
Hati Beku yang Tak Dapat Dicairkan Lagi
Bab 3
"Papa, Mama agak aneh hari ini. Aku agak khawatir," ujar Enzo dengan ekspresi gelisah begitu masuk ke mobil.
Namun Alvaro hanya mengelus kepala putranya untuk menghiburnya dan tidak peduli pada kekhawatirannya.
"Mama cuma lelah dan perlu istirahat. Jangan berpikir kejauhan. Kita akan segera sampai di rumah Bibi Nana. Senang nggak?"
Mendengar hal itu, sang putra langsung menyingkirkan rasa cemasnya. Dia tersenyum dan mengangguk dengan gembira karena sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Mama Nana-nya.
Namun, mereka tidak tahu bahwa setelah mereka pergi, Natasha langsung bangkit dan diam-diam mengikuti mereka. Sebab, begitu ayah dan anak itu berangkat, dia menerima pesan dari seorang wanita asing.
Itu adalah foto si wanita dan Alvaro di tempat tidur. Ada kostum pelayan, kostum perawat, dan gadis kelinci. Di bawah foto-foto itu, ada juga sebaris pesan.
"Kamu tahu suami dan anakmu akan datang menemuiku sekarang?"
Natasha menunduk beberapa detik, lalu menginjak pedal gas. Dia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri seberapa jauh ayah dan anak itu bisa bertindak di belakangnya.
Maybach hitam itu melaju kencang dan segera meninggalkan kota untuk melaju ke pinggiran kota. Satu jam kemudian, mobil itu berhenti di depan sebuah kompleks vila yang megah.
Natasha pernah mendengar tentang kompleks vila ini sejak lama. Harga sebuah vila di sini mencapai ratusan triliun.
Beberapa tahun sebelumnya, Natasha yang tidak suka kebisingan memohon pada Alvaro untuk membeli vila ini. Akan tetapi, pria itu selalu bersikap ambigu. Dia selalu mengira Alvaro merasa vila di area ini terlalu mahal. Kini, dia sudah mengerti alasannya. Vila ini adalah rumahnya bersama wanita lain.
Di depan, ayah dan anak itu keluar dari mobil. Kemudian, terlihat seorang wanita ramping dan cantik keluar dari vila. Itu adalah wanita yang sama di foto.
Melihat wanita itu berjalan keluar, Enzo berseru kegirangan, "Mama Nana!"
Mendengar putra yang telah dia besarkan selama bertahun-tahun memanggil orang lain mama, hati Natasha serasa ditusuk pisau. Dia tanpa sadar meremas ujung bajunya erat-erat agar tidak bersuara.
Tidak jauh dari sana, Enzo bergegas menghampiri dan memeluk Luna Herdian. Dia membenamkan kepalanya di baju Luna dengan manja. "Mama Nana, akhirnya aku ketemu sama kamu. Aku rindu banget sama kamu."
Wanita itu tersenyum dan membungkuk untuk memeluk Enzo. Kemudian, dia memegang wajah anak laki-laki itu dan menciumnya. Seolah-olah bisa merasakan sesuatu, dia tiba-tiba mengangkat kepalanya dan bertemu pandang dengan Natasha di kejauhan.
Luna menatap Natasha dan berbicara kepada anak laki-laki di pelukannya, "Enzo, aku mau tanya. Kamu lebih suka sama Mama Natasha atau Mama Nana?"
Ekspresi Enzo pun membeku dan dia merasa agak serbasalah. Akan tetapi, dia tetap menjawab, "Aku suka sama Mama, tapi ... Mama terlalu keras padaku. Mama Nana lebih bisa menyenangkanku."
Natasha pun terpaku di sana. Hatinya terasa sakit hingga dia tidak bisa bernapas.
Ketiga orang yang sedang bersama itu lebih mirip seperti keluarga dekat.
Natasha menyaksikan mereka berpelukan sambil tersenyum, lalu memasuki vila bersama. Dia pun melangkah dengan susah payah dan lanjut memperhatikan mereka.
Luna menggendong putranya dan membujuknya untuk tidur. Tak lama kemudian, putranya tersenyum bahagia dan tertidur. Melihat Enzo sudah tidur nyenyak, Luna mengangkat alisnya dan duduk di atas Alvaro sambil tersenyum nakal. Dia juga membuka ritsleting jaketnya.
"Varo, ini piama yang sengaja kukenakan untukmu. Suka nggak?"
Mata Alvaro langsung dipenuhi nafsu. Dia menarik Luna ke dalam pelukannya dan menekannya ke tempat tidur. Kemudian, dia menunduk dan mengecup tulang selangka Luna dengan lembut. Setelahnya, terdengar suara penuh hasrat menggema di vila.
Di luar tembok, Natasha berbalik dengan ujung mata memerah. Dia mengepalkan tangannya erat-erat sambil menahan air matanya. Kemudian, dia jatuh terduduk di lantai dengan hati yang hancur.
Anda Mungkin Juga Suka





