
Hancur Karena Janji Palsu Suamiku
Bab 2
Ananda POV:
Belum sempat aku membalas perkataannya, ponsel Prabu berdering nyaring.
Itu Safira.
Suara manja Safira terdengar jelas, bahkan dari celah pintu yang sedikit terbuka.
"Kak Prabu, hiks… kak Prabu... Aku... aku takut."
Prabu yang tadinya angkuh, kini berubah lembut, raut wajahnya penuh kekhawatiran.
"Ada apa, Safira? Tenang, Sayang, katakan padaku," ucapnya dengan nada yang tak pernah kudengar selama pernikahan kami.
Hanya untuknya.
Dia bangkit, meraih kunci mobilnya.
"Aku harus pergi, Safira membutuhkanku," katanya, tanpa menoleh sedikit pun padaku.
Aku melihat punggungnya menjauh, hatiku hancur berkeping-keping.
Dulu, aku selalu menjadi prioritasnya.
Ketika aku sakit, dia akan membawakanku bubur.
Ketika aku sedih, dia akan memelukku erat.
Tapi kini, sentuhan sesederhana itu pun terasa asing baginya.
Aku pernah berpikir, ketidakpeduliannya adalah hal yang wajar dalam pernikahan jangka panjang.
Aku pernah memaklumi.
Mengira bahwa cinta kami telah bertransformasi menjadi bentuk yang lebih tenang, lebih dewasa.
Bodohnya aku.
Kini, aku menyadari bahwa semua pemaklumanku hanyalah topeng untuk menyembunyikan kenyataan pahit.
Kenyataan bahwa aku tidak pernah berarti apa-apa baginya.
Aku tidak akan lagi mengejarnya.
Tidak akan lagi memohon perhatiannya.
Aku memutuskan untuk tidak lagi membiarkan diriku menjadi korban dalam drama ini.
Aku mulai mengemasi barang-barangku.
Tidak ada satu pun barang pemberian Prabu yang kubawa.
Gaun pengantin, perhiasan, bahkan cincin kawin.
Semua kubiarkan tergeletak begitu saja.
Aku juga menghapus semua fotoku bersamanya di ponsel.
Sore harinya, saat aku masih membereskan barang-barangku, pintu depan terbuka.
Prabu masuk, diikuti Safira dan seekor kucing Persia putih yang lucu.
Safira memeluk kucing itu erat, wajahnya masih sedikit sembab, namun bibirnya tersenyum tipis.
Melihat kucing itu, aku teringat Prabu yang selalu membenci bulu hewan.
Dia pernah marah besar saat aku membawa pulang anak kucing jalanan.
"Buang hewan kotor itu, Ananda!" bentaknya waktu itu.
Kini, ia tersenyum lembut pada kucing Persia di pelukan Safira.
"Sayang, kenapa kau belum menyiapkan makan malam?" tanya Prabu, suaranya kembali datar.
Aku menatapnya, "Aku bukan lagi istrimu."
Safira meremas lengan Prabu, "Kak Prabu, jangan marah. Mungkin Kak Ananda sedang lelah."
Suaranya lembut, seolah ingin menenangkan, namun matanya memancarkan kemenangan.
"Kau tidak perlu pura-pura, Safira," kataku, memandang lurus ke arahnya.
"Kau tahu betul apa yang terjadi."
Safira terkesiap, lalu menunduk.
"Aku tidak mengerti maksudmu, Kak Ananda."
"Kau tahu apa yang terjadi dengan pernikahanku," balasku.
"Kau tahu, semua manipulasi, air mata, dan keluguan palsumu itu."
"Kau hanya ingin merebut Prabu dariku."
Safira mulai terisak, "Aku tidak bermaksud begitu, Kak Ananda. Aku... aku hanya..."
"Cukup!" bentak Prabu, matanya menatapku tajam.
"Kau ini kenapa, Ananda? Kenapa kau begitu jahat pada Safira?"
Ia memeluk Safira erat, menenangkan mahasiswi bimbingannya itu.
Aku hanya memandangi mereka, lelah dengan semua drama ini.
Aku sudah terlalu sering berada dalam situasi seperti ini.
Aku memutuskan untuk tidak lagi membuang waktuku untuk hal yang sia-sia.
Pagi harinya, aku pergi ke klinik untuk mencopot alat kontrasepsiku.
Aku tidak akan lagi mengandung anaknya.
Aku tidak akan lagi memberikan harapanku pada pria yang tidak pernah mencintaiku.
Anda Mungkin Juga Suka





