Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Hasrat Liar Polwan

Hasrat Liar Polwan

Setiap manusia memiliki kebutuhan biologis yang sangat wajar dan tidak bisa diabaikan begitu saja. Terlepas dari jabatan atau profesi yang ditekuni dalam kehidupan sosial, kepuasan batin merupakan aspek yang tidak memandang status, kasta, maupun kekayaan seseorang. Kisah ini menyoroti sisi kemanusiaan yang paling mendasar, di mana hasrat dan nafsu tetap hadir di balik seragam, membuktikan bahwa kebutuhan batiniah tidak dapat dibatasi oleh hierarki duniawi.
Bab
Bagikan

Bab 2

Pengaruh libido dan hormon seksual jelas mempengaruhiku, dan jujur aku pun telah melakukan eksperimen seperti tidur telanjang untuk menyalurkannya, namun hingga detik itu aku masih belum tahu artinya sebuah kenikmatan seksual, sampai pagi itu Bryan mengajakku untuk aerobik pagi bersama.

[Mbak Tantri besok aerobic pagi bareng yuk] Bunyi pesan Bryan pada saat aku sedang bersiap tidur.

[Ayo kebetulan besok hari sabtu, kantor libur, jadi gak terburu-buru untuk apel pagi] balasku.

[Horeeee, o ya boleh request gak Mbak Tantri?]

[Request apa ya, Bry?]

[Besok Mbak pake kaos merah yang seksi itu ya!]

[Emang kenapa Bry?]

[Gak apa Mbak , Bryan senaeng aja kal liat Mbak pake baju itu.]

[Ya udah besok Mbak pake baju itu deh.]

[Makasih ya Mbak, besok jam lima ditunggu ya deket stadion asrama.]

[Haa jam lima? Gak kepagian tuh Bry?]

[Enggak Mbak udah rame kok jam segitu.]

[Ya uda jam lima teng mbak sudah di situ, awas kamunya jangan telat ya, mbak push up nanti.]

[Siap Komandan!]

Setelah tidur yang singkat, aku pun bangun untuk kemudian sebentar menggosok gigi dan mengenakan pewangi tubuh, aku berangkat menuju stadion dekat asrama tepat jam lima pagi. Betapa terkejutnya aku karena stadion masih sepi sekali. Bahkan suasanapun masih gelap.

“Pagi Mbak Tantri, mari masuk!” seru Bryan menyambutku di parkiran. Sikapnya masih gentel seperti biasa.

“Bryan kamu hebat tepat waktu, tadinya mbak udah mau ngepush kamu. tapi ini masih sepi sekali, katamu udah rame?”

“Hush sini deh Mbak ada yang Bryan mau omongin sama Mbak.”

Kami kemudian masuk ke stadion. Dengan lapangan yang biasa mementaskan pertandingan tim daerah kami yang berlaga di divisi 2. Tribun penonton yang kosong. Lampu sorot yang berfokus menyorot ke lapangan. Sitambah udara pagi. Tentu suasana agak horror dan menyeramkan.

Bryan kemudian terus berjalan mengajakku ke sebuah sudut stadion yang remang-remang.

“Bryan awas ya jangan macem-macam. Kamu kan tahu siapa aku?” Kataku dengan nada tegas karena naluri polisi yang lekas curiga dengan modus Bryan yang sangat mencurigakan ini.

“Nggak deh Mbak, Bryan toh tahu Mbak jago karate, bisa bonyok nantinya. Apalagi kalau dipenjara takut banget deh, Mbak. Ini Bryan cuma mau jujur aja…..”

“Jujur apa Bryan? cepet dong ngomongnya!!! Atau mbak panggil temen-temen mbak yang lagi patroli sekarang!” ancamku

“Ampun Mbak jangan dong, Bryan Cuma beliin ini kok buat Mbak,” kata Bryan sambil menyodorkan satu bungkusan kado warna pink yang terbungkus sangat indah.

“Ya ampun, Bryan kejutan apa ini? kamu baik sekali sama Mbak, jadi malu nih.”

“Dibuka dong Mbak kadonya,” kata Bryan

Dalam hati aku sangat bersyukur, akhirnya dapat juga kado dari seorang pria. Sudah lama aku memendam rasa iri ketika ada hari valentine, para pasangan saling berbagi kado, aku hanya merayakannya dengan teman sesama wanita di asrama.

Ketika kubuka kado yang terbungkus indah itu, betapa terkejutnya ketika melihat kado ini adalah sebuah kalung emas berbandulkan tanda cinta, dan sebuah coklat import yang pastinya mahal.

“Bryan inikan mahal. Kamu yakin ini buat Mbak?”

“iya Mbak sejak pertemuan pertama Bryan sudah jatuh cinta sama Mbak, kalung sama coklat itu hanya wujud cinta sama sayang Bryan sama mbak kok”

“Kamu baik banget Bryan.” Kataku sambil sedikit menitikkan air mata karena terharu.

“Sini mbak Bryan pakein kalungnya, Bryan sengaja minta Mbak pake baju merah ini biar leher Mabak yang jenjang bisa dipasangin kalung cinta ini. “

Masih bergetar rasanya perasaan ini melihat sebuah kejutan dari pria tampan dihadapanku. Begitu romantis dirinya untuk membuatka terdiam ketika tangannya yang kokoh mengalungkan sebuah kalung di leherku. Sangat lembut dan telaten dirinya untuk memasang kalung cinta di leherku.

Masih dalam suasana spechless dan terpesona, aku terlambat menyadari dan begitu pasrah bahkan tanpa perlawanan ketika Bryan mulai memelukku dan langsung mendaratkan ciuman di bibirku. Ini adalah ciuman pertama yang kualami dan rasanya begitu menggairahkan.

Bryan memelukku demikian erat, bibir kami berciuman dengan begitu bergelora. Kunikmati setiap momen ini, saat-saat dimana bibir kami saling bertemu, saling menghisap, saling menjilat. Dengan lihainya Bryan mendaratkan ciuman yang begitu dalam, sangat intim, sampai membawaku terbang langsung ke awang-awang.

Mungkin sekitar 5 menitan kami saling berpagut. Tanga kanan Bryan memegang kepalaku dengan lembut, untuk kemudian menatapku dengan pancaran penuh dan cinta menggelora.

“Mbak Tantri aku cinta banget sama Mbak.” Kata Bryan singkat untuk kemudian memagut mulutku dan kami kembali tenggelam dalam perciuman yang begitu panas, mengalahkan dinginnya udara pagi hari itu.

Dengan sabar Bryan memanduku yang masih hijau dalam masalah ciuman ini. Lidahnya membuka perlahan mulutku dan mengundang lidahku untuk saling berbagi cairan kenikmatan. Dengan ragu kujulurkan lidahku ke dalam mulutnya dan disambut dengan hisapan yang begitu sensasional.

Bryan sangat mahir berciuman dia bisa membuatku begitu terangsang padahal tangannya tetap memeluk tubuhku tanpa beranjak kemana-mana. Perlahan lidahku dikulumnya, untuk kemudian aku ganti mengulum lidahnya. Begitu panasnya kami berciuman.

Dengan begitu mahir, Bryan melepas pagutannya untuk kemudian berbisik di telingaku, “Mbak percaya sama Bryan ya. Bryan mau bawa Mbak ke langit ke tujuh.”

Bryan membisikkan kalimat itu sambil menatap wajahku yang telah merah padam karena malu. Anggukan mungkin jawaban terbaik yang bisa kuberikan padnya karena bibirku sudah terbisu tidak mampu mengucap satu kata pun.

Bryan melanjutkan dengan membimbingku untuk berdiri bersandar di sudut kecil stadion. Dalam posisi ini Bryan langsung menyusur pori-pori leherku. Menghirup aromanya pelan, untuk kemudian memberikan ciuman-ciuman kecil yang intens di sekitarnya.

Ciumannya benar-benar merangsang libidoku. Tangan kirinya menengadahkan daguku untuk memudahkannya mencium dan menghisap keindahan leherku. Posisiku saat ini mendongak sambil berdiri dan seorang pria yang lebih muda dariku, asyik mengoral leherku yang jenjang.

“Aaaarrrgggghhhhh.” Hanya itu yang dapat keluar dari bibirku.

Sambil tanganku mengepal di balik bahu Bryan berusaha mengendalikan ledakan-ledakan syahwat yang mendesak keluar untuk dipuaskan. Tangan kanan Bryan mulai bergeriliya menyentuh bahuku yang tanpa pelindung. Mengelusnya perlahan centi demi centi.

Bryan kemudian menghentikan hisapannya, meninggalkanku dengan penasaran dan wajah yang merah padam ingin dipuaskan. Bryan tersenyum melihat wajahku sambil berucap, “Mbak semakin cantik saja kalau begini”

Kutampar pelan dirinya untuk menyembunyikan kemaluanku akan wajahku yang begitu bergairah. Dengan perlahan Bryan memasukkan kedua tangannya masuk ke sela ketiakku dan mengangkatnya ke atas rapat disisi kepalaku.

“Pegang besinya, Mbak!” kata Bryan sambil meletakkan tanganku untuk memegang besi yang menggantung 10 centi meter di atasku.

Dalam postur berdiri menyandar, dan kedua tangan terangkat tinggi ke atas, ditambah balutan baju ketat merah, Bryan secara perlahan mulai menempatkan kedua tangannya di sekitar buah dadaku yang masih terbungkus bra.

Dia sisir perlahan tepi luar dadaku untuk kemudian membuat gerakan berputar di sekiitar putingku yang telah mengacung tegak. Kupegang erat besi yang ada di atas kepalaku, sambil mataku terpejam dan dan kedua bibirku tertahan.

“Hgh” Aku tak tahu apa yang terjadi Tapi rasanya organ intimku berdenyut kemudian menyemburkan cairan yang membuat semua tubuhku bergetar, darah seperti sampai di ubun-ubun, dan semua pikiranku kosong terbawa dengan erotisnya permainan Bryan.

Ini adalah orgasmeku yang pertama. Padahal Bryan baru memainkan putingku dari luar. Bryan memelukku erat sambil memberiku kesempatan meredakan orgasmeku.

Setelah badai nikmat itu reda. Bryan memulai kembali geriliyanya terhadap tubuhku dengan mengangkat kaosku sampai ke atas dadaku.

“Jangan dilawan ya Mbak, tetap pegang aja besi itu Bryan mau buat Mbak mabuk kenikmatan,” bisiknya. Kuturuti permintaannya. mungkin benar karena sensasi orgasme yang baru saja kualami membuatku mabuk kenikmatan.

Bryan turun ke perutku yang telah terbuka menghirup aromanya, “Aroma Mbak membuatku tergila-gila,” katanya untuk kemudian dengan rakus menyerbu pusarku dan memainkan lidahnya menari-nari di sana.

Rasanya geli namun nikmat. Kembali kutengadahkan wajahku ke langit-langit sambil menggenggam erat besi yang melintang di atasku.

Sambil menjilat pusarku tangan Bryan turun untuk membuka celana trainingku. Dalam posisi tertengadah aku tidak menyadari ketika celanaku sudah terlepas meninggalkan cd warna merah yang masih melekat menjadi pertahanan terakhirku. Bryan menyentuh pahaku sebelah luar dan sejenak kembali mengembalikan kesadaranku. Kulepas peganganku di palang dan kubangunkan Bryan untuk berdiri berhadapan denganku.

“Jangan Bryan. Mbak malu!” cegahku.

“Gak apa Mbak, percaya aja sama Bryan,” sanggahnya.

“Sudah kamu di sini saja jangan lihat kemaluan Mbak, malu.”

“iya Mbak.”

Bryan kemudian menurut. Tapi dia kembali menciumiku dan kami saling berpagutan mesra. Aku masih berdiri hanya dengan celan dalam merah yang menutupi bagian bawah tubuhku.

Kembali kedua tangan Bryan membuka sela-sela ketiakku dan membawanya ke atas kepalaku untuk memegang palang. Kuciumi dia di bibirnya dengan sedotan-sedotan dan permainan lidah yang membara . Di tengah pagutan itu, tangan Bryan tiba-tiba masuk ke dalam celana dalamku dan menyentuhnya dari perbatasan anus sampai ke pangkal klitorisku.

“You‘r shaved Mbak, betapa beruntungnya aku,” desahnya sambil naik menaik turunkan tangannya membelai daerah vagina dari dalam celana dalam merahku.

Ini juga pengalaman pertama daerah kewanitaanku disentuh oleh seorang laki-laki yang diam-diam aku cintai dan rasanya begitu luar biasa. Kulepas ciuman kami, dikarenakan desakan rangsangan dari bawah tak mampu kutanggung kembali, smpai harus kutengadahkan lagi wajahku ke atas memandang langit.

“Kamu cantik Mbak Tantri, kamu seksi sekali.”

“Hgg..” Tidak mampu kutahan. Dengan tangan Bryan yang masih di vaginaku kujepeit tangan itu saat orgasme.

Semua aliran darah dalam tubuhku seolah berkumpul di satu titik vagina dan meledak di sana. “Oooooow nikmatnya.” Begitu nikamatnya. Tangan Bryan tetap mengocok cepat meskipun kujepit erat.

“Ayo Mbak jangan ada yang ditahan nikmati sepenuhnya!” bisik Bryan kepadaku.

“Hahhhh.” Begitu nikmatnya, pikiranku seolah sudah sampai di kahyangan.

Sensasi ini begitu dahsyat. Membuatku melepas pegangan palang dan terjatuh di pelukan Bryan, “Heh…..heh….hehhh…… Bryan… aaaahssst..”

“Ya Mbak,” jawab Bryan sambil memeluk tubuhku.

“Nikmat banget, Bryan!”

“Bener Mbak?” tanyanya.

Aku mengangguk. ‘Kenapa bisa senikmat ini,’ batinku.

“Bryan akan terus member kenikmatan buat Mbak, yang penting Mbak percaya sama Bryan.”

Aku kembali mengangguk.

Pagi itu merupakan petting awal yang akan memulai petualangan seksualku yang luar biasa bersama Bryan. Tentu tidak ada olah raga hari ini. Lututku kopong seperti kehilangan kekuatan. Namun Bryan setia menemaniku sampai aku beranjak dari parkiran stadion menuju asramaku kembali.

^*^

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dendam seorang Janda
9.5
Pasca kehilangan suaminya dalam kecelakaan tragis, Mutia justru difitnah oleh keluarga mendiang suaminya atas tuduhan menggoda pria beristri. Ia pun diusir hingga mengalami insiden fatal yang menghancurkan wajahnya. Setelah menjalani operasi rekonstruksi total, Mutia bangkit dengan identitas baru. Kini, ia bertekad mengejar keadilan dan membalas dendam kepada semua pihak yang telah menghancurkan hidupnya. Ikuti perjuangan berani Mutia menuntut balas.
Sampul Novel Do You Love Me
9.7
Allia terkejut saat Azzel memintanya menjadi ibu bagi Lia. Sadar akan posisi Azzel yang sudah berkeluarga, Allia memilih mengakhiri hubungan mereka demi kebaikan bersama. Namun, keputusan itu justru memicu kemarahan Azzel yang arogan dan temperamental. Kini, gadis lembut ini terjebak dalam dilema antara rasa cinta dan sikap kasar sang kekasih. Mampukah Allia bertahan menghadapi tekanan dari pria yang tidak mau melepaskannya meski situasi kian rumit?
Sampul Novel Gairah yang Berapi-api: Istri CEO yang Bersalah
7.9
Di malam pengantin, Rogelio bersumpah menyiksa Marian karena menganggapnya penyebab kematian sang kakak. Meski dibenci dan tak disentuh, sebuah insiden memaksa mereka tidur bersama hingga Marian hamil. Di tengah penghinaan Rogelio, pria itu justru diam-diam melindungi aset dan keselamatan istrinya dari gangguan orang lain. Saat Marian berniat kabur membawa rahasia kandungannya, Rogelio justru memeluknya erat dan menolak melepaskan ibu dari calon anaknya tersebut.
Sampul Novel Istri Dadakan CEO Tampan!
8.9
Aska Pradipta adalah CEO tampan yang menjadi incaran banyak wanita. Kehidupannya berubah drastis saat ia menemukan bayi hasil hubungan masa lalunya ditinggalkan di depan rumah. Di tengah kepanikan, ia meminta Naura, sekretarisnya, untuk membantu merawat sang anak. Namun, kesalahpahaman muncul saat ibu Aska memergoki mereka. Terpaksa demi menutupi situasi, Aska menawarkan pernikahan kontrak kepada Naura dengan imbalan fantastis. Akankah kesepakatan ini berakhir cinta?
Sampul Novel Jodoh Wasiat Nenek
9.4
Persahabatan masa kecil Jingga dan Davin berujung pada pernikahan karena wasiat nenek mereka. Sayangnya, Davin tak punya rasa cinta dan memilih mengejar karier di luar negeri. Saat kembali, ia membawa wanita lain dan menuntut cerai. Jingga yang terluka akhirnya setuju untuk berpisah. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka lagi. Namun, Jingga kini membawa seorang anak kecil yang wajahnya sangat mirip Davin. Siapakah sebenarnya identitas bocah itu?
Sampul Novel Mantan Jadi Bos
9.4
Alula kehilangan pekerjaan tanpa pesangon karena menolak jadi istri keempat bosnya. Padahal, ia tulang punggung keluarga demi ibu dan adiknya. Lewat bantuan teman, Alula kembali bekerja, namun CEO barunya adalah mantan kekasih yang dulu ia tinggalkan tanpa alasan. Sang mantan pun memanfaatkan posisi ini untuk membalas dendam. Meski terus disakiti, Alula justru merasakan kembali benih cinta. Sanggupkah ia bertahan menghadapi dendam sang bos?