
PEREMPUAN PALING SULIT DITAKLUKKAN (Seni Untuk Merawat Luka)
Bab 2
Lalu bagaiman Reni “ucapnya. Ucapan sama yang selalu ia katakan berkali-kali kepadaku. Setiap kami membahas persoalan ini.
Tentu, aku tidak mempermasalahkan lagi. Aku sama sekali tidak menuntut dia. Aku sengaja membiarkan segala hal yang ingin dia lakukan. Itulah alasan mengapa dia begitu betah denganku. Dia jelas tidak medapatkan ini dari laki-laki manapun. Dan, sungguh dari banyak kasus yang aku amati kebanyakan perempuan akan selingkuh bukan karena perawakan ; tampan rupawan semata, bukan pula tidak menarik lagi. Melainkan lebih dari pada itu “meminta maaf saat perbuat salah, memafkan ketika perempuan yang salah, sesederhana itu sebetulnya”. Selebihnya ialah faktor psikologis, semakin lama hubungan yang timbul bukan kepercayaan melainkan keegoisan. Hal ini terjadi karena dominasi “kamu miliku dan aku milikmu”. Lantas, apapun yang terjadi harus sesuai dengan kehendak yang ku mau bukan yang kita inginkan bersama. Dari sinilah akan timbul yang namanya hubungan ini hanya milik satu orang saja diantara dua orang yang menjalaninya atau yang disebut dengan Trust Issue (krisis kepercayaan). Aku sudah lebih dulu merasakannya dengan Reni, sengaja aku tak menceritakan agar semua berjalan sebagaimana mestinya.
Sebetulnya , aku juga menyadari atas apa yang dia rasakan, dia tak lebih selain kawatir kehilangan dan aku kembali kepada masalaluku (Reni). Selain dari pada itu aku juga tak ingin menuntutnya berlebih. Bahkan saat dia datang telat, aku tau persis bagaimana perasaanya saat menyaksikan langsung ulang tahun ku yang didatangi Reni lebih dulu, meskipun kita tak sempat mengobrol tapi tatapan Reni pada ku masih menyimpan ribuan harapan untuk kembali, sialnya dia mengetahui. “this is Fuck man”.
“kamu tau dia datang saat ulang tahun mu?”.
“Ia , tapi tak lebih dari pada tamu undangan”.
“kamu pasti tau bagaimana tatapan Reni kepadamu? Itu tak lebih dari pada pengharapan untuk kembali”.
Hubunganku dengan Reni lima tahun lalu bukanlah hubungan yang sehat, kami bertahan semata karena durasi yang lama, bukan karena kualitas yang terjaga, dan aku menyadarinya sehingga aku tak mau lagi membuka halaman buku yang sudah aku baca sebelumnya,
“ini terlalu monotan dan membosankan”.
“kamu mau tambah minuman atau makanan lagi?, ucapnya yang membuyarkan ingatanku dengan Reni.
“Tidak usah. Aku sudah kenyang”.
“Mau kemana setelah ini?”
“aku ikut kamu, kemanapun asal kita bersama”, meskipun dalam benakku “Reni Menunggu ku”
“yasudah antar aku pulang”,
sontak permintaanya malah membuat kepalaku pusing bukan kepalang, ada semacam pesan tersirat yang hendak ia sampaikan, tapi aku belum memahaminya secara utuh”.
Dia seolah mengerti isi kepalaku tentang pertemuanku dengan Reni, saking berisiknya isi kepalaku. Sampai-sampai aku berfikir.
“Apa dia dan Reni bersekongkol untuk sengaja mengetahui pertemuanku setelah ini, tidak dia tak sejahat yang aku fikir”.
Sembari berjalan, ia begitu kencang menggenggam tanganku sembari berkata dengan lirih.
“Kamu tidak akan lama lagi meunggu”, bisiknya,
“tidak apa-apa aku faham , aku sudah siap menerima segala konsekuensi yang terjadi, aku percaya apa yang kita perjuangkan takakan sia sia”, tandasku sambil tersenyum.
“jangan membuatku merasa bersalah”
“kamu tidak bersalah, tidak ada yang salah diantara dua insan ini. Kamu kebetulan saja lebih dahulu dipertemukan dan dimiliki oleh Reni”, dengan senyumnya yang berlinang air mata.
Sesampainya di parkiran kami sengaja tanpa sepatah katapun masuk kedalam mobil, aku sengaja mengendarai mobil dengan sangat kencang. Setibanya didepan rumah. Waktu sudah menunjukan pukul delapan. Waktu dimana aku harus sesegera mungkin menemui Reni.
“kamu tidak akan menemuinya kan?” tanyanya sembari memeluk kencang badanku.
“Aku akan menjaga kepercayaan ini”, dengan lirih dan penuh bersalah ucapku.
Malam itu merupakan malam paling indah dan menyedihkan bagiku. Paling indah karena menghabiskan waktu berjam-jam dengannya dan menyedihkan karena aku merelakan diri berbohong sementara dia juga meneteskan air mata.
“Sial dia menangis bukan karena kejujuranku, melainkan karena bodohnya aku membohongi wanita yang aku anggap rumah dan masa depanku sendiri, pecundang”.
Setelah dia kuantar sampai rumah, sesegera mungkin aku masuk mobil dan menelpon reni, meskipun aku tahu didalam kaca rumah itu. Ia terlihat sedang memandangiku dengan air mata” aku tau persisi bagaimana kawatirnya dia”.
“Hallo, Ren kamu dimana ?”
“Aku sudah ditempat waktu kita pertama kali bertemu”
Sontak aku langsung mengatakan dengan nada tinggi.
“Ren, maaf aku tidak bisa menemui mu lagi, ini untuk kali terakhir aku menghubungi mu”.
“kenapa? Bukankah kau sudah berjanji untuk datang tepat waktu ditempat kita pertama kali bertemu”
“Tidak untuk kali ini, aku kira kita sudah selesai”
“Apa maksud mu?, aku sudah meluangkan waktu dari jombang ke malang hanya untuk menemui mu”.
dengan suara tersendat-sendat aku sadar betul bahwa dia sedang menangis.
“Ren, kita ini sudah bukan sepasang kekasih lagi, kamu tahu kan. Aku sudah milik Dhibah dan kita akan sesegera mungkin bertunangan. Sementara kamu sudah menjadi kekasih rizal, laki laki yang kau pilih karena kepiawaiannya dalam meluangkan waktu”.
“tidak, aku bisa menjelaskan semua. Aku dan Rizal hanya sebatas kawan yang kebetulan ia menyimpan rasa padaku, sementara aku masih sangat mencintai mu lho”.
“kau mau berbohong apa lagi, apa semua belum cukup, ibu mu sendiri yang bilang kalau rizal sering kerumah dan mengajakmu untuk sekedar berjalan ketaman kota ren”.
“aku hanya teman , kamu harus percaya aku”.
Reni berulang kali mengatakan untuk mempercayainya lagi. Sementara hubungan kami sejatinya sudah betul betul selesai. Bermula saat Reni KKN satu posko dengan Rizal. Perasangkaku kepadanya sudah ada lebih dahulu sebelum ibunya cerita tentang hubungan Reni dan Rizal. Kesemuanya aku dapati informasinya dari Azizah teman satu KKN Reni dan Rizal.
“Clunting..(suara pesan masuk)
“ Reni sepertinya resmi berpacaran dengan Rizal li !”.
Sontak aku langsung menelponnya dengan rasa kawatir dan kecewa dipagi buta, aku mendapati pesan seperti itu.
“Apa maksudmu zah?, tanyaku dengan nada tinggi.
“ kau terlambat li, mereka sudah remsi berpacaran”.
“ sad, kamu jangan bohong tak mungkin reni melakukan sperti itu aku sudah mengenalnya lebih dulu dari pada kamu”.
Aku masih terus percaya bahwa Reni tak mungkin ada hubungan spesial dengan orang lain apalagi dengan Rizal Rizal itu. Meskipun kami LDR tapi aku percaya bahwa tak mungkin Reni setega itu padaku.
“li sabtu kemarin mereka keluar bersama, dan aku sering mendapati Reni menelpon Rizal ditengah malam, dan parahnya nama Rizal di telponnya diberi nama sayang, sementara kontakmu sudah dihapus semenjak ada hubungan mencurigakan diantara mereka”.
Memang betul kontak reni di telpon ku tak ada poto profilnya bahkan statusnya kerap kali tak muncul, sesaat ketika aku menanyakan terhadap Reni. Ia selalu mengatakan bahwa sengaja tak memasang foto profil karena demi keamanan hubungan.
“terserah li, kalau kau masih tak percaya “ tut..tut..tut…(suara panggilan berakhir).
“kau masih mau berbohong Ren”, Tanyaku pada Reni dengan tersedu-sedu.
“Tidak li, aku tak seperti apa yang azizah katakan pada mu”.
“sudah Ren jangan hubungi aku lagi”. Tut..tut…tut… (suara panggilan berakhir).
Sore hari, pukul empat lewat lima belas menit di sebuah tempat makan cepat saji aku menunggu seseorang.
Kali ini, dia datang tidak lagi telat. Tidak seperti biasanya yang sudah-sudah. Dia bahkan tiba sepuluh menit setelah ku sampai. Padahal sengaja aku memperlambat laju mobilku, karena aku yakin ia tidak akan datang tepat waktu. Beruntungnya aku, dia tidak lebih awal datang. Karena jika sampai terjadi , dia yang terpaksa menunggu aku, seperti hari kemarin yang rumit. Biasanya, aku selalu datang lebih tepat waktu dari yang kita janjikan. Namun, karena hari ini aku bermalas-malas saja dan memang ada buku yang sedang aku rampungkan.
“kenapa datang cepat sekali?” tanyaku keheranan saat dia duduk.
“Tidak apa-apa , memang tak boleh tepat waktu”. Ucapnya tegas dengan wajah yang nampak berseri.
“Baguslah”. Aku tersenyum. Aku senang dia datang tidak telat. Setidaknya, aku tidak perlu menunggu berjam-jam lagi. Paling penting dia tidak membuka percakapan dengan kata maaf lagi.
“kali ini, aku saja yang pesan makanan”.
Dia langsung beranjak dari tempat duduknya seolah sudah tahu apa yang hendak aku pesan. Lagi-lagi dia sedang menjadi penyihir untuk dapat menegtahui apa yang hendak aku pesan, tapi aku pasti akan memakan apapun yang dia pesan kok.
“Gimana kerjaan mu?”. Tanyanya padaku. Makanan telah tersaji dihadapan kami.
“bulan depan aku cuti”, jawabku singkat.
“kenapa , mau pindah kerja kah?”.
“aku mau pulang, ibu mau aku kerja dirumah agar dapat dipantau langsung , sudah lima tahun juga aku merantau”.
“Baguslah. Berarti aku bisa ikut dan sesegera mungkin kita menikah, aku tak mau berpacaran lama-lama li”. Ucapnya renyah dan enteng.
Aku tersedak. Dan dia segera mengambilkan air putih untuk ku.
“kamu baik baik saja ?”. Dia tampak cemas.
“Iya, aku baik-baik saja. Aku hanya kaget“. Hufft.. aku menenangkan perasaan.
Dia tersenyum. Dan kemudian dhibah menatapku dengan sinis. Dia sepertinya paham isi kepalaku ; perihal si reni (mantan pacarku).
Sontak bibir ku langsung berkata
“ Aku sudah menyelesaikan hubunganku dengan Reni”.
“ Kamu serius?”. Tanyanya padaku. Sambil menekuk wajah
‘Iya semalam aku menghubunginya dan aku meminta untuk reni tak menghubungiku lagi”.
“kamu tak perlu cerita soal itu li, berulang kali aku katakan jangan hubungi dia lagi, tapi kamu tetap saja menghubunginya diluar sepengetahuanku”.
Ucapnya dengan tergesa gesa. Seketika meja makan kita terasa sunyi karena pertikaiaan ini.
Harusnya aku tak menceritakan ini, maksud hati; jujur agar hubungan lebih terbuka, sialnya, pertemuan ku dan Dhibah malah membuat nya makin curiga pada ku.
“kau tau li, semalam ada nomer telpon baru menghubungiku memaki-maki aku, ia bilang kalau aku perempuan murahan yang hanya bisa mengganggu hubungan orang. Dia mengisyaratkan padaku, untuk tak menghubungimu lagi”.
Ucapnya dengan penuh amarah dan tetesan air mata.
Sial Reni-reni, pasti dia yang menghubungi Dhibah. Sungguh keterlauan yang dia ucapkan dengannya.
Kemudian selepas ucapan singkatnya itu. Dhibah langsung pergi meninggalkan meja makan. Aku sengaja tak mengejar atau menghampiri hanya sekedar menenangkan. Bagiku, ini hanya akan memperumit keadaan.
“Harusnya tak seperti ini Ren, Fuck”, kataku sambil menggeberak meja makan. ini hanya akan memperumit keadaanku dengan Dhibah.
Memang betul kata mahmud.
“kalau belum selesai dengan masa lalu. Jangan mulai dengan orang baru, hanya sekedar untuk mengobati. Kau tak boleh melibatkan siapapun atas apa yang terjadi padamu dulu, kau harus sembuh sendiri”.
Sunguh, ditinggalkan orang yang kita sayangi, bukanlah hal yang menyenangkan. Itu adalah hal yang buruk bagi perasaan. Niat hatiku bulan depan akan pulang dan bercerita bahwa aku akan serius dengan dhibah dan sesegera mungkin melangsungkan tunangan. Tapi sepertinya waktunya kurang tepat, dengan hubungan yang masih rumit.
Kembali mengingat amukan Dhibah padaku tadi, membuatku merasa semakin bersalah. Selain ada Reni yang mencintaiku terlebih dahulu. Jujur aku tak bisa membayangkan apabila Dhibah mengetahui apa yang dulu aku lakukan pada Reni. Apakah dia masih menerimaku atau tidak?. Cinta seperti ini rumit sekali bukan, hanya karena aku masih menghubungi Reni untuk terakhir kalinya.
Anda Mungkin Juga Suka





