
HATE BEING A RICHMAN
Bab 3
Pagi ini, Tsabit telah berganti pakaian. Perawatnya memberitahu jika dia kini harus segera pergi ke suatu tempat. Dengan tenang Tsabit menikmati sarapannya. Hampir dua minggu berada di kamar telah menguras habis seluruh kewarasan hidupnya. Itulah kenapa saat dikabarkan akan berangkat ke suatu tempat, Tsabit merasa sangat bersemangat.
"Tuan, mari berangkat." perawat yg tidak diketahui namanya itu mengajak Tsabit keluar dari kamarnya.
"Baik" ucap Tsabit sambil bangkit dari duduknya.
Tsabit menyusuri koridor di luar ruangan ini menuju halaman depan rumah besar ini dimana sebuah mercedesmaybach hitam telah menunggunya.
"Selamat pagi Tuan Muda." seorang berpakaian supir dengan stelan resmi khas pengemudi keluarga kelas atas itu menyapa Tsabit dengan sopan sambil membukakan pintu belakang.
"Pagi," Tsabit memilih tak mengeluarkan banyak kalimat. Bagaimanapun dalam hatinya dia masih belum mengerti dengan semua perlakuan yg selama ini diterimanya.
"Tuan Muda,"
Seseorang memanggil Tsabit seraya mengetuk kaca jendela mobilnya, Tsabit kemudian segera membukakan pintunya.
Seorang pria paruh baya yg selama ini mondar mandir ke kamarnya itu kemudian masuk dan duduk di sebelah Tsabit. Mobil kemudian melaju menjauhi halaman rumah yg sangat luas itu. Jalanan berkelok semakin tak bisa dikenali oleh Tsabit, entah mereka menuju kemana Tsabit tak tahu. Tsabit memilih berdiam disepanjang perjalanannya.
Perjalanan sudah semakin jauh, ketika tiba tiba saja mobil yg ditumpanginya itu oleng ke bahu jalan.
"Braaakk"
Pagar pembatas jalan roboh dihantam mobil yg melaju dengan kecepatan tinggi itu.
"ARrrgghhh"
"Tuan Mudaaa"
"Tidaak"
MercedesMaybach itu menghantam pembatas jalan dan terperosok ke dalam jurang yg curam. Tsabit dan dua orang didalamnya dipastikan tak akan selamat dari kecelakaan itu.
*******************************
"Tsabit, bantu ibu nak." suara parau ibunya memanggil membuat Tsabit bergegas menghampirinya.
"Ibu kenapa? " tanya Tsabit.
"Sebentar lagi bos kebun teh kita akan datang. Jadi tolong bawakan ini ke aula gedung tua disana dan bantu yg lainnya membersihkan gedung ya." ucap Ibu Tini pada Tsabit.
"Baik " jawab Tsabit singkat.
Sudah dua tahun Tsabit berada di pemukiman sederhana di pegunungan ini. Tsabit yg hanyut di sungai sesaat setelah mobilnya kandas di dasar jurang itu kemudian terdampar puluhan kilometer dari tempatnya kecelakaan dan diselamatkan wanita tua bernama Sutini yg kini menjadi ibu angkatnya itu. Tsabit merasa sangat betah berada di desa terpencil ini, meskipun seringkali kerinduan menghanyutkannya dalam kegelisahan. Namun Tsabit tak berniat sedikitpun untuk kembali pada kehidupanny sebelumnya. Akses transportasi dan komunikasi di desa ini sangat sulit didapatkan. Ditahun semodern ini bahkan listrikpun mereka belum memilikinya. Puluhan kepala keluarga yg tinggal di desa ini masih hidup dengan sederhana dan jauh dari tekhnologi. Namun jangan meragukan tentang kesehatan masyarakat disini yg begitu sehat meskipun tak terjamah pengobatan modern. Gaya hidup masyarakat yg masih tradisional dengan pola makan dan istirahat yg teratur membuat kualitas hidup masyarakat disini sangat bagus. Kehadiran Tsabit semakin menambah baik kualitas masyarakatnya, karena sejak setahun setengah ini Tsabit memutuskan untuk menjadi pengajar bagi anak anak di desa ini yg memang kesulitan mengakses pendidikan resmi dari pemerintah. TSabit sangat menikmati hari-harinya di desa ini.
"Kak Tsabit, kita belum belajar hari ini." seorang anak lelaki menyapanya.
""Maaf yaa kakak hari ini sangat sibuk membantu persiapan penyambutan tamu, jadi besok setelah selesai acara ini kakak akan tambahkan waktu belajarnya. Gimana?" Jawab Tsabit membuat anak laki-laki itu mengangguk penuh semangat.
Tsabit kemudian melanjutkan langkahnya menuju Gedung berwarna serba putih yg berada di tempat teratas desa ini. Sebuah Gedung tua yg sangat megah berdiri kokoh konon sudah puluhan tahun lamanya.
Hari ini adalah hari istimewa untuk seluruh warga desa dimana setiap dua tahun sekali pada tanggal lima belas bulan juli, Tuan Tanah mereka akan datang berkunjung kesana.
Ini akan menjadi hari penting juga untuk Tsabit, karena hari ini adalah tepat dua tahun juga Tsabit menginjakkan kakinya di desa ini.
Mentari sudah mulai menyengat, meski udara disini tetap sejuk disiang hari. Namun surya tetap memiliki caranya untuk menunjukkan dominasinya. Tampak dikejauhan sebuah mercedesmaybach melaju menaiki jalanan berkelok menuju ke desanya. Tsabit kemudian memberikan kode jempol pada beberapa pria yg juga menunggui kabar itu.
"Tsabit, nanti kamu juga kenalan dengan tuan tanah kita yaa," ucaps eorang pemuda padanya.
"Baiklah," jawab Tsabit seraya tersenyum.
Hanya beberapa menit kemudian, mobil hitam itu telah terparkir di halaman gedung tua. Tak berapa waktu kemudian turun seorang pria paruh baya dari dalam mobil itu.
"Selamat Datang Tuan Mahendra" ucap tertua desa menyambut pria itu.
"Apa kabarmu Hasan?" pria yg disebut Mahendra itu bertanya kemudian.
"Berkat anda kami semua sangat baik Tuan." jawab Hasan sambil mempersilahkan Mahendra masuk.
"Siapa dia?" pertanyaan Mahendra membuat semua orang terkejut.
"Ohh, dia Tsabit anak angkat kami disini." ucap Hasan memotong sebelum Tsabit bersuara hendak menjawab Mahendra yg barusaja menyapanya.
"Tsabiit", mata Mahendra terus memandangi Tsabit tanpa kedip dan membuat Tsabit sedikit kurang nyaman.
Namun tak berapalama kemudain Mahendra berlalu mengikuti Hasan yg menjamunya didalam gedung.
Pertemuan itu terus berlangsung dengan sangat meriah. Banyak hal disuguhkan oleh masyaarakat desanya pada pria bernama Mahendra yg datang itu. Tsabit kemudian mengetahui dengan jelas betapa berharganya pria bernama Mahendra itu bagi warga desa. Bagaimanapun Mahendra telah mengijinkan mereka semua tinggal di tanahnya tanpa sedikitpun membayar sewa, bahkan Mahendra juga mengijinkan warga disana untuk mengelola seluruh aset kebun teh miliknya itu dengan percuma. Inilah kenapa warga desa selalu menyambutnya dnegan hangat dis etiap kedatangannya.
Hari mulai senja disaat Mahendra berpamitan.
"Hasan, aku hendak membawa anak angkatmu itu." ucap Mahendra pada Hasan.
"Tsabit maksudmu?" tanya Hasan kembali.
"Iyaa, jika kau ijinkan tentunya. Pria sepertinya pantas mendapatkan pekerjaan yg lebih layak di kota." Mahendra memaparkan.
"Baiklah, akan aku atur agar dia bisa menemuimu di kota." jawab Hasan.
"Aku ingin membawanya sekarang juga denganku." Mahendra memaksa.
"Sekarang, baiklah aku akan bicarakan dengan Sutini yg dua tahun ini mengurusnya." ucap Hasan sambil berlalu menemuis eorang wnaita tua yg sejak tadi duduk diujung gedung.
Setelah mendapatkan restu dari Sutini, HAsan kemudian meminta Tsabit bergegas untuk bersiap mengikuti Mahendra ke kota. Tentu saja Tsabit sangat terkejut, apalagi anak-anak yg menjadi muridnya yg kini menangisi kepergian guru mereka itu.
"Nanti kakak akan berkunjung kesini jika senggang ya." Tsabit berjanji kepadan anak anak dihadapannya sambil berpamitan.
Setelah berpamitan pada Sutini, Tsabit kemudian berjalan ke arah Mahendra yg menunggunya.
"Ayo, sudah mau malam" Mahendra kemudian menarik lengan Tsabit menuju mobilnya.
"Baik".
Dengan hati penuh tanda tanya, namun juga dengan harapan penuh yg kembali mengisi jiwanya Tsabit berharap keberuntungan hidupnya akan segera terwujud dengan perjalanannya kali ini. Setelah berulangkali terpisah dari orang-orang yg menyayanginya, Tsabit berharap jika saat ini akan menjadi awal hidupnya yg baru. Tsabit sangat ingin membahagiakan orang-orang yg telah melindunginya.
Sedangkan disebelahnya, Mahendra kembali mengingat kejadian nahas dua tahun lalu yg telah membuatnya kembali kehilangan puteranya. Ketika mendengar nama anak angkat di desa kecil itu bernama Tsabit, entah suatu kebetulan atau bukan, namun nama itu membuat perhatian Mahendra sedikit lega, kini setelah Tsabit berada disisinya. Mahendra hanya tinggal memastikkan kebenaran apakah Tsabit adalah puteranya yg hilang dari kecelakaan dua tahun silam itu atau bukan.
Jalanan panjang menuju kota Yoza memerlukan banyak waktu untuk menempuhnya. Dua pria yg kini duduk berdampingan itu masih hanyut dalam benaknya masing-masing. Tak ada obrolan sedikitpun diantara keduanya. Begitu pula pengemudi yg tetap fokus dengan setirnya.
Anda Mungkin Juga Suka





