Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Hanya Suami di Atas Kertas

Hanya Suami di Atas Kertas

Agnes Permatasari, seorang wanita karier, terpaksa mengakhiri pernikahannya dengan Rama Pratama akibat tekanan mertua dan ipar yang toksik. Setelah bercerai, Rama segera menikahi wanita kaya pilihan ibunya, meninggalkan Agnes dalam bayang-bayang status janda. Di tengah hinaan dan cacian masyarakat, Agnes harus berjuang menentukan arah hidupnya. Apakah perpisahan ini akan membuatnya semakin terpuruk, atau justru menjadi titik balik baginya untuk bersinar?
Bab
Bagikan

Bab 1

"Mas, bapak sakit. Adek minta izin pulang, ya?" pintaku pada Mas Rama sambil berjalan menghampiri lelakiku di tempat duduknya. Mas Rama sedang duduk santai di teras rumah ditemani ibu mertua dan Sinta sang adik.

"Ya, gak bisalah. Gak lama lagi Sinta pesta. Siapa yang bantu Ibu jika bukan kalian berdua? Bapakmu, sih. Sakit aja kerjanya. Makanan itu dipantang. Ini gak, lihat makanan semua dimakannya. Apa bapakmu tidak pernah lihat makanan ya, Nes? Rakus sekali Ibu lihat," ucap ibu mertua sangat menyakitkan. Ingin rasanya aku sumpahin beliau dengan kata-kata kasar tapi ya sudahlah. Aku tidak ingin berucap buruk untuk orang lain karena keburukan itu pasti akan kembali kepada keluarga aku kelak.

'Semoga aja dia tidak pernah merasakan seperti yang bapak aku rasakan," batinku.

"Masak kamu minta pulang, sih. Aneh-aneh aja kamu, Dek. Tiga hari lagi di rumah akan diadakan pesta. Siapa nanti yang bantu-bantu? Kamu pikir kita ngadain pesta ini hanya main-main? Banyak orang-orang penting yang datang. Jangan sampai persiapan amburadul. Nanti keluarga kita juga yang malu." Mas Rama memberi pengertian kepadaku.

Bukan aku tidak mau mengerti kondisi di rumah mertua saat ini. Tetapi aku lebih mengutamakan orang sakit daripada orang yang berpesta. Karena pesta 'kan merayakan suatu hubungan. Nah, bapak aku sakit. Beliau butuh dukungan, bahkan anak-anak merupakan hiburan juga buat beliau dan jelas akan memberikan semangat hidup untuknya. Makanya beliau menginginkan kami berkumpul semua.

"Alah ... itu 'kan alasan Kakak ajanya biar terbebas dari tugas. Memang dasar Kakak aja yang pemalas. Sinta lihat, Kakak sering sekali menghindar dari kerjaan di rumah. Maunya makan saja," timpal Sinta menambah keruh keadaan. Akhirnya semua mata tertuju kepadaku. Tatapan Mas Rama seakan ingin menelan tubuh ini bulat-bulat.

"Jangan suka menuduh orang sembarangan, Sin. Kalau gak tau masalah bagus kamu itu diam saja." ujarku membela diri.

"Jangan-jangan benar juga apa yang dibilang Sinta. Kamu malas membantu keluarga Mas 'kan? Kamu lebih berpihak kepada keluarga kamu sendiri." hardik lelakiku.

"Bukan begitu maksud Adek, Mas. Kalo bukan karena bapak masuk rumah sakit, gak akan mungkin Adek mau meninggalkan hajatan besar sebesar ini." jawabku tertunduk.

"Aku heran dengan jalan pikiran kamu, Dek. Kamu lebih mementingkan keluargamu sendiri dibandingkan keluarga Mas. Aku kecewa dengan sikap kamu ... Egois." Bentak Mas Rama dengan suara delapan oktaf. Beliau nampaknya sangat marah.

Dan lebih menakutkan lagi tatapan mata ibu mertua yang seakan mau menelan aku hidup-hidup. Tapi aku usir perasaan itu. Yang penting aku harus pulang untuk menjenguk bapak sakit. Kutebalkan juga muka ini untuk memohon ijin untuk pulang kampung.

"Bukan egois. Ini masalahnya bapak sakit loh, Mas. Bukannya Adek mau main-main." Aku tetap terus saja berusaha untuk mendapat izin pulang kampung.

"Gak bisa," bentaknya lagi dengan suara tinggi.

"Mas, Adek mohon. Tolonglah. Sekali ini aja ijinin aku pulang menjenguk bapak." pintaku lagi sambil menahan air mata yang sudah menganak sungai disudut mataku.

"Emang bapakmu sakit apa, sih?" tanya lelaki tampan yang telah merajai hati ini dalam kurun waktu delapan tahun belakangan ini. Sedihnya hati ini. Aku menyayanginya sepenuh hati tapi tidak dengan dia. Jika menyangkut keluargaku, dia sangat dingin dan tidak ada sedikitpun senyum di wajahnya. Keluargaku bagaikan orang lain yang tidak pernah dikenalnya. Dengan wajah datar seakan tidak ada hal yang perlu dirisaukan  mengenai kedua orangtuaku.

"Mas ... bapak diopname. Berarti sakitnya parah. Kalau sakit ringan gak mungkin juga beliau akan bersedia diopname," ujarku lagi.

Aku sangat tau sifat bapak yang tidak pernah ingin menyusahkan anak-anaknya. Jika masih bisa ditahan keluhannya pasti bapak sudah minta pulang. Beliau tidak akan mau dirawat di rumah sakit.Bapakku mengidap penyakit jantung koroner, jadi wajarlah jika sering mengeluh sakit karena tidak bisa pantang makan.  

Terlalu dipantangpun, kasian juga aku lihat bapak jadi lemas dan tidak bersemangat begitu. Seperti tidak bergairah. 

Mungkin juga beliau kesepian karena anak-anak pada berjauhan semua. Mereka mempunyai kehidupannya masing-masing.

"Dipikirlah secara matang-matang. Apa mungkin kamu akan meninggalkan pesta yang tidak berapa lama lagi akan kita adakan? Apa mungkin kita melepaskan tanggung jawab sebagai anak? Mas ini anak laki-laki ibu dan bertanggung jawab sepenuhnya kepada ibu dan adik-adikku. Jangan kau pikir mentang-mentang adikku yang pesta kamu bisa seenak hati."

"Aku tidak bermaksud begitu, Mas. Mas tahu sendiri 'kan, Bapakku itu udah tua dan sering sakit-sakitan. Wajarlah aku izin pulang. Bedalah Mas suasana hati kita jika menjenguk orang tua sakit dengan menghadiri pesta."

"Apa maksud, Kakak?" Tiba-tiba saja Sinta memotong pembicaraanku.

"Maksud Kakak gini. Pesta itu 'kan suasana hati kita penuh dengan kebahagiaan. Sementara menjenguk orang sakit, 'kan suasana hati sedih. Kalau Kakak disuruh memilih ya ... bagus memilih menjenguk orang sakit. Karena mereka itu yang butuh dukungan dan semangat dari kita," ucapku takut-takut dan hanya menunduk tanpa berani melihat kearah mereka bertiga.

"Nggak ... pokoknya kamu nggak boleh pulang hari ini. Kamu harus tetap disini membantu Ibu belanja dan lain sebagainya. Nanti sesudah siap pesta, baru boleh pulang. Nanti kita pulang sama-sama."

"Tapi Mas..."

"Nggak ada tapi-tapian. Sekali aku bilang nggak boleh ya nggak. Lagian bapakmu sudah biasa sakit. Pasti akan sembuh juga dia nanti." ujar Mas Rama. Mas Rama seakan terlalu menyepelekan kondisi bapak yang sedang tidak berdaya di rumah sakit.

"Mas, Aku tidak minta biaya ongkos atau apapun yang menyangkut uang sama kamu. Aku punya uangku sendiri, Mas. Aku hanya minta diantarkan. Atau Mas antar saja Adek ke terminal. Biar saja Adek naik bus antar propinsi saja, Mas. Yang penting Adek bisa menjenguk bapak," ujarku.

"Lucu kau, Nes. Di rumah mau ada hajatan, kamu malah mengajak anakku pergi mengantarkan kamu pulang kampung. Siapa yang akan menghandle semua pekerjaan di rumah. Kau jadi istri kenapa pembangkang begitu sih, Nes. Tidak bisa dibanggakan sedikitpun. Kau pikir mentang-mentang kau seorang Pegawai Negeri Sipil dan bergaji jadi bisa seenak hati mengatur-ngatur suamimu?" Sekarang giliran mertuaku yang ikut bersuara. Beliau selalu saja menyalahkan aku. Anak mana sih yang tidak akan kepikiran mendengarkan kabar orang tuanya masuk rumah sakit?

Coba sekali saja mereka berada di posisi aku saat ini. Mungkin mereka tidak tahan sedikitpun. Atau seandainya Sinta berada dalam posisi aku saat ini, mungkin saja ibunya tidak terima dan akan menggugat cerai suaminya. Siapa yang tahan punya suami selalu di atur oleh orang tuanya? Seakan tidak mempunyai wibawa sedikitpun. Udah tua tapi masih di bawah ketiak ibu.

"Bu, bapak saya masuk ruang ICCU. Beliau sedang berjuang melawan penyakitnya. Tidak ada niat sedikit pun dalam hati ini untuk lari dari tugas yang sudah keluarga ini berikan kepada saya. Malah saya sangat bahagia dan bangga karena diberi kepercayaan sama keluarga Mas Rama dalam mengurus segala kebutuhan pesta nantinya," ujar ku lagi.

"Ya udah. Kamu kerjakan saja tugasmu. Siap pesta  nanti kita pulang menjenguk bapak. Semoga saja beliau sudah sembuh." ujar Mas Rama lagi. Dan mereka seperti tidak pernah mau tau bagaimana perasaanku saat ini.

"Mas ... bapak sakit keras loh!" ujarku tergugu..

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Anugerah Cinta
9.3
Dila, putri Gus Wirto, terjebak dalam perjodohan dengan Fabian, mantan pecandu yang sedang memperbaiki diri di pesantren. Hati Dila sebenarnya terpikat pada Prima, seorang hafiz yang saleh. Meski berupaya membatalkan taaruf, Dila tak kuasa melawan harapan orang tuanya. Namun, saat kesepakatan tercapai, rahasia kelam Fabian mulai terkuak satu per satu. Akankah Dila bertahan dengan pilihannya? Mampukah Fabian benar-benar lepas dari masa lalunya yang kelam?
Sampul Novel Kekasihku Meninggalkanku di Hari Pernikahan
9.6
Hari pernikahan Cherish hancur seketika saat Diego pergi begitu saja setelah menerima sebuah telepon. Kepergian mendadak itu membuat nenek Cherish syok hingga muntah darah dan akhirnya meninggal dunia di rumah sakit tanpa ada yang membantu. Di tengah kedukaan di kamar mayat, Diego justru menghubungi Cherish untuk meminta donor darah bagi Zoey yang terluka. Kecewa mendalam, Cherish langsung mengakhiri hubungan mereka. Kini, Diego bersujud di bawah guyuran hujan, memohon dimaafkan dan berjanji menyerahkan segalanya demi mendapatkan kembali hati Cherish.
Sampul Novel Mertua Pilih Kasih Tidak Tahu Kami Banyak Uang
8.8
Astri heran mengapa mertuanya sangat membenci Ruslan meski wajah mereka identik. Di balik sikap sabar menghadapi diskriminasi keluarga, ternyata pasangan ini diam-diam telah mengumpulkan kekayaan tanpa diketahui siapa pun. Selama ini mereka dianggap miskin, namun sebuah insiden melampaui batas kesabaran Astri. Dengan restu sang suami, Astri pun bersiap memberikan kejutan bagi mertuanya yang pilih kasih. Mampukah mereka membalikkan keadaan dengan rahasia besar tersebut?
Sampul Novel MISTERI KAMAR ADIK PEREMPUANKU
9.1
Kepergian suamiku yang misterius menyisakan tanda tanya besar, terutama saat suara derit ranjang mulai terdengar dari balik pintu kamar adikku, Ema. Hilangnya lelaki itu terjadi tepat saat aktivitas mencurigakan ini dimulai. Aku pun terjebak dalam kecurigaan mendalam mengenai hubungan gelap yang mungkin tersembunyi di antara mereka. Apakah suara dari kamar Ema adalah kunci untuk mengungkap keberadaan suamiku yang mendadak lenyap tanpa jejak?
Sampul Novel Pernikahan Yang Dikhianati
8.3
Aruna mendatangi jamuan makan malam mewah dengan harapan membahas rencana pernikahannya bulan depan. Namun, ia justru dicampakkan secara sepihak oleh calon mertuanya demi wanita lain yang dianggap lebih setara. Di tengah luka hati dan martabat yang hancur, Aruna menerima lamaran Reza, seorang duda kaya sekaligus cinta pertamanya. Langkah nekat ini menyeretnya ke dalam pusaran intrik penuh drama, pengkhianatan, serta cinta yang lebih rumit dari dugaannya.
Sampul Novel Random Husband
7.8
Fransisca, atau Caca, terjebak dalam kebohongan besar setelah rencana pernikahannya dengan pebisnis asing gagal total. Karena terlanjur sesumbar, ia merasa sangat malu untuk mengakui kebenaran di depan teman-temannya. Saat didesak dalam sebuah pesta, rasa panik membuatnya melakukan aksi nekat. Tanpa berpikir panjang, Caca menunjuk seorang pria asing secara acak dan mengklaimnya sebagai calon suaminya demi menyelamatkan harga dirinya saat itu.