Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Hasrat Aneh Rahasiaku

Hasrat Aneh Rahasiaku

Kehidupan normalku hancur setelah mengintip melalui jendela yang mengungkap rahasia gelap para tetangga. Aku menyaksikan Dela yang tomboy berubah menjadi sosok penggoda, Pak RW yang terhormat menunjukkan sisi liarnya, hingga Rifan yang tampak polos ikut terlibat dalam ritual penuh gairah itu. Meski hanya penonton, hasrat aneh mulai menghantuiku setiap malam. Terjebak dalam rasa ingin tahu dan ketegangan, aku terseret jauh ke dunia terlarang yang mereka sembunyikan.
Bab
Bagikan

Bab 2

Sore itu, aku dan Dela berdiri tercekat di sebuah bukit kecil yang tak seberapa tinggi, mungkin hanya lima meteran dari tanah datar di bawah sana. Angin sore membawa aroma dan daun cabai yang baru saja tersiram air.

Seketika kami sama-sama terdiam, saat pandangan kami tak sengaja tertumbuk pada sebuah bangunan reot di pinggir kebun cabai. Sebuah jamban sederhana, berdinding bilik bambu tanpa atap, yang tampak lapuk dimakan usia. Refleks, Dela menarik tanganku mengajak bersembunyi di balik batang pohon yang tumbuh miring di sana.

Dari celah pepohonan itu, pandanganku jelas tertuju ke arah jamban. Jantungku berdegup kencang ketika menyadari apa yang sedang berlangsung di sana. Dari posisi kami, terasa aman namun setiap pergerakan di sana bisa terbaca dengan jelas karena posisinya dari samping.

Shifa nungging di depan, tubuhnya hanya terhalang samar-samar oleh bilik bambu yang renggang. Kulitnya berkilat lembap, entah karena keringat atau percikan air. Di belakangnya, Pak Sihab berdiri di belakangnya, selangkang lelaki tua itu menempel erat pada pantat Shifa. Sesekali bahunya tampak bergerak-gerak, seperti mengikuti irama genjotan yang hanya mereka berdua rasakan.

Aku menahan napas dan menelan ludah. Batang Pak Sihab tampak jelas keluar masuk tubuh Shifa dari arah belakang, sesuai gerakan keduanya yang maju mundur berlawannya. Pemandangan yang dalam seumur hidupku baru kusaksikan secara langsung, di alam terbuka, bawah cahaya langit sore yang cerah.

Lenguhan dan desahan mereka saling bersahutan tertahan, bercampur dengan suara bambu jamban yang berderit dan jeritan tonggeret dan serangga hutan lainnya. Dela di menggenggam lenganku erat, seolah memastikan ini bukan sekadar ilusi.

Dari celah bambu, pemandangan itu begitu jelas, terlalu gamblang untuk sekadar salah sangka. Kebun cabai ini seketika berubah mendebarkan sekaligus menggetarkan, membuat aku dan Dela hanya bisa saling berpandangan tanpa kata-kata. Jantungku berdegup kencang, seolah setiap ketukan ikut mengikuti ritme yang terjadi di sana.

Shifa membungkuk kepalanya menunduk, rambutnya berantakan di punggungnya. Sementara Pak Sihab berdiri menempel rapat dari belakang, tangan tuanya mencengkeram pinggang Shifa dengan kuat. Gerakan mereka tidak pelan, tidak malu-malu, justru liar, berani, seolah dunia di sekitar tak pernah ada.

Dinding bambu berderit, bergoyang mengikuti hentakan maju mundur selangkangan Pak Sihab. Sesekali, lenguhan Shifa lolos terdengar lebih keras dan jelas, lalu disusul erangan berat yang kian menekan. Aku hanya bisa terus menelan ludah. Ada rasa panas menjalar ke seluruh tubuhku, bertarung dengan rasa bersalah karena menjadi saksi sesuatu yang tak seharusnya kulihat.

Dela mencengkeram tanganku, bahkan kini jemarinya menusuk kulit lenganku, seolah ia ingin memastikan dirinya tetap sadar. Dari wajahnya, aku tahu ia sama terkejut antara takut, bingung, dan entah kenapa ada keterpakuan yang tak bisa dijelaskan. Seharusnya dia tidak seterkejut itu, karena katanya sudah pernah main dengan Andri, kekasihnya.

Shifa tiba-tiba melepaskan diri dari pelukan Pak Sihab. Ia balik badan mengahadap Pak Sihab. Batang lelaki tua itu kini jelas terlihat sepenuhnya dari arah samping. Bulu kudukku sedikit meremang karena bentuknya yang hitam, besar, panjang dan kepalanuya yang lebih besar, tampak kokoh dan arogan. Dela pun tampak terkesima.

Sejurus kemudian ia berjongkok tepat di depan selangkangan Pak Sihab. Lantas menggenggam batang itu dan memasukan ke dalam mulutnya. Gerakan kepalanya maju mundur begitu berani, begitu lepas dari rasa takut atau malu. Iramanya berlawan dengan hentakan Pak Sihab, hingga ia tampak terangkat-angkat.

Lelaki berambut putih itu terus mendesah-desah, kedua tangannya mencengkeram kepala Shifa, mengarahkan, menekan, dan membantu batangnya masuk semakin dalam. Tak lam tubuh tuanya menegang, bahunya bergetar sepertinya menahan gelombang yang sudah mulai tak tertahankan. Ekspresi wajahnya berubah, seperti menahan antara sakit dan nikmat yang tak terkatakan.

Aku menahan napas, sekujur tubuh terasa panas, darah mengalir cepat hingga membuat kulitku merinding. Ada sensasi menggigil yang membuat kakiku lemas, seakan ikut terseret dalam pusaran gairah yang mereka rasakan. Sementara Dela menggenggam lenganku erat, wajahnya kaku tapi matanya tak bisa lepas dari apa yang dilihatnya.

'Yeeees Shifaaaaaa..." Tiba-tiba Pak Sihab mengerang sangat kuat, tubuhnyua menengang hebat, lalu melengkung ke depan dan belakang, sementara Shifa tetap melanjutkan hisapan dan gerakan maju mundur kepalanya seakan ingin menelan seluruh kenikmatan yang baru dia dapatnya.

Aku terpana, waktu seolah berhenti. Yang tersisa hanyalah suara napas kami yang memburu, bercampur dengan erangan, desahan dan gerakan liar mereka yang mulai melandai.

Aku dan Dela segera mundur perlahan, lalu berbalik arah. Tubuh kami sama-sama gemetar, kaki kehilangan tenaga. Jalan kami sempoyongan, saling berpegangan untuk memastikan tidak terjatuh.

Anehnya, rasa ingin buang air kecil yang tadi memaksa kami untuk datang ke tempat ini, hilang sirna. Lenyap, terkubur oleh apa yang baru saja kami saksikan.

Sesampainya di area perkemahan, tenda-tenda sudah tampak dari balik pepohonan. Kayu bakan untuk api unggun kecil sudah menggunung di tengah lapangan. Wajah Destri dan Tiara langsung menoleh begitu melihat kedatangan kami.

"Heh, kenapa lu pada pucat kayak habis lihat hantu?" Destri bersuara, nada bercandanya tidak bisa menutupi kekhawatirannya.

Tiara ikut menimpali sambil mengernyit, "Makanya gue bilang juga apa, jangan sok jagoan! Ini hutan loh! Ketemu penunggunya baru tahu rasa lu!"

Aku dan Dela hanya saling pandang sejenak, lalu menunduk. Tidak ada kata yang bisa menjelaskan apa yang barusan kami lihat. Bukan hantu, bukan pula bayangan, tapi sesuatu yang jauh lebih mendebarkan dan menyesakkan untuk diungkapkan.

Dengan langkah lemas, aku dan Dela masuk ke tenda. Kami duduk selonjoran, punggung menempel pada dinding kain, tubuh dan wajah masih panas, bibir kelu. Tiara menyodorkan dua botol air mineral.

"Nih, minum dulu. Kayak orang kesambet aja kalian!" katanya sambil menyipitkan mata penuh curiga.

"Gue... sama Erina, barusan ngeliat Shifa sama Pak Sihab lagi begituan..."

"Dimana?" Tiara menganga.

"Jamban tengah kebun cabai."

"Hah!" Destri dan Tiara langsung berseru kaget, spontan menutup mulut masing-masing.

"Gila, baru kali ini feeling gue meleset," Destri mendengus panjang, matanya membulat.

"Gue tuh curiganya Pak Sihab ada main sama si Dita. Eh, kok malah sama si Shifa? Jangan-jangan salah lihat? Itu Shifa apa Dita?"

"Shifa!" tegasku, nyaris memotong kalimatnya. "Masa aku salah lihat? Kan beda banget. Lagian si Dita tadi ke warung sama si Lukman, aku lihat sendiri!"

Dela mengangguk pelan, wajahnya makin memerah. "Sebenarnya bukan cuma Shifa yang mengherankan, Pak Sihab juga," sambung Dela.

"Gue sih pernah denger kalau Pak Sihab emang hobi kawin siri, gak terlalu heran sih," timpal Tiara dengan suara rendah, masih tak percaya dengan Shifa.

"Lebih heran lagi, Pak Sihab masih perkasa. Lama banget dia mainnya, bikin iri aja," Dela sepertinya kagum pada keperkasaan Pak Sihab. Namun tetap masih tak percaya dengan Shifa.

"Kalian sadar nggak, kenapa kita gampang banget nuduh Dita?" Dela mencondongkan badan, suaranya nyaris bisikan.

Destri mengangguk cepat. "Ya iyalah, semua orang juga tahu, siapa Dita. Kalau ada gosip atau skandal di sekolah, nama dia pasti muncul duluan."

Aku menelan ludah, lalu ikut menunduk. "Tapi Shifa... beda banget, kan? Kayak dari dunia lain. Kalau di sekolah kaya akwat, seperti bukan siswa sekolah umum."

"Iya... tapi yang kita liat di jamban itu... gila banget, Er!" Dela menahan napas, matanya membesar, suaranya bergetar sedikit. "Selama ini kita mikir mereka itu kayak malaikat. Tapi ternyata... liar banget, berani banget!"

Destri hampir tersedak sendiri mendengar itu. "Iya, kita aja yang nggak alim-alim banget, mungkin mikir dulu kalau di alam terbuka gitu, apalagi sore-sore. Mereka emang udah gila kali ya!" Suaranya nyaris menggeram, campuran antara kaget dan geli.

"Iya... kalau nafsu setan kan emang nggak pilih-pilih mangsa," Tiara menimpali, nada suaranya pasrah tapi tak bisa menyembunyikan rasa penasaran.

Yang kami kenal Pak Sihab, Cuma guru agama yang kaku, dingin, dan terlihat renta. Bahunya bungkuk, langkahnya berat, wajahnya keriput menandakan masa pensiunnya tinggal menghitung hari.

Tapi di jamban itu... ia bukan lelaki tua. Masih perkasa, bergairah, tubuhnya bertenaga lebih dari lelaki muda di bawahnya. Batangnya... hitam, besar, panjang... bikin dada berdesir sendiri membayangkannya. Apalagi buat aku yang baru pertama kali melihat batang laki-laki.

Destri menatap Dela, suaranya hampir berbisik, "Sekarang gue jadi bener-bener penasaran sama Pak Sihab..." matanya mengkilap campuran takut dan ingin tahu.

Dela menahan tawa, setengah menggoda, setengah gemas. "Ya, keturunan Arab emang beda, Des... ukurannya spektakuler dan kekuatannya masih bisa diandelin walau udah bau tanah, hihihi."

Ada jeda sebentar. Sunyi. Tapi masing-masing dari kami terasa seperti sedang menahan napas, membayangkan sesuatu yang gila, liar, dan mustahil, sambil tak bisa menghindar dari rasa penasaran yang makin membara.

Aku, yang selama ini selalu menjaga mata dan pikiranku dari hal-hal yang tidak senonoh, justru harus menyaksikan sesuatu yang jauh lebih gelap dari sekadar "tidak senonoh." Itu benar-benar tidak masuk akal.

Hari ini, aku dan teman-teman sedang mengikuti kemping penutupan pelatihan pramuka. Semacam perpisahan, karena tahun depan, kami tidak akan lagi terlibat dalam kegiatan ekstrakurikuler ini.

Acara kempingnya singkat; kami berangkat pagi tadi dan akan kembali besok siang. Lebih banyak bersantai, hanya empat guru yang menemani. Salah satunya Pak Sihab, yang kebetulan bertugas sebagai pembina mental dalam kuliah umum setelah shalat Maghrib dan Subuh berjamaah.

Aku tidak tahu bagaimana jika bertemu Shifa dna Pak Sihab di sekolah setelah hari ini. Untungnya, Pak Sihab hanya mengajar di kelas satu, dan sebentar lagi purna tugas. Besar kemungkinan, aku tidak akan berjumpa lagi dengannya.

Meski begitu, perasaan ini tetap berat, antara terguncang, bingung, dan sedikit takut. Semua terasa terlalu nyata untuk sekadar dilupakan, terlalu gelap untuk diabaikan.

Semoga itu menjadi pengalaman pertama dan terkahir.

^*^

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel DILEMA CINTA SEGITIGA
9.3
Marlon dan Sarah menjalani pernikahan yang hanya berlandaskan urusan bisnis semata. Di balik itu, mereka memiliki pasangan rahasia masing-masing. Sarah sebenarnya berniat menjatuhkan reputasi Marlon demi perceraian kilat, namun ia justru mulai merasa cemburu melihat kemesraan Marlon dengan Natalia. Kini, Marlon terjebak dalam situasi rumit karena istri dan kekasihnya sama-sama enggan melepaskannya. Ia pun bimbang harus memilih siapa di antara mereka.
Sampul Novel Dunia Pelita
9.8
Pelita adalah model tangguh dari keluarga retak yang sangat menjaga kehormatannya. Namun, sebuah insiden tragis merenggut kesuciannya dan menyeretnya ke dalam kehidupan Adhim, pemimpin geng motor sekaligus putra kiai. Meski Adhim berniat menebus dosa dengan pernikahan, Pelita bimbang karena ia tak pernah berencana menjalin hubungan. Perbedaan latar belakang yang kontras menjadi ujian berat. Mampukah cinta tumbuh di tengah konflik dan masa lalu yang kelam?
Sampul Novel Jatuh Cinta dengan Paman Mantan Pacar
9.7
Brendan meninggalkan pernikahan demi wanita lain dan yakin aku akan memohon untuk kembali. Namun, keputusanku sudah bulat untuk mengakhiri hubungan kami. Saat dunia mengira aku terpuruk, Edrence, sang pangeran sekaligus paman Brendan, justru mengunggah bukti pernikahan kami. Brendan yang panik segera mendatangi kediamanku, namun ia tertegun melihat siapa yang menyambutnya. Sambil bersandar pada suamiku, aku bertanya sinis, Ada urusan apa kemari, Ponakan?
Sampul Novel Kembalinya Istriku
8.0
Akibat krisis ekonomi dan musibah suami, Maharani terpaksa menjadi tulang punggung keluarga sebagai TKW di luar negeri. Namun, pengorbanannya dibalas pengkhianatan keji oleh Rudi yang menipunya. Penderitaan Rani kian memuncak saat putra tunggalnya meninggal dunia akibat kelalaian keluarga suaminya. Kini, didorong rasa sakit hati yang mendalam, Rani menyusun rencana besar untuk membalas dendam kepada mereka yang telah menghancurkan hidupnya.
Sampul Novel Pelajaran Rahasia dari Guru Privat
8.6
Kisah dalam novel romantis Pelajaran Rahasia dari Guru Privat ini berfokus pada ketegangan seorang istri yang terjebak dalam situasi berbahaya. Saat sang suami melakukan panggilan video dan memberikan berbagai instruksi dari layar ponsel, wanita tersebut harus berpura-pura tenang dengan wajah yang memerah. Di luar jangkauan kamera, seorang pria lain justru sedang melakukan tindakan intim di antara kedua kakinya, menciptakan rahasia terlarang yang menguji kesetiaan pernikahan mereka.
Sampul Novel Pembantu Rasa Bos
7.9
Demi membiayai kuliah sang buah hati, Maharani yang merupakan mantan istri pengusaha terpaksa banting tulang menjadi asisten rumah tangga. Luka akibat pengkhianatan masa lalu membuatnya enggan meminta bantuan sang mantan suami. Kini, ia harus beradaptasi melayani bos duda anak satu. Namun, Maharani mulai merasa bingung karena tanggung jawab yang ia jalani perlahan justru menyerupai peran nyonya rumah. Mampukah ia menjaga profesionalitasnya?