Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Hilang Di Bunian

Hilang Di Bunian

Lima sahabat terjebak dalam situasi mengerikan saat terdampar di pulau tak berpenghuni. Niat awal untuk berpetualang seketika berubah menjadi mimpi buruk penuh misteri. Berbagai ancaman mematikan mulai mengintai dari kegelapan, memaksa mereka menghadapi serangkaian teror yang datang silih berganti tanpa henti. Di tengah keputusasaan, mampukah mereka bertahan hidup dan menemukan jalan keluar dari tempat terkutuk ini sebelum bahaya benar-benar melenyapkan mereka?
Bab
Bagikan

Bab 2

Padang, 2012

"Aku cuma pergi tiga hari, bukan untuk selama-lamanya."

Perempuan itu terngiang akan ucapannya semalam. Bibirnya tertarik membentuk senyum geli saat mengingat wajah tegang kekasihnya yang dirundung kabut khawatir. Jatuh cinta kadang membuat seseorang menjadi lemah. Bahkan mendadak lemah untuk menerima jarak yang sama sekali tak berarti. 

Namanya Deriana. Dia perempuan yang keras kepala. Berpetualang ke alam bebas adalah cara terbaik baginya untuk menjaga kewarasan. Menikmati terjalnya gunung. Menerjang sangarnya jeram sungai dan mengeksplorasi dalamnya dasar lautan kelam. 

Perempuan itu pencandu aktifitas di alam.

***

 Hawa dingin menyelinap melalui celah jendela. Langit di luar masih gelap. Awan hitam menggantung di langit subuh. Sedini itu, Derry, panggilan akrab perempuan itu sudah terbangun. Bersiap diri untuk pergi. Satu per satu barang bawaannya dikemas ke dalam Drybag Ransel setinggi pinggang. 

“Tenda, cek! Sleeping Bag, cek! Headlamp, logistik, baju selam, snorkle … hmmm …. Okey, komplit!” Perempuan 28 tahun itu bergumam puas saat memeriksa kelengkapan isi ransel. Dia berkacak pinggang sambil mengingat-ingat apa lagi perlengkapan yang harus dia bawa.

“Semoga cuaca hari cerah."

Derry membatin sambil melirik jam di dinding. Pukul setengah lima pagi.

Saat sibuk berkemas di kamar, di mendengar ada suara ketukan di pintu depan. Ketukan itu membuat Derry berlari tergesa keluar kamar, menuju ke depan. Di dalam temaram ruang tamu, dia mendapati pintu yang sudah terbuka dan sesosok bayangan hitam tinggi besar berdiri mematung di depan pintu. Derry dengan sigap meraih sakelar lampu. Setelah ruangan itu bermandikan cahaya, dia dapat melihat dengan jelas, siapa sosok yang sedang berdiri di situ.

“Erick!" Derry berteriak dengan kesal. Kedatangan Erick sepagi ini mengagetkannya. Pria itu tetap mematung dalam bisu. Menyilangkan kedua lengannya ke dada. Menunjukan mimik wajah yang tidak suka. 

“Jadi pergi?” tanya Erick, datar dan ketus.

Derry menghela napas sejenak. Dia mencoba menata mood agar tidak melontarkan kalimat yang mengundang perdebatan sengit sepagi ini. Seminggu belakangan, dua orang itu terlibat diskusi yang tidak berkesudahan. Erick menentang keras rencana Liburan Derry. Dan Ini sangat tidak biasa. Erick mendadak super protektif, terlebih sejak mereka bertunangan sebulan yang lalu. 

“Aku sudah terlanjur bilang 'Iya' sama teman-teman. Sebentar lagi mereka akan datang menjemput.” Derry menjawab dengan tenang.

Erick melepas desahan napas kasar. Dia sadar, Derry adalah manusia paling keras kepala yang pernah dikenalnya di dunia. Dan bodohnya, keras kepalanya itu yang membuat dia tergila-gila setengah mati kepada Derry.

Erick sudah 5 tahun mengenal Derry. 3 tahun sebagai atasannya di kantor dan 2 tahun sebagai kekasihnya. Dua tahun lamanya mereka menyimpan hubungan mereka agar tidak diketahui oleh orang-orang di kantor. Dan sebulan yang lalu, Erick memberanikan diri memasangkan cincin di jemari manis kiri Derry. Akhirnya mereka membuka hubungan mereka ke publik. Konsekuensinya, salah satu dari mereka harus resign, karena perusahaan tempat mereka bekerja tidak mengizinkan hubungan emosional sesama rekan sekerja.

 Derry mengalah.

“Aku ngga mau mengulang alasanku kenapa aku ingin liburan. Anggap saja itu hadiah untukku yang sudah berkorban untuk hubungan kita," desis Derry.

 “Tapi, kamu kan bisa memilih liburan kayak orang normal, Der. Ke Jogja kek, Singapore kek.”

“Ach … mainstream," sergah Derry cepat.

 “Ke alam itu berbahaya, Der. Aku takut kamu akan ….”

Erick tidak melanjutkan kalimatnya. Kekhawatirannya terhadap Derry, malah membuatnya terkesan cengeng dan berlebihan.

Derry tergelak. Bukannya ingin meremehkan. Jauh sebelum kenal Erick, liburan seperti ini sudah menjadi pengisi waktu luang Derry. Bahkan, setelah menjadi kekasih Erick pun, Derry masih berpetualang bersama teman-temannya dan Erick tidak pernah melarang. Tapi mengapa kini berbeda? Apa karena sebentar lagi Derry akan menjadi milik Erick seutuhnya? Hingga kebebasan Derry sudah berada di dalam genggamannya?

Wajah Derry mulai mengkerut. Ekspresinya kini membuat Erick takut. Dia takut kekangannya justru membuat hubungan mereka tidak sehat. Erick akhirnya melunak.

“Okey, aku izinkan. Karena percuma kita terus berdebat. Tapi … please! pulang dalam keadaan utuh.”

Mendengar kalimat itu. Derry lansung menghambur ke pelukan Erick. Kakinya terpaksa berjinjit untuk menyejajarkan wajah mereka. Derry mengalungkan lengannya di leher Erick. Aroma wangi maskulin tercium dari rambut Erick yang masih basah. 

“Aku janji akan pulang dalam keadaan utuh. Cuma, gosong sedikit ngga apa apa, yah?” jawab perempuan itu dengan senyum manis yang tertarik lebar. Dia mengabaikan raut khawatir yang tidak kunjung sirna dari wajah Erick. 

“Tiga bulan lagi kita akan menikah. Dan aku pun bersedia resign demi hubungan kita. Nanti, setelah resmi menjadi nyonya Erick Sanjaya. Palingan, petualanganku akan sebatas kasur dan pasar sayur. Apa kamu ngga kasihan sama aku? So, please, izinin aku. Ini akan menjadi petualangan terakhirku.”

Derry memelas. Dia menatap mata Erick lekat-lekat. Mencoba mencari isyarat adanya kesepakatan di sana.

Lama saling mengadu pandang. Erick mendekatkan wajahnya ke wajah Derry, bau mint yang segar tercium dari mulut Erick. Wajahnya terus mendekat, terus dekat tanpa sekat. Kini, lumatan lembut itu memagut bibir bawah Derry. Derry memejamkan mata, tenggelam di dalam aliran sengat asmara yang melena. Namun, tiba-tiba, pagutan itu harus merenggang. Derry melepas pelukan. Terdengar, suara klakson mobil memekak di luar. Memecahkan ruang kasmaran mereka.

Jemputan telah datang.

**

Derry melambaikan tangan ke arah Mobil Hitam yang kini terparkir di depan rumah. Satu per satu, penghuni mobil itu menghambur keluar. Hawa dingin pagi itu berubah hangat saat lima sahabat itu berpelukan erat. Ada rindu yang telah lama memekat. Banyak cerita yang ingin mereka kenang. Nyaris setahun lamanya mereka terpisah karena kesibukan masing-masing. Sekarang, untuk merayakan pertemuan itu, mereka memilih berpetualang kembali bersama-sama seperti waktu dulu.

Derry memeluk tubuh Miranda dengan erat. Wanda pun ikut merapat. Aji dan Riko, hanya bisa menatap, ketiga manusia di depannya itu melepaskan rindu yang sudah teramat sangat. 

“Terakhir kita ketemu waktu tracking di Bukit Nobita, kan?” celetuk Derry kepada Mira, sapaan akbrab untuk Miranda. Mira mengangguk dengan antusias. Mengingat petualangan menyenangkan mereka beberapa waktu lalu.

“Kangen gw sama lu, Der. Meski sering Video Call, tetap aja kangen. Kangen ngetrip bareng," ucap Wanda dengan suara Baritonnya yang kemayu. 

Derry menoleh ke arah Riko. Tidak peduli ada Erick di situ. Dia menghambur ke pelukan Riko kemudian menarik tubuh Aji untuk terlibat di dalam dekapan. 

“Lu masih ingat waktu kita di kejar tawon saat tracking ke Hutan Nyarai?” tanya Derry dengan tawa terbahak. 

“Masih dong. Celana gw robek. Terpaksa minjem legging ungu Kak Wanda.” Kenangnya sambil terbahak. 

“Lu apakabar, Ji.” Derry mengulangi lagi pelukannya. Kali ini, Aji mulai nyaman dipeluk Derry. Awalnya dia ragu karena melihat Erick berdiri memperhatikan mereka.

“Gw baik, kak,” jawab Aji sambil melepas pelukan.

“Thank you, yah waktu itu. Lu udah gendong gw dari puncak Gunung Marapi sampai turun,” kenang Derry. Dia teringat, saat Aji harus menahan beban tubuhnya saat menuruni Gunung Marapi. Derry cidera betis, karena nekad mendaki gunung tanpa kesiapan fisik.

“Masih ingat aja, lu," pungkas Aji.

Derry menepuk bahu Aji. Senyum bangga terulas di bibirnya. Dia sangat menyukai pria yang terpaut umur enam tahun di bawahnya itu. Anaknya baik, sopan, juga manis. Meski masih muda,  Aji sangat bisa diandalkan saat bertualang di alam liar. 

***

“Titip manusia keras kepala itu, yah," pinta Erick di jendela mobil samping kemudi, dia berbicara kepada Riko.

“Kebalik Bang. kita-kita yang nitip keselamatan sama kak Derry," sahut Aji yang duduk di kursi sebelah Riko. 

“Keselamatan terjaga, tapi gw ngga bisa menjamin kehormatan, lo, yah," balas Derry dari bangku belakang. 

“Iya, lu rada ganjen!" Seru Wanda menimpali candaan Derry dan Aji.

“Ganjen-ganjen gini 'kan emang idola para wanita, kak," sambut Miranda sambil menepuk pundak Aji yang duduk di depannya. Aji cengengesan karena merasa dibela.

“Ok Bro. don’t worry, kita saling jaga, kok," kata Riko. 

Riko menghidupkan mesin mobil. Erick melangkah mundur menjauhi mobil yang akan melaju membawa kekasihnya pergi. Riko sengaja menjalankan mobil dengan perlahan. Tangannya terangkat ke atas memberi isyarat perpisahan kepada Erick yang kini mematung di tengah jalan. 

Dari kaca jendela yang sengaja dibuka, separuh tubuh Derry menjulur keluar. Tangannya bergerak ke kiri ke kanan di udara. Melambai ke arah Erick sebagai salam perpisahan. Posisinya terus begitu sampai mobil yang ditumpanginya menghilang di penghujung jalan. 

“Cieee … cieee … ada yang bakal LDR-an nih," celetuk Miranda. 

“Pisah cuma berjarak 100 KM disebut LDR? Lebay!" balas Derry cengengesan. 

“Eheeemmmmm … Sebentar lagi, teman kita ini bakal melepas masa lajang, loh," ucap Riko.

“Ya dong. Udah mau deadline," balas Derry.

“Emang lu mau, Ko. Sahabat kita ini malam mingguannya di puncak gunung, melulu.” Wanda menimpali.

"Ya enggak sih. Takutnya udah ngga mau jalan lagi sama kita-kita kalau sudah kawin," ucap Riko.

"Bisa di atur lah kalau itu," jawab Derry semangat meski meragu karena tingkah Erick yang mulai protektif.

Nyebelin sih.

***

Matahari mulai meninggi. Langit terlihat membiru. Cuaca cerah akan membuat petualangan mereka menyenangkan hari ini, karena kali ini mereka memilih berwisata di pantai, melepas candu akan kegiatan eksplorasi alam bawah laut dengan snorkeling dan Freediving.

Mobil mereka terus melaju membelah jalanan tanpa hambatan. Mereka sudah menempuh separuh perjalanan. Saat berkendara, ada saja celoteh gila mereka saat mengenang kembali petualangan-petualangan seru yang telah lalu. Obrolan mengalir dalam derai canda tawa Bercampur dengan hentakan musik RnB milik Rihanna yang memenuhi kabin mobil. 

 “Berapa jam menuju tempat itu, Ko?" tanya Derry. Di sela-sela obrolan mereka.

“Dua jam-an lah," jawab Riko dari balik kemudi.

“Lo kenapa tahu tempat itu sih?”

“Dari Blog seseorang,” jawab Riko enteng.

“Dari blog? Cuma dari Blog dan lu nekat bawa kita-kita ke sana?”

Seketika senyap. Mereka saling pandang-pandangan. Bahkan suara tawa yang cair tadi berubah beku. Sementara Riko, merasa tersudut oleh ekspresi teman-temannya yang terkejut karena mendengar kenyataan bahwa tujuan liburan mereka hanya berdasarkan informasi blog.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Beyond the Song
9.0
Selama ini aku hidup sebagai monster yang menyamar dalam wujud manusia. Kedamaianku hancur saat serangkaian bunuh diri misterius terjadi akibat nyanyian mematikan Siren. Kehadiran Kenneth, seorang pemburu, justru menyeretku ke pusaran dunia supernatural yang berbahaya. Saat orang tercinta terancam, aku terpaksa bertindak meski harus mempertaruhkan rahasia besarku. Tragisnya, aku malah jatuh cinta pada Kenneth, pria yang seharusnya membinasakan makhluk sepertiku.
Sampul Novel Ditolak oleh Jodohku, Direbut oleh Alfa Musuh
8.6
Sepuluh tahun mengabdi, impian Luna menjadi hancur saat Alpha Bara mengkhianatiku demi selingkuhannya, Dina. Bara memfitnahku mandul dan memerintahkan hukuman cambuk perak hingga aku sekarat di hutan. Di ambang kematian, aku justru terbangun sebagai tawanan Alpha Reno Mahesa, musuh bebuyutan kawanan kami. Sambil menatap lukaku, dia mengulang hinaan yang menghancurkan hatiku: benarkah aku hanya serigala betina tak berguna yang kini dibuang?
Sampul Novel MENGEJAR MIMPI KE NEGERI SAKURA
9.3
Aisyah Rana, gadis berdarah Jepang, tumbuh tanpa mengenal sosok ayahnya. Saat ia bertanya, Abah murka dan Ibu hanya menangis pilu. Luka hatinya kian dalam saat dicaci sebagai anak haram oleh teman sekolahnya. Dipicu amarah dan rasa penasaran, Rana bertekad kuliah di Jepang demi mencari kebenaran. Meski ditentang orang tuanya, ia tetap berjuang meraih haknya. Di sisi lain, seorang pemuda tulus diam-diam selalu melindungi dan menjaga hati Rana dalam diam.
Sampul Novel Mr. Reagan
8.2
Reagan Adam dikenal sebagai miliarder rupawan yang dipuja banyak wanita. Namun, di balik pesonanya, ia adalah dalang pembunuhan berantai yang mencekam London. Hidupnya berubah saat bertemu Clara, gadis toko bunga yang ceria. Awalnya Clara adalah target buruan, namun Reagan justru terobsesi memilikinya. Kini, Clara terjebak dalam dekapan monster tampan yang mengklaim seluruh hidupnya. Akankah ia pasrah menjadi milik pria berbahaya yang bisa menghabisinya kapan saja?
Sampul Novel Release the Darkness
8.8
Heaven dan Kaylein terobsesi menemukan kaum abadi hingga menjelajahi dunia. Saat hampir menyerah, mereka justru menemukan kenyataan pahit di sebuah kastil tua di New Orleans. Kaylein diubah paksa menjadi vampir, sementara kekasihnya dilecehkan secara kejam oleh pemimpin klan yang dingin. Di tengah penderitaan dan transformasi fisik yang menyiksa, kesetiaan mereka diuji. Apakah cinta lama akan bertahan, atau takdir telah menyiapkan cinta baru bagi mereka?
Sampul Novel Rumah Kosong Di Dusun Angker
8.2
Di ujung Dusun Sentani, sebuah rumah tua yang dikepung beringin menyimpan misteri kelam. Kehadiran sosok Hantu Gaun Merah dan bisikan gaib membuat warga ketakutan, terutama setelah kematian misterius penduduk setempat. Clara kembali ke tanah kelahirannya bersama sang kekasih, namun ia justru disambut penolakan warga dan teror aneh. Terjebak oleh rahasia masa lalu dan kutukan desa, mampukah Clara mengungkap kebenaran di balik rumah angker tersebut?