
Hamil Saat Bercerai
Bab 2
🏵️🏵️🏵️
“Mas Bayu telah menceraikan Tia, Yah.” Tiara tidak kuasa lagi menahan air matanya.
“Maksud kamu apa, Nak? Jangan bercanda.” Pak Arif—ayahanda Tiara, tidak percaya mendengar pengakuan anak bungsunya.
“Tia nggak bercanda, Yah. Mas Bayu sudah mengeluarkan kata cerai di depan Tia.” Tiara berusaha meyakinkan ayah dan ibunya.
“Ayah tidak bisa terima semua ini. Waktu dia meminangmu lima tahun yang lalu, dia datang ke sini baik-baik. Sekarang dia tega memperlakukan kamu seperti ini. Ayah akan membuat perhitungan dengannya.” Pak Arif pun berdiri, tetapi sebelum melangkah, Tiara menghentikan laki-laki paruh baya itu.
“Jangan, Yah, Tia mohon. Sekarang sudah tidak ada gunanya lagi. Untuk apa Tia tetap mendampinginya, sedangkan hatinya bukan milik Tia lagi.” Tangisan Tiara makin pilu.
“Apa maksud kamu, Sayang?” Sang ibu menggenggam jemari putrinya.
“Mas Bayu sudah memiliki wanita lain yang kini mengandung anaknya. Dia selalu bilang kalau Tia tidak mampu memberikan keturunan untuknya.”
Uek!
Tiba-tiba Tiara merasa mual. Ia pun langsung berlari ke dalam rumah menuju kamar mandi. Bu Laras segera menyusulnya. Wanita paruh baya itu mengernyitkan dahi sambil menebak apa yang terjadi terhadap Tiara.
“Kamu kenapa, Sayang?” tanya Bu Laras.
“Nggak tahu, Bun. Akhir-akhir ini Tia sering mual, mudah lelah, dan selera makan menurun.” Tiara memberikan penjelasan kepada ibunya sambil mengusap air mata yang belum berhenti menetes.
“Bayu nggak lihat perubahan kamu?”
“Nggak, Bun. Dia sering nggak di rumah dan selalu kasih alasan lembur. Tia berusaha untuk tetap percaya walaupun ada rasa curiga. Ternyata dugaan itu benar, Mas Bayu sudah berkhianat di belakang Tia.”
“Dasar laki-laki nggak tahu diri!” Bu Laras kesal dan marah. “Udah berapa lama kamu nggak datang bulan?” tanya wanita paruh baya itu.
Tiara sangat ingat kalau dirinya sudah tiga bulan tidak kedatangan tamu rutin tersebut. Oleh karena itu, ia ingin menyampaikan hal itu kepada Bayu. Namun, sebelum harapan itu terucap, laki-laki yang pernah menikahinya tersebut telah mengucapkan kata cerai.
“Kamu hamil, Sayang. Bunda yakin. Kenapa kamu tidak memberitahukan kepada Bayu kalau kamu sering mual?” Bu Laras kembali membuka suara.
“Saat itu Tia masih ragu, Bun. Belum yakin sepenuhnya.”
“Kasihan kamu, Sayang.” Wanita itu meraih tubuh Tiara, lalu memeluknya.
Bu Laras sangat yakin kalau putri bungsunya sedang hamil. Untuk lebih memastikan keyakinannya, ia pun meminta asisten rumah tangga mereka membeli alat tes kehamilan di apotek terdekat. Ternyata setelah Tiara menggunakan benda itu, menunjukkan dua garis merah.
🏵️🏵️🏵️
Tiara dihadapkan pada perasaan tidak menentu. Di satu sisi, ia sangat bahagia karena akhirnya mendapat anugerah terindah setelah lima tahun menikah. Namun, di sisi lain, ia juga bingung harus bagaimana menghadapi kenyataan kalau calon ayah dari bayi yang ia kandung sudah tidak mengharapkan dirinya lagi.
Bu Laras sangat iba melihat air mata putrinya. Ia pun mengusap bening kristal yang sulit untuk dibendung itu. Ia tidak pernah menyangka kalau anak bungsu yang dulu sangat dimanja, harus menanggung penderitaan sesulit ini.
Pernikahan yang baru berjalan lima tahun, akhirnya harus kandas karena adanya orang ketiga dan ketidaksabaran Bayu untuk menunggu kehadiran buah hati dalam rumah tangganya. Kini, Tiara harus menghadapi sendiri kenyataan yang ada di depan mata.
Pak Arif dan Bu Laras berpikir keras agar dapat menemukan jalan keluar untuk situasi yang Tiara hadapi saat ini. Kedua orang tua itu sudah memutuskan agar putri tercinta mereka tidak kembali lagi kepada Bayu yang sudah tega memberikan penderitaan.
Saat ini, Pak Arif dan Bu Laras sedang menenangkan Tiara di ruang keluarga. Sudah beberapa jam tiba di rumah orang tuanya, tetapi air mata Tiara masih sulit untuk dihentikan. Ia terus jatuh membasahi pipi hingga matanya terlihat sembab.
“Bayu benar-benar keterlaluan. Semoga dia mendapatkan balasan atas apa yang dia perbuat pada Tiara.” Bu Laras sangat marah mengingat perbuatan Bayu kepada putrinya. Sementara Pak Arif hanya terdiam untuk memikirkan jalan keluar yang harus ditempuh.
“Apa yang harus Tia lakukan, Bun?” Tiara bertanya kepada ibunya.
“Sabar, ya, Sayang. Ayah dan Bunda sedang memimirkan solusinya. Tapi yang pasti, kamu jangan pernah kembali pada laki-laki itu. Dia juga nggak perlu tahu tentang anaknya. Ayah dan Bunda masih sanggup untuk membiayai hidupmu dan calon cucu kami.” Bu Laras berusaha memberikan semangat kepada putrinya.
Tiara sangat terharu mendengar ungkapan yang disampaikan ibunya. Ia merasa bersyukur memiliki ayah dan ibu yang selalu ada untuknya saat sedang mengalami masa sulit seperti saat ini.
“Terima kasih, Yah, Bun. Tia nggak tahu harus gimana kalau Ayah dan Bunda tidak menguatkan Tia. Tia janji akan berusaha kuat dan tegar demi anak ini.” Tiara mengusap perutnya.
Bu Laras tidak kuasa melihat kesedihan di wajah putrinya. Ia memilih menjauh dan mencari alasan. Ia mengaku akan menyiapkan makan malam. Setelah di ruang makan, Bu laras pun menitikkan air mata yang sejak tadi ia tahan.
“Ibu kenapa nangis?” Bu Laras terkejut mendengar suara asisten rumah tangganya.
================
Anda Mungkin Juga Suka





