
Hasrat terlarang
Bab 3
Bram merupakan seorang perwira, ia berpangkat Kolonel sekarang. Umur bram empat puluh tujuh tahun dan ia duda satu anak, istrinya meninggal saat melahirkan anak kedua mereka lima tahun yang lalu sebelum dia di kirim di negara berperang. Orangnya tinggi besar dan gagah Tingginya 178 Cm dengan berat badan seimbang dengan tubuh begitu profesional. Kulitnya agak hitam karena banyak terbakar matahari di daerah konflik sana.
Saat intan berdiri dan mau mengambil tas om Bram dan membawah masuk di bawah tamu intan kira tasnya ringan pas dia mau angkat dia kehilangan keseimbangan dan jatuh akibat tidak kuat menahannya dia tidak sengaja jatuh di pangkuan om bram, om Bram yang sudah lama tidak merasakan kenikmatan dan saat intan duduk pas di paha om Bram dan diatas penis om Bram intan yang telah terduduk berdiri dan memohon maaf pada om Bram " maaf om intan tidak sengaja" ucap intan
" Tidak apa- apa nem tidak usah bawah tasku kamu ke kamar tamubaja bersihkan nanti aku bawah sendiri" ucap om bram, bram yang habis mengirup tubuh intan sesaat tadi jatuh di atas tubuhnya mulai memiliki niat untuk menikmati intan, intan pun meninggal om bram di ruang tamu dan jalan ke kamar tamu tempat biasa di pake om Bram setiap kali datang ke sini, bram yang sudah tidak kelihatan menutup pintu depan dan menyusul inem ke kamar tamu untuk memulai aksinya.
Intan yang telah tiba di kamar dan sedang memasang seprei pas bagian pojok kasur dia membelakangi pintu saat dia sedang membungkuk membenahi seprei tempat tidur yang dipakainya dia terkejut ketika tiba-tiba dua tangan kekar memelukku dari belakang.
Intan tidak mampu meronta karena dekapan itu begitu kuat. Terasa ada dengusan napas hangat menerpa pipi nya . Pipinya tiba di dicium sedangkan dua tangan kekar mendekapku dan kedua telapak tangannya saling menyilang di pinggang kanan-kiri ku yang ramping. Aku memberontak, namun apalah daya intan tenaganya tidak sekuat Tenaganya yang di lawan. Setelah kutengok ke belakang ternyata Om Bram yang sedang memelukku dan mencium pipiku.
"Om ngapain! Lepasin Oom!" ucap intan sambil masih berusaha memberontak berteriak agar dilepaskannya.
Karena terus terang intan belum pernah yang namanya dipeluk laki-laki selain almarhum ayahnya yang sudah lama meninggal Apalagi pakai dicium segala! Tubuhku gemetar ketika tangan kokoh Om bram mulai bergerak ke atas dan mulai meremas bola-bolak dari luar tank topku. Bukannya berhenti tetapi justru Oom Bram semakin menggila!
"Diam intan biarkan saya merasakan " bisik om bram dengan suaranya di telingaku membuat aku geli dan takut setelah mendengar suaranya yang tegas saat ada dengusan nafas hangat menyembur bagian sensitif di belakang telingaku.
Dekapannya semakin ketat sampai aku merasakan ada semacam benda keras menempel ketat di belahan pantatku. Aku semakin menggelinjang kegelian saat bagian belakang telingaku terasa digelitik oleh benda lunak hangat dan basah! Ooh.. Rupanya om bram sedang menjilati bagian belakang telingaku. Tanpa sadar aku melenguh.. Ada rasa aneh menjalar dalam diri intan. Ini terbukti bahwa intan yang belum pernah bersentuhan dengan lelaki merasa begitu nyaman dan merasakan kenikmatan diperlakukan seperti itu.
"Ja.. Jangan Oomhh!" intan mendesis antara menolak dan enggan melepaskan diri.
Bibir Oom bram semakin menjalar ke depan hingga akhirnya bibirnya mulai melumat bibirku. Seprei yang tadinya kupegang terlepas sudah. Tanganku sekarang bertumpu memegang kedua punggung tangan Oom Bram yang sedang sibuk meremas dan mendekap kedua bola-bolaku.
Napas Om bram semakin menggebu cepat. Lidahnya mulai bergerak-gerak liar menyelusup ke dalam rongga mulutku. Akupun tak tahan lagi.. Tubuhku seolah mengawang hingga ke awan. Kakiku limbung seolah tanpa pijakan. Sekarang tubuhku sudah bersandar sepenuhnya bertumpu pada Oom bram yang terus mendekapku. Mataku terpejam merasakan sensasi yang baru pertama kali ini aku alami. Tanpa terasa lidahku ikut menyambut serangan lidah Om Bram yang bermain di dalam mulutku.
lidah Oom bram yang bergerak-gerak liar. Selama beberapa saat lidahku dan lidah om Bram saling bergulat di dalam mulutku, aku belum pernah melakukan ini malah ke enakan beradu lidah sam om bram .
Aku membuka mata, wajah Om bram sangat dekat dengan wajahku dan tangannya merangkul dan meremas kedua bola-bolaku. Anehnya, setelah itu aku tidak berusaha menghindar ataupun merasa risih. Aku merasakan ada sesuatu yang mendesak-desak dan harus tersalurkan. Kubiarkan saja tangan Oom bram saat mulai menyusup ke balik tank topku dari bagian bawah.
Aku semakin menggelinjang saat tangannya mulai meraba perutku yang masih rata. Perlahan namun pasti tangannya mulai merayap ke atas dan ke bawah. Tangan kanan Oom bram mulai menyentuh bola- bolaku yang terbungkus BH tipis itu, sementara tangan kirinya mulai menyusup ke balik celana pendek ketatku. Aku tak sadar tanganku bergerak ke belakang dan mulai meremas rambutnya.
Tubuh kami masih berhimpit berdiri menghadap searah. om Arya masih tetap mendekapku dari belakang. Bibirnya melumat bibirku sementara kedua tangannya mulai meraba dan meremas bagian- bagian sensitif tubuh perawanku. Akupun tak tinggal diam tanganku tetap meremas-remas rambutnya yang cepak itu.
Untuk beberapa lama, Oom bram masih melumat bibirku. Aku harus jujur bahwa aku juga ikut menikmatinya hal pertama kali menikmati. Bahkan beberapa saat secara tak sadar aku juga membalas melumat bibir Om bram. Aku masih tetap belum menyadari atau mungkin terlena hingga tak menolak saat tangan Om bram mulai menyusup ke dalam BH-ku dan menyentuh apa yang seharusnya ku jaga. Nafasku semakin memburu dan aku mulai merasakan bagian lubang dagimgku mulai basah. Apalagi saat ibu jari dan telunjuk Om Bram mulai mempermainkan sumber susuku yang sudah semakin mengeras. Tubuhku semakin bergerak liar hingga benda keras yang menempel ketat di belahan pantatku kurasakan semakin mengeras.
Desakan aneh semakin kuat mendorong di bagian bawah. Tubuhku semakin melayang saat tangan kiri arya dengan lembut mulai memijit-mijit dan meremas lubang dagingku.
Tubuhku semakin liar bergerak saat jari Om arya mulai menyentuh belahan hangat di lubang daging ki. Jari-jarinya terasa licin bergerak menyusuri belahan hangat di selangkanganku. Rupanya aku sudah begitu basah.. Dan Om bram tahu kalau aku sudah dalam genggamannya. Aku memang sudah menyerah dalam nikmat sedari tadi. Apalagi aku memang juga ada rasa kagum akan dirinya yang mengabdi pada negara.
Tubuhku bergersk gelisah liar seperti ikan kurang air saat jemari Oom bram mempermainkan tonjolan kecil di bagian atas luang dagingku. Jarinya tak henti-hentinya menggocek dan berputar liar mempermainkan kelentitku.
"Akhh.. Oomphf.." desisanku terhenti karena bibirku keburu dikulum oleh bibir Om bram yang di tumbuh bulu- bulu.
Aku sudah merasakan terbang mengawang. Desakan yang menuntut pemenuhan semakin membuncah dan akhirnya dengan diiringi hentakan liar tubuhku aku merasakan ada sesuatu yang menggelegak dan aku mengalami orgasme!! Aku semula tak tahu apa itu orgasme, yang jelas aku merasakan kenikmatan yang amat sangat atas perlakuan Om bram itu. Tubuhku terasa ringan dan tak bertenaga sesudah itu.
"Gimana sayang?" bisik Om bram di telingaku sambil lidah bermain di telingaku.
"Enak sayang?" lanjut tanya om Bram padaku
Aku hanya terdiam dan ada sebersit rasa malu. Seharusnya ini tidak boleh terjadi, kataku dalam hati menahan rasa malu dan sungkan yang menggumpal dihatiku. Tetapi rangsangan dan stimulus yang diberikan Oom bram terlalu hebat untuk kutahan. Akhirnya aku hanya pasrah saja saat tangan Oom bram mulai melucuti pakaianku satu per satu. Mula-mula dari tank topku dilepasnya hingga bola- bolaku yang masih kencang terlihat terbungkus BH merah yang seolah-olah tak mampu menampungnya. Padahal ukurannya sudah tiga empat c di umurku yang baru delapan belas tahun dan termasuk besar di kalangan umurku.
Tubuh bagian atasku sudah setengah telanjang. Sementara aku yang sudah lemas tetap berdiri dipeluk Om bram dari belakang. Kembali tangannya mengelus perutku yang putih rata itu. Tanganku menutup bagian dadaku karena malu dan jengah harus terlihat laki-laki dalam keadaan begini. Lalu dengan terburu-buru Oom bram melepaskan pakaian seragamnya hingga aku merasakan rambut dada bidang om bram tumbuh bulu yang cukup lebat menempel punggungku yang telanjang. Lagi-lagi aku merasakan sensasi yang lain-daripada yang lain.
memelukku dari belakang. Aku terlalu malu untuk membuka mataku. Aku hanya memejamkan mata sambil menikmati sensasi dipeluk laki-laki perkasa. Dengan tangan mengelus perut dan dadaku Oom bram kembali menciumi ku. Kali ini punggungku dijadikan sasaran serbuan bibirnya yang panas. Kumisnya yang tipis terasa geli saat menyapu-nyapu punggungku yang terbuka. Aku menggelinjang hebat. Apalagi saat lidah Oom Bram mulai merayap di tulang belakangku.
Tubuhku semakin liar bergerak
Anda Mungkin Juga Suka





