Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Harga Cinta Terpendam

Harga Cinta Terpendam

Demi menyelamatkan Bram, aku pernah menghancurkannya. Kini ia kembali sebagai pengacara kejam yang ingin merampas putriku, Kania. Bram tak tahu Kania adalah darah dagingnya, atau bahwa aku sedang sekarat karena leukemia. Saat aku berjuang melawan maut dan tuntutan hukum, Bram justru menjadi senjata yang menghancurkanku. Di akhir hayat, aku menyerahkan segalanya demi Kania dan meninggalkan surat yang akan meruntuhkan dunia sempurna pria yang kucintai.
Bab
Bagikan

Bab 2

POV Elara Wijaya:

Jari-jariku berebut di atas ubin dingin, dengan putus asa mengumpulkan pil-pil yang berserakan dan memasukkannya kembali ke dalam botol, menyembunyikan labelnya dari tatapan tajamnya. Aib rahasiaku, bom waktuku, terpapar di lantai ruang konferensi yang tak berjiwa.

"Itu bukan urusanmu," kataku tercekat, bibirku gemetar saat aku memasukkan semuanya kembali ke dalam tasku. Aku menolak untuk menatapnya, menolak membiarkannya melihat teror di mataku.

Otot di rahang Bram berkedut. Sejenak, aku melihat kilasan Bram yang lama, yang bisa membaca setiap pikiranku. Kemudian topeng ketidakpedulian itu kembali terpasang. Dia berbalik tanpa sepatah kata pun dan berjalan keluar, meninggalkanku sendirian dalam keheningan yang menyesakkan.

Ketika aku akhirnya keluar, sepupuku Sari sudah menunggu di lorong, menggendong Kania yang tertidur. Wajah mungil Kania tampak damai, bulu matanya yang gelap membentang di pipinya. Dia sangat mirip dengannya.

"Wanita itu monster," desis Sari, matanya berkilat marah. "Dan Bram... aku tidak mengerti. Dia pengacaranya? Setelah semuanya?" Dia menggelengkan kepala tak percaya. "Aku ingat waktu kalian pertama kali pacaran, dia menyetir lima jam di tengah badai salju hanya untuk membawakanmu secangkir cokelat panas favoritmu karena kamu pilek."

Kenangan itu adalah sengatan yang tajam dan menyakitkan. "Itu sudah lama sekali, Sari. Orang berubah."

"Dia tidak mungkin berubah sebanyak itu," desaknya. "Ela, kamu harus memberitahunya. Beritahu dia Kania adalah putrinya. Dia tidak akan pernah membiarkan burung bangkai itu mengambil anaknya sendiri."

Gelombang mual menerpaku. "Aku tidak bisa."

"Kenapa tidak?"

"Karena dia sudah menikah, Sari," kataku, kata-kata itu terasa seperti racun. "Dia punya istri. Seorang putra. Dan bayi lagi yang akan lahir. Dia sudah move on."

Aku menatap wajah polos Kania. Bagaimana aku bisa melemparkannya ke dalam kehidupan itu? Kehidupan di mana ayahnya terikat pada wanita lain, wanita yang keluarganya telah menghancurkan keluarga kami. Kehidupan di mana dia akan menjadi pengingat yang konstan dan tidak diinginkan dari masa lalu yang jelas-jelas dibencinya. Dia akan menjadi putri dari wanita yang dibencinya, hidup dalam bayang-bayang keluarga barunya yang sempurna.

"Dia membenciku," bisikku, kebenaran itu menjadi batu yang dingin dan berat di perutku. "Dia tidak akan menginginkannya. Tidak dariku. Istri barunya... dia tidak akan pernah baik pada Kania. Putriku akan menghabiskan seluruh hidupnya membayar 'dosa-dosaku'."

Tidak. Aku lebih baik mati daripada membiarkannya mengalami itu.

Tiba-tiba, rasa sakit yang tajam menusuk perutku, dan rasa logam memenuhi mulutku. Dunia miring, lorong itu kabur menjadi pusaran warna krem dan putih. Aku melihat mata Sari melebar karena khawatir, mendengar dia memanggil namaku, dan kemudian semuanya menjadi hitam.

Aku terbangun karena bau antiseptik rumah sakit dan bunyi monitor jantung yang stabil. Sari tertidur di kursi di samping tempat tidurku, wajahnya dipenuhi kekhawatiran. Tubuhku sakit, rasa sakit yang dalam dan bergema yang seolah berasal dari tulang-tulangku.

Tiba-tiba, keributan meletus dari lorong di luar kamarku. Seorang anak menangis—raungan tinggi dan ketakutan yang membelah kabut lelahku.

Itu Kania.

Mengabaikan rasa sakit yang membakar, aku menyibakkan selimut tipis rumah sakit dan mencabut infus dari lenganku.

"Ela, apa yang kamu lakukan?" Sari tersentak bangun. "Dokter bilang kamu harus istirahat! Kania ada di luar, ada perawat bersamanya..."

Tapi aku sudah keluar dari pintu, kakiku yang telanjang menapak di linoleum. Aku mengikuti suara isak tangisnya ke area tunggu kecil, di mana kerumunan telah berkumpul. Di tengah-tengahnya ada putriku, wajahnya basah oleh air mata, tubuh mungilnya gemetar.

"Dia pembohong! Dia mendorong ibuku!" teriak seorang anak laki-laki kecil, menunjuk Kania dengan jari menuduh.

"Aku melihatnya! Gadis kecil itu menabrak wanita hamil itu!" tambah seorang wanita di kerumunan, suaranya penuh penghakiman.

Aku menerobos kerumunan penonton, jantungku berdebar kencang di rusukku. "Kania!"

Aku berlutut dan menariknya ke dalam pelukanku, memeluknya erat. "Tidak apa-apa, sayang. Ibu di sini."

"Aku tidak mendorongnya," isak Kania di bahuku. "Aku tersandung, Bu. Aku hanya tersandung."

Suara dingin yang familiar memotong kebisingan. "Ada apa ini?"

Aku mendongak, dan darahku terasa membeku. Bram berdiri di sana, dan bergantung di lengannya, tampak pucat dan rapuh, adalah Adelia Suryo. Dia adalah wanita hamil itu.

"Bram, sayang," rengek Adelia, bersandar berat padanya. "Gadis kecil itu... dia menabrakku. Aku sangat khawatir tentang bayinya."

Tatapan kami bertemu di atas rambut Adelia yang tertata sempurna. Dia menatapku, ekspresinya tak terbaca, lalu matanya beralih ke gadis kecil yang menangis dalam pelukanku.

Ke Kania.

Dan untuk pertama kalinya, dia benar-benar melihatnya. Dia melihat bentuk matanya, ikal gelap rambutnya, dagu mungilnya yang keras kepala. Dia melihat dirinya sendiri. Kilatan keterkejutan, kesadaran yang mulai muncul, melintas di wajahnya.

Aku secara naluriah menarik Kania lebih dekat, melindunginya dari tatapannya, dari kebenaran yang tiba-tiba, dengan menakutkan, tertulis di seluruh wajahnya.

"Kita bisa memeriksa kamera keamanan," kataku, suaraku gemetar tapi tegas. "Putriku bukan pembohong."

Mata Adelia melebar, dan ketika dia menatapku, topeng kerapuhannya terlepas. Aku melihat kilatan racun murni, dan sesuatu yang lain: pengakuan.

"Kamu," desahnya, suaranya dipenuhi rasa tak percaya dan kebencian. "Elara Wijaya. Seharusnya aku tahu."

Dia berbalik ke kerumunan, suaranya meninggi dengan kepanikan teatrikal. "Itu dia! Putri dari pria yang menjual bahan bangunan beracun! Pria yang membuat pamanku terbunuh! Mereka menghancurkan keluargaku, dan sekarang dia kembali! Dia kembali untuk menyakiti kita lagi!"

Kerumunan meletus dalam gumaman. Aku bisa merasakan tatapan mereka, penghakiman mereka, membakarku. Aku menutupi telinga Kania, mencoba melindunginya dari racun itu.

Adelia menangis tersedu-sedu, mencengkeram lengan Bram. "Dia sengaja melakukannya, Bram! Dia mencoba balas dendam! Dia membuat putrinya menyakiti bayi kita!"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Sugar Baby
8.8
Tachi Gumama, seorang mucikari, merasa terhina saat Padrone Ricco menolak tawaran pelacur andalannya. Padahal, Padrone dikenal sebagai miliarder Manhattan yang sangat setia kepada istrinya, mendiang Nyonya Deceduto Ricco. Penolakan ini memicu kecurigaan Tachi bahwa pria kaya tersebut sebenarnya menyembunyikan seorang gadis simpanan. Benarkah sosok suami sempurna ini memiliki rahasia gelap di balik kesetiaannya, ataukah tuduhan Tachi hanyalah sebuah kekeliruan?
Sampul Novel Cinta Diantara
8.9
Demi kehormatan keluarga, Aisyah terpaksa menikahi pria asing yang ternyata sudah memiliki putra bernama Haidar. Seiring waktu, benih cinta mulai tumbuh, namun Aisyah justru menemukan sisi gelap sang suami yang tersembunyi rapat. Saat rahasia kelam dan bayang-bayang masa lalu kembali menghantui, ia terjebak dalam dilema besar. Haruskah ia tetap bertahan, menghadapi masa lalunya, atau memilih untuk hidup sendiri? Sebuah kisah penuh rahasia dan pilihan hati.
Sampul Novel Dokter, Aku Cinta Kamu
8.0
Kehidupan tenang Raka, seorang dokter spesialis penyakit dalam, mendadak terusik sejak menangani operasi usus buntu Dea. Gadis itu terobsesi mengejarnya, bahkan berani mengaku sebagai kekasihnya di depan orang tua. Meski awalnya Raka merasa terganggu oleh perhatian Dea, segalanya berubah saat Dea bertunangan dengan pria lain bernama Rafa. Merasa kehilangan, Raka baru menyadari perasaannya. Begitu tahu pertunangan itu batal, ia kini berbalik mengejar cinta Dea.
Sampul Novel Kau Menikahi Aku Dengan Benci
8.0
Anjani terjepit dalam dilema saat suaminya, Prakasa, menghilang saat bertugas. Di tengah duka, ia dipaksa menikahi Arjuna demi menggantikan adiknya yang kabur. Sebagai dokter spesialis, Anjani justru dipandang rendah dan dianggap hanya mengincar harta oleh keluarga Arjuna. Namun, situasi makin rumit ketika Prakasa tiba-tiba muncul kembali. Kini, Anjani harus menghadapi konflik legalitas pernikahan dan kebencian Arjuna yang perlahan mulai berubah menjadi rasa cinta.
Sampul Novel Kembalilah, Cintaku: Merayu Mantan Istriku yang Terabaikan
9.0
Tiga tahun Joelle mencoba meluluhkan hati Adrian, namun ia gagal karena pria itu mencintai wanita lain. Adrian hanya menjanjikan kebebasan jika Joelle memberinya anak. Saat Joelle berjuang melahirkan, Adrian justru pergi bersama kekasihnya. Setelah kewajibannya tuntas, Joelle memilih pergi dan memutus semua ikatan. Ironisnya, Adrian barulah tersadar dan kini bersujud memohon agar mantan istrinya itu bersedia kembali ke pelukannya.
Sampul Novel Langit Jam 4 Sore
8.2
Divia Putri Gayatri adalah gadis pemimpi yang mengagumi kedamaian langit pukul empat sore. Ia berharap takdir hidupnya akan seelok cakrawala itu. Tanpa diduga, Divia justru menemukan tambatan hati saat ia tidak sedang mencari cinta. Pertemuannya dengan Arman yang begitu sinematik meninggalkan kesan mendalam yang tak terlupakan. Namun, ketika bayang-bayang masa lalu mulai mengancam kebahagiaan mereka, mampukah cinta mereka bertahan melawan ujian takdir yang berat?