Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Hari Ketika Aku Mati dan Bangkit Kembali

Hari Ketika Aku Mati dan Bangkit Kembali

Nindi nyaris tewas akibat syok anafilaksis saat suaminya, Bram, justru mengabaikan nyawanya demi Clara. Tragedi memuncak ketika putra mereka, Leo, tewas tertabrak saat mencari bantuan. Namun, takdir berputar balik. Nindi terbangun di masa lalu sebelum petaka itu terjadi. Dengan ingatan tentang pengkhianatan Bram dan kematian Leo, ia bertekad melindungi sang putra. Kesempatan kedua ini menjadi ajang pembalasan bagi mereka yang menghancurkan hidupnya di masa depan.
Bab
Bagikan

Bab 2

Bram menatapnya, senyum menawannya goyah. "Cerai? Nindi, kamu kenapa?"

Lalu, ekspresinya berubah. Dia tampak hampir... lega? Tidak, penuh perhitungan.

"Sebenarnya, Sayang, aku juga mau bicara denganmu tentang hal serupa."

Dia duduk, mencondongkan tubuh ke depan seolah bersekongkol.

"Clara sedang mengalami masa sulit. Peluncuran mereknya... ada troll online ini, benar-benar jahat. Mereka bilang dia perebut suami orang, bahwa aku menelantarkan keluargaku demi dia."

Nindi mendengarkan, sebuah simpul dingin terbentuk di perutnya. Sungguh tidak masuk akal.

"Jadi," lanjut Bram, "aku berpikir... bagaimana kalau kita berpisah sementara? Perceraian yang cepat dan diam-diam. Hanya di atas kertas."

Dia melanjutkan dengan tergesa-gesa, "Itu akan meredakan panas dari Clara. Menunjukkan pada semua orang bahwa aku tidak terikat. Para troll akan mundur. Lalu, setelah mereknya stabil, kita bisa, kau tahu, rujuk kembali. Ini hanya untuk pertunjukan, Nindi. Untuk melindungi karier Clara."

Nindi menatapnya. Dalam kehidupan masa lalunya, yang berakhir dengan kengerian, dia mungkin akan menangis, memohon.

Sekarang, dia merasakan tekad yang dingin dan keras. Bram menawarinya jalan keluar, terbungkus dalam keegoisannya sendiri.

"Oke, Bram," katanya.

Bram mengerjap, terkejut. "Oke? Begitu saja?"

"Ya. Tapi aku mau perjanjian perpisahan yang mengikat secara hukum. Pembagian aset yang adil. Bagianku di rumah, dan di biro arsitekmu. Aku ikut mendanainya, ingat?"

Keterkejutannya berubah menjadi kecurigaan. "Kenapa kamu jadi begini? Begitu... picik? Kukira kamu akan mengerti. Ini hanya sementara."

"Ini bukan picik, Bram. Ini cerdas. Jika kita bercerai, bahkan 'untuk pertunjukan,' itu harus dilakukan dengan benar."

Ketenangannya membuat Bram gelisah. Ini bukan Nindi yang dia kenal.

Bram, yang ingin sekali mengeluarkan Clara dari "masalahnya", mendesak.

"Baiklah, baiklah, perjanjian yang pantas. Pengacaraku bisa menyiapkannya dengan cepat. Kita bisa menandatanganinya besok."

Dia bahkan berhasil mengucapkan permintaan maaf seadanya. "Maaf harus seperti ini, Nindi. Tapi ini demi yang terbaik, kamu akan lihat. Clara benar-benar membutuhkan ini."

Dia benar-benar percaya pada kebohongannya sendiri. Bahwa ini adalah pengorbanan mulia yang sedang dia lakukan.

Nindi mengawasinya, pria yang pernah dicintainya, kini menjadi orang asing yang mengucapkan kata-kata kosong.

"Bram," kata Nindi, suaranya lembut, sebuah ujian terakhir. "Apa kamu tahu apa dampaknya bagi keluarga? Bagi Leo?"

Dia mencari di wajah Bram secercah kepedulian tulus, sedikit sisa dari pria yang dinikahinya.

Tidak ada apa-apa. Hanya ketidaksabaran.

Dia menyadari dengan pedih bahwa cinta apa pun yang pernah dia rasakan untuk Bram telah mati. Mati bersama Leo di garis waktu yang lain, dan tetap mati sekarang.

Bram melambaikan tangan meremehkan. "Jangan dramatis, Nindi. Ini perceraian pura-pura. Leo bahkan tidak perlu tahu detailnya. Kita akan tetap menjadi keluarga. Kita akan rujuk setelah ini semua berlalu. Ini hanya selembar kertas."

Sikap acuh tak acuhnya sungguh menakjubkan. Dia benar-benar tidak melihat kehancuran emosional yang disebabkannya.

Pengulangan "perceraian pura-pura" dan "rujuk" seperti mantra yang dia gunakan untuk meyakinkan dirinya sendiri.

Keesokan harinya, mereka berada di kantor pengacaranya.

Nindi membaca perjanjian itu dengan saksama. Anehnya, cukup adil, mungkin karena Bram ingin ini selesai dengan cepat dan tanpa keributan darinya.

Dia mengambil pena. Tangannya mantap.

Dia menandatangani namanya. Sebuah langkah pasti.

Bram menghela napas kecil, nyaris penuh kemenangan. "Bagus. Kalau begitu sudah beres."

Dia tidak bisa menyembunyikan kelegaannya.

"Bagaimana dengan Leo?" tanya Nindi, saat mereka berjalan keluar. "Dia ada kelas uji coba kamp robotik sore ini. Kamu janji akan mengantarnya."

Bram tampak bingung. "Oh, benar. Uh, ada urusan mendadak dengan Clara. Keponakannya, rupanya, baru pindah ke kota dan sangat suka robotik. Clara bertanya apakah keponakannya bisa mengambil jatah kelas uji coba Leo. Ini bantuan besar untuk kakaknya, ibu tunggal, kau tahu."

Nindi berhenti total. "Kamu memberikan jatah Leo? Kepada keponakan Clara?"

"Ini hanya kelas uji coba, Nindi. Dia bisa pergi lain kali. Keluarga Clara sedang mengalami banyak masalah."

Syok. Kemarahan. Kekecewaan yang mendalam. Dia sudah memprioritaskan keluarga besar Clara di atas putranya sendiri.

Nindi merasakan keterlepasan emosional total.

Pria ini, suaminya, adalah orang asing. Tindakannya tidak hanya cacat; mereka tercela.

Tidak ada lagi "mereka". Hanya ada dia dan Leo.

Dan dia akan melindungi Leo.

Perjalanan ke pengadilan terasa kabur oleh kepahitan dan ironi.

Mereka berdiri di hadapan hakim, menggumamkan jawaban yang diperlukan.

Begitu cepat, begitu impersonal. Sangat berbeda dari hari pernikahan mereka, yang penuh harapan dan tawa.

Bram praktis melompat-lompat di tempat, tidak sabar untuk selesai.

Saat hakim menyatakan mereka bercerai, ponsel Bram bergetar.

Dia meliriknya, senyum lebar merekah di wajahnya.

"Harus pergi," katanya, sudah berbalik. "Clara butuh bantuanku memilih tempat untuk pesta peluncuran. Ini bagus, Nindi. Waktu yang tepat."

Dia bahkan tidak menoleh ke belakang.

Nindi berdiri di sana, sendirian, surat cerai di tangannya.

Sebuah geli pahit menyentuh bibirnya. Waktu yang tepat memang. Untuknya.

Dia teringat hari-hari awal mereka. Gairah, mimpi yang mereka bagi.

Kapan semua ini menjadi begitu salah?

Itu dimulai secara halus. Keterlibatannya yang semakin meningkat dalam pekerjaannya, atau begitulah yang dia pikirkan.

Kemudian Clara masuk kembali ke dalam hidupnya, seorang kenalan lama dari kampus, ayahnya telah memberi Bram proyek besar pertamanya.

Bram merasa berutang budi. Clara mengeksploitasi itu.

"Persahabatan" itu tumbuh. Malam-malam yang larut, panggilan telepon yang berbisik.

Nindi telah buta, percaya.

Tidak lagi. Tidak ada jalan untuk kembali. Kesempatan kedua ini adalah anugerah, dan dia tidak akan menyia-nyiakannya.

Nindi berjalan ke Pegadaian.

Dia melepas cincin pertunangan berlian yang diberikan Bram. Dulu itu melambangkan cinta mereka.

Sekarang, rasanya seperti belenggu.

"Berapa untuk ini?" tanyanya pada petugas.

Petugas itu menyebutkan harga. Dia menerimanya tanpa menawar.

Ironi itu tidak luput darinya. Cincin yang Bram gunakan untuk berjanji selamanya kini mendanai pelariannya darinya.

Kembali ke rumah – rumah *nya* sekarang, menurut perjanjian, sampai dijual dan hasilnya dibagi – dia mulai berkemas.

Bukan hanya pakaiannya, tapi juga pakaian Leo.

Dia perlu membawa mereka jauh dari pengaruh beracun Bram, jauh dari kehadiran Clara yang merambah.

Awal yang baru. Di suatu tempat yang tenang.

"Bunda?" Leo masuk ke kamarnya, bibir bawahnya bergetar.

Dia mengangkat tabletnya, permainan robotik favoritnya di layar.

"Orang-orang kamp mengirim email. Mereka bilang jatahku untuk program musim panas... sudah hilang. Ayah memberikannya kepada seseorang bernama Lily. Keponakan Tante Clara."

Matanya berlinang air mata. "Padahal aku ingin sekali pergi."

Frustrasi. Kekhawatiran. Ini baru permulaan dari pengkhianatan Bram, bahkan di garis waktu yang baru ini.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Alkisah Bunga Teratai
9.8
Terinspirasi oleh simbol reinkarnasi bunga teratai, tujuh pemuda dengan kekuatan mistik luar biasa disatukan dalam satu tim khusus. Di bawah bimbingan Sagara Widyatama, mereka menjalani latihan keras demi menstabilkan dunia supranatural yang sedang kacau. Namun, misi berbahaya yang mempertaruhkan nyawa ini bukan sekadar pertarungan fisik. Kehadiran Sagara perlahan membuka tabir rahasia mengenai hubungan mendalam mereka di kehidupan masa lalu yang misterius.
Sampul Novel DON'T PLAY GAMES WITH ME
8.7
Pasca menikah di Pakistan, Adiba dan Syden menetap di Rusia. Gangguan mistis mulai menghantui Adiba serta ibu mertuanya di rumah baru mereka, namun Syden terus bersikap skeptis. Tragedi besar terjadi saat Adiba keguguran, memicu amarahnya untuk menuntut balas atas kematian sang buah hati. Sambil bersumpah demi Allah, wanita Pakistan ini tidak akan membiarkan siapa pun menghalanginya. Siapakah dalang keji di balik teror yang menghancurkan hidup Adiba?
Sampul Novel HILANGNYA JASAD KEMBARANKU
9.5
Kepergian Micail meninggalkan luka mendalam bagi Mecca, namun misteri hilangnya jasad sang kembaran justru membawanya ke ambang kegilaan. Ia tidak hanya harus bergelut dengan rasa duka yang hebat, tetapi juga obsesi untuk menemukan jenazah yang raib secara misterius tersebut. Teka-teki ini terus menghantui pikirannya, memaksa Mecca menelusuri jejak yang hilang demi ketenangan jiwa saudaranya yang telah tiada di tengah situasi yang kian mencekam.
Sampul Novel Kafan Hitam
9.6
Desa Ciboeh mencekam usai Mbah Atim, sang penjaga makam, ditemukan tewas tanpa kepala. Tragedi ini memicu serangkaian teror mistis yang mengusik ketenangan warga. Rojali, seorang pemuda lulusan pesantren, bertekad membongkar misteri kematian tersebut. Penyelidikannya justru menyeretnya ke rahasia kelam masa lalu tentang warga yang hilang, kelompok misterius Kalong Hideung, dan takdir hidupnya sendiri. Di tengah kegelapan, sebuah tawaran bantuan gaib datang menghampiri.
Sampul Novel Kisah Cinta di Batukarut
8.6
Lihar dipercaya memimpin perusahaan pasir di Batukarut menggantikan Pak Ajat yang menyimpan dendam. Meski dibantu Dadun dan Om Joni, tantangan berat muncul dari kecurangan pekerja hingga teror gaib garam misterius yang memicu kecelakaan beruntun. Di tengah kemelut bisnis, hubungan asmara Lihar dengan Yeti terancam oleh kehadiran Erom hingga memicu keributan warga. Meski teguh menghadapi sabotase mistis, Lihar harus tegar saat kariernya stabil namun kisah cintanya justru hancur.
Sampul Novel Misteri Menu Sarapan Mertua
9.3
Kehidupan baruku setelah menikah seharusnya penuh kebahagiaan saat aku memutuskan tinggal bersama mertua demi merawat mereka. Namun, kehangatan rumah itu perlahan sirna oleh suasana mencekam yang sulit dijelaskan. Ada sesuatu yang sangat ganjil pada perilaku kedua orang tua suamiku. Setiap pagi, misteri mulai menyelimuti meja makan, memicu kecurigaan bahwa ada rahasia gelap yang mereka sembunyikan di balik sikap tenang mereka selama ini.