
Harga yang Harus Dibayar : Sugar Baby
Bab 3
Arina menghabiskan hari-harinya dengan perasaan penuh tekanan. Setelah dipecat dari pekerjaannya di kafe, ia merasa putus asa namun tak punya pilihan selain terus mencari pekerjaan baru. Ia tahu, waktu tidak berpihak padanya. Ayahnya masih dirawat di rumah sakit, dan tagihan biaya kuliah semakin mendesak. Namun, mencari pekerjaan yang sesuai dengan jadwal kuliahnya terbukti lebih sulit daripada yang ia bayangkan.
Setelah beberapa hari tanpa hasil, Arina akhirnya mendapatkan kabar dari salah satu kafe yang ia lamar. Dengan penuh harapan, ia bergegas ke sana untuk wawancara. Kafe itu berada di pusat kota, dengan suasana yang cukup sibuk. Ini seharusnya menjadi peluang bagus, pikirnya.
"Wah, kamu datang tepat waktu," kata manajer kafe itu, seorang pria ramah bernama Pak Rudi, ketika menyambutnya.
"Terima kasih, Pak," jawab Arina dengan senyum yang penuh harap.
Wawancara berjalan lancar. Pak Rudi tampak terkesan dengan pengalaman kerja Arina sebelumnya. Namun, senyumnya sedikit memudar ketika ia berbicara tentang jadwal kerja.
"Arina, aku lihat kamu cukup berpengalaman dan pasti akan cocok bekerja di sini. Tapi, aku harus jujur, pekerjaan ini membutuhkan komitmen penuh waktu. Kita sangat sibuk, dan aku butuh seseorang yang bisa bekerja sepanjang hari, setidaknya delapan jam setiap hari," kata Pak Rudi dengan nada yang menegaskan.
Arina merasa jantungnya berdebar kencang. Ini adalah pekerjaan yang dia butuhkan, tapi jadwal itu akan berbenturan dengan kuliahnya. "Pak, saya sangat ingin bekerja di sini, tapi saya masih kuliah. Apakah mungkin untuk mendapatkan jadwal paruh waktu?"
Pak Rudi menggelengkan kepala dengan sedikit penyesalan. "Sayangnya, tidak. Kita benar-benar butuh tenaga full-time. Aku tahu kamu masih kuliah, tapi kita harus mengikuti aturan kerja di sini."
Arina menunduk, merasa kecewa. "Saya mengerti, Pak. Terima kasih atas kesempatannya."
Dia meninggalkan kafe itu dengan langkah yang berat. Pekerjaan yang tampaknya menjanjikan itu akhirnya tidak bisa dia ambil. Rasa putus asa mulai merayap dalam hatinya, semakin kuat dengan setiap penolakan yang dia terima.
---
Beberapa hari kemudian, Arina pulang ke rumah dengan perasaan lelah setelah seharian mencari pekerjaan lain. Setiap tempat yang dia datangi selalu memberikan jawaban yang sama—mereka membutuhkan tenaga full-time, sesuatu yang tak bisa dia penuhi karena kuliahnya.
Saat tiba di rumah, Arina menemukan ibu tirinya, Bu Ratna, duduk di ruang tamu sambil minum teh. Ada sesuatu dalam ekspresi wajah Bu Ratna yang membuat Arina merasa was-was. Biasanya, Bu Ratna selalu terlihat marah atau kesal, tapi kali ini ada senyum tipis yang tampak aneh di wajahnya.
"Arina, kemari. Ibu ada yang mau dibicarakan," kata Bu Ratna dengan nada yang lebih tenang dari biasanya.
Arina mendekat dengan ragu, duduk di sofa berhadapan dengan ibu tirinya. "Ada apa, Bu?"
Bu Ratna meletakkan cangkir tehnya dan menatap Arina dengan pandangan yang serius. "Ibu dengar dari teman, ada pekerjaan yang bisa kamu ambil. Pekerjaannya cukup menjanjikan, dan kamu bisa mendapatkan uang dalam waktu cepat."
Mendengar ini, hati Arina sedikit lega. Dia sangat membutuhkan pekerjaan itu, dan jika ibunya sudah berbicara langsung seperti ini, berarti peluangnya cukup bagus. "Benarkah, Bu? Pekerjaan apa itu?"
Bu Ratna tersenyum lebih lebar, namun senyum itu tidak membuat Arina merasa nyaman. "Pekerjaannya di dunia malam. Kamu tahu kan, pekerjaan seperti itu? Menjadi wanita malam."
Arina terkejut, darahnya terasa mendidih di dalam tubuhnya. "Apa? Ibu bercanda, kan?"
"Tidak, Arina. Ini serius," jawab Bu Ratna tanpa ragu. "Teman ibu mengatakan tempat itu butuh banyak tenaga muda seperti kamu. Gajinya besar, kamu bisa dengan cepat mendapatkan uang untuk biaya rumah sakit bapakmu dan juga kuliahmu. Ini satu-satunya jalan."
Arina menggelengkan kepala, seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Bu, saya tidak bisa bekerja di tempat seperti itu. Itu bukan pekerjaan yang baik!"
Bu Ratna mengerutkan kening, kemarahannya mulai terlihat. "Kamu pikir kita punya banyak pilihan? Kamu sudah gagal mendapatkan pekerjaan lain, kan? Bagaimana kita bisa membayar semua ini? Bapakmu masih di rumah sakit, dan biaya yang harus kita bayar semakin besar setiap harinya. Apa kamu mau melihat bapakmu mati karena kita tidak mampu membayarnya?"
Arina merasa dadanya sesak. Dia tahu situasi mereka memang sangat sulit, tapi menjadi wanita malam bukanlah solusi yang bisa dia terima. "Bu, saya akan terus mencari pekerjaan lain. Pasti ada pekerjaan yang lebih baik."
"Sudah berapa lama kamu mencari pekerjaan lain? Hasilnya apa? Nol besar, Arina! Kamu hanya menyusahkan kita semua di sini!" Bu Ratna mulai berbicara dengan nada yang lebih tinggi, emosinya meluap. "Kamu pikir kamu bisa terus menghindar dari kenyataan? Dunia ini keras, dan kadang kita harus melakukan apa yang tidak kita sukai. Kamu tidak bisa hidup dengan idealisme kosong!"
Arina merasa air mata mulai menggenang di matanya. Dia merasa terjebak, tak tahu harus berbuat apa. "Tapi Bu… saya tidak bisa bekerja di tempat seperti itu. Itu bukan saya."
"Kamu pikir hidup ini tentang apa? Apa yang kamu anggap benar atau salah tidak ada artinya kalau kita tidak bisa bertahan hidup! Ini bukan hanya tentang kamu, Arina. Ini tentang bapakmu, keluargamu. Kalau kamu tidak bekerja, siapa yang akan menanggung semua ini? Mau makan apa kita?"
Kata-kata Bu Ratna menghantam Arina seperti pukulan telak. Dia tahu ibu tirinya benar tentang satu hal—keluarganya membutuhkan uang, dan mereka tidak bisa terus seperti ini. Tapi, menerima pekerjaan yang ditawarkan Bu Ratna adalah sesuatu yang melawan semua prinsip dan nilai yang dia miliki.
Arina mencoba mencari jawaban, tapi pikirannya kacau. Dia merasa begitu sendirian, tak ada orang yang bisa dia ajak bicara atau meminta bantuan. Teman-temannya pun, sebagian besar hanya sibuk dengan urusan masing-masing. Mereka tak akan mengerti apa yang dia hadapi.
"Bu… tolong, beri saya waktu. Saya pasti bisa menemukan pekerjaan lain. Saya akan bekerja keras, apapun itu, tapi jangan memaksa saya untuk melakukan ini," kata Arina dengan suara yang bergetar, mencoba bertahan.
Bu Ratna mendesah, tampak frustrasi. "Kamu keras kepala sekali. Hidup ini tidak semudah yang kamu pikirkan, Arina. Kadang, kita harus mengorbankan sesuatu untuk bisa bertahan. Kamu sudah dewasa, kamu harus mulai berpikir seperti orang dewasa."
Arina tidak menjawab. Dia hanya menunduk, mencoba menahan air mata yang sudah hampir tumpah. Bu Ratna memandangnya sejenak, lalu berdiri.
"Aku sudah memberimu pilihan, Arina. Terserah kamu mau ambil atau tidak, tapi jangan harap ada pilihan lain. Kalau kamu tidak mau bekerja, kita tidak punya uang. Dan kamu tahu apa yang akan terjadi dengan bapakmu kalau kita tidak bisa membayar tagihan rumah sakit," kata Bu Ratna dengan nada yang dingin sebelum meninggalkan ruangan.
Arina tetap duduk di sofa, merasa begitu terpuruk. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Semua jalan terasa buntu, dan dia tidak bisa melihat cahaya di ujung terowongan ini.
Setelah beberapa saat, Arina memutuskan untuk pergi ke kamarnya. Dia butuh waktu untuk berpikir, untuk mencari cara agar bisa keluar dari situasi ini. Namun, semakin dia memikirkan masalahnya, semakin dalam rasa putus asanya. Mungkinkah ini akhir dari semua perjuangannya? Apakah dia harus menyerah pada keadaan dan melakukan sesuatu yang sangat bertentangan dengan hati nuraninya?
Arina tidak bisa tidur malam itu. Dia terus merenung, memikirkan segala kemungkinan yang bisa dia ambil. Namun, tidak ada yang terasa benar. Pikirannya kembali pada Alvaro, pria yang menawarkan dirinya kehidupan yang lebih mudah. Mungkinkah dia harus mendatangi pria itu? Tapi, apakah dia siap untuk menyerahkan dirinya pada dunia yang penuh dengan bahaya dan ketidakpastian?
Pagi harinya, Arina bangun dengan perasaan hampa. Kepalanya terasa berat, seolah dipenuhi dengan awan gelap yang menghalangi semua harapan. Dia tahu, waktu semakin mendesaknya. Tapi, sampai kapan dia bisa bertahan dalam keadaan seperti ini?
Anda Mungkin Juga Suka





