
Guru Untuk Nona Muda Nakal
Bab 2
"Maaf tuan Rahadian, saya mengundurkan diri. Saya tak sanggup mengajar anak-anak tuan. Maafkan saya. Saya tak akan menuntut apa-apa, asalkan saya boleh pergi dari sini dengan selamat," pamit seorang guru yang hanya bertahan 2 hari.
"Oh, mengapa? Saya sangat mengharapkan Anda bisa mengajari anak-anak saya. Mereka butuh bimbingan."
"Maaf anak-anak Anda anak yang spesial, saya belum sanggup untuk menaklukkan mereka." Jelas guru yang terlihat babak belur.
"Baiklah kalau begitu. Maafkan anak-anak saya. Saya akan mengganti kerugian Anda dan biaya rumah sakit. Serta bonus 5x dari gaji yang saya tawarkan."
"Terima kasih tuan Rahadian. Saya pamit." Ia berjalan tertatih dengan tangan patah yang di sanggah kain ke bahunya. Wajahnya ketakutan ketikan meninggalkan mansion Tuan Rahadian.
Pandangan Tuan Rahadian tertuju pada asisten sekaligus bodyguardnya, Hilman. Salah satu orang kepercayaannya. Terkenal dengan kesadisannya melawan musuh-musuhnya.
"Hilman apa kau tahu masalah ini?"
"Baru tadi pagi tuan Rahadian. Maafkan saya tak bisa lagi membujuk guru itu. Yang bisa saya pastikan ia tak akan menuntut atau membeberkan peristiwa ini ke media massa."
"Segera cari penggantinya. Bagaimana caranya aku gak mau tahu! Guru itu bertahan hanya 2 hari."
"Baik tuan Rahadian."
"Anak-anak itu, nakalnya bukan main! Semenjak ibunya tiada Anya semakin manja dan nakal! Belum lagi Jihan ikut nakal karena Anya. Semua salahku," keluh tuan Rahadian menyalahkan pola asuhnya. Ia memang sangat sibuk dan tak terlalu memperhatikan anak dan keponakannya itu. Ia hanya memanjakan mereka dengan harta.
Mommy Anya meninggal karena kecelakaan pesawat bersama dengan Mom dan Dadnya Jihan. Ketika mereka duduk dibangku SMA.
Saat itu mereka berencana honeymoon ke dua bersama. Rencananya tuan Rahadian menyusul. Tapi kecelakaan pesawat itu terjadi. Mereka bertiga meninggal dalam kecelakaan itu.
Sekarang Jihan menjadi tanggung jawab tuan Rahadian juga.
"Daaaadd," teriak dua anak nakal itu masuk ke ruang kerja Tuan Rahadian.
"Hay, gadis-gadis nakal daddy, apa lagi yang kalian perbuat?"
"Iiisshh pasti Hilman ngadu yang enggak-enggak ya dad?" tanya Anya melirik tajam Hilman yang tak tau apa-apa. Anya terbiasa dengan keberadaan Hilman yang selalu menjaga mansion mereka. Hilman yang kejam dan sadis seketika ciut jika harus berhadapan dengan Anya.
"Ti... tidak nona Anya, engga kok. Aku tak tau apa-apa, be...beneran kok." Hilman gugup karena takut sama anak-anak nakal itu.
"Girls. tak ada yang mengadu. Tadi gurumu entah yang keberapa puluh, baru saja mengundurkan diri, tadi pamit kesini! Bisakah kalian gak nakal dan belajar dengan baik? Kalian harus meneruskan bisnis Daddy nanti, jadi kalian harus pintar bisnis. Dad bekerja keras untuk kalian agar kalian tak kekurangan. Bisa membeli semua yang kalian inginkan."
Untuk kesekian kalinya ceramah ini diulang setiap guru yang mengajar mengundurkan diri. Tapi sepertinya masuk telinga kanan dan keluar dari telinga kiri. Anya dan Jihan sama saja.
"Daaaaddd... guru yang kemaren tua, masa kepleset sekali tangannya langsung patah, hihihi." Anya dan Jihan cekikikan.
"Trus bau mulutnya Daddy," rajuk Jihan. Ya Jihan juga ikut memanggil daddy pada tuan Rahadian.
"Kalian selalu banyak alasan! Tak ada keberhasilan tanpa usaha, kalian harus pintar. Besok daddy akan cari penggantinya! Dan ingat itu tak mudah! Kalian takbisa masuk sekolah umum sangat berbahaya."
"Ya boleh saja asal kuat menghadapi kita," gumam Anya sambil tersenyum licik.
"Anya bilang apa?" tanya Tuan Rahadian yang kurang jelas mendengar suara Anya
"Ah engga aku bilang ya boleh daddy asal yang pintar, keren, kuat dan muda."
"Dan wangi dad, bukan bau minyak angin! Apa lagi bau mulut," seru Jihan manja.
"Di mana dad temui guru seperti itu? Kalian jangan aneh-aneh dong. Belom lagi menghadapi kelakuan nakal kalian! Sampai kapan dad bisa menemukan guru seperti itu, mustahil. Guru yang baik jika mereka sudah sedikit tua, mereka berpengalaman. Mereka menguasai bahan pelajaran sekaligus dapat mengajarkannya pada kalian."
"Pasti ada kok Dad. Suruh saja Hilman mencarinya dad sampai ketemu. Beberapa hari ini Hilman seperti kurang kerjaan deh Dad. Kerjanya hanya berdiri di belakang Daddy." Sebut Anya asbun.
"Aaah... eeh memang itu tugas saya nona Anya menjaga Tuan Rahadian. Dan siap sedia di belakang tuan besar."
"Enak sekali ya?" lirik Anya jutek
"Ya sudah. Hilman sudah menjalankan tugasnya dengan baik. Kalian tidak tahu aja. Kalian sudah makan siang?"
"Belom Dad, tadi makan pagi aku gak enak, telor setengah matang aku dipecahin Anya duluan aku gak suka," rengek Jihan manja.
Jihan yang manis, lembut, cengeng dan manja selalu dijahili Anya. Kalau sudah begitu nanti pengasuh mereka harus mendamaikannya mereka berdua.
Jihan berperasaan halus, tapi ia tak memiliki pendirian yang kuat. Badannya lemah karena lahir premature dan sedari bayi sering sakit-sakitan.
Mereka berdua selalu kompak, jika berkelahi paling cuma bertahan 2 jam, lalu saling mencari. Seumur hidup mereka, mereka tak pernah terpisahkan.
"Ya sudah, makan siangnya ditambah saja kalau begitu. Ayo kita makan bersama, ayo Hilman kau juga makan. Sebagai pengawalku, makin lama kau makin tipis saja! Bagaimana bisa melindungiku! Jangan-jangan kau cacingan!" seru tua Rahadian.
"Saya baik-baik saja tuan. Baik tuan saya ikut makan," ya tugas Hilman sebagai asisten sekaligus bodyguard yang punya sikap gugup sekaligus sadis. Perpaduan yang aneh untuk seorang bodyguard.
Hilman diangkat dari jalanan oleh tuan Rahadian, dulu ia petarung di kolong jembatan. Ia sangat berani dan tak pernah takut menghadapi musuh. Suatu hari ia menolong tuan Rahadian yang dihadang oleh musuh bisnisnya, yang berkedok perampokan. Mereka mengintai Tuan Rahadian sehabis mengambil uang cash.
Karena aksi heroiknya yang tak kenal takut dan murni hanya ingin membantu, membuat Tuan Rahadian tertarik menjadikan Hilman menjadi asisten pribadi sekaligus pengawalnya. Hilman yang merasa diambil dari lumpur kemiskinan kini sangat setia mengabdi pada tuan Rahadian.
Hilman pun di sekolahkan oleh tuan Rahadian, hingga ia mengerti soal bisnis dan menjalankan perusahaan. Tak jarang saran Hilman diterima dan dijalankan oleh Tuan Rahadian. Tak terasa sudah mencapai 5 tahun kebersamaan mereka.
"Bibi susu aku diminum Anya, uhuuk," rengek Jihan manja
"Eehh sudah ini, disembunyikan di balik teko air. Jangan cepat menangis."
"Hahha itik cengeng," goda Anya lagi
"Aaah bibi."
"Sudah Anya, nanti keselek, ayo makan yang banyak."
Anya terlihat lebih berani, padahal ia penakut akan gelap dan petir. Trauma Anya dengan gelap dan petir tidak main-main. Dulu Anya mengalami kejadian yang tak pernah bisa ia lupakan. Anya sempat di culik saat itu hujan angin banyak petir menyambar. Anya disekap di sebuah kapal yang terbengkalai tanpa penerangan sama sekali. Beruntung Hilman bisa menemukan keberadaan Anya dari pelacak yang di letakan di jam tangannya.
Justru Jihan lebih berani. Tapi ia lemah lembut dan manis. Anya yang selalu berotak jahil, Jihan hanya mengikuti saja dan menuruti apa saja kemauan Anya.
"Makan sayurnya."
"Sudah!" jawab mereka
"Sudah diumpetin di dalam gelas? Ayooo dimakan!" Bibi Merri sudah tahu trik nakal mereka
"Uuuh... matanya seperti elang saja, sebel!" gerutu Anya
"Apa? Sudah bosan makan enak?" ancam Bibi Merri
"Engga bibi sayaaang, gitu aja marah hihihi," rayu Anya takut
"Jihan... tidak telor lagi, makan daging yaa."
"Aaaahh... keras, nanti terselip di gigi aku."
"Ini bola daging, gak akan nyelip di gigi, ayo dimakan dagingnya."
Setiap acara makan bibi Merri harus selalu menunggui mereka kalau tidak, mungkin sebagian daging akan menempel dilangit-langit dan saos tomat akan mengotori setiap lukisan di ruang makan. Atau sayuran akan terkumpul di kolong meja.
Sebenarnya Jihan setahun lebih tua, tapi karena sakit Jihan menunda masuk sekolah... hingga sekarang setingkat dengan Anya.
Badan Jihan yang lebih mungil membuat orang mengira Jihanlah adik Anya
Di rumah ini hanya pada Merri mereka patuhi dan takuti. Karena Merri merawat mereka dari kecil, apa lagi setelah ditinggal ibu mereka.
Bibi Merri dibantu para pelayan untuk mengurus nona muda mereka. Sikap Anya dan Jihan terhadap mereka sangat baik dan sopan, hingga mereka selalu dimanjakan. Itu juga yang membuat mereka tak pernah dewasa. Dan mereka jarang memiliki teman sebaya karena mereka tak bebas keluar rumah, karena alasan keselamatan.
"Merri, guru yang kemarin kembali mundur. Aku akan mencari gantinya. Untuk sementara mereka tidak sekolah dulu," ujar Tuan Rahadian
"Horeeeee!!!" teriak duo rusuh
"Ya tuan saya sudah tahu. Kemarin ia terpeleset di depan kamar mandi, karena genangan licin. Dan langsung di antar ke rumah sakit oleh sopir. Beruntung hanya retak saja tidak patah," tatap Merri pada dua anak yang tertunduk. Ia tahu siapa dalang dibalik kejadian ini.
"Apa mereka berdua yang melakukan?" tanya Tuan Rahadian
"Saya kurang tahu Tuan, karena saya tidak melihat pelakunya maaf." Biar pun Merri tahu benar siapa pelakunya ia terlalu sayang jika nona mudanya di hukum. Sudah pasti ia akan menutupinya.
"Laporkan aku jika mereka nakal! Harus ada tindakan tegas pada mereka. Hilman, cari guru pengganti! Kau tak boleh masuk kantor jika belum membawa guru pengganti! Ingat itu!"
"Baik tuan. Segera akan saya cari." Sambil menatap lemas dengan tugas yang tak mudah itu.
"Sehabis makan siang jangan lupakan waktu tidur siang mereka Merri. Aku tak mau Jihan sakit."
"Aku kan jarang sakit dad, aku boleh gak, gak tidur siang?" tanya Anya
"No... Daaad, Anya temani aku, Anya juga tidur siang."
"Iiiisssh Jihan!"
"Anya juga tidur siang biar gak jahilin para penjaga dan pelayan!"
"Daddy... gak ke kantor kan?"
"Dad harus kembali ke kantor sayang... baik-baik ya di rumah. Cup," tuan Rahadian mencium Anya sebelum pergi
"Hiks... hiks..." Jihan mulai menangis sedikit saja terlambat bulir bening itu jatuh di pipinya yang chubby.
"Jihan... jangan nangis duluan, Dad kan butuh berjalan untuk sampai kursimu. Sini, cup... cup."
"Hiks kirain Dad lupa gak kiss-kiss aku."
"Gak mungkin Dad lupa baby. Dad pergi ya, jangan nakal!"
"Biii, boleh kita berenang dulu?" tanya Anya
"No, nanti saja sehabis tidur siang."
"Sebentar saja."
"Iya Bibi..." sahut Jihan
"Sepertinya Bibi punya kenalan seorang tentara untuk mengajar kalian apa dia saja ya yang Bibi hubungi?" gertak Merri
"Jangaaaannn! Iya kita tidur siang!"
"Nah gitu dong. Ayo ganti baju dulu dan kita sambil nonton film kesukaan kalian."
"Ironman!" bukan tontonan yang tepat untuk anak gadis, tapi mereka senang untuk mengulang film tersebut.
Anda Mungkin Juga Suka





