
Harta, Tahta, Perjodohan
Bab 3
Biru mengusap wajahnya gusar. Yang ditemani oleh ketiga sahabatnya masing-masing di sampingnya. Hendry yang menepuk-nepuk punggung Biru. Sedangkan Tama dan Rayan memijat kepala cowok itu.
"Sabar, Ru. Semua warisan itu butuh pengorbanan. Mungkin pengorbanan lo itu ya .... nikah." Tama berucap ragu diakhir kalimat.
Hendry menatap tajam Tama. Dan langsung menggetuk kepala cowok itu yang tidak mengerti situasi.
"Ini masalah perjodohan. Bukan masalah warisan, Bege! Lo diem aja, nggak usah memperkeruh suasana," kesal Hendry. Bukannya memberikan saran baik. Tama justru mengungkit masalah warisan.
"Kalian bisa diem, nggak?!"
Semua sontak kaget. Mendengar Biru yang berteriak hingga semua orang yang mampir ke Warung Abang Jali, menatap kaget juga ke arah mereka.
"Gue lagi frustasi. Masa kalian mau nambahin beban pikiran gue?" Nada bicara Biru terdengar seperti hendak menangis. Membuat ketiga sahabatnya itu menatap panik Biru.
"Eh, Ru, lo nangis?" tanya Rayan.
"Nggak! Ketawa gue tuh!" Biru menampilkan jejeran gigi rapinya. Kesal dengan Rayan karena tidak mengerti situasi yang sedang ia alami.
"Emang kenapa sih? Lo dari tadi ditanyain juga nggak jawab. Ini lo harus banget disuruh nikah apa gimana?" tanya Hendry. Mereka harus tahu, kalau saja mereka bisa membantu atau sekedar memberi saran.
"Namanya dijodohin, ya, harus disuruh nikah lah, anjim!" sahut Tama. Hendry hanya menatap tajam Tama dan kembali menatap Biru.
"Jawab, Ru. Jelasin ke kita." Hendry angkat suara lagi. Sepertinya Biru harus didesak dulu baru mau bicara.
Biru menarik napasnya panjang. Lalu mengeluarkannya kasar, "Iya, gue disuruh pake banget nikah."
"Terus, ceweknya gimana? Lo udah ketemu atau belum?" tanya Hendry lagi. Sedangkan Tama dan Rayan, kedua cowok itu hanya mendengarkan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Udah, dan dia beda jauh banget sama gue," jawab Biru. Mengingat kembali pertemuannya dengan Luna pada saat itu, membuat dirinya merinding. Merasa sangat tidak mungkin ia bisa bersatu dengan gadis darah semen itu. Bisa-bisa rumah tangganya selalu dihiasi perdebatan dan berakhir Biru menyandang status duda.
"Cantik nggak, Ru?"
Biru terdiam. Memikirkan jawaban apa yang akan ia katakan. Kalau diingat-ingat, Luna memang cantik. Saat pertama melihatnya pun, Biru sudah menilai bahwa Luna adalah gadis cantik berwatak lembut.
"Cantik sih. Tapi .... " Biru menggeleng-gelengkan kepalanya cepat, "Pokoknya, gue nggak mau dan kami nggak bakalan cocok! Sifat kami aja bertolak belakang. Emang ngadi-ngadi bokap sembarangan jodohin gue tanpa riset dulu. Cocok apa nggak sama anaknya. Ini nggak, main jodoh-jodohin aja."
Tama menjentikkan keras jarinya. Membenarkan duduknya serta menatap mantap Biru.
"Itu tandanya bokap lo nggak sayang sama lo! Harusnya riset dulu kan, ya. Ini nggak. Berarti dia nggak perhatian!"
Lagi-lagi, tangan Hendry main. Tangan cowok itu mendarat keras di kepala Tama. Memang benar, Tama sudah positif terkena virus bego Rayan.
"Bisa diem nggak, Tam? Mulut lo kok akhir-akhir ini murahan banget? Boros kata!" sarkas Hendry. Ia lagi serius mendengarkan sesi curhat Biru. Tapi, Tama merusak segalanya.
"Maaf, Hen. Ya Allah, lo kok akhir-akhir ini galak banget?" Tama sampai istighfar. Perasaan ia tidak mengatakan hal yang sangat buruk.
Hendry menatap tajam Tama, "Gue galak karena keadaan. Nggak kayak lo bego tanpa ngerti situasi."
"Astghfirullah .... " Biru memijat pelipisnya. Lalu menatap Rayan yang hanya diam sedari tadi sebab tidak mengerti keadaan.
"Gue tahu lo diam karena lemot. Tapi, thanks. Lo nggak nambahin beban pikiran gue." Biru menepuk-nepuk punggung Rayan. Lantas berdiri dari duduknya meninggalkan ketiga sahabatnya itu. Baru kali ini ia bersyukur mempunyai sahabat super lemot.
"Loh, Ru. Mau ke mana?" tanya Tama melihat Biru yang berjalan menuju mobilnya.
Biru menghentikan langkahnya. Menatap ke arah ketiga sahabatnya sebelum masuk ke dalam mobil.
"Dukun. Mau nanya gimana caranya nyantet orang."
---
"Kak Biru!"
Biru mendesah kesal. Baru saja ia memasuki rumah, suara menyebalkan itu datang menyambut kedatangannya. Siapa lagi kalau bukan adik bejatnya.
"Apaan?" ucap Biru malas.
"Hotspot dong. Wifi lagi eror pake banget. Ada kuota 'kan?"
Biru berdecak menatap wajahnya adiknya yang mau bagaimana pun tetap saja menyebalkan. Cowok itu mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. Tanpa ingin ribut dan langsung saja menghidupkan hotspotnya.
"Giliran minta hotspot aja ke gue. Dasar miskin!" sarkas Biru.
Sella mengangkat kedua bahunya acuh, "Bodo. Yang penting gue nggak dijodohin."
Biru menggeram. Mengangkat tangannya yang sudah berada di udara. Namun tidak sampai ke tempat sasarannya.
"Lo .... " geram Biru sabar. Cowok itu menurunkan tangannya. Lalu melangkah saja menuju kamarnya tidak ingin meladeni Sella. Mungkin jika ia berdebat dengan adiknya, Biru benar-benar akan jadi gila dalam semalam.
"Jangan marah-marah terus! Belum sempat nikah ntar keriput duluan!" seru Sella yang sangat bahagia melihat kakaknya sengsara. Biru tidak menggubrisnya. Melanjutkan saja langkahnya menaiki anak tangga walau keinginan dalam hatinya untuk mencakar adiknya lebih berkuasa.
Anda Mungkin Juga Suka





