
Hasrat Aneh Rahasiaku
Bab 3
Hujan turun deras sore itu. Aku dan Dela berdiri di tepi jalan, basah sampai ke sepatu. Kami menunggu angkot pedesaan, rit terakhir hari ini. Tapi sepertinya hujan deras membuat sopirnya terlambat kembali ke kota.
"Aduh, kalau nunggu terus bisa masuk angin," gumam Dela sambil menggigit bibir.
"Kita naik ojek aja, yuk?" usulku, tapi langsung kami berdua menggeleng hampir bersamaan. Hujan terlalu deras, jas hujan pun rasanya percuma. Anginnya dingin sekali.
Tiba-tiba sebuah pick-up melambat di depan kami. Kaca jendela sisi sopir turun, dan muncullah wajah Pak Darma. Ia tersenyum lebar.
"Lho, kalian ngapain di sini, keujanan begini?" suaranya terdengar riang.
"Nunggu angkdes, Pak Haji," jawab Dela sambil setengah berteriak karena suara hujan menutupi segalanya.
Pak Darma tertawa kecil. "Waduh, sampai malam pun belum tentu lewat. Ayo ikut aja sama Haji."
Aku dan Dela saling pandang. "Beneran gak merepotkan, Pak Haji?" tanyaku ragu.
"Lho, masa kalian tega biarin Haji jalan sendirian? Ayo, cepat naik, keburu banjir!" godanya sambil menepuk pintu mobil.
Dela masuk duluan, aku menyusul duduk di sisi pintu. Begitu mobil melaju, aroma kabin yang hangat bercampur bau hujan membuat kami sedikit lega.
Pak Darma tampak seperti biasa, flamboyan dan gagah. Ia melirik kami lewat kaca spion. "Dua gadis manis diselamatkan dari hujan deras. Wah, pahalanya dobel ini," ujarnya sambil terkekeh.
"Pahala atau kesempatan, Pak Haji?" Dela ikut menggoda.
Pak Darma hanya tertawa lebih keras. "Dua-duanya boleh. Yang penting kalian selamat sampai rumah. Kalau enggak, nanti yang panik siapa? Ibu kalian kan!"
Kami ikut tertawa, sedikit lupa pada dinginnya hujan.
Sebenarnya, kalau saja sendirian, aku pasti akan menolak ajakan ini. Ada sesuatu dari lelaki berusia di atas lima puluh tahun ini yang membuatku selalu ingin menjaga jarak. Gelarnya Haji, sikapnya santun, penampilannya pun rapi dan religius, tapi aku tahu semua itu tak lebih dari topeng.
Di balik senyum ramahnya, dia adalah pengusaha kampung yang punya tangan di banyak bidang, sekaligus rentenir yang hobi kawin-cerai. Lebih buruknya lagi, hampir semua perempuan yang pernah dinikahinya adalah istri orang, janda atau gadis yang dipaksa menikah karena hutang. Kabarnya rumahnya ada di mana-mana, seperti jejak yang tak pernah bisa dihapus.
Aku teringat, orang tua Dela pun salah satu nasabahnya. Hutang mereka sudah lama tak lunas. Semoga saja Dela tak menjadi korban berikutnya. Pikiran itu membuatku melirik sahabatku sekilas, bertanya-tanya apakah ia sadar bahaya yang mungkin mengintainya.
Sejak lama Pak Darma menaruh hati padaku. Sorot matanya tak pernah bisa menipu. Aku selalu pura-pura tak melihat, berharap orang tuaku pun tidak sampai tersangkut dalam urusan apa pun dengannya.
Mobil pick-up itu berguncang pelan melewati jalanan becek. Suara hujan di atap membuat suasana jadi hening. Pak Darma sempat melirik lewat kaca spion, senyumnya tipis.
"Waduh, kalian basah semua ya. Nanti masuk angin, repot," katanya ramah.
"Sudah mendingan, Pak Haji. Untung tadi Bapak lewat," sahut Dela sambil mengusap rambutnya yang lepek.
"Namanya juga rezeki, Del," ucap Pak Darma, nada suaranya seperti menggoda. "Kalau hujan-hujanan terus bisa sakit. Kalau sakit, siapa yang repot? Haji juga yang harus jenguk."
Aku ikut tersenyum kecil, meski dalam hati rasanya tak tenang. Ada sesuatu dari caranya bicara yang membuatku selalu waspada.
"Bapak dari mana?" tanyaku, sekadar memecah keheningan.
"Dari meriksa gudang di kota sebelah. Tenang aja kalian Haji antar sampai rumah, ya." katanya.
"Wah, makasih banyak, Pak Haji," jawab Dela dengan senyum lebar.
Pak Darma tertawa kecil. "Iya lah. Masak Haji tega biarin kalian dua gadis manis ini kedinginan di pinggir jalan? Kalau sampai sakit, yang rugi siapa? Calon mertua kalian nanti marah sama Haji."
Dela spontan tertawa, sementara aku hanya menunduk, pura-pura merapikan tas. Aku tahu betul Pak Darma sedang melemparkan umpan.
"Kalian kelas dua, ya?" tanya Pak Darma, suaranya agak meninggi untuk mengalahkan suara hujan.
"Betul, Pak Haji," jawab Dela santai. "Baru aja selesai ulangan semester. Sebentar lagi pindah kelas tiga."
"Wah," Pak Darma terkekeh. "Berarti sebentar lagi siap-siap nikah, dong? Atau mau lanjut kuliah?"
"Maunya sih kuliah, Pak Haji," jawab Dela sambil tersenyum lebar. "Tapi ya lihat sikon ortu dulu. Lagian kan baru mau naik kelas tiga, hehehe."
Pak Darma ikut tertawa. "Ya semoga aja bisa kuliah, ya. Kalau perlu nikah sambil kuliah juga enggak masalah. Anak Haji juga, si sulung, baru masuk kuliah tahun ini."
Aku hanya melirik sekilas. Pak Darma memang selalu menyebut dirinya dengan "Haji," seakan ingin semua orang mengingatnya sudah menunaikan rukun Islam kelima.
"Oh, Pak Haji punya anak yang sudah kuliah?" Dela tampak terkejut.
"Ada, cowok," jawabnya santai. "Tapi dia nggak tinggal sama Haji, kost dari kelas dua SMA. Tepatnya sejak Haji cerai sama mamanya."
"Kenapa kost? Mamanya ke mana?" Dela semakin penasaran.
"Pulang ke Manado," jawab Pak Darma ringan.
"Oh, istri Pak Haji orang Manado?"
"Mantan istri pertama," koreksi Pak Darma sambil tersenyum kecil. "Kalau Haji asli sini."
Obrolan mereka terus berlanjut, sementara aku sibuk dengan pikiranku sendiri. Seragamku masih lembap, tas juga terasa berat.
"Kalau Erina gimana?" Tiba-tiba suara Pak Darma menembus lamunanku.
"Eh? Gimana apanya, Pak Haji?" tanyaku gugup. Aku jelas tidak menyimak obrolan mereka.
"Udah punya calon suami belum?" tanyanya lagi sambil terkekeh.
Aku ikut terkekeh canggung. "Hehehe... udah, Pak Haji," jawabku cepat-cepat, sekadar mengakhiri topik.
"Orang mana?" tanyanya lagi, nada suaranya seperti benar-benar ingin tahu.
"Orang jauh... tapi dekat, hehehe." Aku sengaja menggantung jawabanku.
"Alah, baru juga mahasiswa," sela Dela sambil mencibir. "Lagian mereka udah putus kemarin, Pak Haji."
"Beneran, Er?" tanya Pak Darma, suaranya seperti mencampur rasa penasaran dan godaan.
Aku tersenyum hambar. "Hehehe, iya, Pak Haji. Saya mau fokus belajar dulu."
"Bagus itu," kata Pak Darma sambil mengangguk kecil. "Belajar yang rajin. Biar nanti enggak nyesel."
Mobil kembali hening sejenak, hanya suara hujan yang terdengar. Aku menarik napas pelan, berharap perjalanan ini cepat selesai.
Dela dan Pak Darma terus mengobrol sepanjang jalan. Topiknya lompat-lompat-dari sekolah, cerita masa kecil, sampai gosip ringan tentang orang kampung. Sesekali aku hanya ikut tersenyum, lebih banyak menjadi pendengar setia.
Beberapa kali mata Pak Darma tertangkap sedang melirikku lewat kaca spion, seakan menunggu aku ikut nimbrung. Tapi aku memilih diam, berpura-pura sibuk menatap jendela, memperhatikan hujan yang mulai reda.
Tak terasa, mobil sudah berhenti di depan rumah Dela.
"Nah, sampai juga. Untung tadi kalian ketemu Haji di jalan," ucap Pak Darma sambil tersenyum lebar.
Aku dan Dela mengucapkan terima kasih hampir bersamaan. Aku ikut turun, walau rumahku sebenarnya masih sekitar setengah kilometer lagi. Tapi aku merasa lebih aman jalan kaki dari rumah Dela daripada harus berdua dengan Pak Darma di mobil.
Pak Darma langsung memutar setir, balik arah. Rumahnya memang sudah terlewat tadi-rumah paling besar dan paling mencolok di kampung kami.
Aku menatap punggung mobil yang menjauh, entah kenapa dada terasa sedikit lega. Hujan sudah berhenti, udara sore jadi dingin dan segar. Aku menarik napas panjang, bersyukur perjalanan tadi berakhir tanpa hal yang tak diinginkan.
"Eh, Er, kamu beneran mau liburan di rumah nenekmu?" tanya Dela sambil menatapku penuh rasa ingin tahu.
Aku mengangguk pelan. "Iya, kayaknya mau di sana. Udah lama banget nggak ke kampung nenek."
"Wah, enak dong bisa liburan," sahut Dela sambil senyum-senyum.
"Enak apanya?" aku terkekeh. "Sama aja, rumah nenekku kan di kampung juga. Mainnya ya ke sawah, ke kebun, atau ke hutan. Paling banter mancing di empang."
Dela ikut tertawa. "Ya setidaknya beda suasana lah, Er. Aku mah kayaknya nggak bisa liburan, harus cari kerja sambilan."
"Kerja sambilan itu?" aku menoleh, penasaran.
"Iya, kemungkinan jadi, Er. Lumayan kan, kita libur sebulan. Aku mau bantu-bantu ortu. Kebetulan abis lebaran gini, banyak ART yang belum balik dari mudiknya. Nah, rencananya aku mau jadi pembokat dadakan, hehehe."
Aku menepuk bahunya ringan. "Ya udah, hati-hati ya, Del. Aku juga paling besok atau lusa ke rumah nenek. Dianter sama Bapakku."
"Sama-sama, Er. Kamu juga hati-hati. Di kampung nenekmu itu banyak cowok mata keranjang, lho." Dela menggoda sambil menyipitkan mata. "Jangan sampai si Alfian tahu kamu liburan di sana. Bisa-bisa dia nyusul!"
"Aman, Ciin," jawabku sambil tertawa.
Kami berpelukan seperti teletabis, seolah-olah akan berpisah lama sekali, padahal paling juga ketemu lagi setelah libur. Ada sedikit perasaan hangat sekaligus sedih yang menggantung di dada.
Tak lama, Mang Jana, tetanggaku melintas dengan motornya. "Eh, mau sekalian nebeng, Er?" tanyanya.
"Boleh, Mang!" seruku senang. Untunglah, jadi aku tak perlu jalan kaki dari rumah Dela. Sambil melambaikan tangan, aku pamit pada Dela.
"Jangan lupa kabar-kabarin aku, ya, Ciiin!" teriak Dela dari teras.
Aku hanya mengacungkan jempol sebelum motor melaju pelan, meninggalkan rumah Dela dan sisa hujan sore itu.
Sesampainya di rumah, aku langsung disambut dua adik jagoanku, Erwan dan Enda. Mereka berlari kecil sambil teriak, "Mbak Er! Mbak Er!" seperti sudah lama sekali tidak bertemu.
Baru beberapa menit ngobrol, mereka dengan semangat mengumumkan kalau mereka juga mau ikut liburan ke rumah nenek.
Aku langsung tepok jidat. "Ya ampun... bukannya liburan, ini namanya jadi emak dadakan seharian!"
Mereka hanya cekikikan, jelas senang bisa ikut. Aku mendesah, setengah pasrah. Ya sudahlah. Meski repot, aku tetap senang. Setidaknya, ada yang bisa jadi teman main sekaligus bodyguard selama di sana.
Dan yang pasti, mereka nggak bakal betah lama-lama di rumah nenek yang nggak ada televisi apalgi sinyal. Paling dua hari juga mereka sudah kabur lagi, pulang.
^*^
Bersiaplah! Fakta di bab selanjutnya akan membuatmu menahan napas.
Anda Mungkin Juga Suka





