Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Hasrat Terlarang Dalam Keluarga

Hasrat Terlarang Dalam Keluarga

Dalam jalinan hubungan keluarga yang seharusnya penuh kasih, muncul sebuah gejolak perasaan yang tidak semestinya. Kisah ini mengajak pembaca untuk merenungkan batas-batas emosi dan moralitas saat keinginan hati mulai melanggar norma yang ada. Di tengah konflik batin yang mendalam, setiap tokoh harus menghadapi konsekuensi dari perasaan mereka. Sebuah narasi romansa modern yang menantang nurani tentang cinta yang tumbuh di tempat yang salah.
Bab
Bagikan

Bab 2

Sebenarnya aku sudah mau marah kepada adikku karena dari tadi dia selalu memakai kata ‘memek’ dan ‘penis’ yang terdengar sangat kasar di telingaku, ditambah lagi sekarang dia menyuruhku untuk memegang penisnya. Namun karena penasaran ingin melihat ukuran maksimal penis milik adikku, maka aku memilih untuk menahan marah dan mengikuti perkataannya tadi.

“Ya udah deh Teteh mau…” kataku setuju.

“Asyiiiiik!!” adikku berteriak kegirangan.

Aku memang merasa seperti dipermainkan oleh adikku. Tapi karena sudah terlanjur menyanggupi permintaannya, maka aku mulai mendekatkan tanganku ke arah penisnya. Namun belum sempat aku menaruh tanganku pada penis Amar, benda tersebut sudah mulai bergerak dan semakin naik sedikit demi sedikit. Diameter penisnya semakin membesar, begitu juga dengan panjangnya yang ikut bertambah.

Aku benar-benar merasa terkejut sekaligus terangsang melihat itu semua. Tidak lama kemudian kepala penisnya mulai berwarna merah.

“Gimana Teh? Penis Amar udah lebih besar dari yang tadi kan?” tanya adikku sambil melihat ke arah wajahku yang sedang takjub dengan ukuran penisnya.

Ditanya seperti itu aku hanya dapat terdiam sambil terus melihat penis adikku yang sekarang panjangnya kurang lebih mencapai 15 cm! Kini penis adikku terlihat tegang sekali dan ukurannya sudah menyamai milik pacarku. Aku jadi semakin terangsang melihatnya. Tentu saja aku yang tidak ingin Amar sadar kalau aku tergoda melihat penisnya dengan segera mengalihkan pandanganku ke arah wajahnya.

“Sekarang udah nggak kayak penis anak kecil lagi kan Teh? Hehehe…” kata adikku sambil tertawa.

Belum sempat aku berkata apa-apa, tangan adikku tiba-tiba turun menyentuh bagian selangkanganku. Walaupun aku merasa terangsang diperlakukan seperti itu, tentu saja aku menepis tangannya.

“Amar apa-apaan sih!!” kataku sambil memasang wajah marah.

“Amar cuma mau pegang-pegang aja kok Teh. Janji deh nggak Amar apa-apain. Amar cuma pengen tahu aja rasanya megang memek…” kata adikku dengan memasang wajah memelas.

Kembali tangan adikku mendekati selangkanganku, tapi dia belum berani memegang vaginaku lagi karena belum mendapat ijin dariku. Tadinya aku berpikir untuk menolak permintaan adikku, walaupun pacarku yang sekarang sudah pernah menyentuh vaginaku, namun tetap saja kali ini yang mau memegangnya adalah adik kandungku sendiri. Sekalipun begitu aku juga merasa sedikit lega, karena walaupun cukup sering bergonta-ganti pacar, namun ternyata adikku tidak pernah terlampau jauh dalam hal berpacaran.

“Ya udah Teteh bolehin deh. Tapi inget! Amar cuma boleh pegang bagian luarnya aja yah…” akhirnya aku mengiyakan karena adikku sudah berjanji ‘hanya’ akan memegang vaginaku saja.

Deg-degan sekaligus penasaran juga rasanya. Tangan adikku lalu semakin mendekati kemaluanku yang halus tanpa bulu itu. Di saat bibir vaginaku sudah tersentuh oleh tangannya aku merasa geli sekali. Aku melihat penisnya sudah keras sekali, kini warna kepala penisnya jauh lebih kehitaman dan lebih licin dibandingkan dengan sebelumnya.

Hangatnya tangan adikku sudah terasa melingkupi vaginaku. Geli sekali rasanya saat bibir vaginaku tersentuh telapak tangannya. Geli-geli nikmat pada syaraf vaginaku. Aku jadi semakin terangsang sehingga tanpa dapat ditahan, vaginaku mengeluarkan cairan.

“Teteh terangsang ya?” tanya adikku.

“Enak aja…!! Mana bisa Teteh terangsang sama kamu Mar…” jawabku sambil berusaha merapatkan vaginaku agar cairannya tidak semakin keluar.

“Ini memek Teteh kok sampe basah kayak gini?” selidiknya.

“Kamu jangan sok tau deh Mar! Itu kan sisa air pipis Teteh…” kataku berkilah.

“Teteh nggak usah bohongin Amar deh…” jawabnya.

“Iih… Siapa juga yang bohong? Emang beneran bukan kok…!” aku tetap tidak mau mengakui kalau sentuhan tangannya semakin membuat birahiku naik.

“Teh… Memek Teteh tuh rasanya anget, empuk dan basah yah…” Kata adikku sambil terus memegang vaginaku.

“Emang kayak gitu Mar! Udah belum megangnya? Teteh pengen cepet keluar dari kamar mandi nih…!” kataku seperti menginginkan situasi ini berhenti.

Padahal sebenarnya aku sangat ingin tangan adikku tetap berada di vaginaku. Bahkan aku berharap kalau tangannya juga mulai bergerak untuk menggesek-gesek bibir vaginaku.

“Teh, Amar boleh gesek-gesek memek Teteh nggak?” pinta adikku yang sepertinya bisa mengerti keinginanku.

“Tuh kan! Tadi katanya cuma mau pegang-pegang aja…” aku pura-pura tidak mau.

“Gesek dikit aja kok Teh…! Boleh yaaa..!??” rengek adikku seperti anak kecil minta dibelikan mainan.

“Terserah Amar aja deh! Tapi Amar janji yah nggak akan bilang siapa-siapa tentang kejadian ini…” aku pun akhirnya mengiyakan permintaan adikku dengan hati berdebar-debar.

Amar pun mengangguk cepat tanda menyanggupi permintaanku barusan. Kemudian tanpa membuang-buang waktu lagi tangan adikku semakin masuk hingga aku merasa bibir vaginaku juga ikut terbawa ke dalam. Hampir saja aku mendesah karena rasanya nikmat sekali. Otot di dalam vaginaku mulai terasa berdenyut-denyut. Lalu adikku menarik tangannya keluar lagi, bibir vaginaku pun jadi ikut tertarik.

“Aaaaaaahhh…” akhirnya keluar juga desahanku karena tidak sanggup lagi menahan rasa nikmat yang timbul pada vaginaku.

Saat ini badanku sungguh terasa lemas sekali hingga mulai mengarah jatuh ke depan. Karena merasa tidak kuat berdiri, maka tanganku bertumpu pada bahu adikku.

“Aaaahhh… Uuummhhh… Maaaaar…!!” tubuhku semakin panas dan tanpa sadar aku melebarkan kedua pahaku supaya tangan Amar dapat lebih leluasa.

“Enak ya Teh memeknya Amar giniin…?” tanya adikku sambil terus menggesek-gesekan tangannya.

“I-Iyaahh… Enaaak bangeeet Maaar!! Aaaahhh…” jawabku jujur sambil memejamkan mata karena saking nikmatnya.

Tangan adikku lalu mulai maju dan mundur, kadang klitorisku tersentuh oleh telapak tangannya. Tiap tersentuh rasanya nikmat luar biasa, badan ini akan tersentak ke depan. Jari-jari adikku juga sekarang sudah mulai masuk ke dalam vaginaku. Rasanya sungguh nikmat!

“Mar… Coba jari kamu masuk lebih dalem lagi ke vagina Teteh… Cari daging yang… Aaaaaaahh…!!” desahku kencang karena saat itu jari Amar tanpa sengaja menyentuh bagian klitorisku yang sangat sensitif.

“Aduh… Sakit ya Teh? Maaf ya… Amar nggak sengaja…” kata adikku dengan nada bersalah sambil menarik jarinya dari dalam vaginaku.

“Siapa yang nyuruh keluarin jari kamu sih Mar!?” bentakku sambil memegangi lengan adikku.

“Loh kok!? Bukannya Teteh kesakitan tadi?” jawab adikku dengan wajah kebingungan.

“Itu tadi yang namanya klitoris, titik paling sensitif pada vagina cewek, coba kamu gosok pelan-pelan. Yaaahh… Aaaahhh… Kayaaaak gituu…” kataku sambil terus menikmati sentuhan jarinya.

“Jadi kalau Amar giniin rasanya enak ya Teh?” tanya adikku yang terus menggosokkan jarinya pada daging kecil itu.

“He-eh… E-eenaaaak ba-bangeeeet…” jawabku pelan.

Tangan adikku terus mengorek-ngorek vaginaku dengan diiringi nafasnya yang semakin memburu. Sekarang pasti jari-jari tangan Amar sudah terkena cairan dari kemaluanku.

“Maaar… Udah dulu pake jarinya yah… Teteeeh nggak tahan lagi… Geli bangeeet…” aku menarik tangan Amar.

Dengan tersenyum nakal adikku memperlihatkan jari tangannya yang basah “Tapi enak kan Teh?”

“I-iya enak kok…! Tapi sekarang Amar jilatin vagina Teteh dong…” pintaku tanpa malu-malu lagi.

Amar menurut saja apa yang disuruh olehku, ia menunduk hingga mulutnya sejajar dengan vaginaku. Aroma kewanitaanku pasti langsung tercium olehnya begitu aku lebih melebarkan lagi pahaku supaya Amar dapat leluasa menjilatinya.

Mata Amar melotot melihat pemandangan yang indah itu dari dekat. Bibir vaginaku masih tertutup benar-benar rapat. Tak usah dikatakan, pasti semua lelaki langsung tahu kalau vaginaku belum pernah dijamah sama sekali bahkan oleh pemiliknya sendiri.

Tanpa buang waktu lagi adikku menunduk dan menempatkan wajahnya di depan selangkanganku yang telah berlendir. Hembusan nafas adikku semakin terasa ketika wajahnya mulai mendekati vaginaku.

“Eeeeemmhhh…” desahku saat Amar mulai menciumi bagian kewanitaanku.

“Memek Teteh wangi banget…” puji Amar sambil menghirup aroma yang di timbulkan oleh vaginaku yang memang sering aku rawat.

“Ayo Mar jangan cuma diciumin aja!! Jilatin vagina Teteh sepuas Amar…” pintaku saat sudah semakin terangsang.

Adikku lalu mulai menjilati bibir vaginaku yang sudah basah karena terangsang berat. Mula-mula dia agak canggung melakukannya, namun lama-lama dia semakin terbiasa dan mulai menikmati tugasnya. Aku merapatkan kedua kakiku ketika Amar mulai menjilati rongga dalam vaginaku. Sementara itu aku menggunakan tangan kiriku untuk meremas-remas kedua buah payudaraku secara bergantian, sedangkan kugunakan tangan kananku untuk mengarahkan kepala adikku agar menjilati daerah yang tepat.

“Iyah… Disitu Maaar… Mmmmhh… I-iyaaah disituuuu… Enaaak banget Maar!!” desahku kencang karena merasa begitu nikmat.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Cinta Dan Trauma
8.3
Masa lalu Adel kelam akibat kekerasan ayahnya, menyisakan trauma mendalam meski sang ibu selalu mendukung. Di sekolah, ia merasa terasing saat sahabatnya, Dara, mulai menjauh demi Farhan. Hubungan asmara Adel dengan Vero pun penuh kekecewaan, memaksanya mempertanyakan kesempatan kedua. Demi pulih, Adel memilih mengikuti pelatihan di Surabaya untuk menata masa depan. Di tengah luka dan bayang-bayang masa lalu, mampukah ia menemukan kebahagiaan sejati?
Sampul Novel Cinta Tersayat Dendam
9.5
Arta adalah wanita tangguh yang fokus pada karier meski sering diremehkan karena penampilannya yang bersahaja. Pernah dicampakkan akibat perbedaan kasta, ia bertekad membuktikan nilainya tanpa banyak bicara. Kehidupannya berubah saat bertemu Evan, seorang pengusaha duda sukses. Kini, mereka harus bersatu menyelidiki dalang di balik kekacauan perusahaan masing-masing, sembari berjuang mempertahankan cinta yang terus diterjang badai dan dendam masa lalu.
Sampul Novel CINTA YANG RETAK
9.7
Bertahun-tahun membina rumah tangga, seorang istri akhirnya mengungkap perselingkuhan suaminya yang tersembunyi. Di saat ia mempersiapkan diri untuk pergi dan mengakhiri segalanya, sebuah kenyataan mengejutkan muncul ke permukaan. Ternyata, pengkhianatan menyakitkan tersebut menyimpan alasan yang jauh lebih rumit dan gelap dari sekadar cinta terlarang. Kini, ia terjebak dalam misteri besar yang menguji batas antara kebencian dan kebenaran yang sesungguhnya.
Sampul Novel En-PD159
7.9
Song Jiayan terjebak pernikahan aliansi dengan Fu Shisheng demi menebus rasa bersalah atas kecelakaan masa lalu. Namun, ia dikhianati saat tahu suaminya hanya berpura-pura sakit dan justru berselingkuh. Setelah selamat dari serangkaian percobaan pembunuhan, Jiayan bangkit menjadi CEO sukses di luar negeri. Meski Shisheng mengejarnya dengan penyesalan mendalam, Jiayan memilih melepaskan dendam, fokus pada misi kemanusiaan, dan memulai hidup baru yang mandiri.
Sampul Novel Gadis Pemuas Tuan Grey
8.9
Demi membiayai pengobatan sang ayah yang sakit keras, Laura berusaha mencari pekerjaan tambahan sebagai pengasuh. Namun, niat tulus itu justru berujung petaka saat ia bertemu Greyson. Pria itu merampas kesuciannya dan memaksanya masuk ke dalam ikatan gelap sebagai pemuas hasrat. Kini, Laura terjebak dalam dilema moral yang menyiksa: apakah ia sanggup bertahan menjadi budak nafsu Grey demi mendapatkan uang yang sangat ia butuhkan untuk ayahnya?
Sampul Novel Hasrat terlarang dengan ayah mantan ku
8.8
Dahulu, rencana pernikahannya hancur akibat pengkhianatan teman dekat yang menjebaknya dalam rumah tangga tanpa cinta. Kini, takdir mempertemukannya dengan seorang gadis yang sangat mirip dengan mantan kekasihnya itu. Setelah terlibat dalam skandal satu malam yang tak terduga, ia terkejut mengetahui bahwa wanita tersebut adalah putri dari masa lalunya. Akankah hubungan rumit ini mendapat restu atau justru berakhir dalam konflik yang lebih pelik?