu.

Selesai melakukan rutinitas dan siap-siap mengantar Alesha, kuturuni anak tangga satu-persatu.

"Sudah siap? Ditunggu Alesha dari tadi, lho, kamu ini."

Pandanganku tertuju pada perempuan yang duduk di sebelah Mama.

Alesha?

Ia terlihat semakin manis dengan gamis hitam serta jilbab lebarnya. Belum lagi senyum memabukkan itu, sungguh memesona.

Namun, rasanya biasa saja. Berbeda saat melihat senyum manis Nisa. Eh, anak itu, semoga tidak nekat datang ke alun-alun. Bukan salahku, kalau sampai dia nekat datang yang sudah jelas-jelas kutolak semalam.

"Makan dulu, Yas," perintah Mama, langsung kuturuti.

"Nanti, jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya."

"Mobil?"

Mama mengangguk. "Mau pakai motor butut milikmu itu? Apa kata mama Alesha nanti, Yas. Masak wanita secantik Alesha dibonceng pakai motor bututmu itu."

Aku hanya bisa menghela napas. Lagi-lagi harus menuruti permintaan Mama.

Usai makan, aku dan Alesha langsung berangkat. Menembus jalanan kota yang padat kendaraan. Maklum, ini hari Minggu. Para pekerja dan anak sekolah pun libur.

Beberapa menit di jalan, kami telah sampai. Mobil kuparkirkan di depan pendopo, tempat seminar yang diadakan.

"Makasih, ya, Mas."

Kuacungkan jempol sambil tersenyum.

"Kalau Mas mau pulang, silakan. Nanti saya pulang sendiri saja."

"Saya tunggu. Ini pesan Mama."

Ia mengangguk. "Ya sudah, saya masuk dulu, Mas. Assalamu’alaikum."

"Wa'alaikumussalam."

Selepasnya, ia membuka pintu mobil dan berjalan ke dalam.

***

Tidak ingin perempuan itu mencariku di mana-mana, maka kuputuskan menunggu di mobil saja. Meski bosan karena hanya duduk seraya mendengarkan murotal, aku akan tetap di sini. Kalau sampai Alesha mencari dan tidak ketemu, lalu ia pulang sendiri, aku yang dimarahi Mama.

Pukul 11.00, akhirnya perempuan itu keluar dengan menenteng paper bag yang kutebak itu souvenir dari panitia seminar. Ia sempat celingukan mencari mobilku yang terparkir, tetapi akhirnya berjalan ke sini setelah kulambaikan tangan.

"Mas menunggu saya di sini?"

Aku mengangguk. "Daripada merepotkanmu harus mencari di mana-mana, lebih baik menunggu di sini saja."

"Oh. Terima kasih."

Kuputar balik mobil, lalu membelah jalanan lagi.

"Mas bisa temani Lesha ke Perpustakaan Daerah, nggak?"

"Bisa."

Lima belas menit di perjalanan, kami sampai di parkiran perpustakaan. Aku memutuskan menemaninya sampai dalam, kebetulan ada buku yang kucari.

Di dalam, aku dan Alesha sibuk membaca buku masing-masing, setelah melaksanakan salat Zuhur di musala gedung ini. Awalnya tenang, tetapi lama-lama sepi dan membosankan. Meski dengan obrolan kaku, setidaknya ada topik pembicaraan.

Hingga tak sadar, waktu menunjukkan pukul 15.00. Aku menengok pada gadis itu yang kini sibuk kembali dengan buku di tangan.

“Sudah sore. Pulang, ya?”

Alesha mendongak, lalu mengangguk.

Ketika sampai di tempat parkir, aku segera melajukan mobil. Membelah air yang turun membasahi bumi. Menembus angin sore yang dinginnya menembus kulit.

"Mas, mampir beli cilok di alun-alun, ya. Hujan begini sepertinya enak makan yang hangat-hangat," pinta Alesha yang langsung kusetujui.

Kebetulan jalan pulang melewati alun-alun kota.

Hujan masih tersisa rintik gerimisnya. Aku turun mobil, lalu mendekati pedagang kaki lima yang menjual cilok.

"Pak, cilok lima bungkus, ya," ucapku, diangguki sang penjual.

Saat mataku menyapu sekeliling, ada satu titik yang mengalihkan perhatian. Gadis yang duduk di bawah patung durian itu ... aku menyipitkan mata.

Nisa?

Masih tidak percaya, aku berkali-kali mengucek mata dan mencari celah untuk melihatnya lebih dekat.

Deg!

Dadaku nyeri. Benar. Perempuan itu Nisa.

Jangan-jangan ... ia menungguku sejak pagi.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95EVF" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95EVF
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balas dendam sang pewaris yang tak bertopeng
8.1
Saat tiba di bar miliknya, sang pemilik terkejut mengetahui Lucas, kekasihnya yang mengaku bangkrut, memesan ruang mewah. Lewat kamera pengawas, terungkap Lucas hanya menjadikannya bahan taruhan dan memanfaatkannya demi uang. Lucas bahkan menghina dirinya miskin di depan wanita lain. Merasa dikhianati, sang pewaris asli ini akhirnya mengungkap identitas aslinya. Ia mempermalukan Lucas yang berlutut dengan tumpukan uang sebagai pembalasan yang setimpal.
Sampul Novel Bismillah, Aku Ikhlas
8.2
Kehidupan rumah tangga yang seharusnya indah berubah menjadi penderitaan akibat lisan tajam ibu mertua. Tuduhan mandul dan penyesalan atas pernikahan terus dilontarkan, menambah beban pekerjaan rumah yang tiada habisnya. Sang istri terus dipojokkan dan dituntut memberikan cucu dalam tekanan mental yang berat. Di tengah badai konflik dan sikap mertua yang semena-mena, ia kini berdiri di persimpangan jalan antara terus bertahan atau memilih menyerah.
Sampul Novel CEO mengejar cinta adik mafia
8.0
Rio jatuh hati pada Kikan, adik dari musuh bebuyutan ayahnya. Hubungan mereka terhalang restu keluarga hingga fitnah keji muncul, menuduh kakak Kikan yang seorang mafia sebagai pembunuh abang Rio. Didorong dendam, Rio melancarkan aksi balas budi yang menyakitkan. Namun, kebenaran terungkap bahwa ibu tirinyalah dalang sebenarnya. Kini Rio terjebak penyesalan mendalam karena telah menghancurkan keluarga Kikan, sementara cintanya pada gadis itu tetap tak bisa padam.
Sampul Novel Direndahkan Oleh Keluarga Suami
8.9
Terlahir dengan keterbatasan fisik, Jasmine Bintang tumbuh di bawah bayang-bayang kekecewaan ibunya. Ia berharap menemukan kebahagiaan saat menikahi Ardan Mahendra yang sukses. Namun, keluarga Ardan justru menghina keterbatasannya. Luka Jasmine kian dalam saat Anindya, mantan kekasih Ardan, kembali dan mengungkap kebohongan cinta mereka. Meski Jasmine mantap meminta cerai demi martabatnya, Ardan justru menolak keras dan mengancam tidak akan melepaskannya begitu saja.
Sampul Novel Mau Dimadu Demi Membalas Suami Peselingkuh
8.3
Fiona Larasati telah berkorban segalanya, mulai dari menjaga penampilan hingga mengabdi di dapur demi kebahagiaan suaminya. Namun, kesetiaannya dikhianati saat ia memergoki sang suami berselingkuh dengan iparnya sendiri. Luka hatinya kian dalam karena mertuanya justru merestui hubungan terlarang tersebut. Tak sudi tinggal diam setelah dikhianati, Fiona kini menyusun rencana pembalasan yang matang untuk menghancurkan mereka yang telah merusak hidupnya.
Sampul Novel Menikahi Seorang Abusive
8.6
Impian Dewi tentang rumah tangga harmonis hancur seketika saat menghadapi kenyataan pahit. Sebagai istri, ia terjebak dalam pernikahan beracun bersama Raihan, sosok suami yang sangat kasar dan abusif. Setiap hari menjadi perjuangan batin yang menyiksa di tengah perlakuan buruk pasangannya. Kini, Dewi berdiri di persimpangan jalan yang sulit. Haruskah ia tetap bertahan demi komitmen, atau berani melangkah pergi demi keselamatan jiwanya?