Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Gunung Pengantin Ngunduh Mantu

Gunung Pengantin Ngunduh Mantu

Bima lahir dalam keluarga sederhana yang terbelenggu kutukan iblis. Di desanya, Gunung Pengantin berdiri angker dengan legenda hantu pengantin yang kerap meneror pendaki. Suatu hari, Bima dan sahabatnya, Alif, melanggar pantangan gunung hingga Alif hilang menjadi abdi gaib. Saat dewasa, Bima harus memutus kutukan leluhur dibantu khodam warisan. Meski berhasil, ia harus kehilangan orang tuanya yang tewas dalam ritual gaib, menyisakan duka dan kesendirian mendalam.
Bab
Bagikan

Bab 2

Hari itu, Alif meminta untuk ikut karena dia ingin punya uang sendiri untuk jajan.

Aku pikir, ada teman itu menjadi asik. Jadi aku mengizinkannya.

Dari siang sampai jam empat sore, kami berjualan dan Alif juga membantuku mengumpulkan, membawa kayu sampai rumah.

"Lif, ini buat kamu," kusodorkan uang sepuluh ribu padanya. Dan aku memegang 15 ribu.

Dia tampak senang, sampai kebiasan kami jadi keterusan, dan terus berjualan bersama.

Satu hari itu, kami turun dari gunung terlalu sore. Biasanya jam empat kami sudah ada di pos kedua, Pos Ibu Mertua.

Estimasi Pos 2. Ibu Mertua ke Pos 4. Mantu Lanang memakan waktu kurang lebih tiga jam, tetapi saat ini sekitar jam empat sore. Kami berdua malah baru mau turun dari Pos Mantu Lanang, karena lupa waktu, terlalu asik mengobrol.

"Bim, kita kesorean ini pulangnya. Nanti sampe bawah pasti udah gelap," ujar Alif yang berjalan di belakang, Kami turun gunung sambil memikul masing-masing seikat ranting kering yang kami kumpulkan.

"Iya, ayo cepetan jalannya," balasku, mempercepat langkah.

Anehnya, setelah kami berjalan cepat. Aku justru merasa kami berdua tidak sampai-sampai di bawah.

Seketika, perasaanku tak enak. Segala pikiran negatif, dan bayangan tak menyenangkan muncul secara tiba-tiba di benakku.

Cahaya matahari perlahan sudah hilang, dan tiba-tiba Alif menyuruhku berhenti sejenak setelah berjalan turun ngebut, kurang lebih satu jam sudah ada hampir sampai di pos tiga, Pos Ipar.

"Berhenti dulu, Bim!"

"Apa?" Aku menoleh, dengan mata sipit karena keringat yang masuk ke mata. Sehingga membuat perih. Ditambah, ranting-ranting di atas pundak serasa semakin berat.

"Aku denger suara Ibuku manggil!"

"Hah?" Aku terkejut, ibunya manggil katanya?

Berdiri menjaga keseimbangan tubuh sembari satu tangan merangkul ranting-ranting kayu yang kupikul. Sedangkan satu tangan lagi, berpegangan pada tumbuhan liar yang kuyakini cukup kuat.

"Aku denger suara Ibuku, Bim!" Alif berkata lagi, padahal ungkapan awalnya saja belum aku jawab.

Alif mulai mengendarkan mata, tetapi tetap sembari memegangi ikatan ranting yang ada di atas pundak.

"Bukan Ibumu, Lif. Kita di gunung, mana ada suara orang dari bawah manggil ... lagian, ibumu juga bertahun-tahun nggak pulang. Masa iya, sekarang kamu denger suara ibumu?" jawabku. Tanpa bisa kutahan lagi, bulu kuduk di tubuh mulai meremang.

"Tapi, aku bener-bener dengar suaranya. Apa iya, ibuku pulang terus nyusulin aku ke sini karena belum pulang, ya?" katanya.

"Nggak mungkin menurutku, Lif." Aku berusaha untuk membuat Alif melupakannya, dan lanjut berjalan turun untuk pulang.

Sebab, waktu akan terus berjalan walau kami tetap berhenti.

Akan semakin gelap, dan belum tentu aku dan Alif bisa turun dengan benar karena tidak adanya alat penerangan.

"Udah, ayo kita pulang. Sebelum malem. Itu bukan ibumu, bukan," kataku.

"Tuh! Denger nggak? Itu bener-bener suara ibuku, Bim!" Nada suaranya bersungguh-sungguh, seakan dia telah merasa sangat rindu.

"Lif! Nggak mungkin itu ibumu. Dari Pos 1-Bapak Mertua sampe sini itu sekitar empat jam, loh! Ayo kita pulang, nanti kita makin malem! Iya kalo ketemu pendaki di jalan, kalo enggak?

Udah, kamu salah denger itu!"

"Aku nggak salah denger! Kamu coba dengerin baik-baik!"

Aku terdiam, mencoba mendengarkan.

Kayu di atas pundak semakin lama semakin berat, dan membuat pundak sakit.

Aku mengerti, seberapa rindunya dia pada ibunya. Tetapi, yang benar saja dia dengar suara ibunya memanggil sedangkan aku tidak mendengar suara orang selain suaraku dan Alif yang berdebat.

Alif masih saja mengedarkan pandang, mungkin mencari-cari dari mana arah tepat suara yang dia dengar.

Sedangkan aku tetap diam sembari mulai khawatir dan terus merinding, mengingat waktu makin terulur.

"Lif ...." Aku bingung, melihat Alif menurunkan kayu dari atas pundaknya, aku pun ikut-ikutan menurunkan kayu yang kupikul.

Menatap Alif yang tiba-tiba menatap ke satu arah lurus.

"Bima! Itu ibuku! Itu ibuku, Bim!"

Aku melihat ke arah yang ditunjuk Alif, tetapi tak melihat seorangpun.

"Mana?!" tanyaku, sebab mulai emosi karena merasa ini akan menjadi tambah lama.

"Itu!" Dia menunjuk ke arah yang tetap.

"Ibuuuu!"

"Alif!" Aku mengejar Alif, yang tiba-tiba saja berlari. Terus kupanggil sampai sendal yang kupakai putus, karena rumput dan akar pohon liar yang kuterobos begitu saja.

Saat sendalku putus, aku sempat berhenti, berniat memperbaiki mungkin saja masih bisa dipakai lagi. Akan tetapi, ketika aku melihat Alif berlari makin jauh, aku jadi melupakan niat tentang sendal dan memilih lanjut berlari mengejarnya tanpa alas kaki.

"Tunggu, Lif!"

Tubuh Alif makin tak terlihat, aku sudah terlalu jauh tertinggal di belakang.

Tumbuhan liar, dan zona tanah yang tidak rata pada gunung membuat aku yang sebenarnya bisa berlari cepat, menjadi lambat, karena harus melompati semak, juga menyibak tanaman untuk melihat jalan.

Sampai akhirnya, aku melihatnya, di depan sana. Alif memeluk sosok perempuan yang membuatku langsung berhenti melangkah.

Bisa aku tebak, rambutnya sepanjang betis, gaun putih, kulit pucat. Sedang mengelus-elus belakang kepala Alif.

Dadaku berdebar hebat, dengan menahan ragu aku terus melangkah pelan. Sembari gemetaran, aku memberanikan diri memanggil Alif.

"Lif! Alif! Itu bukan ibumu, ayo kita pulang, nanti kamu dicariin sama Pamanmu."

Alif menoleh padaku dengan mata basah, dan senyuman, diselingi suara ingus layaknya bocah yang habis menangis.

Dari cara Alif menatapku, seolah dia meyakinkanku kalau itu memang ibunya, dan ketika aku berusaha melangkah untuk mendekat lalu menarik Alif.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel A Thousand Tears of Sword
8.8
Benua terkutuk kini menjadi neraka akibat perdagangan manusia dan penindasan kejam bagi yang lemah. Demi mengakhiri penderitaan ini, para dewa mengutus Dewi Kematian untuk membasmi kejahatan di sana. Namun, sebuah insiden fatal saat turun ke bumi melenyapkan seluruh kekuatannya. Sang dewi justru terlahir kembali sebagai gadis kecil bernama Hua Hua. Mampukah ia menjalankan misi sucinya dan menyelamatkan mereka yang tertindas tanpa kekuatan dewa?
Sampul Novel Cinta Terlarang Sang Raja Alfa, Dendam Diamku
9.5
Tiga tahun mendampingi Alpha Kaelan, aku hanyalah bayang-bayang Lyra, bibiku sendiri. Saat ayahku wafat, Kaelan justru mengabaikanku demi wanita itu di Paris. Kebenaran pahit terungkap di ruang rahasianya; seluruh pertemuan kami hanyalah rekayasa agar dia memiliki pengganti Lyra. Kini, mengandung benihnya, aku membalas dendam dengan tipu daya. Menggunakan sihir untuk menyembunyikan kehamilan dan surat penolakan resmi, aku pergi selamanya menuju benua baru.
Sampul Novel Dari Omega yang Ditolak menjadi Ratu Raja Alpha
9.3
Menjelang Upacara Ikatan Suci, pengkhianatan Raditya terungkap melalui pesan batin dari Eva, saudari angkatnya. Saat aku dipaksa berakting sebagai Omega yang patuh, Raditya terus berselingkuh dan orang tuanya mencuri hasil kerjaku demi Eva. Mereka menghinaku lemah, tak tahu bahwa aku adalah pewaris sah dari kawanan terkuat di benua ini. Kini, aku telah mengatur siaran global untuk mempermalukan mereka semua tepat di hari yang seharusnya menjadi pernikahan kami.
Sampul Novel Elegi of Rosr
9.1
Pasca gagal menikah, hidup Ayu Suwarjo hancur hingga ayahnya terpaksa menjaminkan dirinya pada Roy Punda demi menyelamatkan bisnis keluarga. Lewat kontrak enam bulan, Ayu terikat pernikahan paksa dengan pria sombong tersebut demi kebahagiaan ibunya. Meski awalnya menolak, Ayu harus berjuang menjaga sikap di depan suami barunya. Di tengah rahasia dan petualangan yang menguji kesetiaan, akankah sandiwara pernikahan sementara ini berubah menjadi ikatan cinta yang abadi?
Sampul Novel FINDING MOM
9.1
Demi menemukan ibu kandungnya, seorang gadis nekat merantau ke luar negeri sebagai buruh migran. Di sana, ia bertemu beberapa pria yang jatuh hati padanya, namun tak disangka salah satu dari mereka adalah kekasih sang ibu. Sementara itu, ibunya telah lama melupakan keluarga demi hidup bebas. Takdir mempertemukan mereka tepat saat sang gadis dilamar oleh pria masa lalu ibunya. Konflik batin pun memuncak dalam pencarian jati diri dan cinta ini.
Sampul Novel Gadis Imut Kesayangan Sugar Daddy
8.9
William Samsons MacRay, arsitek ternama berusia 37 tahun, tak sengaja bertemu Emmy Estelia Setiawan saat tertimpa sial di bandara. Emmy, lulusan Harvard yang baru kembali ke Jakarta, ternyata adalah karyawan baru di perusahaan milik William. Ketertarikan mendalam membuat William selalu membawa Emmy dalam perjalanan bisnis dunianya hingga hubungan mereka berkembang menjadi sugar daddy dan baby. Namun, perjodohan dari orang tua William mengancam cinta beda usia ini.