Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Harga yang Harus Dibayar : Sugar Baby

Harga yang Harus Dibayar : Sugar Baby

Arina merupakan sosok gadis cerdas dan ambisius yang terjebak dalam pusaran dunia mafia setelah bertemu Alvaro. Sebagai pemimpin jaringan bisnis ilegal berpengaruh di kota, pria berusia awal 40-an tersebut terobsesi menjadikan Arina miliknya. Alvaro tidak ragu memanfaatkan kekayaan serta kekuasaannya demi mendapatkan apa yang diinginkan. Kini, kehidupan Arina berubah total saat dirinya dianggap sebagai permata berharga oleh sang penguasa gelap tersebut.
Bab
Bagikan

Bab 2

Pagi itu, Arina terbangun dengan perasaan gelisah. Setelah pertemuan aneh dengan Alvaro di klub malam, pikirannya terus terganggu. Namun, dia mencoba mengesampingkan semua itu dan fokus pada rutinitasnya. Dia masih memiliki pekerjaan di kafe, kuliah yang harus diurus, dan keluarganya yang selalu menjadi tanggung jawab besar baginya.

Namun, hidup memang tak pernah seindah yang dibayangkan. Begitu Arina tiba di kafe tempatnya bekerja, suasana terasa berbeda. Rekan-rekannya menatapnya dengan pandangan aneh, dan manajernya, Pak Budi, hanya menghela napas saat melihatnya.

"Pak Budi, ada apa? Kenapa semua orang menatap saya seperti itu?" tanya Arina, berusaha menghilangkan kegelisahan yang mulai merayap di hatinya.

Pak Budi menghela napas panjang. "Arina, bisa kita bicara di kantor sebentar?"

Perasaan tidak enak semakin menguat di dalam diri Arina. Dia mengikuti Pak Budi ke ruang kantor kecil di belakang kafe, mencoba menenangkan diri. Begitu pintu tertutup, Pak Budi memandang Arina dengan tatapan penuh simpati.

"Arina, aku minta maaf harus mengatakan ini, tapi kita terpaksa memutuskan kontrak kerjamu," kata Pak Budi dengan hati-hati.

Arina terdiam, mencoba mencerna apa yang baru saja dia dengar. "Apa? Kenapa? Apa saya melakukan kesalahan?"

Pak Budi menggeleng. "Bukan masalah performa kerjamu. Ini keputusan dari manajemen pusat. Mereka tidak memberi tahu alasan yang jelas, tapi kita harus mengikutinya."

Arina merasa dunia seakan runtuh di hadapannya. Pekerjaan di kafe itu adalah satu-satunya sumber penghasilannya. Tanpa itu, dia tidak tahu bagaimana cara membiayai kuliahnya, apalagi membantu ayahnya yang sedang sakit.

"Pak Budi, tolong, saya sangat membutuhkan pekerjaan ini. Saya tidak punya penghasilan lain," Arina memohon, suaranya mulai terdengar putus asa.

Pak Budi terlihat benar-benar menyesal. "Arina, aku ingin membantumu, tapi keputusan ini sudah final. Aku harap kamu bisa menemukan pekerjaan lain secepatnya."

Arina mengangguk pelan, merasa kehilangan kata-kata. Dia merasa hampa saat meninggalkan kafe itu, membawa barang-barangnya dalam kardus kecil. Langkahnya terasa berat, seakan setiap langkah adalah beban yang harus dia pikul.

Saat sampai di rumah, Arina disambut oleh wajah dingin ibu tirinya, Bu Ratna. Wanita itu selalu saja tampak tidak puas dengan apa pun yang dilakukan Arina. Sejak menikah dengan ayahnya, Bu Ratna tak pernah benar-benar menyukai Arina, menganggapnya sebagai beban yang harus dia tanggung.

"Arina, kamu darimana saja? Kenapa baru pulang?" tanya Bu Ratna dengan nada tajam.

Arina mencoba menjawab dengan tenang. "Bu, saya baru saja pulang dari kafe. Saya… saya dipecat."

Mata Bu Ratna langsung melebar. "Apa? Dipecat? Kamu ini bagaimana sih? Sudah tahu kita butuh uang untuk biaya rumah sakit bapakmu, kamu malah dipecat!"

Arina menundukkan kepalanya, merasa malu dan sedih. "Saya tidak tahu kenapa, Bu. Mereka tidak memberi alasan yang jelas."

"Ah, alasan apa lagi! Kamu ini memang tidak becus!" hardik Bu Ratna. "Kamu pikir kita bisa hidup tanpa uang? Bapakmu masih di rumah sakit, dan kita harus membayar biaya rumah sakit yang tidak murah. Belum lagi kuliahmu itu, apa kamu pikir semua itu gratis?"

Air mata Arina mulai menggenang di pelupuk matanya. Dia tahu, semua yang dikatakan Bu Ratna ada benarnya. Tetapi dia merasa terpojok, tidak tahu harus berbuat apa.

"Bu, saya sedang mencari pekerjaan lain, tapi tolong beri saya waktu," pinta Arina, suaranya bergetar menahan tangis.

Bu Ratna memutar bola matanya, tampak tidak peduli. "Kamu ini memang menyusahkan. Seharusnya kamu bersyukur aku masih membiayai hidupmu setelah ibumu meninggal. Tapi kamu malah terus saja menjadi beban."

Arina merasa kata-kata itu menusuk hatinya. Sejak kecil, dia selalu merasa tidak diinginkan oleh ibu tirinya. Ayahnya memang mencoba untuk melindungi Arina, tetapi sejak sakit, posisinya melemah, dan Bu Ratna semakin menunjukkan kekuasaan penuh di rumah.

"Kamu harus bekerja, Arina! Jangan harap bisa terus menganggur di rumah ini. Aku sudah capek-capek membiayai hidupmu. Sekarang saatnya kamu membayar semua itu, terutama biaya rumah sakit bapakmu," lanjut Bu Ratna dengan nada yang semakin tinggi.

Arina mengangguk pelan, meski hatinya merasa hancur. "Saya akan mencari pekerjaan secepatnya, Bu."

"Kamu harus cepat! Aku tidak mau melihat kamu cuma duduk-duduk di rumah ini tanpa hasil apa-apa!" Bu Ratna mengakhiri pembicaraan itu dengan meninggalkan Arina sendirian di ruang tamu.

Arina akhirnya tak mampu menahan air matanya. Dia terisak pelan, merasa dunia benar-benar tidak adil padanya. Tidak ada tempat untuknya mengadu, tidak ada orang yang bisa memberinya pelukan hangat atau kata-kata penghiburan. Semuanya terasa berat dan seolah tidak ada jalan keluar.

---

**Waktu Berlalu**

Seminggu setelah dipecat, Arina sibuk mencari pekerjaan baru. Dia melamar ke berbagai tempat, namun nasib baik sepertinya masih enggan mendekatinya. Setiap kali dia mendapatkan panggilan wawancara, hasilnya selalu sama—ditolak.

Keputusasaan semakin menghantuinya ketika biaya kuliah mulai jatuh tempo. Belum lagi tagihan rumah sakit yang menumpuk. Arina tahu dia harus menemukan solusi cepat, tapi dia tidak tahu harus mulai dari mana.

Suatu malam, setelah lelah mencari pekerjaan seharian, Arina pulang ke rumah dengan langkah gontai. Begitu sampai di rumah, dia mendengar suara-suara dari ruang tamu. Ternyata Bu Ratna sedang berbicara di telepon.

"Iya, saya tahu, tapi anak ini sangat merepotkan. Kalau saja bukan karena almarhum ibunya, saya sudah lama mengusir dia," suara Bu Ratna terdengar tajam dan penuh kebencian.

Arina berhenti sejenak, mendengarkan lebih jauh.

"Dia harus segera mencari pekerjaan. Saya tidak mau menanggungnya lebih lama lagi. Biaya rumah sakit semakin besar, dan dia malah sibuk dengan kuliahnya yang tidak jelas kapan selesai. Saya sudah tidak sabar lagi."

Arina merasa hatinya semakin hancur mendengar percakapan itu. Dia tahu Bu Ratna tidak menyukainya, tapi mendengar kata-kata itu secara langsung membuatnya merasa tidak berharga.

Setelah Bu Ratna menutup telepon, Arina masuk ke dalam rumah dengan wajah yang dipaksakan untuk tetap tenang.

"Bu, saya sudah mencoba melamar pekerjaan ke beberapa tempat, tapi hasilnya belum ada," kata Arina, berusaha sebaik mungkin untuk tidak terdengar putus asa.

Bu Ratna memandangnya dengan dingin. "Kamu harus coba lebih keras lagi. Kita tidak punya banyak waktu, Arina. Kalau kamu terus seperti ini, aku tidak tahu apa yang akan terjadi dengan bapakmu. Kamu harus bertanggung jawab!"

Arina mengangguk pelan. "Saya akan mencari cara, Bu."

"Bagus, karena kalau kamu tidak bisa mendapatkan pekerjaan, aku yang akan mencarikan untukmu. Dan jangan harap itu akan semudah pekerjaan di kafe. Kamu harus berani menerima apapun, mengerti?" Bu Ratna berkata dengan nada mengancam.

Arina menunduk. "Iya, Bu."

---

Malam itu, Arina tidak bisa tidur. Dia terus memikirkan kata-kata Bu Ratna dan situasi yang sedang dihadapinya. Segala hal terasa sangat menekan. Dia merasa terjebak dalam lingkaran setan yang tidak bisa dia hindari.

Sambil memandangi langit-langit kamar, tiba-tiba ingatan tentang Alvaro kembali menghantuinya. Pria itu menawarkan kehidupan yang lebih mudah, sebuah jalan keluar dari segala kesulitan yang dihadapinya saat ini. Tapi dia tahu, menerima tawaran itu berarti menyerahkan diri ke dalam dunia yang penuh bahaya.

Namun, semakin lama dia memikirkannya, tawaran itu semakin menggoda. Apa mungkin dia bisa bertahan dalam situasi ini? Atau akankah dia menyerah pada keadaan dan menerima apa yang ditawarkan Alvaro?

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta CEO dalam Jebakan
8.5
Gabriella, gadis yatim piatu yang malang, kehilangan rumah warisannya akibat penggusuran paksa oleh Perusahaan Quebracha. Saat menuntut keadilan pada sang CEO, Max Evans, sebuah insiden tragis justru merampas kehormatannya. Alih-alih merasa bersalah, Max menuduh Gabriella sebagai wanita bayaran yang sengaja menjebaknya demi uang. Di tengah kebencian dan tuduhan palsu, mampukah keduanya menyadari bahwa ada dalang yang sedang mengadu domba mereka?
Sampul Novel DICERAI SUAMI DINIKAHI BOS KEJAM
9.3
Tiga tahun Hana mengabdi sebagai istri penurut bagi Bima, namun hatinya tetap dingin. Pernikahan tanpa sentuhan itu akhirnya kandas setelah kakek Bima wafat, membuat Hana diceraikan demi kekasih pilihan suaminya. Di tengah keterpurukan, takdir mempertemukannya dengan Matheo. Sebuah kesalahpahaman fatal membuat Hana dituduh sebagai mata-mata oleh bos kejam tersebut, sebuah pertemuan yang lantas menjungkirbalikkan seluruh sisa hidupnya.
Sampul Novel Godaan Ranjang Sang CEO-tamat
8.0
Demi menyelamatkan ayahnya dari kanker paru-paru, Gwen Florine terpaksa menerima tawaran Nicholas Kennedy, mantan kekasih yang meninggalkannya sepuluh tahun silam. Nich bersedia menanggung biaya operasi sebesar lima puluh ribu dolar asalkan Gwen bersedia menikahinya. Gwen setuju, namun dengan syarat pernikahan mereka hanyalah kontrak belaka. Di tengah luka lama yang belum sembuh, mampukah Gwen menjaga hatinya agar tidak kembali terjerat pesona sang CEO?
Sampul Novel Hot Billionaire
8.6
Kehidupan Ariel dipenuhi cemoohan karena statusnya sebagai anak dari hubungan gelap. Meski menyandang nama besar sang ayah, ia tetap dianggap sebagai noda hitam yang tak termaafkan. Di tengah penderitaan itu, takdir mempertemukannya dengan Shawn Geovan, seorang miliarder sempurna yang memiliki dunia berbeda. Akankah Shawn mampu menjadi pelindung bagi Ariel dan menjaganya dari hinaan dunia? Ikuti perjuangan cinta mereka yang penuh tantangan dan perbedaan kasta.
Sampul Novel Istri Yang Dilupakan CEO
8.1
Bagi Noel, pernikahan dengan Bianca hanyalah transaksi bisnis demi kelancaran kerja sama perusahaan. Ia mengabaikan keberadaan istrinya dan menanti saat yang tepat untuk berpisah secara resmi. Namun, ketika waktu perceraian tiba, sikap Noel mendadak berubah drastis. Ia menolak keras melepaskan Bianca tanpa alasan yang jelas. Di tengah dinginnya hubungan mereka, Noel justru bersikeras mempertahankan ikatan yang awalnya ia anggap tidak berarti sama sekali.
Sampul Novel Kontrak Ranjang Sang Kapten
9.4
Dara, pramugari Skyward Airlines, hancur saat memergoki kekasih pilotnya berkhianat. Untuk membalas dendam, ia nekat menghabiskan malam panas bersama pria asing yang dikira gigolo. Sialnya, pria itu adalah Arjuna, pilot senior sekaligus pewaris tunggal maskapai tempatnya bekerja. Kini Dara terjebak dalam konsekuensi rumit, terikat rahasia dengan pria yang memegang kendali penuh atas karier serta masa depannya di dunia penerbangan.