Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Harga Cinta Terpendam

Harga Cinta Terpendam

Demi menyelamatkan Bram, aku pernah menghancurkannya. Kini ia kembali sebagai pengacara kejam yang ingin merampas putriku, Kania. Bram tak tahu Kania adalah darah dagingnya, atau bahwa aku sedang sekarat karena leukemia. Saat aku berjuang melawan maut dan tuntutan hukum, Bram justru menjadi senjata yang menghancurkanku. Di akhir hayat, aku menyerahkan segalanya demi Kania dan meninggalkan surat yang akan meruntuhkan dunia sempurna pria yang kucintai.
Bab
Bagikan

Bab 1

Enam tahun lalu, aku menghancurkan pria yang paling kucintai demi menyelamatkannya. Hari ini, dia kembali ke dalam hidupku untuk merebut satu-satunya yang tersisa dariku.

Aku sekarat karena leukemia, hidupku tinggal hitungan bulan. Satu-satunya harapanku adalah menghabiskan sisa waktuku bersama putriku, Kania. Tapi aku digugat hak asuh oleh adik iparku, saudara dari mendiang suamiku, yang menuntut harta gono-gini yang tak kumiliki.

Lalu, pengacara lawan masuk. Dia adalah Bram Prasetyo.

Dia hanya berdiri, wajahnya sedingin es, saat kliennya menamparku. Dia mengancam akan merebut putriku, menyebutku ibu yang tidak becus.

"Tanda tangani," katanya, suaranya menusuk. "Atau kita bertemu di pengadilan, dan aku akan mengambil segalanya darimu. Dimulai dari putrimu."

Dia tidak tahu Kania adalah anaknya. Dia tidak tahu aku sedang sekarat. Dia hanya tahu dia membenciku, dan dia sekarang punya keluarga baru dengan wanita yang keluarganya telah menghancurkan keluargaku.

Aku telah mengorbankan segalanya untuk melindunginya, mendorongnya pergi dengan kebohongan kejam agar dia bisa punya masa depan. Tapi pengorbananku telah mengubahnya menjadi monster, dan dia sekarang adalah senjata yang digunakan untuk menghancurkanku sepenuhnya.

Untuk menyelamatkan putri kami, aku menyerahkan uang pengobatanku dan mengirimnya pergi jauh. Saat dia merayakan kelahiran anak barunya di lantai atas, aku mati sendirian di ranjang rumah sakit.

Tapi aku meninggalkan sepucuk surat untuknya. Surat yang akan membakar dunia sempurnanya hingga menjadi abu.

Bab 1

POV Elara Wijaya:

Enam tahun lalu, aku menghancurkan satu-satunya pria yang pernah kucintai demi menyelamatkannya. Hari ini, dia kembali ke dalam hidupku untuk merebut satu-satunya yang tersisa dariku.

Ruang mediasi itu dingin, udaranya pekat dengan aroma kopi murahan dan kebencian yang tak terucap. Di seberang meja mahoni yang mengilap, Ratna Susanti, saudara dari mendiang suami kontrakku, menyeka matanya yang kering dengan tisu. Sebuah pertunjukan duka, sekosong pernikahan yang menghubungkan kami.

Dukaku sendiri adalah rasa sakit yang sunyi dan konstan, seorang teman yang sudah biasa menemaniku, sama seperti kelelahan yang mengendap jauh di tulang-tulangku. Leukemia, kata dokter. Sebuah bom waktu yang tak sanggup kulihat detiknya. Yang kuinginkan hanyalah menghabiskan sisa waktuku bersama putriku, Kania, bukan di ruangan steril memperjuangkan gugatan hak asuh yang tak berdasar.

Aku menyetujui mediasi ini untuk menghindari biaya dan publisitas persidangan, berharap penyelesaian damai akan membuat Ratna dan keserakahannya lenyap.

Lalu pintu terbuka, dan duniaku jungkir balik.

Bram Prasetyo.

Dia bukan lagi pemuda yang tawanya menggema di kenangan kuliahku, yang pernah menjiplak rasi bintang di punggungku di kamar kosnya yang sempit. Pria ini adalah orang asing, terpahat dari es dan ambisi. Jasnya dijahit dengan sempurna, rahangnya sekeras batu, dan matanya—mata yang sama dalam dan penuh perasaan yang pernah membuatku tersesat—kini dingin, hampa, dan penuh perhitungan. Dia adalah pengacara lawan. Tentu saja. Semesta punya selera humor yang kejam.

Suara Ratna, cempreng dan menusuk telinga, memecah keheningan. "Itu dia. Si janda hitam. Lihat dia, Bram. Setetes air mata pun tak ada untuk kakakku yang malang."

Aku tersentak, pandanganku terpaku pada serat kayu meja.

"Dia mungkin selingkuh selama ini," desis Ratna, suaranya meninggi. "Kakakku itu orang baik, malaikat, mau menerima wanita sepertinya. Pewaris jatuh miskin dengan anak haram!"

Mediator, seorang wanita lelah berusia lima puluhan, berdeham. "Ibu Susanti, mari kita jaga sikap profesional."

Ratna mengabaikannya, matanya menyorot tajam padaku. "Aku mau kompensasi. Untuk penderitaan batin kakakku. Dia meninggal karena patah hati, tahu!"

"Dia meninggal karena kanker, Ratna," kataku, suaraku nyaris tak terdengar.

"Karena kamu!" jeritnya, menerjang ke seberang meja. Tangannya mendarat di pipiku, kekuatannya membuat kepalaku tertoleh ke samping. Rasa perihnya tajam, tapi tak ada apa-apanya dibandingkan es yang membanjiri pembuluh darahku saat aku menatap Bram.

Dia hanya berdiri di sana. Tak bergerak. Wajahnya topeng tanpa ekspresi saat dia melihat kliennya menyerangku. Bram yang kukenal dulu akan melemparkan dirinya ke depan bus untukku. Pria ini bahkan tidak mau melintasi ruangan.

Aku tidak bergerak. Aku tidak berteriak. Aku hanya menyerap pukulan itu, harga diriku satu-satunya perisai yang tersisa.

"Cukup, Ratna," kata Bram akhirnya, suaranya tanpa emosi. Tenang, terukur, suara seorang pengacara yang menguasai ruang sidang, bukan seorang pria yang menyaksikan wanita yang pernah dicintainya dipukul.

Aku teringat dia meneriakkan namaku di tengah badai, wajahnya basah oleh hujan dan air mata, memohon agar aku tidak meninggalkannya. Kontras itu adalah pukulan fisik, merenggut udara dari paru-paruku.

Dia melangkah maju, meletakkan sebuah map di atas meja di depanku dengan bunyi pelan. Jari-jarinya yang panjang dan elegan menyentuh kertas itu. "Tanda tangani ini."

Aroma parfumnya, wangi bersih dan tajam yang tidak kukenali, memenuhi ruang di antara kami. Aku teringat saat dia menulis 'Aku akan mencintai Elara Wijaya selamanya' di serbet bar dan menyodorkannya padaku, menyebutnya kontrak yang mengikat. Hatiku terasa diremas.

Aku menunduk, tak sanggup menatap matanya. Kenangan malam terakhir kami membakar di balik kelopak mataku. Wajahnya, hancur dan bingung saat aku melontarkan kata-kata paling kejam yang bisa kubayangkan. "Kamu itu cuma proyek amalku, Bram. Proyek kecil yang menyenangkan. Apa kamu benar-benar berpikir orang sepertiku akan berakhir dengan orang sepertimu?"

Itu semua bohong, setiap katanya, dirancang untuk memisahkannya dari bencana hidupku, untuk melindunginya dari rentenir dan penjahat yang dilepaskan oleh kehancuran ayahku. Tapi di ruangan dingin dan steril ini, kebohongan itu terasa seperti satu-satunya kebenaran yang ada di antara kami.

"Kamu menipu kakakku," cibir Ratna, kembali ke kursinya tapi masih bergetar karena amarah. "Kamu berutang pada kami. Kalau kamu tidak bisa bayar, kami akan ambil anak itu. Dia bisa bekerja untuk melunasi utangmu."

Kepalaku terangkat, raungan protektif membuncah di dadaku. "Kamu tidak akan menyentuh putriku."

Aku meraih pulpen, tapi tanganku gemetar hebat. Kemoterapi meninggalkan getaran yang tak bisa kukendalikan.

"Marco dan aku punya kesepakatan," kataku, suaraku bergetar. "Itu adalah perjanjian bisnis. Dia butuh perawat, dan aku butuh nama untuk putriku agar dia tidak di-bully."

"Bohong!" jerit Ratna. "Kakakku tidak akan—"

"Diam," perintah Bram, dan wanita itu terdiam. Dia mengalihkan tatapan sedingin esnya padaku. "Elara Wijaya. Elara Wijaya yang hebat. Aku tidak pernah menyangka akan melihat hari di mana kamu tawar-menawar recehan dalam sebuah mediasi."

Napas ku tercekat. Dia tahu persis di mana harus menyayat.

"Jangan buang-buang waktu lagi," lanjutnya, nadanya singkat dan profesional. "Klien saya bersedia menerima lima miliar rupiah. Harga yang kecil untuk mempertahankan putrimu, bukan begitu? Untuk seseorang yang dulu biasa menghabiskan sebanyak itu untuk satu pesta."

Aku menatap perjanjian di depanku, tinta hitamnya kabur oleh selaput air mata yang tak tertumpah. Aku teringat lagi wajahnya malam itu, cara bahunya merosot kalah, bayangan siluetnya yang hancur terpatri dalam ingatanku. Sekarang, dia penuh dengan sudut tajam dan kesuksesan, seorang pria yang diciptakan kembali oleh pengkhianatanku.

"Aku tidak punya uang sebanyak itu, Bram," bisikku, pengakuan itu merenggut sisa harga diriku. "Dan kesehatanku... aku tidak bisa..."

"Aku tidak tertarik dengan alasanmu, Ela," potongnya, suaranya seperti es yang retak. "Ini masalah hukum, bukan cerita sedih. Perasaanmu tidak relevan di sini."

Dia mencondongkan tubuh, mengetukkan jari terawatnya di garis tanda tangan. "Tanda tangani. Atau aku akan menemuimu di pengadilan, dan aku akan mengambil segalanya darimu. Dimulai dari putrimu."

Setetes air mata panas lolos dan menggores pipiku. Aku menyekanya dengan marah. Tidak. Aku tidak akan memberinya kepuasan. Aku tidak akan memberi mereka apa yang mereka inginkan.

Waktuku tinggal sedikit. Beberapa minggu. Mungkin beberapa bulan, jika aku beruntung. Setiap detik berharga, dan aku tidak akan menghabiskannya melawan pertempuran yang sia-sia melawan pria yang memegang masa laluku, dan kini masa depanku, di tangannya. Tapi aku tidak bisa kehilangan Kania.

Dia melihat semangat juangku padam. Dia melihatku hancur.

"Di pengadilan, Ela," peringatnya, suaranya bisikan rendah yang menusuk, "kamu akan tahu aku tidak punya belas kasihan."

Senyum pahit menyentuh bibirku. "Aku tahu. Aku sudah seperti mayat hidup, Bram."

Ponselnya bergetar di atas meja, menyala dengan gambar yang menghancurkan kepingan terakhir hatiku yang rapuh. Itu adalah foto lock screen dirinya dan seorang wanita cantik berwajah lembut, kepalanya bersandar di bahunya. Adelia Suryo. Keluarganya yang mengatur kehancuran keluargaku. Di foto itu, Adelia menggendong seorang anak laki-laki kecil, dan tangannya yang lain bertumpu pada perut yang sedikit membuncit.

Dia sudah menikah. Dia punya keluarga. Keluarga baru.

Udara di paru-paruku berubah menjadi abu. Semua harapan bodoh dan rahasia yang kupegang selama enam tahun—bahwa mungkin, suatu hari nanti, dia akan mengerti—semuanya mati pada saat itu.

Aku meraba-raba tas tanganku yang usang di lantai, dorongan putus asa untuk melarikan diri menguasaiku. Tanganku gemetar begitu parah hingga tas itu terlepas, isinya tumpah ke lantai. Lipstik, koin receh, dan selusin botol obat berwarna kuning. Obat penyelamat hidupku, obat perpanjangan umurku, berserakan di kakinya.

Dia berdiri untuk pergi, tapi kemudian dia membeku. Tatapannya turun dari wajahku ke lantai, lalu kembali ke atas. Secercah sesuatu—kebingungan, kecurigaan—melintas di wajahnya untuk pertama kalinya.

Dia melangkah ke arahku, suaranya dangerously quiet. "Gadis itu, Kania. Berapa umurnya?" Sebelum aku bisa menjawab, matanya menyipit. "Siapa ayahnya, Ela?"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Sugar Baby
8.8
Tachi Gumama, seorang mucikari, merasa terhina saat Padrone Ricco menolak tawaran pelacur andalannya. Padahal, Padrone dikenal sebagai miliarder Manhattan yang sangat setia kepada istrinya, mendiang Nyonya Deceduto Ricco. Penolakan ini memicu kecurigaan Tachi bahwa pria kaya tersebut sebenarnya menyembunyikan seorang gadis simpanan. Benarkah sosok suami sempurna ini memiliki rahasia gelap di balik kesetiaannya, ataukah tuduhan Tachi hanyalah sebuah kekeliruan?
Sampul Novel Cinta Diantara
8.9
Demi kehormatan keluarga, Aisyah terpaksa menikahi pria asing yang ternyata sudah memiliki putra bernama Haidar. Seiring waktu, benih cinta mulai tumbuh, namun Aisyah justru menemukan sisi gelap sang suami yang tersembunyi rapat. Saat rahasia kelam dan bayang-bayang masa lalu kembali menghantui, ia terjebak dalam dilema besar. Haruskah ia tetap bertahan, menghadapi masa lalunya, atau memilih untuk hidup sendiri? Sebuah kisah penuh rahasia dan pilihan hati.
Sampul Novel Dokter, Aku Cinta Kamu
8.0
Kehidupan tenang Raka, seorang dokter spesialis penyakit dalam, mendadak terusik sejak menangani operasi usus buntu Dea. Gadis itu terobsesi mengejarnya, bahkan berani mengaku sebagai kekasihnya di depan orang tua. Meski awalnya Raka merasa terganggu oleh perhatian Dea, segalanya berubah saat Dea bertunangan dengan pria lain bernama Rafa. Merasa kehilangan, Raka baru menyadari perasaannya. Begitu tahu pertunangan itu batal, ia kini berbalik mengejar cinta Dea.
Sampul Novel Kau Menikahi Aku Dengan Benci
8.0
Anjani terjepit dalam dilema saat suaminya, Prakasa, menghilang saat bertugas. Di tengah duka, ia dipaksa menikahi Arjuna demi menggantikan adiknya yang kabur. Sebagai dokter spesialis, Anjani justru dipandang rendah dan dianggap hanya mengincar harta oleh keluarga Arjuna. Namun, situasi makin rumit ketika Prakasa tiba-tiba muncul kembali. Kini, Anjani harus menghadapi konflik legalitas pernikahan dan kebencian Arjuna yang perlahan mulai berubah menjadi rasa cinta.
Sampul Novel Kembalilah, Cintaku: Merayu Mantan Istriku yang Terabaikan
9.0
Tiga tahun Joelle mencoba meluluhkan hati Adrian, namun ia gagal karena pria itu mencintai wanita lain. Adrian hanya menjanjikan kebebasan jika Joelle memberinya anak. Saat Joelle berjuang melahirkan, Adrian justru pergi bersama kekasihnya. Setelah kewajibannya tuntas, Joelle memilih pergi dan memutus semua ikatan. Ironisnya, Adrian barulah tersadar dan kini bersujud memohon agar mantan istrinya itu bersedia kembali ke pelukannya.
Sampul Novel Langit Jam 4 Sore
8.2
Divia Putri Gayatri adalah gadis pemimpi yang mengagumi kedamaian langit pukul empat sore. Ia berharap takdir hidupnya akan seelok cakrawala itu. Tanpa diduga, Divia justru menemukan tambatan hati saat ia tidak sedang mencari cinta. Pertemuannya dengan Arman yang begitu sinematik meninggalkan kesan mendalam yang tak terlupakan. Namun, ketika bayang-bayang masa lalu mulai mengancam kebahagiaan mereka, mampukah cinta mereka bertahan melawan ujian takdir yang berat?