
Goyangan Panas Ibu Mertua
Bab 2
Vanessa dan Rudi keluar dari kamar untuk makan malam, Rudi yang berjalan beriringan dengan sang istri berusaha untuk mencubit pinggang Vanessa karena masih mengingat kejadian di dalam kamar.
" Kamu apaan sih, Mas? Jangan usil ya kamu!" Ucap Vanessa tertahan.
Rudi hanya bisa meringis ketika merasakan jari tangan Vanessa berhasil mencubit tangannya, Tetapi, Dia sangat senang melihat Vanessa yang malu-malu seperti sekarang, apalagi wajah Vanessa sudah seperti kepiting rebus karena ulahnya.
" Aku akan melakukan itu lagi nanti, Kamu harus mempersiapkan diri sebaik mungkin ya, Kalau bisa sampai pagi aku gak bakalan kasih kamu waktu buat istirahat," Ucap Rudi di telinga Vanessa.
Vanessa langsung melotot ke arah suaminya itu, Membayangkan hal yang sudah dialami tadi, Membuat dia kapok dan masih merasakan sakit akibat pertempuran mereka, Sekarang Rudi bahkan meminta hal itu dilakukan sampai pagi.
" Kamu kalau mau membuat aku mati secara perlahan gak papa, Mas! Silahkan, Lakukan!" Jawab Vanessa akhirnya.
Melihat kedatangan Vanessa dan Rudi yang menjadi bintang utama pada malam ini, Berhasil membuat pandangan semua orang yang sedang berada di ruang tamu menatap ke arah mereka yang jalan beriringan.
Menjadi pusat perhatian semua orang membuat Rudi dan Vanessa jadi salah tingkah, Bahkan ada yang sengaja menggoda mereka karena melihat rambut Rudi dan Vanessa sudah basah ketika keluar dari kamar.
" Cie, Yang habis unboxing malam pertama," Ucap sepupu Vanessa.
" Ini harusnya baru permulaan,kok udah pada basah aja sih tu rambut," ucap Tante Sherly.
"Gercep ya, Mana tau nanti bisa kasih Papa cucu," Papa Vanessa pun ikutan menggoda anak gadisnya tersebut.
" Pa, apaan sih? Gak lucu tau gak," ujar Vanessa yang merasa sangat malu,kalau bisa dia malah ingin menyembunyikan mukanya dari hadapan semua orang saat ini, "
Terlepas dari semua orang yang mencoba untuk menggoda Rudi dan juga Vanessa, hanya Mama Vanessa yang terlihat diam saja tanpa ada reaksi apapun ketika semua orang berusaha untuk meledek dan juga membuat Vanessa dan juga Rudi merasa malu. Bahkan dari awal dia sama sekali tidak ingin membahas tentang hal itu di tempat ini.
"Sudah! Sudah! Kalau kalian selalu menggoda mereka, kapan kita akan makan? Meja makan saatnya kita untuk sama-sama mengisi perut, bukannya malah membuat mereka merasa malu dengan ulah kalian yang tidak ada faedahnya, " jelas Nina.
Semua orang pun akhirnya mendengarkan apa yang dikatakan oleh Nina, mereka pun mulai fokus dengan menu makanan yang ada di hadapan mereka masing-masing, Vanessa merasa sangat lega dengan tindakan yang diambil oleh Mamanya itu, karena dia bisa terselamatkan dari bahan ledekan yang tidak akan pernah habisnya kalau saja sang Mama tidak memberhentikan topik utama yang saat itu tertuju kepada dirinya dan juga Rudi suaminya.
Di dalam hatinya Vanessa berkata, "untuk saja Mama mengerti isi hatiku, I love you so much mom."
Setelah makan malam selesai, Mereka semua langsung menuju ke arah ruang keluarga untuk bersantai dan mengobrol di sana, Tanpa terkecuali Vanessa dan Rudi.
Ketika Rudi akan pergi mengikuti Vanessa ke ruang keluarga, tiba-tiba saja dia menyadari kalau handphone yang dari tadi dia tinggalkan di kamar belum dia buka dari selesai acara pernikahannya, Rudi berinisiatif untuk mengambil terlebih dahulu handphone yang ketinggalan di kamar lalu menyusul istrinya di ruang keluarga.
Nina yang kebetulan dari tadi mengintip Rudi yang saat ini berada di tempat lain, Merasakan ada waktu untuk mendekati Rudi, Tanpa membuang waktu Dia langsung berlari ke arah kamar Vanessa dan Rudi yang berada di lantai atas rumahnya itu.
Rudi telah mendapatkan ponsel yang ada di tangannya saat ini,ketika dia menghidupkan data di ponselnya itu,banyak sekali chat bertumpuk masuk ke dalam aplikasi berlogo hijau tersebut untuk segera dia baca. Rudi memilih untuk skip semua itu, Karena menurut Rudi ini adalah ucapan dari sebagian orang yang mengenalnya dan rekan kerjanya saat ini, saking asyik dengan gadget di tangannya, Rudi bahkan tidak menyadari kalau Nina mertuanya saat ini sudah berada di dalam kamar tersebut.
Tanpa basa-basi Nina langsung saja mengunci pintu kamar putrinya dan juga menantunya tersebut, Rudi kaget ketika mendengar pintu terkunci, Dia lalu melihat ke arah pintu karena posisinya saat itu membelakangi pintu.
"Ma-mama? Ngapain Mama disini?" Tanya Rudi heran.
"Aku merindukanmu, Rud!" Ucap Nina sambil berjalan mendekati Rudi.
" Mama, jangan gila! Ingat kalau sekarang status kita sudah berbeda, Apa mama lupa kalau aku adalah menantu Mama?" Rudi merasa tidak habis pikir dengan apa yang diucapkan oleh mertuanya tersebut.
" Peduli setan dengan semua itu! Aku merindukanmu, Aku menginginkanmu! Aku yang lebih dulu mengenalmu. Jadi, semua yang telah menjadi milikku tak akan mudah aku lepaskan dengan mudah, Termasuk pada anakku sendiri!" Jelas Nina penuh emosi.
" Kamu benar-benar sudah gila! Keluar dari kamar ini sekarang, Sebelum semua orang melihat kita dan mereka salah paham dengan semua yang mereka lihat."
" Apa kau tidak rindu dengan goyangan liar ku ini? Bahkan dulu kau tergila-gila dengan sentuhan lembut dari jemari indah ini bukan?" Tanya Nina yang sekarang sudah berada di depan Rudi.
Rudi berusaha menghindar dan berpikir sewajarnya, Keimanan yang setipis tisu itu, Benar-benar diuji oleh Mama Mertua yang sangat membuatnya mabuk kepayang.
" Tolong kembalikan dirimu, Ma! Ingat lah Vanessa, Bukankah dia adalah putri kandungmu? Apa yang akan dia katakan ketika suami dan juga mamanya sendiri berada di dalam kamar seperti ini," jelas Rudi.
"Semakin kau mencoba untuk banyak bicara, Semakin membuat aku berhasrat untuk melakukan ini, sayang! Puaskan aku! Jangan munafik seperti ini Rudi!"
Nina merasa geram dengan penolakan yang dilakukan Rudi terhadapnya, Tetapi, Bukan Nina namanya ketika dia menginginkan sesuatu tapi tidak mendapatkan apa yang dia mau.
Nina mulai membuka satu persatu pakaiannya, menyisakan bagian dalam yang melekat di tubuhnya. Dia tidak peduli dengan Rudi yang berusaha menatap ke arah lain saat ini, Nina langsung mendorong tubuh Rudi ke atas kasur yang ada di hadapannya.
" Tolong lepaskan saya,Ma! Masih banyak orang lain yang bisa memuaskan kamu melebihi saya. Apa kau tidak mengingat suamimu? Aku akan melupakan kalau kita pernah ada hubungan sebelum ini, bersikaplah layaknya seorang mertua memperlakukan menantu kepadaku, Aku sangat mencintai Vanessa, Aku tidak mau hubungan pernikahan kami hancur hanya karena ego Mama yang tidak bisa dikendalikan seperti itu."
"Dari kecil saya sudah banyak berkorban untuk Vanessa, Lalu dimana salahnya? Kalau saat ini aku meminta Vanessa sedikit berkorban untuk ku? Kalau kau tak banyak bicara dan nikmati saja semua yang terjadi antara kita hari ini, pastinya kau akan baik-baik saja, Semua akan berjalan sesuai dengan semestinya," ucap Nina.
Nina mulai melakukan penyerangan di area sensitif dan Dia sangat hapal sekali kalau Rudi tidak akan bisa menolak, Jika sudah disentuh oleh Nina.
Otak dan hati Rudi sudah tidak berfungsi dengan benar, otaknya berpikir untuk menghentikan aktivitas konyol ibu mertuanya, Tetapi hatinya berpikir dan menyuruhnya untuk segera melarang Rudi untuk segera berhenti. Nina sangat tahu kelemahannya, sekarang dia mulai terpancing dengan sentuhan demi sentuhan yang dimainkan Nina di tubuhnya.
Melihat Rudi yang saat itu tidak lagi berontak dan mulai pasrah menerima apapun yang dia lakukan kepadanya. Hal itu tidak disia-siakan oleh Nina, Dia mulai melucuti semua pakaian yang melekat di tubuh Rudi saat ini.
"Jadilah suami untuk anakku, Tetapi, Aku akan selalu menjadikan kamu sebagai tempat pemuas hasrat ketika aku menginginkannya, Itu berarti kau juga milikku," bisik Nina di tengah aktivitas yang dia lakukan saat ini.
Akhirnya Rudi kalah dengan akal sehatnya, Dia mulai merespon dan membuat Nina mendapatkan apa yang seharusnya dia cari selama itu, pertempuran yang seharusnya dia lakukan bersama Vanessa, Malah dia lanjutkan bersama Nina di kamar yang sudah digunakan untuk dia dan istrinya.
Di tengah-tengah asiknya mereka saling bertukar keringat, mereka mendengar pintu kamar yang di ketuk.
Tok...tok...tok...
Siapa yang datang?
Anda Mungkin Juga Suka





