Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Hati yang Kau Sakiti

Hati yang Kau Sakiti

Kebahagiaan Kiran saat mengetahui kehamilannya seketika sirna oleh kenyataan pahit. Arka, suami yang ia percayai, ternyata telah lama mengkhianatinya bahkan memiliki anak dengan wanita lain. Hati Kiran hancur berkeping-keping di tengah runtuhnya rumah tangga yang selama ini ia jaga. Kini, ia harus berjuang menghadapi perihnya pengkhianatan tersebut. Mampukah Kiran bangkit dari keterpurukan ini ataukah rasa cintanya pada Arka telah benar-benar mati selamanya?
Bab
Bagikan

Bab 2

Tangannya sudah bergetar, tapi Kiran mencoba memberanikan diri untuk tetap membuka pesan tersebut. Untung saja, ponsel itu tidak terkunci, sehingga ia bisa membaca semua isi percakapan yang ada. Selama ini, Kiran memang tak pernah membuka ponsel suaminya karena ia percaya sepenuhnya pada Arka. Tapi kepercayaannya kini hancur berkeping-keping ketika ia melihat pesan tersebut.

 Tubuh Kiran bergetar hebat, dadanya terasa sesak, kakinya begitu rapuh dalam berpijak hingga ia jatuh ke lantai yang dingin. Semua pesan itu membuatnya begitu terpukul. Bagaimana tidak, kontak yang memiliki foto profil seorang anak kecil yang begitu mirip dengan suaminya itu menyita perhatiannya.

 "Siapa anak kecil ini? Kenapa dia begitu mirip dengan Mas Arka?"

 Hati Kiran berdenyut nyeri. Terlebih, Arka menyimpan nomor ponsel itu dengan panggilan 'Ay.' Kiran merasa dunia di sekitarnya runtuh. Air mata mulai mengalir deras di pipinya, mengaburkan pandangannya. Setiap pesan yang terbaca seolah menambah beban di hatinya.

 "Kiran!" Kiran terkesiap ketika Arka memanggilnya.

 "Kiran, apa kamu mendengarku? Sabun di kamar mandi habis, bisa kamu ambilkan?!" Arka berteriak dari dalam kamar mandi.

 Kiran yang mendengar itu langsung mengusap air matanya dengan kasar. Ia lalu meletakkan ponsel Arka di atas meja lagi. "Iya, sebentar," jawabnya, suaranya terdengar begitu dingin.

 Wanita itu segera beranjak, berjalan menuju lemari tempat penyimpanan sabun. Setelah berada di depan lemari, ia membuka lemari itu dan mengambil sabun cair, lalu menutup lemari itu lagi dan berjalan ke arah kamar mandi. "Ini sabunnya." 

 Arka membuka pintu sedikit, lalu meraih sabun yang ada di tangan Kiran. "Terima kasih."

 Setelah Arka menutup pintu lagi, Kiran menyandarkan tubuhnya di tembok. Ia masih memikirkan siapa orang yang mengirim pesan tersebut kepada suaminya. Kiran tak pernah membayangkan bila suaminya itu berselingkuh di belakangnya, terlebih selama ini Kiran selalu percaya kepada suaminya.

 Sepuluh menit telah berlalu. Arka keluar dari kamar mandi sembari mengusap rambut basahnya menggunakan handuk. "Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu masih berdiri di situ?" tanya Arka ketika melihat Kiran hanya terdiam sambil bersandar di tembok.

 Kiran tak menjawab, ia hanya memperhatikan suaminya yang berjalan ke arah meja. Tiba-tiba suara panggilan dari ponsel Arka terdengar. Arka segera mengambil ponselnya, ia terkesiap ketika tahu siapa yang menghubunginya. "Aku angkat telepon dulu," kata Arka sambil menoleh ke arah Kiran.

 "Kenapa tidak mengangkatnya di sini saja, Mas?" usul Kiran, ketika melihat suaminya hendak pergi.

 Arka menoleh sejenak ke arah ponsel itu, lalu ia pun menganggukkan kepalanya. "Baiklah."

 Arka pun mengangkat panggilan telepon tersebut. "Halo."

 "Mas, Cleo sedang demam, kamu harus ke sini sekarang juga." Suara wanita di seberang telepon terdengar cemas.

 "Oh, baiklah, aku akan ke sana sekarang."

 Setelah berkata seperti itu, Arka langsung mematikan sambungan teleponnya.

 "Siapa yang menelepon, Mas?" selidik Kiran sambil menatap suaminya tajam.

 "Tiba-tiba ada urusan di kantor," jawab Arka.

 "Tapi kamu baru pulang ke rumah, apa kamu akan pergi lagi?"

 "Ya, urusannya mendadak, tidak bisa dibatalkan," kata Arka sembari mengambil jaket dan kunci mobilnya dari gantungan. 

 Kiran memandang suaminya dengan tatapan penuh curiga. "Apa urusan kantor yang mendadak itu, Mas? Kenapa terdengar begitu mendesak?"

 Arka terdiam sejenak, ia mencari kata-kata yang tepat agar istrinya tak curiga. "Ada masalah penting yang harus segera diselesaikan. Aku harus menemui klien yang sedang mengalami situasi darurat. Ini tidak bisa ditunda."

 Kiran hanya mengangguk pelan, meski hatinya masih dipenuhi oleh keraguan. "Baiklah, hati-hati di jalan, Mas."

 Arka mengangguk, sebelum pergi, ia mengecup singkat kening Kiran terlebih dahulu. "Aku pergi dulu. Kamu jangan begadang terus, tidak baik untuk kesehatanmu."

 Setelah Arka pergi dari hadapannya, Kiran kembali merasakan sesak di dadanya. "Kamu sudah berani berbohong kepadaku, Mas."

 Kiran segera berjalan ke arah nakas untuk mengambil kunci mobilnya yang ia simpan di laci nakas. Wanita itu berencana untuk mengikuti ke mana suaminya akan pergi. 

 Setelah ia berhasil mendapatkan kunci mobilnya, Kiran segera berlari mengejar suaminya yang sudah pergi terlebih dulu, tepat ketika sudah di depan mobil, Kiran langsung memasuki mobil. Tangannya bergetar ketika menyalakan mesin mobil, ia mengintip keluar jendela untuk memastikan bahwa Arka sudah cukup jauh di depan. Perlahan, ia mengikuti mobil suaminya dari belakang, dan berusaha menjaga jarak agar tidak ketahuan.

 Selama perjalanan, perasaan Kiran begitu gelisah. Ia berharap apa yang ada dipikirannya itu tidaklah benar. Namun, keraguan dan kecurigaan terus menghantui pikirannya. Air mata kembali mengalir di pipinya saat ia membayangkan kemungkinan terburuk.

 "Mas, aku hanya berharap kamu tidak mengkhianatiku." Kiran mengusap air matanya yang terus mengalir, ia kembali fokus mengendarai mobilnya lagi.

 Hatinya berdebar kencang saat melihat Arka berbelok ke jalan yang tak biasa mereka lewati. Kiran mencoba tetap tenang dan fokus, mengikuti setiap gerakan mobil suaminya dengan hati-hati. Ia berharap ini semua hanya mimpi buruk yang akan segera berakhir.

 Namun, ketika Arka berhenti di depan sebuah rumah yang asing baginya, Kiran merasa nyeri yang mendalam di hatinya. Ia melihat seorang wanita keluar dari rumah tersebut, sambil menggendong seorang anak kecil yang tampak sakit. 

 Kiran melihat suaminya, Arka, keluar dari mobil dan segera menghampiri mereka. Wanita itu mencengkram setir mobil begitu erat ketika menyaksikan suaminya berbicara dengan wanita lain begitu akrab. "Siapa wanita itu? Kenapa mereka terlihat begitu dekat?"

 Ketika Arka mengambil anak kecil itu dan membawanya masuk ke dalam rumah, Kiran merasa seluruh dunianya runtuh. Air mata tak terbendung lagi. Kenyataan pahit ini begitu menghancurkan hatinya. Semua harapan dan kepercayaannya pada Arka seakan musnah dalam sekejap.

 Kiran memberanikan diri untuk keluar dari mobil. Ia hanya ingin memastikan apa yang sebenarnya suaminya lakukan di dalam sana. Setibanya di depan pintu rumah, Kiran mulai menguping pembicaraan mereka.

 "Kenapa tubuh Cleo panas sekali?" tanya Arka, yang terlihat begitu khawatir.

 "Aku juga tidak tahu, Mas. Aku sudah membeli obat dari apotek, tapi suhu panasnya belum turun juga. Apa sebaiknya kita bawa Cleo ke rumah sakit saja? Aku takut terjadi apa-apa sama Cleo."

 "Baiklah, kita ke rumah sakit sekarang. Kamu siap-siap dulu."

 "Baik, Mas."

 Arka meletakkan anak kecil itu di atas sofa. Ia mengelus wajah anak kecil yang masih berumur sekitar satu tahun itu. "Ada apa dengan anak papa ini? Kenapa suhu tubuhmu panas sekali, hm?"

 Deg!

 Jantung Kiran terasa diremas hebat ketika mendengar perkataan Arka. Air matanya jatuh membasahi pipinya. Ia tak menyangka semua ini akan terjadi padanya. Kiran begitu terpukul mendengar kenyataan ini, ia merasa begitu rapuh dan hancur secara bersamaan. 

 "Apa yang aku dengar tadi?" Kiran bertanya dalam kebingungan, ia melangkah mundur. Namun, kakinya tak sengaja menjatuhkan pot yang ada di lantai.

 Praakk!

 "Mas, suara apa itu?" tanya wanita yang ada di dalam rumah.

 "Aku juga tidak tahu, mungkin kucing," ujar Arka. Ia berdiri dan berjalan ke arah luar, diikuti oleh wanita yang ada di belakangnya.

 Ketika pintu berhasil dibuka, Arka terkejut ketika melihat Kiran yang ada di sana. "Kiran ...."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Budak Nafsu
7.9
Kehidupan Ayu sempat terbelenggu oleh nafsu bejat mertuanya sendiri. Kini, ia berjuang meniti masa depan bersama Alfons, cinta sejatinya, di tengah ancaman dendam Maharani yang gelap mata. Meski dikelilingi kekejaman dunia mafia berseragam yang penuh intrik, kesucian cinta mereka tetap tak ternoda. Hubungan ini membawa keduanya melintasi berbagai belahan dunia, bertahan hidup dari kejaran musuh demi menjaga ketulusan perasaan yang mereka miliki.
Sampul Novel Cahaya di Antara Bayang-Bayang
8.7
Amir terjebak dalam hampa meski rutin beribadah di bulan Ramadan. Hidupnya berubah usai bertemu Sheikh Ibrahim, guru spiritual misterius yang membimbingnya keluar dari kegelapan. Di tengah atmosfer religius, ia menghadapi ujian iman yang berat. Pertemuannya dengan anak jalanan dan wanita misterius memberinya pelajaran mendalam tentang cinta serta pengorbanan. Ini adalah kisah inspiratif tentang transformasi batin dan pencarian makna hidup yang penuh cahaya.
Sampul Novel Cinta Balas Dendam
8.0
Pasca kematian orang tuanya, Alena Geraldine terjebak dalam pernikahan paksa dengan CEO kejam, Azam Dirgantara, akibat ulah paman dan bibinya. Alena diperlakukan layaknya tawanan tanpa cinta, karena Azam hanya memanfaatkannya demi membalas dendam pada Jonatan. Namun, benih cinta justru tumbuh di hati Alena bagi Azam. Ironisnya, Azam masih terobsesi pada cinta pertamanya. Sanggupkah Alena bertahan saat suaminya sendiri mendambakan wanita lain?
Sampul Novel Cinta Sepasang Operator Data
8.1
Rizal, seorang duda yang berprofesi sebagai operator data di sekolah swasta, mendambakan sosok istri yang tulus menerima dirinya beserta kedua buah hatinya. Saat ini, ia tengah menjalin hubungan serius dengan seorang wanita yang usianya empat tahun lebih tua. Namun, perjalanan asmara mereka tidaklah mudah karena berbagai rintangan besar terus menghadang. Akankah Rizal mampu mempertahankan komitmennya dan memperjuangkan cinta sejatinya hingga akhir?
Sampul Novel Ghost Boyfriend
8.0
Arka terpaksa menjadi arwah penasaran setelah kecelakaan maut merenggut nyawanya di waktu yang salah. Mendapat peluang terakhir untuk kembali ke dunia, ia meminta bantuan Zulfi, seorang pengangguran, demi menuntaskan urusan yang tersisa. Arka ingin memastikan kekasihnya, Ziva, tetap bahagia meski ia telah tiada. Mampukah Arka pergi dengan tenang setelah melihat kedekatan Ziva dan Zulfi? Bisakah ia mengubah hidup Zulfi menjadi lebih baik sebelum waktu habis?
Sampul Novel Jaring Kebohongan Suami Miliarderku
9.6
Sebagai istri miliarder teknologi bernama Kian, aku adalah penenang jiwanya. Namun, ia justru memberikan dana medis adikku kepada selingkuhannya demi suaka kucing. Saat kecelakaan tragis merenggut nyawa adikku, Kian membiarkanku terluka demi wanita itu. Puncak pengkhianatan terungkap saat aku ingin bercerai; pernikahan kami ternyata palsu dan penuh tipu daya. Kini, aku menghubungi pria dari masa laluku untuk membalas dendam dan menghancurkan kerajaan Kian.