
Harta, Tahta, Perjodohan
Bab 2
Teng teng teng
Suara bel pulang sekolah berbunyi membuat seisi ruangan langsung riuh. Ibu Mulia yang tengah menuliskan rumus-rumus mengerikan di papan tulis, langsung menghentikannya. Berputar menghadap siswa/i nya yang auto membereskan buku-buku mereka.
"Jangan lupa soal yang ibu berikan dikerjakan, ya. Dikumpul minggu depan. Yang nggak ngerjakan, ibu kasih hukuman tulis 'Ibu Mulia cantik' di kertas portofolio bergaris 100 lembar!"
"Iya, Bu!" jawab seisi ruangan dengan kompak tanpa menghentikan aksi beres-beres mereka.
Ibu ber-anak satu itu pun juga membereskan buku-bukunya. Lantas keluar ruangan meninggalkan siswa/i nya yang sudah asik sendiri.
"Eh gue langsung pulang, ya. Bokap nyokap gue mau ngomongin sesuatu. Siapa tahu penting, ya 'kan." Seorang cowok tampan yang sudah menggantung tas-nya di bahu, mengangkat beberapa kali kedua alisnya menatap tiga temannya bergantian yang juga tengah menatapnya.
Tama yang lebih dulu mengerti, ikut menaik turunkan kedua alisnya, "Oke, Ru. Semangat buat mengambil hati ayah serta ibunda."
Cowok yang bernama Biru itu tertawa lebar. Melangkah menghampiri Tama dan menepuk pelan pundak sahabatnya itu.
"Kalo gue berhasil, gue nggak akan lupain lo, Tam."
Rayan yang mempunyai otak paling lemot, mengerjapkan matanya seraya menatap Hendry untuk meminta penjelasan apa maksud dari pembicaraan Biru dan Tama.
"Udah, Ray, nggak usah tanya gue. Males gue jelasin ke lo tapi lo nya nggak nangkep." Hendry lebih dulu mencegah. Sebelum Rayan bertanya dan berakhir ia menjawab pertanyaan Rayan yang seperti soal Matematika, anaknya banyak.
"Gue duluan, ya. Ntar malam ngumpul tempat biasa." Biru berkata seraya melangkah ke luar kelas. Tiga sahabatnya itu mengangguk dan melambaikan tangannya.
"Semangat, Ru! Gue yakin, Arsakha Company bakal jadi milik lo!" teriak Tama seakan menyemangati sahabatnya yang akan diseleksi sebagai daftar calon pewaris.
Rayan menatap Tama dengan ekspresi terkejutnya, "Jadi, tentang warisan?"
Hendry yang mendengar itu, menghela napasnya, "Cuman lo doang, Ray, yang nggak konek pas orang ngomongin harta."
Tama menganggukan kepalanya, setuju dengan apa yang Hendry katakan.
"Makanya, sesekali otak lo itu mikirin uang. Jangan mikirin uang pas mau top up diamond Free Fire doang."
Rayan menatap Tama, "Gue player PUBG kali."
Tama mengibaskan tangannya, "Sama aja. Sama-sama game online juga."
Hendry yang sudah selesai dengan beres-beresnya. Menatap miris Tama yang terlihat satu spesies dengan Rayan, "Lo
ladenin dia keliatan sama-sama begonya."
Tama yang mendengar itu, memejamkan matanya serta menggelengkan kepalanya.
"Astghfirullah, kebegoan Rayan merasuki diriku." Tama mengusap-usap dadanya.
---
"Papa mau kamu nikah sama Luna, putri dari sahabat sejati papa!"
Sekarang, keluarga Abraham berkumpul di ruang kerja Edo Al Arsakha. Lelaki yang hampir berkepala lima itu berdiri tegas memimpin rapat keluarga. Biru yang menjadi objek pembicaraan, menatap tidak percaya ayahnya yang seperti ngebet ingin menikahkannya dengan Luna, anak sahabat ayahnya.
"Pa, jangan ngadi-ngadi deh. Aku masih SMA loh, pa. Terus papa liat kemarin, wataknya keras banget kayak batu. Mana bisa disatuin sama aku yang hatinya kayak hello kitty ini," ucap Biru membela diri sendiri di perdebatan panas ini.
Sella--adik Biru menatap jijik ke arah kakaknya itu, "Dih hello kitty. Jijikin jangan?"
Biru sontak menoleh. Menatap tajam Sella serta mengacungkan jari tengahnya. Adik perempuannya itu memang membawa pengaruh buruk disetiap ada rapat keluarga.
"Justru itu, papa mau nikahin kamu biar Luna bisa ajarin kamu. Kamu tahu nggak sih, cuman kamu, anak papa yang minusnya paling banyak! Cuman ini jalan satu-satunya agar kamu kembali ke jalan yang benar."
Biru menghela napasnya. Memijit pelipisnya yang sedari tadi sudah berdenyut nyeri. Ia menggelengkan kepalanya pelan. Menjadi anak dari keluarga Arsakha ternyata rumit sekali.
"Jalan kehidupan gue seburuk apa sih?" gumamnya pelan. Bingung apa yang dimaksud ayahnya tentang 'kembali ke jalan yang benar'. Perasaan hidupnya tidak terlalu oleng ke mana-mana.
Tiara--ibu Biru akhirnya mengangkat suara dan memberi pembelaan untuk putranya itu, "Mas, bisa nggak ucapannya dilembutin sedikit? Nggak baik tahu ngomongin gitu ke anak sendiri."
Biru yang mendengar itu, sontak mendongak seraya mengangguk, "Iyatuh! Bisa-bisa aku kena mental breakdance kalo dipaksa nikah terus."
"Idih, lo itu kebal. Sok kayak anak rumahan mau kena mental breakdance."
Tiara yang sudah tidak sabar lagi, menoleh ke arah putrinya dan memberi peringatan untuk diam duduk anteng di kursinya. Sella putrinya itu memang suka melihat kakaknya terjerumus dalam masalah besar dan dirinya yang memperkeruh suasana.
"Sella, kamu pergi ke kamar aja, ya. Papa sama mama mau ngomongin hal serius ke Kak Biru," ucap Tiara lembut. Sella pun langsung mengangguk dan berdiri. Tidak lupa memberikan wejangan baik kepada kakanya yang tengah mempertahankan status bujangnya.
"Anak yang baik, adalah anak yang nurut apa kata orang tuanya. Semangat, Kak! Gue yakin, lo bukan anak durhaka."
Biru berdecak sebal. Menatap tajam Sella yang keluar ruangan sambil memasang wajah menyebalkannya.
"Maa, Sella tuh!" rengek Biru yang rasanya ingin menangis sekarang juga. Sudah tertekan karena ayahnya, adiknya lagi yang menambah bumbu kekesalannya.
"Sella, jangan kayak gitu. Udah masuk kamar sana," tegur Tiara yang masih memakai nada lembut. Untung saja, kedua anaknya ini tidak bandel. Sekali teguran saja sudah mampu melerai perkelahian dahsyat antara Biru dan Sella.
Biru menghela napasnya. Mengusap-usap dadanya yang terasa sesak karena ingin menangis meratapi nasibnya.
"Mas, jangan paksa Biru, ya. Nggak pantas juga bahas pernikahan ke Biru yang masih SMA. Lagian kamu ini ngebet banget mau nikahin Biru. Emangnya kenapa? Biar bisnis kamu sama Rivan lancar jaya apa gimana?" tanya Tiara yang juga tak habis pikir kenapa suaminya itu ingin sekali menikahkan Biru dengan Luna. Pemikiran Edo dan Rivan memang terkadang sulit ditebak.
"Iyanih. Papa punya hutang, ya, sama Om Rivan? Terus korbanin aku buat nikahin Luna biar hutang papa ke Om Rivan lunas? Gitu?"
Edo menatap Biru, "Apa gunanya gedung Arsakha Company berdiri paling tinggi di tengah kota? Kalo ngomong yang bener. Papa nggak semiskin itu sampe jual kamu."
Biru menjentikkan jarinya, "Nah itu. Kita nggak miskin. Kenapa aku harus nikah sama Luna? Bisa kan aku nyari cewek lain yang aku suka?"
Edo terdiam. Lalu akhirnya duduk di kursinya. Memijit pelipisnya merasa kepalanya mulai pening.
"Pa, aku nggak harus nikahin Luna 'kan? Aku masih SMA loh. Masa udah disuguhin hal serius aja?" lanjut Biru berusaha membujuk.
"Biru .... "
Biru membenarkan duduknya, "Iya, Pa?"
"Kamu akan jadi calon pewaris utama Arsakha Company."
Biru tersedak liurnya sendiri. Mengerjapkan mata menatap ayahnya yang terlihat serius.
"Se--serius, pa?"
"Tapi, nggak jadi."
Biru menatap tidak percaya ayahnya. Begitu pun Tiara yang sudah pindah posisi duduk di sebelah suaminya. Apa-apaan tadi? Ayahnya tengah nge-prank dirinya?
"Lah kok nggak jadi?" tanya Biru.
"Karena kamu masih SMA."
"Apa salahnya SMA? Aku bisa kok jalanin perusahaan. Umur delapan belas tahun--"
"Lebih susah mana jalanin rumah tangga di umur dua puluhan dibanding presentasi di depan investor-investor besar seluruh dunia?"
Biru menelan ludahnya. Merasa apa yang ayahnya katakan itu sungguh kejam. Bisa-bisanya Edo membandingkan pekerjaan dan rumah tangga?
"Pa! Jalanin rumah tangga sama cari investor beda. Mereka punya susahnya masing-masing. Aku bisa jalanin perusahaan dari sekarang. Tapi, untuk nikah, aku belum bisa, Pa."
Edo menatap Biru, "Papa nggak bilang kamu harus nikahin Luna dalam waktu dekat. Cuman mau bilangin kalo kamu nanti nikahnya sama Luna. Itu aja."
"Tetap aja. Papa bilangnya sekarang, ya aku udah nggak bisa bebas lagi. Anggapannya, aku udah milik Luna."
"Ya, emang itu tujuan papa."
"Papa! Mau papa apasih?" kesal Biru. Makin diladenin, ia semakin tertekan.
"Iya itu mau papa. Kamu nikah sama Luna."
Biru mengusap wajahnya gusar. Menjambak rambutnya frustasi hingga Tiara panik kalau saja putranya itu melepas kepalanya.
"Allahuakbar, Papa! Kenapa nggak papa aja sana yang nikah sama Luna?!" Kekesalan Biru sudah tidak terkondisikan lagi.
"Heh, Biru!"
Biru sontak kaget. Menatap ibunya yang tengah menatap tajam ke arahnya. Ia mengerjapkan matanya takut. Berdeham menetralkan tenggorokannya yang tiba-tiba kering.
"Ya, mana mau lah Luna sama Om-om tua. Ya nggak, Pa?" ucap Biru kepada Edo. Tetapi, ayahnya itu tidak bisa diajak kerja sama.
"Sayang, kok aku dibilang tua?" rengek Edo seakan mengadu. Tiara mengambil bantal sofa, melemparkannya kepada Biru dan tepat mengenai wajah putranya itu.
"Mama setuju kamu nikah sama Luna!"
Biru melotot, "Mama kok labil sih? Bukannya tadi di kubu aku?"
"Kasian yang nggak dibela."
Semua sontak menoleh ke asal suara. Terlihat kepala Sella, adik laknat Biru berada di tengah-tengah pintu ruang kerja Edo. Lantas, Biru berdiri. Tak lupa bantal yang dilempar Tiara tadi ia bawa. Berikutnya ingin ia daratkan ke wajah songong Sella.
"Sini lo, Setan!"
Anda Mungkin Juga Suka





