Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Hasrat Nikmat Perselingkuhan

Hasrat Nikmat Perselingkuhan

Zhea merintih dalam gairah yang memuncak, meremas dadanya sendiri sambil menanti penetrasi dari suaminya, Muchlis. Meski kulit putih dan tubuhnya sudah siap menerima sentuhan intim, Muchlis yang berusia 34 tahun justru mengalami kendala seksual. Alat vitalnya tak kunjung menegang meski Zhea sudah sangat mendamba. Dalam kekecewaan yang tertahan, Zhea akhirnya hanya bisa pasrah dan membiarkan suaminya sekadar bergesekan demi mencapai kepuasan sepihak di ranjang mereka.
Bab
Bagikan

Bab 3

Sepasang suami istri tengah berbaring bersama diatas tempat tidur dengan cahaya kamar yang remang remang. Tubuh kedua insan tersebut berada dibalik satu selimut putih yang sama. Zhea mengenakan sebuah piyama ungu dengan gambar Cinnamorol yang besar dibagian depannya. Sedangkan Muchlis mengenakan sebuah piyama berwarna navy polos tanpa motif.

Keduanya menatapi langit-langit dan tengah membicarakan tentang keseruan mereka saat bertamasya siang tadi. Namun, Muchlis mulai mengalihkan topik pembicaraan.

"Pas di kereta tadi, aku lihat kamu diapit oleh dua cowok.." kata Muchlis.

"Ohhh... Hmmmm.. itu.. kan wajar.. kita ada di kereta yang isinya bercampur.. lagian.. tadi ituuuu... Gak terlalu berdempetan kok..." Jawab Zhea.

"Iyakah? Tadi aku lihat cowok didepan kamu sambil berbalik menghadap kamu dan tubuhnya gerak gerak gitu. Yang dibelakang juga.." Kata Muchlis.

"Hhmmm... Itu.. ya kan di kereta pasti badan kita gerak gerak.. iya... Gerbongnya kan gerak juga..." Zhea memalingkan tubuhnya dan meraih Hp nya diatas meja kecil.

"Tapi gerakan nya kok kayak menikmati begitu. Aku juga lihat kamu kok, bahkan kalian bener bener dempetan" kata Muchlis.

"Sudah ahh, aku capek.. mau tidur. Hal seperti itu gak perlu dibahas" Zhea memiringkan tubuhnya kearah kanan yang dengan cepat diraih oleh Muchlis dan ia pun menyambar bibir Zhea disertai meremas payudaranya.

"Kok tiba tiba?" Kata Zhea.

Sekarang wajah Muchlis berada diatas wajah Zhea dengan jarak hanya sejengkal.

"Kamu tadi habis ngapain dengan mereka berdua?" Tanya Muchlis dengan nada suara tinggi.

"Ng...nggak... Aku gak ngapa-ngapain kaakk... Kakak kenapa sihh? Sudah aku bilang aku capek kaakkk" Zhea memberontak, berusaha menyingkirkan tubuh Muchlis yang menindih tubuhnya.

"Nggak ngapa-ngapain tapi ada sperma dibelakang gamis mu? Dan celana dalam mu posisinya turun ke lantai kereta? Kamu kira aku gak tau? Mmmmpppphhhhhh" Muchlis makin terdengar emosi, namun ia mengakhirinya dengan lumatan pada bibir Zhea.

"Mmmppphhhhhh mmmhhhhh" Zhea menggelengkan kepalanya seraya berusaha mendorong tubuh Muchlis dari atas tubuhnya.

"Kamu kenapa sih kak???" Zhea berteriak dan tetap berusaha menahan tubuh suaminya yang kekar tersebut.

Muchlis berhenti, nafasnya berdengus seperti banteng yang melihat warna merah. Perlahan, tempo nafasnya mulai kembali normal.

"Bener tadi gak ngapa-ngapain?" Kata Muchlis.

"Maafin aku, kakk... Tadi memang ada dua laki-laki yang..." Kata Zhea, namun ia tak mampu melanjutkan kalimatnya.

"Yang apa?" Nafas Muchlis kembali cepat. Zhea terdiam, dia tak mampu mengatakan apa yang terjadi sebenarnya. Ia khawatir jika suaminya akan marah lantaran ia membiarkan hal itu terjadi padanya.

"Tadi... aku... dilecehin oleh... dua orang itu kak" kata Zhea dengan pelan dan takut.

"Dilecehin bagaimana?" Muchlis yang masih berada diatas tubuh Zhea kemudian menekan penisnya yang masih berada dalam celana ke paha kiri Zhea.

"Yaa.. gitu..." Jawab Zhea dengan raut muka yang menunjukkan ketakutan.

"Ceritakan detailnya atau aku marah" kata Muchlis.

"Sebelumnya, kakak jangan marah... Aku gak bermaksud menikmati.. aku sudah melawan kok tapi aku diancam pisau.." Kata Zhea, air mata pun mengalir dari sudut matanya.

"Lalu bagaimana mereka melakukannya?" Tanya Muchlis, dengan dingin.

"Mereka... Ah bukan, yang pertama pria dibelakang ku yang menempelkan badannya ke punggung aku.. awalnya kan aku ngerasa itu biasa karena di kereta tadi sempit banget tapi rupanya dia mulai meraba-raba pantat aku dan aku bisa ngerasain kalo dia ngeluarin penisnya..." Ujar Zhea.

"Ohhh.. lalu?" Muchlis malah semakin menekan penisnya ke paha Zhea.

"Lalu... Resleting gamis aku diturunin nya..." Lanjut Zhea.

"Ohh jadi dia megang toket kamu? Kayak ini????" Dengan cepat tangan Muchlis masuk kedalam piyama Zhea dari bawah dan meremas payudara kirinya.

"Aahhhhh... Iya...." Zhea mengerang, ia merasakan kebingungan antara suaminya sedang marah atau nafsu.

"Lalu, apa lagi?" Lanjut Muchlis, tangannya terus meremas payudara Zhea.

"Aahhhhh... Pria didepanh akuhh... Ahhh stop dulu kakkhhh... Diahh berbalikkhh dan ngeluarinhh...." Lanjut Zhea, namun ia kesulitan untuk bercerita saat puting payudara nya yang merupakan area paling sensitifnya ditubuhnya dipelintir oleh Muchlis.

"Ngeluarin apa???" Muchlis makin memelintir puting payudara Zhea dengan lebih kasar.

"Peeehhhh... Aaahhh kaakkkhhhh... Stop duluuhhh ahhhh" Zhea mengeluh, tubuhnya telah berhasil dirangsang oleh Muchlis yang malam ini tiba tiba mengganas.

"Gak, pokoknya kamu harus terus cerita!!!" Tegas Muchlis.

"Katakan, apa yang dia keluarin" Muchlis semakin menekan penisnya dan meremas payudara Zhea dengan kasar.

"Peeehhhh... Nii..sss..." Jawab Zhea dengan gugup.

"Penis? Bukan penis, yang benar itu kontol?" Tegas Muchlis yang semakin kasar mencabuli istrinya sendiri.

Zhea tak percaya mendengar suaminya yang selama ini santun dan baik mengucapkan kata kotor seperti itu. Bahkan lebih tak percaya lagi, Muchlis malah mengajarkan dirinya, istrinya sendiri, berkata seperti itu.

"Coba katakan kontol" kata Muchlis dengan mulai menekan vagina Zhea.

"Nggakhhh... Kaakkkhhh.. akuhh gakh bisssahhh" Zhea menolak.

"Kamu lihat kontolnya? Besar? Keras?" Tanya Muchlis. Yang hanya dijawab dengan anggukan oleh Zhea.

"Baiklah, lalu apa yang mereka lakukan?" kata Muchlis yang makin memperlihatkan birahinya telah memanas.

"Merekaahhh... menurunkanhhh celanahhh dalammhhh akuhhhh... Laluhhh menggesek-gesekkanhhh pehhh... nishhhh" kata Zhea.

"Kamu keenakan?" Muchlis kembali meremas payudara Zhea dengan sekasar yang ia bisa.

"Maaafhhhh..." Jawab Zhea dengan mengangguk.

"Istri binal.. dikasih kontol pria lain malah keenakan" Muchlis menekan vagina Zhea dari luar celana piyama nya..

"Ahhhhh.. enaakkhhhh kakkhhh" Zhea mendesah, merespon perlakuan suaminya pada vaginanya yang mulai basah.

"Kamu suka kontol yang keras kan, istri binal?" Kata Muchlis dengan makin menekan nekan vagina Zhea.

"Iyaaahhhh..." Jawab Zhea.

"Seperti ini?" Muchlis menurunkan celana piyama nya dan memperlihatkan sebuah penis berukuran 13cm yang berdiri tegang.

"Kok? Akhirnya bisa berdiri lagi" kata Zhea dengan keheranan sekaligus takjub setelah sekian lama ia tak melihat penis suaminya berdiri seperti itu.

"Aku tahu kok kamu dilecehkan tadi, dan itu yang buat kontol aku berdiri. Dan waktu kamu cerita tadi, aku ngerasa excited, cemburu sekaligus terangsang." Ujar Muchlis.

"Plaaak" sebuah tamparan pelan menghantam pipi Muchlis.

"Dasar suami mesum. Istrinya dilecehin malah terangsang." Protes Zhea, dengan sebal.

"Tapi kamu suka kan dilecehin tadi?" Tanya Muchlis.

"Suka gak suka sih..." Kata Zhea.

"Penis kamu sudah berdiri, apa kamu gak mau muasin istri kamu?" Lanjut Zhea.

"Memek istriku sudah kangen sama kontol ku ya?" Kata Muchlis, menggoda Zhea.

Mulut Muchlis ditampar pelan oleh Zhea.

"Ngomongnya ihhh..." Protes Zhea.

Tanpa menjawab, Muchlis membuka semua pakaian Zhea hingga istrinya benar benar telanjang diatas ranjang pengantinnya. Tubuh Zhea masih menarik bagi Muchlis, bahkan memang sejak dulu Muchlis sudah sering membayangkan tubuh istrinya dinikmati oleh pria lain.

"Kamu mau aku kayak tadi? Yang kasar?" Tanya Muchlis, tangannya kembali meremas payudara Zhea dan hanya dijawab Zhea dengan anggukan.

"Kalau begitu, buat aku cemburu lagi" kata Muchlis.

"Mau aku ceritain lagi tentang di kereta tadi?" Tanya Zhea.

"Yang lain.." jawab Muchlis.

"Aku gak pernah ngapa-ngapain sama pria lain" kata Zhea.

"Cukup kamu ngebayangin ngentot sama laki laki lain, aku sudah cemburu kok" kata Muchlis.

"Sama siapa? Song Kang? Hae Chan?" Tanya Zhea.

"Janganlah.. kamu gak mungkin ketemu sama mereka juga. Gimana kalo mang Bejo" kata Muchlis.

"Masa aku ngebayangin HS sama mang Bejo sih?" Zhea protes.

"Ya kan cuma ngebayangin, lagian pasti kontol ku tegang banget kalo kamu cerita ngentot sama orang kayak mang Bejo." Kata Muchlis.

"Ohh jadi kamu suka aku HS sama mang Bejo nih?" Tanya Zhea, menggoda Muchlis

"Bukan HS, tapi ngentot" jawab Muchlis.

"Ahh, ya sudah, kamu suka aku digituin sama mang Bejo?" Zhea kembali menggoda, namun tetap mempertahankan prinsipnya untuk tidak mengatakan kata kata yang vulgar.

"Suka banget.." jawab Muchlis sambil memegang penisnya.

Zhea bangkit dan duduk didepan Muchlis.

"Aku suka loh ngocokin penis mang Bejo begini" Zhea meraih penis Muchlis yang masih berdiri dan mengocoknya pelan.

"Aahhh.. sebut kontol, aku lebih excited kamu bilang begitu" kata Muchlis, namun dibalas gelengan kepala oleh Zhea.

"Ah, iya.. kamu tau gak, tiap kamu kerja, mang Bejo selalu minta aku kocokin penis nya begini..." Zhea masih menolak menyebut kata yang ia anggap sangat vulgar tersebut.

"Dasarhhh... kamu istri jalang, mau maunya disuruh ngocok kontol orang lain" kini Muchlis makin merasa birahi meningkat.

"Lagian penis kamu gak pernah berdiri, jadi aku cari penis lain.. kan vagina aku, juga pengen dimasukin penis" Zhea terus mengocok penis suaminya dan kini temponya lebih dipercepat.

"Kamu mau tau gak, aku ngapain lagi sama mang Bejo?" Tanya Zhea bediri diatas lututnya hingga posisi dadanya tepat berada didepan wajah Muchlis.

"Mang Bejo selalu minta susu, jadi aku kasih.. hitung hitung sedekah kan" kata Zhea dengan mendekatkan payudaranya ke bibir suaminya dan tanpa diberi perintah, Muchlis segera melahap puting payudara Istrinya.

"Aaahhhhhh... Geli.. enak banget... Terus kaakkk..." Zhea mendesah.

Bersambung

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel After That Night
8.2
Rebecca kehilangan segalanya tepat sebelum hari pernikahannya akibat sebuah jebakan malam yang merusak reputasi serta jalinan cintanya. Di tengah kehancuran nama baik dan pengusiran oleh keluarga, ia menyadari bahwa insiden tragis tersebut justru menghubungkannya dengan sosok Glenn Romanov. Takdir kini mempermainkan dua orang asing ini dalam pusaran masalah yang kian rumit. Akankah Rebecca mampu bangkit saat hidupnya terikat pada pria yang tak ia kenal?
Sampul Novel Antara Aku, Kamu, dan Gundikmu
8.4
Anisa Amanda, seorang istri berparas jelita, harus menelan pil pahit saat dikhianati oleh suaminya, Hendra, dan adik sepupunya sendiri, Tia. Tak tinggal diam, Anisa bertekad membalas dendam atas sakit hatinya. Di tengah rencananya, ia tak sengaja bertemu Fras Ramadhan, seorang tukang parkir tampan. Siapa sangka, Fras sebenarnya adalah CEO sukses Bintang Group yang menyamar. Pertemuan itu memicu konflik baru sekaligus menumbuhkan benih cinta di antara mereka.
Sampul Novel Cinta Pengantin Buta
9.4
Pramudya dan Mentari resmi menjadi suami istri setelah saksi mengucap kata sah. Dalam kegelapan karena kebutaannya, Mentari meraba sekitar untuk mencari tangan suaminya. Pramudya yang peka segera menyambut jemari Mentari dan membimbingnya. Dengan penuh takzim, Mentari mencium punggung tangan Pramudya. Sang suami pun mengecup kening istrinya sembari merapalkan doa tulus. Akankah pernikahan sebagai pengantin pengganti ini membawa kebahagiaan bagi mereka?
Sampul Novel Gadis Bangsawan
8.6
Seorang wanita menawan bergaun mewah menghina Amore Cardozo Pienza di depan umum pada hari ulang tahunnya yang ke-17. Ia mengejek Amore sebagai anak tiri manja yang hanya bisa menggambar bebek aneh. Ayah kandung Amore dan para tamu pun tertawa terbahak-bahak melihat coretan tersebut. Namun, dengan ketenangan luar biasa, Amore membungkam semua ejekan lewat satu pernyataan tajam yang mengungkap rahasia gelap sang ibu tiri sebagai seorang psikopat berbahaya.
Sampul Novel Godaan Cinta: Biarkan Aku Menjadi Budakmu
8.1
Angela mengambil risiko besar dengan mengandung anak Jeremy secara rahasia, meski ia tahu dirinya hanya dimanfaatkan. Sadar akan kekejaman Jeremy, Angela sengaja memancing amarah pria itu agar ia dilepaskan. Namun, pelariannya berakhir saat Jeremy berhasil melacak posisinya. Di ambang keputusasaan, Angela memohon kebebasan. Tak disangka, kehadiran sang buah hati justru mengubah segalanya. Jeremy yang dulu dingin kini menawarkan diri untuk melayani Angela dan bayi mereka.
Sampul Novel Keluar dari Kepompong
8.7
Emma Fowler kembali ke tanah air setelah tiga tahun, namun ia justru berakhir di ranjang Nathan Tate sebagai pendamping. Nathan terpesona tanpa menyadari identitas asli Emma. Saat Emma menagih janji pernikahan lama mereka, Nathan menolak dingin dan menganggapnya hanya saudara. Kecewa, Emma memutuskan hubungan sepuluh tahun itu. Namun, saat ia hendak pergi selamanya, Nathan justru berlutut memohon agar Emma tidak meninggalkannya dan menepati janji lama mereka.