
Gunung Pengantin Ngunduh Mantu
Bab 3
Tiba-tiba, di belakang wanita itu, muncul sesosok tubuh besar yang terjun mendarat dari atas pohon. Berbulu lebat, badannya besar dan tinggi.
Reflek aku berteriak dan berbalik, lalu lari kencang meninggalkan Alif.
Menerobos kembali rumput dan tumbuhan liar, sampai kakiku tersandung tumbuhan, dan membuatku jatuh terjerembab. Masuk ke dalam semak. Tubuh kecilku langsung tenggelam begitu saja.
Bau tanah, dan tumbuhan khas tercium begitu jelas. Aku tak langsung bangun, tapi duduk dengan napas tak stabil, melihat ke arah Alif.
Sosok wanita itu membawa Alif berjalan bersamanya. Pergi, entah ke mana.
Namun, dari arah jalan yang mereka ambil, mereka sedang menuju curug dan sumur tempat aku mengambil air, bersama Alif untuk dijual.
Pikiran kacau, baju basah karena keringat. Tangan gemetaran, ketika aku melihat bayangan hitam dengan suara yang sangat gampang dikenali. Tengah berjalan ke arahku.
Grk ... Grok!
Itu bab1 hutan.
Sontak aku menangis dalam diam, aku berdo'a meminta keselamatan pada Tuhan, di antara tumbuhan liar yang menutupi penuh tubuhku.
Beruntung, tak lama hewan buas itu hanya lewat, juga sama sekali tidak menyadari keberadaanku.
Segera aku bangkit, hutan sudah mulai gelap. Tetapi, masih ada cahaya remang yang membuatku masih bisa melihat. Berdiri sambil berpikir.
Apakah aku akan nekat pulang dan meninggalkan Alif? Lalu bagaimana aku akan berkata pada Paman dan bibinya? Juga, aku pasti dimarahi oleh orang tuaku karena telah lalai atas peringatan. Apalagi terjadinya hal seperti ini, jelas aku takut, dan bingung dalam satu waktu.
Sudah kuputuskan, aku kembali menyusul Alif. Mengikuti ke arah wanita itu membawa Alif.
"Alif! Aliiif!" Sembari berjalan, melihat kanan kiri. Kupanggil dia.
Hingga, harapan muncul begitu melihat Alif di depan sana. Tak jauh, di tepi curug.
Aku tak langsung menghampiri, melainkan diam berjongkok, karena heran melihat Alif yang tidak memakai baju. Hanya celana saja.
Di sana juga ada sosok wanita yang membawa Alif, sedang duduk di batu. Sedangkan Alif, berjongkok.
Sosok wanita itu menyerok air dari curug menggunakan gayung batok kelapa. Aku melihat, sosok wanita tersebut memandikan Alif.
Dari atas kepala, air diguyurkan ke tubuh Alif. Aku menahan napas, kala sosok wanita itu tiba-tiba berhenti menyiram Alif, dan justru malah melihat ke arahku.
Hampir pingsan dan kembali lari, ketika wajah wanita itu begitu hitam legam. Dengan mata bulat tanpa kelopak, dari semua warna kulit hitam wajahnya, bola mata putihnyalah yang paling menonjol. Juga terlihat, garis lengkung dari mulutnya yang tersenyum menyeramkan padaku.
Tak berapa lama, aku lihat Alif kembali memakai baju. Dia berjalan ke arahku, seakan tahu aku ada di sini sejak tadi.
Padahal, Alif sama sekali belum menoleh ke arahku dari tadi aku datang menyusul.
"Ayo, Bim," ajaknya. Aku terbengong, melihat tingkah Alif. Seperti sudah tak terjadi apa-apa.
"Lif, kita mau ke mana?" tanyaku, mengikuti di belakang.
"Pulang, kan?" jawabnya.
"O-oh, iya," jawabku, walau sebenarnya ada pertanyaan di benak. Tentang, kenapa hantu wanita itu memandikan Alif. Dan kenapa dia tidak terlihat takut sedikitpun.
Kami turun gunung berdua dalam ketemaraman yang begitu sunyi sepi, benar-benar tak bertemu satu orang pendaki sekalipun. Alif juga tak berkata apa-apa selama kami berjalan.
Aku mengikutinya tanpa sendal, sementara dia berjalan biasa, tak ada basa-basi seperjalanan kami.
Anehnya, aku merasa kali itu kami cepat sampai di bawah, di pos Bapak mertua. Mungkin, hanya memakan waktu 15 menit.
Padahal, seingatku. Harusnya bisa sampai kurang lebih, tiga jam sampai di bawah dan tentunya. Aku juga sempat terpikirkan bagaimana caranya turun, kalau tak bertemu pendaki, secara kami tak ada alat pencahayaan.
Bahkan, kami tak membawa ranting yang sudah kami tinggalkan.
Anda Mungkin Juga Suka





