
Hasrat Poligami
Bab 3
Selain memilih ke hotel, Sofia tak lupa menitipkan Rania ke rumah orang tuanya agar rencananya dapat berjalan mulus. Sofia berharap, Rania betah menginap di rumah kakek neneknya sehingga Rania tidak bertemu dengan Farhan.
Rencana tinggallah rencana, saat keluarga Farhan tengah menunggu mobil tranportasi online untuk mengantar mereka ke stasiun pagi itu, Rania datang dengan diantar neneknya.
"Ayaah!" Pekik Rania saat melihat sosok Farhan berada di rumahnya.
Gadis kecil itu segera menghambur ke pelukan Farhan.
"Ayah?" gumam Salma saat mendengar hal itu. Ia kaget setengah mati.
Putri dari Sofia memanggil suaminya dengan panggilan ayah.
"Maaf Sal, Rania ini merindukan sosok ayahnya yang udah meninggal, jadi kalau ada om- nya atau laki- laki dewasa yang akrab sama dia itu seringkali dianggapnya ayahnya,"ungkap Sofia menutupi kebohongannya.
Ekspresi Farhan menegang, ia tak menyangka Rania akan pulang pagi itu dan hampir membongkar rahasianya.
Bukan hanya Salma yang kaget, Sasa dan Sisi pun juga tak terima Farhan diakui ayah oleh orang lain. Keduanya lalu mendekati Rania dengan ekspresi marah.
Sasa segera menyentak tangan Rania yang tengah memeluk Farhan.
"Ini Ayahku! bukan Ayahmu!" bentak Sasa.
Sisi pun tak kalah marah karena ayahnya diakui oleh Rania, ia memperlihatkan perlawanan pada Rania, matanya melotot, ia berkacak pinggang di depan gadis gembil di hadapannya.
Mendapatkan perlakuan seperti itu, membuat Rania menangis kencang. Ia tak mengerti bahwa ayah Farhannya juga ayah Sasa dan Sisi.
Merasa tak enak hati. Sofia segera membujuk Rania agar putrinya bisa segera menghentikan tangisnya.
Setelah mobil itu datang, Farhan dan keluarganya berpamitan dan segera naik ke mobil
Tak tahan dengan pikiran - pikiran negatifnya mengenai hubungan suaminya dan Sofia. Salma pun mengungkapkan penasarannya di mobil online yang mereka tumpangi.
Firasatnya menyebutkan Farhan telah menduakan hatinya.
"Mas, bisa tolong Mas jelaskan ada hubungan apa Mas dengan Sofia?"
Mendapat pertanyaan tak terduga dari istrinya, Farhan pun mencoba menjelaskan secara lembut agar istri pertamanya itu tidak emosi.
"Apa Kamu siap mendengar jawaban Mas?"
"Iya Aku siap."
"Apapun?"
"Iya, apapun." Salma menyiapkan hatinya jika memang firasatnya benar.
"Mas telah menikah dengan Sofia enam bulan yang lalu."
Kejujuran yang Farhan ungkapkan, bagai sengatan lebah di telinganya. Menyentak pikiran dan membuatnya emosi.
"Apa!"
"Enam bulan yang lalu?" tanya Salma tak percaya. Firasatnya benar, Farhan telah mengkhianatinya.
Dadanya bergemuruh, emosi menguasai diri Salma. Napasnya memburu, suami terkasihnya telah menduakannya. Salma memutuskan untuk menjauh dari Farhan sejenak agar tetap terjaga kewarasannya, meski hal ini sangat membuatnya terguncang.
"Ok, pulangkan Aku ke rumah orang tuaku, jemput Aku saat Kamu bisa memilih Aku atau dia!"
"Tidak! Aku tidak akan menceraikanmu Salma!"
"Pilih Aku atau dia!" teriak Salma.
Merasa tak enak hati dengan sopir mobil itu, Farhan mencoba menenangkan istrinya.
"Nanti kita bicarakan ya di rumah, please, please, malu sayang diliatin orang."
Melihat perdebatan kedua orang tuanya di dalam mobil, Sasa dan Sisi menangis, kedua balita itu ketakutan.
"Tinggalkan Kami, Mas! Aku akan pulang ke Solo."
"Tapi?"
Salma tak lagi mendebatnya. Wajah istri pertama Farhan itu tengah menahan tangisnya agar tak menangis di depan kedua putrinya. Salma memandang ke luar jendela, ia ingin mengurangi sesak batinnya.
"Baik, aku akan segera menjemputmu di Solo."
"Hati- hati di jalan ya, Bu."
"Sasa, Sisi, pulangnya naik kereta sama Ibu ya, Nak."
Tangis kedua putri Farhan tak lagi terdengar, ia mengecup kening dan mengusap kepala kedua putrinya.
"Iya, Yah."
"Kok Ayah enggak pulang bareng Kita naik kereta?" tanya Sisi.
"Ayah masih ada pekerjaan, Nak."
Farhan segera keluar dari mobil itu. Ia memilih pulang ke Semarang dengan menggunakan bus.
Kedua putri Farhan melihat kepergian Farhan dengan pandangan sedih.
Di dalam kereta, Sasa dan Sisi melihat pemandangan alam yang tersaji melalui jendela. Salma ingin segera menumpahkan tangisnya, tapi ia malu masih berada di tempat umum.
Tetes air matanya tak mampu ia tahan. Ia menangis, hatinya sedih, ia merasa suaminya telah mengkhianati cintanya. Ia yang mengetahui bahwa suaminya adalah pria setia, ternyata telah menduakan hatinya.
Dalam agama yang ia yakini, lelaki memang diperbolehkan menambah istri hingga berjumlah empat, tapi ada syaratnya. Bila syaratnya adalah ketiadaan anak, bagi Salma tak ada masalah. Kedua putri cantik telah Allah titipkan padanya, entah apa motif Farhan melakukan poligami. Salma tak mengerti alasannya.
***
Sore hari Salma dan kedua putrinya tiba di Solo, ia menggunakan mobil online untuk pulang ke rumah orang tuanya.
"Sasa, Sisi." Ibu Salma menyambut kedua cucu cantiknya dengan pelukan dan ciuman.
"Sendirian?" tanya Ibu Salma saat mendapati Salma datang tanpa Farhan.
"Iya, Bu, Mas Farhan masih ada pekerjaan, Bu."
Saat makan malam, Sasa dan Sisi sibuk menceritakan pengalaman liburannya di Jakarta.
"Nenek, kemarin Sisi naik ke Monas lho," ujar Sisi.
"Iya Sasa juga, Nek."
"Nek, kemarin Ayah sama Ibu bertengkar di mobil."
"Apa!"
"Ayah sama ibu kemarin juga teriak - teriak di mobil, Nek."
"Iyakah?"
"Iya Nek, Ibu aja nangis terus kemarin di kereta."
Mendengar pengakuan jujur dari kedua cucunya, Ibu Salma menduga ada permasalahan serius dalam rumah tangga anak dan menantunya.
Pantang bagi Ibu Salma untuk mencampuri urusan rumah tangga putrinya.
Di rumah orang tuanya Salma melakukan introspeksi diri, ia mengorek kekurangan pada dirinya yang menyebabkan suaminya berpaling. Tubuhnya meski telah melahirkan dua anak tetap langsing dengan berat lima puluh lima kilogram dengan tinggi seratus enam puluh centimeter.
Meski bertubuh ideal, Salma tak pernah menyempatkan merawat dirinya ke salon, berbeda dengan Sofia yang rutin ke salon untuk perawatan tubuh dan wajahnya.
Ia mengamati wajahnya di depan cermin, apakah ia semakin terlihat tua dan keriputnya semakin banyak, hingga terlihat jelek di mata suaminya. Ia merasa tak ada yang berubah banyak di wajahnya, meski tidak seputih Sofia, tapi wajahnya tidak berjerawat.
Dari segi penampilan, ia selalu menutup tubuhnya dengan hijab. Sementara Sofia justru berpenampilan seksi.
Dari segi ekonomi, Sofia jauh diatasnya. Kedua orang tua Sofia adalah pengusaha, rumah yang ditempati Sofia pun tergolong mewah, sehingga bukan motif uang yang mendasari pernikahannya dengan Farhan.
Salma terpikir mengenai hal- hal yang negatif terkait alasan poligami suaminya.
"Apa Mas Farhan dipelet ya?"
"Apa Mas Farhan udah mulai ya puber keduanya?"
"Apa Aku kurang seksi dan kurang memuaskan dalam memberikan pelayanan untuk Mas Farhan?"
Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam pikiran Salma. Ia memilih tidak merespon semua panggilan dan pesan dari Farhan.
Ia stres berat, setiap hari menangis, hingga tak nafsu makan. Saat Farhan melakukan panggilan video dengan kedua anaknya, Salma memilih untuk menghindari Farhan.
Ia masih sangat kesal dan sakit hati dengan sikap suaminya yang diam- diam telah menikah lagi.
Pikiran buruk mengenai perceraian juga terlintas dalam pikiran Salma. Dalam keluarganya perceraian dan poligami adalah aib, sehingga ia tak ingin keluarga kecilnya mengalami hal itu. Tapi, takdir tak bisa ditolak, Salma kini tengah diuji poligami dalam pernikahannya.
Masalah poligami Farhan selain membuat Salma tak nafsu makan, juga membuat Salma sulit tidur, kedua matanya bengkak karena sering menangis.
Mengingat perilaku suaminya yang tampak seperti biasanya, Salma menduga suaminya telah menyembunyikan hal itu dengan rapi di hadapannya, hingga ia tak menyadari bahwa suaminya telah menjalin hubungan khusus dengan wanita lain.
Ia menyadari, bahwa Sofia cantik, seksi, badannya berisi, berharta banyak dan memiliki karir yang bagus. Hal ini membuat Salma menjadi kian minder.
Salma yang memutuskan menjadi ibu rumah tangga sejak menikah hanya berfokus pada keluarganya, ia tak pernah berpenghasilan. Hingga badai ini melanda, ia bingung. Tak tahu harus bekerja apa karena usianya telah mendekati empat puluh tahun, sehingga sulit untuknya melamar kerja, selain itu ia hanya lulusan SMK.
Bila perceraian itu terjadi, bagaimana dengan nasib kedua putrinya, sanggupkah ia membiayai pendidikan dan kebutuhan harian putrinya.
Bila poligami ini terus berlanjut, Salma pun tak sanggup harus berbagi suami dengan wanita lain.
"Aku tak sanggup dimadu, pun Aku tak sanggup bercerai Ya Allah," gumam Salma lirih.
Ibu Salma prihatin dengan kondisi putrinya. Ia pun juga tak sanggup bila berada di posisi anaknya.
"Salma, makanlah Nak...berhari- hari tak makan, kasihan putrimu bila Kau sakit Nak."
"Aku tak selera makan, Bu."
Kondisi Salma tak ayal memicu menurunkan daya tahan tubuhnya.
Ia mengalami mual, asmanya kambuh hingga tak sadarkan diri.
Ibu Salma menemukan Salma tak sadarkan diri malam itu saat akan mengantarkan makan malam di kamarnya.
"Salmaaaa!"
Anda Mungkin Juga Suka





