
Hasrat Liar Polwan
Bab 3
Setibanya di asrama sejuta pikiran dan perasaan menyerbuku. Aku menikmatinya, sangat menikmatinya. Dengan tingkat stress yang begitu menekan, kenikmatan yang diberikan Bryan di stadion ibarat menjadi candu yang membuat semua persoalan itu fly terbang lenyap, menghilang ditelan ledakan orgasme. Namun disisi lain, aku adalah gadis yang masih memegang tradisi timur yang menjunjung rasa malu.
Di samping itu pendidikan keras di asrama menekankan pentingnya harga diri. Wajarkah seorang gadis anggota kepolisian yang masih perawan, begitu menjunjung harga diri, merelakan dirinya lepas kendali dalam kemabukan kenikmatan?
Wajarkah aku yang biasa menilang pengendara di jalan, menghardik masyarakat yang kurang disiplin, kehilangan kendali di tangan seorang warga masyarakat biasa? Semua pertanyaan ini berkecamuk hebat di pikiranku.
‘Brigadir Tantri, benarkah perbuatanmu pagi hari ini?’ Itulah penggalan pertanyaan yang terus menggumuliku sepanjang akhir pekan, pasca Bryan memberikanku kenikmatan yang tiada tara.
Memberi Kenikmatan? Dengan insting aparat yang dinaungi perasaan bersalah, aku menyebut peristiwa itu kini pelecehan. Ya buatku Bryan telah melecehkanku di stadion itu. Tapi apakah aku akan menangkapnya? Ah jangan, aku terlalu mencintai dirinya. Aku terlalu menikmati apa yang telah dia perkenalkan di stadion itu.
Sudah dua minggu berlalu sejak peristiwa itu. Setiap pesan atau telpon dari Bryan tidak pernah kujawab. Aku tahu dia pasti kehilangan diriku, karena aktifitas fitnespun kuhentikan. Perasaaan dan pikiran dalam diriku berangsur pulih. Kegalaua kemarin mungkin dipicu oleh sindrom datang bulan yang membuat perasaan wanita jadi tidak karuan.
Aku sudah bersih sekarang, tapi Bryan tetap menjadi tersangka yang belum mendapat ijin untuk melintasi kehidupanku.
[Mbak Tantri kemana aja? Bryan jadi khawatir nih. Maafin Bryan atas peristiwa di stadion. Sumpah Mbak, Bryan tidak ada niat ingin mempermainkan Mbak. Bryan hanya terbawa suasana karena cintanya Bryan sama Mbak.] Itu pesan darinya.
Kumatikan hape yang kupegang, tidak mau kujawab chat yang dikirimkannya malam ini. Kupandangi diriku di depan cermin kamar, masih berseragam lengkap, baru saja kutunaikan tugas mengabdi kepada Negara.
‘Kamu cantiik Mbak Tantri, kamu seksi sekali.’ Terngiang bisikan mesra Bryan di sudut stadion pagi itu.
Kupandangi lekat-lekat wajahku di hadapan cermin, rambut pendek yang menghiasi tubuhku, mancungnya hidung yang diberikan Tuhan kepadaku, bibir eksotis yang hadir menemaniku.
Banyak orang bilang dengan wajah cantik ini aku layak memandu acara terkenal di televisi yang memberikan laporan kondisi lalu lintas terkini. Namun aku bertugas di sebuah kabupaten kecil jauh dari sorotan para petinggi kesatuan, tentu hal itu hanya mimpi.
Turun ke bawah aku melihat di cermin pantulan tubuhku yang kata Bryan sangan seksi. Di bahuku masih menempel pangkat yang memberiku nafkah sehari-hari, lencana , papan nama dan tanda korps, masih menempel lengkap di beberapa bagian baju dinasku. Kulihat dadaku yang begitu dipuja Bryan tampak begitu penuh, bulat dan menggairahkan.
Perlahan kucopot satu per satu kancing bajuku sampai terlepas semua. Mulai terlihat belahan dadaku yang ranum dibalut BH berwarna putih. Perutku yang ramping dan seksi mulai terekspose. Teringat perlahan bagaimana Bryan mempermainkan pusarku dengan lidahnya yang menari seperti penari balet. Berputar putar memicu gairah pada organ intimku.
Kulepas bajuku, kuletakkan rapi di hanger baju yang telah disiapkan. Kini hanya dengan BH dan rok kerja setinggi lutut aku berdiri menghadap cermin. Kuturunkan restleting rokku yang ada di samping kanan pinggul dan kujatuhkan saja di bawah kakiku, meninggalkan celan dalam warna putih yang setia menjadi penutup liang kewanitaanku.
‘Tantri…Tantri memang dirimu benar-benar seksi,’ kataku dalam hati sambil mengagumi tubuhku sendiri yang hanya berbalut beha dan celana dalam warna putihku.
Kulitku yang coklat eksotis tampak kontras berbalut daleman putih. Sangat menggairahkan. Pelan kudengar lantunan lagu romantis beralun dari kamar sahabatku yang tidur di kamar sebelah. Kupejamkan mataku sambil berusaha tenggelam dalam irama musik.
Indahnya suara penyanyi lagu ini membuat kepalaku bergoyang perlahan ,sejenak berusaha menghilangkan permasalahn hidup. Ritmis, bertempo, perlahan kepala ini mulai bergoyang seirama alunan melodi.
Goyangnya kepala terasa hambar tanpa gerakan bagian lain tubuhku. Mulai kugoyangkan bahuku yang kanan naik turun sesuai melodi, berganti bahuku yang kiri. Kepala dan bahu kini bergoyang begitu ritmis membawaku relax tanpa memikirkan apa-apa.
Ddum…dum…la….la….la…la…tra…tra..traa
Bunyi aransemen lagu itu. Merangsang pinggulkupun bergerak kanan kiri seirama. Kubuka membali mataku menghadap cermin, melihat diriku yang begitu menikmati irama musik, berbalut busana yang sangat minim.
‘Oohhh kenapa aku jadi bergairah,’ batinku.
Kuangkat tinggi tanganku rapat ke langit-langit. Ketiakku terlihat jelas, sangat seksi, bersih dan terawat terus goyang Tantri goyang. “Oooh aku mulai merasa begitu horny melihat tubuhku sendiri. Entah apakah ini masa suburku sehingga aku begitu terangsang?”
Tanganku yang terangkat tinggi membuatku kembali flash back ke peristiwa hari sabtu yang begitu panas. Sepertinya palang besi stadion itu hadir secara nyata di atas kepalaku. Ooh tidak, ternyata bukan hanya palang besi itu yang hadir, tapi sosok Bryan perlahan mulai muncul, hadir secara nyata, lengkap dengan aroma tubuh dan deru napasnya.
Di hadapan cermin rias seolah kulihat diriku yang hanya mengenakan celana dalam dan beha putih berhadapan menempal erat dengan tubuh Bryan di depanku.
“Bryan gantengku cium aku, Sayang….” Fantasiku sambil memejamkan mata dan menggoyangkan tubuh.
“Oooooooh… Kenapa bisa Tantri!’ kutuk diriku. ‘Kamu mendesah-desah di kamarmu sendiri.’ Begitu panas rasaku. Begitu bergelora jiwaku, lalu kubuka kaitan beha yang mengait di punggung dan kubebaskan payudaraku merasakan atmosfer kenikmatan ini.
Sudah lebih 12 jam payudaraku terpenjara di dalam beha. Sudah saatnya dia menghirup udara segar. Di cermin kulihat sepasang payudara montok yang pasti membuat Bryan penasaran. Dengan warna putingnya yang kehitaman namun mungil dan menggemaskan. Menanti untuk dihisapnya.
‘Kamu belum pernah melihat ini kan, Bryan?’ batinku. Gimana bila kamu melihat ini? kamu akan terangsang, Bryan?’ Aku semakin meracau.
Udara yang cukup panas di kamar, diiringi hentakan music lembut, mulai membuatku fly. Kuangkat tinggi tanganku pemandangan yang kulihat di cermin begitu erotis. Wajahku yang terpantul begitu binal, sangat mendambakan kepuasan. Kututup lagi mataku. Kubebaskan fantasiku membumbung semakin liar.
“Kulum putting susuku, Bryan… Hisap, hisap sesukamu, buat aku puas, Bryaaan, Oooooooooooooooh…” jeritku tak tertahan. Rasanya ada sesuatu yang mau meledak di rahimku. Sesuatu yang menuntut untuk dimuncaratkan seperti di stadion.
Segera aku rebah ke ranjang. Kumasukkan tanganku kiriku ke dalam celana dalam. Mulai kugesek perlahan persis seperti yang diajarkan guru seksualku Bryan. Kukangkangkan kedua kaki selebar-lebarnya. Kutelusuri licinnya vaginaku yang baru tercukur.
Lalu aku angkat tangan kananku untuk mengacak acak rambutku untuk menambah kesan binal, aroma tubuhku yang memancarkan gairah seksual kuhirup sepuasnya melalui ketiak tangan kanan yang terangkat ke atas.
Perlahan kugesekkan jari telunjukku ke bibir vagina. Kunaik turunkan perlahan sampai ke perbatasan anus. Stimulasi trus diberikan secara ritmis. Dimulai perlahan beranjak semakin cepat. Semua kulakukan sambil membayangkan Bryan hadir di sana sedang asyik menyusui payudaraku dengan penuh gairah, menjilati keringat yang hadir di sana dengan rakus.
Tangan-tangan nakalku berusaha membuka lubang organ intim yang gundul itu perlahan. Melakukan gerakan-gerakan provokasi menusuk ke sela-sela hymen keperawananku. Seperti wanita nakal aku berfantasi cela vagina itu ditembus oleh Bryan, pria tampan yang menerbitkan cinta di hatiku. Gerakan menusuk ini kulakukan perlahan tapi berulang ulang pada pintu liang kenikmatan yang telah bersemu merah.
Tiba-tiba semuanya lenyap, seolah semua dunia ini menghilang, aku seperti memasuki dimensi lain yang berbeda, penuh bintang, penuh cahaya, seperti surga. Kakiku yang terkangkang lebar seperti kesetrum. Diawali dari pantat yang terangkat tinggi, meninggalkan tumit kedua kakiku menyangga seluruh beban tubuhku bagian bawah.
Punggungku terungkit dengan kepala tertengadah maksimal ke atas. tangan kananku refleks menjambak untaian rambut sebagai pelampiasan kenikmatan. Bagian bawah tubuhku memberikan reaksi yang tak kalah sensasional. Dalam posisi pangkat terangkat. Vaginaku seperti mengempot, tertutup rapat, untuk bersiap memuntahkan isinya. Tekanan diawali dari perut. Mendadak ada perasaan mengeden seperti hendak buang air, tapi bukan pada organ pencernaan, melainkan pada rahim.
“Hggggggh!” Aku mengeden untuk mendorong hasrat apapun ini yang mendesak ingin keluar
“Aaaaggggggh…!” Orgasme itu meledak. Vagina yang tadi mengempot tertutup, seperti terbuka dan mengeluarkan klimaksnya. Dalam posisi tubuh terangkat aku terbujur kaku. Aku kehilangan napas, tidak sanggup bernapas, semua lenyap. Oooh begitu sulit tergambar kenikmatan ini.
“Huhhhhhhhh” Sepuluh detik kemudian kembali kudapatkan nasfasku.
“Hah…hahhhhh…hahhhhhhhhhh…” Aku ngos-ngosan sejenak. tangan kiriku terus bergeriliya. Pantatku yang terangkat mulai bisa rebah kembali ke kasur, kaki tetap kukangkangkan lebar. Jari-jariku terus menyisir lender-lendir lengket yang bertebaran di sana. Hasil dari semburan yang pertama.
Tak kuduga, “Ahhhhhhhh ya Tuhann…….” Badai itu datang lagi untuk kedua kalinya dalam waktu yang hanya sepersekian detik.
“Aaaaaah Bryaaaan…” Kembali aku mengeden dengan mengangkat pantatku tinggi untuk menumpahkan orgasme keduaku.
“Aaaaaaaaaa, nikmaaaat Bryaaaan….” Mataku sama sekali tak bisa melihat menandakan aku mencapai ekstase. Aku mabuk “Huuuuuuuuuh” Ledakan kedua ini bertahan lebih lama. Sekilas kulihat dicermin bagaimana tubuhku tersetrum bergetar getar dalam posisi kayang dalam waktu yang cukup lama.
“Ooooh..” Akhirnya badai kedua itu berlalu. Aku kembali rebah seperti atlet lompat galah yang baru jatuh ke matras.
Kurapatkan pahaku. Berusaha kuambil napasku kembali. Tapi tangan kiri belum mau kuangkat dari liang vagina. Aku ingin menikmati lendir yang kuhasilkan. Ingin kurasakan bagaimana rasanya. Terus kueksplore bagian yang sangat sensitive itu. Puting susuku berdenyut denyut sangat tegang. Rupanya putting juga bisa ereksi.
“Huhhhh……huhhhh..huuhhhhh…” Aku berusaha mengambil napas lewat hidung dan menghembuskannya lewat mulut.
“Bryan ….Bryan …Bryan belai Mbakmu ini, Sayang.” Kubayangkan tangan ini adalah tangannya yang asyik mendapat mainan baru mengobok-obok organ sensiku.
Tangan Bryan yang kubayangkan kemudian kuarahkan agak ke arah pantat, untuk juga mengeksplore anusku yang tadi turut membuka menutup tak beraturan. Ritmis dengan nakal kudorong-dorong jari tengahku masuk ke lubang analku.
“Bryan itu lubang pantatku, oooh nikmatnya, Sayaaaaangku…”
Aku membayangkan terus kehadiran Bryan dengan gerakan perlahan di pintu anusku. Betapa terkejutnya aku ketika asyik menusuk-nusuk liang itu. Desakan kenikmatan kembali hadir, “Oooooh apa yang terjadi?”
“Ooooo my God, jangan lagi…….” Ledakan itu datang lagi kembali. Lebih dahsyat. aku tersetrum kehilangan napas.
“Huuuuuu ooooooooooooooh.” Crot crot crot rasanya seperti ada pengeluaran cairan besar-besaran dari arah rahimku yang begitu deras seperti air bah.
Kugigit bantal yang ada di samping kepalaku. Untuk menetralkan makhluk nikmat bernama orgasme ini. Oooough kurapatkan gigiku. Bahkan nikmat itupun dapat terdengar melalui gemeretak gigi yang bersyukur menerima limpahan lahar cairan nikmat. Kupelintir keras putting susuku dengan tangan kanan. Untuk menyalurkan kenikmatan ini sampai kedua bukit kembarku.
“Uuuuuuh Bryan,” Kutusuk jari tengahku masuk sampai ke anus. Kudorong tajam untuk semakin meledakkan orgasme.
“Aaaaghhhhhhhhhh..” Melenting kembali tubuhku dengan tangan kiri yang terhisap masuk kedalam lubang anal 20 detik rasanya keadaan ini terjadi sebelum akhirnya aku benar-benar ambruk.
Kuballikkan tubuhku dalam posisi tengkurap untuk menyalurkan energi rangsangan yang masih bergumuruh di sekitar aerola putting susuku. Kugesek gesek permukaan seprei putih yang telah acak-acakan tak beraturan.
“Hahh….hah……hahhhhh…” Berusaha kukembalikan napasku agar normal kembali.
Tiga ledakan dahsyat. “Hah hahhh…….Bryan…..,” lanturku sebelum kesadaranku hilang dan terbang ke alam mimpi yang indah.
^*^
Anda Mungkin Juga Suka





