
Goyangan Panas Ibu Mertua
Bab 3
Rudi seketika mendorong Nina yang saat ini berada di atasnya, Saking kaget ketika dia mendengar suara pintu yang diketuk.
" Aww... Sakit, Kamu kenapa kasar begitu sih Rudi?" Tanya Nina yang tidak terima dirinya di dorong begitu keras oleh Rudi sehingga ia jadi terjungkal akibat ulahnya Rudi.
"Ma- maafkan saya,Ma! Sa-saya kaget dan refleks mendorong Mama sampai terjatuh," Jawab Rudi sambil membantu Nina sang ibu mertua berdiri.
Setelah menolong Nina, Rudi langsung mengenakan semua pakaiannya secara cepat, seiring dengan ketukan pintu yang semakin cepat.
Melihat Rudi yang panik seperti itu, Membuat Nina tidak terima, Karena Rudi menghentikan permainan di saat Nina hampir sampai pada puncaknya.
" Rud, Kamu mau ngapain?kenapa semua pakaian di pakai? Kan belum selesai? Enak di kamu, Gak enak di saya dong,"Ucap Nina protes.
"Hentikan kegilaanmu ini, Ma! Apa telingamu tuli? Kau tidak mendengar pintu yang digedor sekarang? Sebaiknya pakailah pakaianmu, Aku tidak mau ketangkap basah dan pernikahan aku yang baru berlangsung dengan hitungan jam, Harus berakhir konyol karena masalah ini?" Tanya Rudi.
"Persetan dengan itu semua! Walaupun mereka tau tentang kita, Aku sama sekali tidak peduli Rud! Yang penting aku bisa terpuaskan dengan semua keinginan ku terpenuhi," jawab Nina yang tidak mau tau.
Rudi benar-benar merasa kalau Nina sudah mulai tidak waras, Bahkan Dia tidak tampak cemas sama sekali saat ini, Padahal Rudi sudah hampir pecah kepalanya memikirkan alasan apa yang akan dia berikan ketika nanti Vanessa menanyakan tentang keberadaan dirinya dan Mertua di dalam kamar mereka.
"Kamu tidak perlu cemas begitu, Sayang! Aku tidak mungkin membiarkan hubungan rumah tangga kamu dan Vanessa hancur, Itu sama saja membuat aku tidak bisa dekat-dekat lagi dengan kamu, sekarang tolong dengarkan aku! Cepat buka pintu itu, Aku akan berada di balkon dan carilah alasan agar istrimu itu tidak jadi masuk kedalam kamar ini, Kau mengerti?" Tanya Nina.
Karena tidak bisa memikirkan cara apapun saat ini, Rudi hanya menurut saja semua yang dikatakan oleh Nina kepadanya, Setidaknya apa yang dilakukan Nina ada benarnya juga, Pernikahan yang baru hitungan jam itu bisa diselamatkan untuk hari ini.
~~~
Di ruang keluarga
Vanessa yang dari tadi asyik berbincang dengan seluruh anggota keluarga, Sehingga Vanessa lupa kalau dari tadi dia tidak bersama dengan suaminya, Vanessa seakan lupa kalau dia sudah bersuami dan juga mempunya status yang baru.
Tari yang saat itu baru datang dan bergabung dengan mereka semua, Langsung mempertanyakan tentang suami Vanessa yang tidak terlihat ada disampingnya, Padahal notabenenya mereka adalah pengantin baru, Yang identik dengan selalu bersama dimanapun berada.
" Van,Suami kamu mana?" Tanya Tari.
" Suami? Vanessa mulai bingung dengan pertanyaan dari Tante nya itu, karena dari tadi mereka memang membahas tentang di luar acara yang sudah mereka gelar.
" Jangan bilang kamu lupa kalau kamu sudah punya suami ya Van, belum sampai 1 hari loh, Masak iya kamu udah lupa sih?" Tanya Tari sambil menepuk jidat
Vanessa tampak berpikir sebentar,lalu
" Astaga! Aku lupa kalau tadi aku habis makan malam bersama mas Rudi, kemana ya, Dia?" Tanya Vanessa sambil melihat-lihat sekitar ruang keluarga.
" Ya ampun, Van! Kumat lagi ya sifat lupa Lo itu, bahkan hal sepenting itu bisa Lo lupain? Jangan-jangan bentar lagi Lo bakalan lupa juga kalau Lo itu anak siapa," ejek Tari.
" Sialan,Lo!"
Vanessa langsung melempar bantal yang ada di sofa tersebut ke arah Tari, Dia langsung berdiri mencari keberadaan suaminya yang entah dari kapan dia tidak berada di sampingnya.
Semua ruangan bawah sudah di cari oleh Vanessa, Tetapi, Dia tidak dapat menemukan Rudi dimanapun di tempat ini, Vanessa berpikir paling suaminya itu saat ini sedang istirahat di kamar, Karena cuman tempat itu satu-satunya tempat yang belum di datangi oleh Vanessa untuk mencari suaminya.
Vanessa bergegas menaiki tangga dan menuju ke kamar pengantin dirinya dan Rudi tempati, kamar yang sengaja dipilih Vanessa untuk dirinya ketika pembuatan rumah dulunya, Selain pemandangan yang bagus dari atas, Vanessa sangat menyukai kesunyian, Hal itulah yang membuat Vanessa memilih kamar itu untuknya.
Setelah sampai di depan pintu kamar nya sendiri, Vanessa mencoba mendorong pintu yang tadi di awal tidak di kunci mereka, Tetapi, saat ini pintu tersebut ternyata tidak bisa dibuka dan dikunci dari dalam.
Vanessa bingung, Kenapa pintunya bisa terkunci, Padahal seingatnya tadi sebelum mereka pergi, Pintu ini masih terbuka."
"Apa mungkin mas Rudi tidur? Makanya dia mengunci pintu ini? Tetapi, kenapa dia tidak mengatakan apa-apa kepadaku kalau ingin istirahat? Atau mungkin dia marah padaku? Karena aku mengabaikan dirinya?" Vanessa mulai bermonolog sendiri dan menerka-nerka apa yang terjadi saat ini.
Dengan sedikit keraguan antara mengetuk pintu dan membiarkan suaminya itu di dalam, Vanessa memilih berdiri saja di depan pintu itu dan mencoba untuk menimbang baik dan buruknya apa sikap yang akan dilakukan oleh Vanessa saat ini.
"Aku harus apa sekarang? Apa aku ketuk saja pintunya? Takutnya nanti pas Aku ketuk Mas Rudi beneran lagi istirahat dan ketukan pintu itu malah mengganggu istirahatnya. Tetapi, kalau aku biarkan saja seperti ini, Takutnya memang aku yang membuat kesalahan karena terlalu lama mengabaikannya dari tadi karena terlalu sibuk mengobrol dengan seluruh anggota keluarga, sehingga aku melupakan dirinya. Argh... Aku harus apa?" Cicit Vanessa sendiri.
Lama Vanessa berdiri mematung di depan pintu kamarnya sendiri, tetapi, Ada sesuatu hal yang lama-kelamaan didengar oleh Vanessa dari dalam kamar tersebut.
Seperti suara orang berbicara, Vanessa mencoba untuk lebih menajamkan pendengarannya ke arah pintu tersebut, namun, Tidak terdengar lagi.
Akhirnya setelah perdebatan panjang dengan pemikirannya, Dia lebih memilih untuk mengetuk saja pintu tersebut dan membangunkan suaminya.
Ketukan demi ketukan yang ia lakukan, Tetap tidak membuat sang suami membuka pintunya. Dia lalu mencoba lagi dan lagi untuk mengetuk pintu tersebut, Karena tidak ada tanda-tanda mau dibuka, Akhirnya dia memutuskan untuk memanggil sambil terus mengetuk pintu yang masih tertutup rapat itu.
Tok...tok ...tok... Mas?
Tak ada jawaban, dia mengulanginya sampai berulang kali, tetap saja tidak dijawab.
"Mas? Kamu ketiduran? Masak iya sih gedoran pintu Segede gini dia gak denger? Kamu tidur apa mati sih mas? Buka pintunya dulu, kamu marah sama aku? Ayo, ngomong dulu! Jangan ngambek begini! Gak lucu tau gak," ucap Vanessa yang mulai jengkel karena pintu yang dia harapkan terbuka sampai saat ini masih belum terbuka.
" Kalau kamu gak mau buka ini pintu, jangan salahin aku kalau pintu ini aku dobrak ya,Mas! Kamu gak tau ya kalau aku ini adalah atlet pencak silat, gak susah buat Aku membuka pintu ini jika aku mau merusaknya," teriak Vanessa lagi.
Vanessa masih mencoba menunggu agar suaminya itu membuka pintu, Tapi masih tetap tidak terbuka, Perasaan khawatir akan suaminya membuat Vanessa berencana akan mendobrak langsung pintu yang ada di depannya saja. Vanessa langsung mengambil ancang-ancang agar bisa menendang dengan perkiraan yang tepat.
Ketika dia merasa sudah pas,dia mulai menghitung,1...2..ti-
Hiyaaaaa- tendangan mulai di layangkan oleh Vanessa
Ceklek...Van-
Bugh!
Aaaaa....!!!
Anda Mungkin Juga Suka





