
Hamil Dengan Pengkhianat
Bab 3
Hari-hari berlalu dengan perlahan, terasa berat seperti beban yang tak kunjung hilang. Vera merasa seperti sedang berjalan di atas tali yang rapuh, tanpa tahu kapan ia akan jatuh. Setiap langkahnya terasa penuh dengan keraguan, sementara di dalam hatinya ada dorongan yang kuat untuk pergi, untuk melupakan semuanya, namun kenyataan terus mengejarnya, tak pernah memberi ruang untuk bernafas.
Kehamilannya, yang awalnya ia anggap sebagai mimpi buruk, kini semakin menjadi kenyataan yang tak bisa dihindari. Setiap pagi, tubuhnya terasa semakin berubah, semakin nyata. Bagian-bagian tubuhnya yang dulu ramping kini mulai melengkung, dan meskipun ia mencoba untuk menyembunyikannya, ada sesuatu yang tak bisa ia tahan lagi. Kehamilan ini bukan hanya fisik, tetapi juga emosional. Ia merasa terperangkap, tidak hanya oleh bayi yang sedang tumbuh dalam rahimnya, tetapi juga oleh bayang-bayang masa lalu yang terus menghantui.
Di sisi lain, Dante tidak pernah jauh. Meskipun Vera berusaha menjauh, berusaha untuk tidak terlibat lebih dalam, pria itu selalu ada. Setiap kali mereka bertemu, ia tampak lebih tenang, lebih memaksa untuk menyelami perasaan yang tak terungkapkan. Mungkin dia tidak pernah benar-benar memahami kedalaman perasaannya terhadap Vera, tapi satu hal yang pasti-Dante tidak bisa menjauh. Terlalu banyak benang yang mengikat mereka, dan meskipun Vera berusaha untuk memotongnya, ia tahu itu bukan hal yang mudah.
Pada suatu sore yang mendung, Vera duduk di balkon hotelnya, menatap langit yang gelap. Udara Paris terasa segar, tetapi hatinya terasa sesak, dipenuhi dengan tanya yang tak terjawab. Kehamilannya, hubungan dengan Dante, dan perasaan yang terus mengganggunya-semuanya seperti angin ribut yang tidak pernah berhenti mengamuk. Ia menatap ke bawah, melihat hiruk-pikuk kota yang berjalan seperti biasa, sementara ia merasa semakin terasing dari dunia itu.
Saat itulah suara pintu terbuka, dan Vera tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang. Langkah kaki itu sudah terlalu dikenalnya.
Dante berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca. Ada ketegangan di udara, sesuatu yang tak terucapkan, namun ada di antara mereka, mengikat mereka dalam jaring yang semakin rapat. Vera merasa perutnya bergetar, bukan karena takut, tetapi karena perasaan yang begitu kuat, yang selama ini ia coba hindari.
"Vera," kata Dante, suaranya lebih lembut dari yang ia duga. "Kita perlu bicara."
Vera menutup matanya sesaat, berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk menghadapi apa yang pasti akan datang. "Tentang apa, Dante?" tanyanya, suaranya datar namun sarat dengan emosi yang tak terucapkan.
Dante melangkah maju, menghentikan langkahnya tepat di depan Vera. Ia berdiri cukup dekat, cukup dekat untuk membuat Vera merasa panik, tetapi ia tidak mundur. Ada sesuatu dalam tatapan Dante yang menggetarkan, seolah pria itu berusaha menyampaikan segala sesuatu tanpa kata-kata.
"Kamu tahu kenapa aku di sini," kata Dante perlahan, suara itu mengandung ketegasan yang tidak bisa ia hindari. "Karena aku tidak bisa membiarkan kamu menjalani ini sendirian."
Vera menatapnya, merasakan perasaan yang lebih dalam dari yang ia ingin akui. "Aku tidak membutuhkanmu, Dante," jawabnya tajam, berusaha menjaga jarak. "Aku tidak butuh bantuanmu atau kehadiranmu dalam hidupku."
Tapi meskipun kata-kata itu keluar begitu mudah, hati Vera terasa sebaliknya. Ia butuh seseorang, terutama setelah semua yang terjadi, tetapi apakah orang itu harus Dante? Apakah ia harus menerima kenyataan bahwa ia kembali terjebak dalam hidupnya? Itu yang tidak bisa ia jawab.
Dante menghela napas, tampaknya memahami bahwa Vera tidak akan mudah menerima bantuan darinya. "Aku tahu ini sulit bagimu, Vera," katanya, suaranya tetap lembut namun penuh penekanan. "Tapi kamu tidak bisa terus bersembunyi. Kau sedang hamil. Ini bukan sesuatu yang bisa kamu tangani sendirian."
Vera merasa dadanya bergetar, dan untuk pertama kalinya sejak kemarin, air matanya hampir tumpah. "Aku tahu," jawabnya, suara itu hampir tidak terdengar, penuh dengan keputusasaan yang tersembunyi. "Tapi aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku tak tahu harus bagaimana."
Dante menatapnya dengan tatapan yang lebih lembut. "Kamu tidak harus melakukannya sendirian. Aku tahu kita punya sejarah yang buruk, aku tahu kamu membenciku, tapi... aku tidak akan biarkan kamu menghadapi ini tanpa bantuan."
Vera menunduk, mengumpulkan kekuatan yang ia rasa mulai hilang. Hatinya berat, dan pikirannya terus berputar-putar, mencoba mencari jalan keluar dari situasi ini. Tapi semakin ia berpikir, semakin ia merasa bahwa keluar dari lingkaran ini bukanlah hal yang mudah. Dante sudah menjadi bagian dari hidupnya yang tak bisa ia tolak. Apakah itu kebencian? Ataukah sesuatu yang lebih gelap, yang telah lama terpendam?
"Aku..." Vera mulai berbicara, namun kata-katanya terhenti. Ada begitu banyak hal yang ingin ia ungkapkan, begitu banyak perasaan yang ingin ia sampaikan, namun semuanya terasa begitu rumit. Ia tidak tahu harus mulai dari mana.
Dante tidak menunggu lama. Ia melangkah lebih dekat, memberikan ruang bagi Vera untuk merasakan kehadirannya. "Kamu tidak perlu berkata apa-apa sekarang, Vera. Aku hanya ingin kamu tahu, aku akan tetap ada. Untuk kamu, dan untuk bayi ini."
Vera menatap Dante, dan untuk sesaat, ia merasa seperti sebuah dunia baru terbuka di hadapannya. Apakah ia bisa mempercayainya? Apakah ia bisa menerima kenyataan bahwa ia tidak bisa menjalani ini sendirian, meskipun itu berarti harus berhadapan dengan Dante?
Malam itu, saat Vera berbaring di tempat tidurnya, perasaan itu semakin kuat-benang-benang yang mengikatnya dengan Dante semakin erat, dan ia tahu ia tidak bisa terus menghindari kenyataan ini. Meskipun ia berusaha untuk menutup mata dan berlari, takdirnya telah diputuskan. Kehamilan ini, masa lalu mereka, dan hubungan yang semakin rumit ini-semuanya adalah bagian dari puzzle yang harus ia pecahkan.
Namun, seperti yang sudah diketahui, hidup tidak selalu menawarkan jawaban yang jelas.
Anda Mungkin Juga Suka





