Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Hijaunya Rumput Tetangga

Hijaunya Rumput Tetangga

Fian adalah sosok suami idaman yang sangat setia, namun ia harus menghadapi kenyataan pahit saat istrinya, Anti, mendadak meminta cerai. Anti merasa jenuh karena Fian dianggap tidak romantis meski sangat baik. Keputusan Anti untuk berpisah pun semakin kuat setelah dirinya bertemu kembali dengan mantan kekasihnya yang memiliki sifat sangat kontras dibanding Fian. Kini, keutuhan rumah tangga mereka berada di ujung tanduk akibat bayang-bayang masa lalu.
Bab
Bagikan

Bab 3

Perasaan Fian campur aduk. Ia masih sulit memahami apa yang terjadi pagi ini. Bagaimana mungkin Anti meminta cerai, dengan alasan yang menurutnya sangat sepele cenderung tak masuk akal. Di saat dirinya berpikir selama ini rumah tangganya baik-baik saja bahkan bisa dibilang tanpa riak di dalamnya.

Beruntung, Safa dan Mila—kedua putrinya yang berusia enam dan delapan tahun—sedang menghabiskan liburan di rumah neneknya, jadi mereka tidak perlu menyaksikan drama aneh ayah ibunya.

Fian menyusul istrinya ke kamar dan mengetuk pintu yang ternyata terkunci.

"Dek … Dek, buka pintunya. Biar abang jelasin dulu," panggilnya dengan suara memelas.

"Pergi! Tinggalin adek sendiri!" sahut Anti histeris, lalu disusul suara benturan benda-benda mengenai pintu. Ternyata seperti ini kalau Anti lagi marah, batin Fian. Ia merasa seperti baru mengenal sisi lain sang istri.

"Buka dulu, abang mau ngomong sesuatu. Abang 'kan harus berangkat ke kantor juga, Dek. Ayolah, abang gak bisa berangkat dengan keadaan begini," rayu Fian tak putus asa.

Senyap, tampaknya Anti mulai tenang. Tak terdengar lagi suara barang-barang dilemparkan. Kesempatan itu digunakan Fian untuk kembali bicara, berusaha mengambil hati istrinya.

"Abang janji, akan menuruti semua kemauan adek, asal jangan ngomong cerai lagi, ya."

Pintu tak juga terbuka, suara Anti pun tak terdengar.

"Ya udah, abang gak ke kantor ya. Nungguin adek keluar kamar," pungkasnya.

Buat apa ke kantor, bila meninggalkan istri dalam keadaan emosi, pikirnya. Pekerjaannya bisa dialihkan ke anak buah untuk sementara waktu. Sebagai manajer, ia dikenal dengan kinerja sangat baik. Sekali saja ijin tidak akan berpengaruh pada pekerjaannya.

Fian menyandarkan punggung di daun pintu. Perlahan ia meluruhkan tubuh hingga terduduk di lantai dengan kaki selonjoran. Matanya menatap nanar ke sekeliling rumahnya. Rumah yang dibangun dengan susah payah, sesuai dengan keinginan Anti baik desain maupun warna. Bagi Fian, tugasnya hanya bekerja, mencari uang yang halal bagi membangun keluarga kecilnya. Selebihnya biar Anti yang mengatur.

Salahkah itu? Kenapa harus serumit ini. Rumah senyaman ini ternyata tak cukup menyenangkan hati satu-satunya wanita, selain ibunya, yang pernah dicintai selama hidupnya.

[Abang gak romantis, jarang peluk-peluk, suka lupa hari-hari penting, ulang tahun kelahiran, ulang tahun pernikahan, gak pernah ngasih hadiah. Banyak lagi sebabnya.]

Ucapan Anti baru saja melintas kembali diingatan.

Ulang tahun? Baiklah bila itu memang penting. Fian mencoba mengingat tanggal ulang tahun Anti. Tanggal belasan? Ah bukan, sepertinya puluhan. Hmm ... sepertinya di bawah tanggal sepuluh. Fian makin merasa bersalah. Kenapa bisa lupa begini?

Ia membuka dompetnya barangkali bisa menemukan petunjuk di sana. Nihil. Apa mungkin di laci meja tv ada copy KTP terselip, pikirnya. Ia bergegas menuju ruang keluarga dan membuka laci meja. Tidak ada apa-apa di sana. Kembali diedarkan pandangannya ke sekeliling dengan frustrasi, matanya tertumbuk pada buku-buku catatan di atas meja di dekat dapur. Fian ingat, Anti sering menuliskan pengeluaran di buku itu.

Mungkin ada petunjuk. Nasib baik, secarik copy KTP milik Anti terselip di dalamnya.

Seketika Fian tersentak melihat tanggal lahir tertera, berkali-kali ia mengerjapkan matanya, 3 mei 1981. Ya, tidak salah, 3 mei 1981.

"Kemarin?" Fian mengusap muka dengan lesu. Kemarin, ketika jam kantor usai, dirinya ikut merayakan pesta ulang tahun rekan kantornya. Bodohnya aku, rutuknya. Hari ulang tahun istri sendiri dilupakan, malah ikut merayakan ulang tahun teman. Sepulangnya ke rumah, ia bercerita tentang betapa meriahnya pesta itu. Ia sama sekali tak menyadari perubahan di wajah Anti.

Pantas saja Anti diam sepanjang malam lalu ngamuk paginya. Seketika rasa bersalah menggelayuti dadanya yang lumayan bidang.

Semoga saja ia diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan bodoh yang diperbuatnya.

Fian mencoba mengingat berapa lama ia melewatkan momen ulang tahun istrinya. Sepertinya sejak tahun kedua pernikahan. Kenapa Anti tak mengingatkan saja soal itu?

"Dek, selamat ulang tahun," ucapnya dari balik pintu.

"Telat." Anti mejawab ketus dari dalam kamar.

"Yaa, maaf. Kemarin abang lupa. Jalan-jalan, yuk."

"Males."

"Adek mau dibeliin hadiah apa? Mas pergi sekarang cariin," rayu Fian tak putus asa. Dari dalam kamar terdengar pergerakan, ia berharap Anti membukakan pintu untuknya. Lama menunggu tak juga pintu terbuka, suara Anti pun tak terdengar lagi.

"Dek!" Fian terus mengetuk pintu.

Sejak menikah tak pernah didapatinya Anti ngambek seperti ini. Begitu marahnya dia ternyata

Menikah? Hmmm sudah berapa lama mereka menikah? Belasan tahun, tapi … tahun berapa?

Lelaki itu kembali ke ruang tamu, berjalan mondar-mandir mencoba mengingat kapan ia merayakan pernikahan. Berkas-berkas ada dalam kamar dan kamar terkunci.

Kacau!

Fian duduk termenung. Lalu tangannya mengambil ponsel dan mulai menyentuh layar, mencari icon galery. Ia kerap memotret anak-anaknya kala beraktifitas, bermain, belajar, makan bahkan sedang tidur. Betapa dirinya sangat mencintai keduanya yang berwajah sangat mirip dengan Anti.

Anti? Hmmm. Kembali Fian mengamati setiap gambar yang tersimpan di galery. Dari sekian banyak gambar, hanya ada sedikit gambar Anti. Seketika ia merasa bersalah. Betapa lalainya ia, tidak mengabadikan begitu banyak momen yang dilewatkan istri bersama buah hatinya.

Matanya tertumbuk pada gambar berikutnya. Ah, ini ada gambar keluarga lengkap. Hati Fian membuncah, hal yang sebelumnya tak pernah terjadi. Ternyata melihat gambar keluarga lengkap sangat membahagiakan.

Tapi … hmmm ada sesuatu yang mengganggu penglihatannya. Sejenak ia termangu. Dadanya bagaikan diketuk palu.

Bulir bening pun jatuh di pelupuk matanya.

Maafkan abang, Dek. Ternyata abang sangat tidak peka, batinnya saat menatap satu persatu gambar mereka.

Terlihat, ketika berpose di depan sebuah pohon di taman, Fian meletakkan telapak tangan kanannya pada pohon, sementara tangan kiri memegang tali tas. Padahal di sebelahnya tepat Anti berdiri. Pada gambar yang berbeda, pose Fian tak jauh berbeda. Bersedekap, memegang benda lain, memasukkan tangan ke dalam kantong celana.

"Seharusnya abang bersikap lebih mesra, Dek," lirih Fian.

Ternyata, menatap kembali gambar-gambar setelah mendengar ucapan Anti, itu menjadi semacam pukulan baginya.

Tak terlihat rona ceria di wajahnya, seperti halnya istri dan anaknya. Tak terlihat keintiman seperti yang sering ditunjukkan pasangan lain ketika berpose bersama. Sosok Fian, bagaikan orang asing berwajah datar yang kebetulan ada di tempat yang sama. Tapi, inilah dirinya apa adanya, dengan ekspresi diri yang menurutnya bukan masalah, tapi justru menjadi sumber masalah bagi istrinya.

Larut dalam lamunan, melewatkan entah berapa menit bahkan jam. Rasa sesak itu makin menghimpit dada Fian, membuatnya mengembuskan napas berkali-kali.

[Gak masuk kantor?] Text masuk dari Bandi.

Bandi, si biang perkara. Lelaki dengan pencitraan sempurna yang membuat Anti minta cerai darinya. Permainan licin Bandi hingga berhasil mengelabui Dira dan juga pandangan mata Anti, membuat Fian kini muak. Bila sebelumnya ia tidak ingin ikut campur, bahkan ada upaya menutupi perbuatan Bandi, saat ini ia harus bertindak. Tidak akan dibiarkannya lebih lama lagi sahabatnya itu menjadi 'racun' dalam pernikahannya.

[Gue ijin dulu, Ban.]

[Aaah, baru aja mau ngajak pulang malam. Payah lu.]

[Besok ketemu kita harus bicara. Penting!]

Bandi tak membalas pesan Fian. Dia terlanjur mengiakan permintaan Linda kemarin untuk mencarikan teman kencan buat temannya, Meita. Mereka akan menghabiskan waktu berempat di sebuah bar malam ini.

Dengan perasaan jengkel, Fian menutup aplikasi chat. Bila bertemu besok, ia akan mengajak lelaki itu bicara baik-baik. Cepat atau lambat, Bandi harus menghentikan kegilaannya, sebelum rumah tangganya sendiri hancur. Dira perempuan pintar, entah dia memang belum menemukan kecurangan Bandi atau memang pura-pura belum tahu. Wanita penuh misteri, kedalaman hatinya tak dapat diukur. Lihat saja Anti, diam bertahun-tahun tetiba bergejolak.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Crazy Woman
8.3
Ria Ananta menyembunyikan statusnya sebagai putri konglomerat meski gaya hidupnya selalu mewah. Ia memilih hidup normal, namun ketenangannya terusik sejak menjalin asmara dengan Christian, seorang idola terkenal. Tekanan dari keluarga Christian yang tidak merestuinya memicu depresi dan sisi gelap dalam diri Ria yang tak terduga. Di balik tumpukan harta, Ria berjuang melawan kehancuran mental dan pikiran bunuh diri akibat konflik hubungan yang penuh kekerasan.
Sampul Novel GAIRAH LIAR IBU TIRIKU
9.7
Meghan Crafson adalah mantan model dewasa yang tetap menawan di usia kepala tiga. Meski hidup bergelimang harta setelah menikahi miliarder New York, ia merasa hampa karena suaminya yang jauh lebih tua tak mampu memuaskannya. Situasi berubah saat Hardin, putra tiri yang tampan dan atletis, datang ke rumah mereka. Terpikat pesona Hardin, Meghan mulai melancarkan godaan terlarang. Hardin pun terjebak dalam dilema antara moralitas dan gairah liar yang ditawarkan sang ibu tiri.
Sampul Novel Gairah Terlarang Sang CEO!
9.0
Jordan Freemantle menyimpan dendam membara pada Lawrence Brickman yang kabur setelah menggelapkan dana proyek besar mereka. Saat Chantal Brickman, putri Lawrence yang cantik, datang ke rumah ayahnya di Malibu, Jordan langsung menjadikannya target pelampiasan. Pria arogan ini memaksa Chantal mematuhi segala hasrat gilanya sebagai bentuk penebusan utang sang ayah. Terjebak dalam cengkeraman Jordan, Chantal tak punya pilihan selain menuruti semua kemauan pria itu.
Sampul Novel Hot Desire Mr. Thompson
9.4
James tidak menyangka jatuh hati pada pandangan pertama saat menikahi Elvira melalui perjodohan. Kecantikan Elvira dan momen malam pertama mereka di dalam limosin membuat James terobsesi. Namun, Elvira bahkan tidak menyadari kekayaan suaminya yang luar biasa. Bahtera rumah tangga mereka segera diuji oleh berbagai rintangan besar, terutama saat mantan kekasih James muncul kembali. Mampukah cinta tulus mereka bertahan menghadapi gangguan orang ketiga?
Sampul Novel Kawin Kontrak dengan CEO Kejam
8.3
Penyiksaan yang tiada henti selalu terbayang di mata Elle, seorang Ayah yang seharusnya mengayomi malah sebaliknya dia dipaksa bekerja untuk mencari uang. Ayahnya semakin hari semakin gila. "Ayah, aku mohon hentikan!" isaknya sambil memohon. "Kamu menginginkan ini! Kamu seharusnya sudah menyiapkan uang yang aku butuhkan?!" "Ayah, hentikan! Sakit!" Elle seorang gadis berusia dua puluh dua tahun harus menanggung kehidupan yang pahit. Elle si gadis penari telanjang itulah profesinya saat ini. Kini ia bertekad untuk mengakhiri semua ini dia tidak ingin dijadikan budak lagi oleh Ayahnya, dia ingin keluar dari kehidupan yang kotor dia tidak ingin menjual tubuhnya lagi, malam ini adalah malam terakhir dia bekerja sebagai penari telanjang disebuah club.
Sampul Novel Kematianku Membuat Hatinya Hancur
8.8
Nathan Cross, bos mafia penguasa kegelapan, menikahi Jane Rivers yang ia cintai selama satu dekade. Jane merasa sangat dimuliakan hingga tahun kelima, saat ia hamil dan Nathan memaksanya menggugurkan janin itu demi wanita lain. Terungkap pula bahwa Nathan dalang kehancuran keluarga Jane. Hancur, Jane memalsukan kematiannya lewat bantuan musuh Nathan untuk kabur. Nathan pun meratap penuh penyesalan, namun luka Jane sudah terlalu dalam untuk dimaafkan.