
Hancur Karena Janji Palsu Suamiku
Bab 3
Ananda POV:
Saat jarum suntik menembus kulitku, ponselku berdering.
Itu Ibu Prabu.
Aku menghela napas.
Pasti ia akan mencelaku lagi.
Dulu, ketika Prabu kecelakaan dan divonis lumpuh, Ibu Prabu selalu menangisi nasib putranya.
"Ananda, kau harus menjaga Prabu. Dia anakku satu-satunya," rengeknya.
Aku, yang saat itu masih lugu dan mencintai Prabu sepenuh hati, mengangguk patuh.
Kini, ia seperti lupa dengan semua pengorbananku.
"Ananda! Kau ini bagaimana? Seenaknya saja meninggalkan Prabu!" bentaknya tanpa basa-basi.
"Prabu itu suami yang baik, dia terkenal, sukses. Kau itu hanya gadis desa biasa!"
"Mami tidak tahu apa-apa," jawabku datar.
"Apa maksudmu tidak tahu? Mami tahu! Prabu itu tidak pernah selingkuh, dia hanya dekat dengan Safira karena Safira itu calon pengacara hebat!"
Safira. Lagi-lagi Safira.
"Mami tahu Safira itu siapa?" tanyaku.
"Tentu saja! Dia itu calon menantu idaman Mami! Cantik, pintar, keluarga terpandang!"
"Dia lebih pantas mendampingi Prabu daripada kau yang miskin ini!"
Aku terdiam.
Apa gunanya berdebat dengan ibu mertua yang sudah buta oleh harta dan status?
"Ananda, pulanglah. Mami yakin kau akan menyesal nanti. Prabu itu tidak akan pernah kembali padamu."
"Lagipula, kau ini hanya merepotkan saja."
Aku mematikan panggilan itu.
Tidak ada gunanya lagi.
Ketika aku keluar dari ruang praktik dokter, aku melihat Asma, adikku, duduk termenung di kursi tunggu.
Wajahnya pucat, matanya sembab.
"Asma? Kau kenapa?" tanyaku cemas.
Ia menatapku, lalu memelukku erat.
"Kakak... aku... aku dilecehkan."
Hatiku hancur mendengar pengakuan adikku.
Asma menceritakan semuanya.
Atasannya, Hartanto Ongkowijoyo, kakak Safira, telah melecehkannya.
Air mataku menetes.
"Kak, tolong aku," pinta Asma, "Aku takut. Aku tidak berani melapor."
"Aku akan membantumu, Sayang," janjiku.
"Tapi... siapa yang bisa kita mintai bantuan hukum? Kak Prabu..."
Aku langsung teringat padanya.
Prabu adalah pengacara terkenal.
Dia pasti bisa membantu Asma.
Aku tahu, setelah semua yang terjadi, aku seharusnya tidak lagi bergantung padanya.
Tapi Asma adalah satu-satunya adikku.
Aku harus mencobanya.
Aku pergi ke kantor hukum Prabu.
Di sana, ia sedang duduk di mejanya, dikelilingi tumpukan berkas.
Aku menunggu dengan sabar.
Prabu memiliki aturan ketat di kantornya.
Tidak ada yang boleh mengganggunya tanpa janji temu.
Tiba-tiba, pintu ruangan Prabu terbuka.
Safira keluar, tersenyum manja.
"Kak Prabu, terima kasih ya," katanya, lalu melihatku dengan senyuman kemenangan.
"Kau!" bentak salah satu klien Prabu yang sudah menunggu lama.
"Kenapa kau bisa langsung masuk? Kami sudah menunggu berjam-jam!"
Prabu keluar, raut wajahnya agak datar.
"Dia klien penting," jawabnya singkat.
Anda Mungkin Juga Suka





