
Godaan yang Terlalu Memikat
Bab 3
Dena agak kaget. “Kau tidak tahu? Kau itu sedang diatur untuk menikahi salah satu sepupumu. Itu sudah lazim terjadi di dunia bisnis. Kau tidak tahu soal itu?”
Bastien tertawa. “Menikahi sepupuku? Jangan bercanda seperti itu!”
“Aku tidak pernah bercanda soal kehidupan para konglomerat. Sebagai seorang presdir, tugas pertamamu adalah menikah dan memiliki seorang pewaris,” sahut Dena.
“Itu tidak mungkin! Usiaku baru dua puluh tahun!” tambahnya cepat. “Waktuku masih panjang.”
“Usia muda tidak berarti kau terhindar dari malaikat maut,” kata Dena blak-blakan. “Kecelakan bisa terjadi kapan saja, dan nyawamu juga bisa dicabut kapan saja. Itu berlaku untuk kita semua sebagai manusia. Kalau ajalmu tiba sebelum kau memiliki penerus maka perusahaan tentu akan jatuh kepada keluarga dari pihak ayahmu begitu saja.”
“Aku tidak pernah terpikir untuk menikah muda,” jawab Bastien cepat. “Sebagai seorang pelaut miskin, aku tidak pernah mengira akan punya kesempatan untuk menikah. Meskipun aku juga tidak menentang ide untuk menikah. Hanya saja bagaimana kau menikah tanpa cinta? Apalagi menikahi sepupu sendiri, bukankah itu aneh? Maksudku ada banyak perempuan diluar sana yang tidak berhubungan keluarga denganku, mengapa aku harus memilih menikahi sepupu sendiri?”
“Kau sangat polos, tapi asal kau tahu bahwa kau sebenarnya sudah dijebak sejak awal, beruntung kau menyadarinya lebih cepat berkatku,” kata Dena seraya menundukan kembali tubuhnya di meja. Bersamaan dengan moment ketika dia menyodok bola biliar, sekali lagi pintu terbuka dan hal itu membuat sodokannya meleset lagi.
“Sial!” gerutunya, ketika menyadari yang masuk ke dalam ruangan tersebut adalah adik perempuannya yang langsung merangkul tanpa membiarkan Dena mengatakan apa-apa.
“Dena! Sungguh aku tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Aku sudah banyak melakukan hal bodoh sejak dia datang. Dia bahkan mengancamku dan tahu tentang Aletha!” ujarnya berbisik sambil memeluk Dena. Wanita itu tidak memperhatikan yang lain. Dena berusaha menghentikan serbuan kata sekaligus pelukan dari adiknya, tapi ketika nama Aletha disebutkan dia langsung mengernyit.
“Apa?” katanya tajam.
“Dia tahu rahasiaku, dia meminta uang penebusan. Selain itu aku juga sudah melakukan tindakan bodoh!” Dia terus berkeluh kesah tanpa peduli keberadaannya sekarang.
“Deshara!” sergahnya sambil menggeleng tegas.
Deshara mengerjap. “Apa?”
“Kita tidak hanya berdua disini.” Dena memberitahu Deshara.
Wanita itu menoleh dan terbelalak mendapati Bestian ada diruangan itu. Pemuda itu berdiri di ujung meja biliar. Tertunduk dengan tangan terlipat rapi dipunggung. Perlahan dia mengangkat wajah untuk memandang Deshara.
Masih begitu banyak emosi yang tersimpan di dalam benak wanita itu, tapi tampaknya bukan saat yang tepat untuk mengangkatnya ke permukaan. Secara perlahan, Deshara memberikan sebuah salam kepadanya, memberikan penghormatan pada pria yang tidak asing di matanya itu. “Maafkan aku, aku tidak melihat ada kau ada disini.”
“Sekarang kau bisa melihatku?” tanya Bastien dengan senyum tipis.
Deshara menahan napas, pria yang dia temui belum lama ini. “Oh, pantas saja aku tidak asing. Kau pemuda yang bernama Bastien itu ‘kan?”
“Ya, betul.”
Mereka berdua bertatapan agak lama. Hanya dari sekali lihat jelas sekali bahwa pemuda itu menaruh ketertarikan pada Deshara. Serangan ide muncul secara refleks di kepala setelah dia menerima sedikit informasi kecil dari staff hotel sebelum menjangkau Dena. Bestian adalah tamu yang dibawa oleh Josep, tentu saja hubungan itu bisa jadi sebuah hal yang bagus dan menguntungkan untuk Deshara.
Bastien memecah keheningan, dia bicara dengan terbata-bata ada semburat merah di wajahnya dan pemuda itu berusaha untuk menyembunyikannya. “Maafkan aku, kau pasti bingung karena aku ada disini. Kurasa aku akan mencari waktu yang tepat untuk bicara. Aku permisi sekarang, sepertinya kau punya urusan yang perlu ditindak lanjuti.”
Deshara mengulas senyum tipis, mengenyahkan terlebih dahulu rasa sebal kepada pria tua bangka yang menyembunyiakn putranya. “Bagaimana bisa kau mengira seperti itu? justru sebenarnya aku sedang mencarimu,” katanya riang.
“Mencariku?”
“Ya! Kukira kau sudah tidak ada disini. Tapi apa kau tersasar lagi?”
“Tidak,” ungkapnya ragu-ragu tapi setelahnya dia menghela napas, “Baiklah, kalau harus jujur aku memang tersasar. Tapi tidak seburuk itu.”
“Aku tidak tahu bahwa seorang pelaut bisa buta arah seperti itu,” kata Deshara menanggapi.
Bastien tersipu, “Navigator kami yang bertanggung jawab untuk urusan direksi di lautan.”
“Kapan-kapan kau harus menceritakan soal itu kepadaku.”
Sementara Dena yang ada diantara mereka hanya bisa menaikan sebelah alisnya. Merasa aneh lantaran baru kemarin adiknya meminta Dena mencari tahu soal Bastien, tapi pagi ini adiknya sudah bisa bicara dan terlihat akrab. Sepertinya telah terjadi sesuatu diantara mereka semalam.
“Deshara,” sela Dena kemudian, meraih lengan adiknya sedikit posesif. “Kau sedang apa, sih?” Dena berbisik ke telinga adiknya.
Deshara hanya tersenyum lebar pada Bastien, “Dena, kau kasar sekali berbisik di telingaku saat kita berada didepan Bestian,” katanya. “Emm … kau tidak mengambil hati perbuatannya kan?”
“Tidak, tapi kalau kau memang ingin berduaan saja dengan pria itu. Dengan senang hati aku akan meninggalkan kalian berdua,” sahut Bestian dan Deshara dapat langsung menangkap ada nada kesal dan kekecewaan disana.
Deshara tertawa menanggapinya. “Oh, kau pasti salah sangka. Orang ini adalah kakak tertuaku,” kata Deshara sambil menyentak lengan Dena dari tangannya sedikit kasar sehingga kini mereka berdua agak berjarak. “Kurasa dia sangat merindukanku sampai kemari di pagi-pagi. Nah Dena, ini keponakannya Josep,” tambah Deshara lagi.
“Aku tahu,” timpal kakak sulungnya itu dengan nada suara yang datar. “Kami sudah mengobrol banyak tadi.”
“Oh, jadi kau tidak keberatan mengenalkan dia padaku, kan?”
“Maaf?” kata Dena dengan nada jengkel. “Kukira kau sudah lebih dulu mengenal dia.” Kedua alis pria itu menukik, Deshara menanggapi perkataan kakaknya dengan sebuah senyuman santai.
“Kami sempat bertemu tapi tidak sempat mengobrol banyak,” jelas Deshara yang nada bicaranya agak aneh apalagi Bestian langsung menundukan kepala. “Perlu kau ketahui pula bahwa kami belum sempat berkenalan. Kau bisa memperkenalkan kami sekarang, big brother.”
“Oh begitukah? Dengan senang hati my little sister,” kata Dena sebal dengan tingkah laku adiknya. Dia tahu betul bahwa sekarang kini dia sedang dipaksa mengikuti sandiwara bodohnya lagi. “Bastien ini adikku, Deshara, dia pemilik hotel ini.”
“Bukan.” Deshara meralat segera. “Itu bukan cara memperkenalkan.”
“Tapi pemilik hotel itu sudah melekat padamu karena pernikahanmu,” Dena mendebatnya, sesaat Deshara melirik dan mendapati ekspresi wajah Bestian berubah. “Oh dear! Coba lihat bertapa prihatinnya Bastien kepada pernikahanmu, Deshara! Dan kau tidak perlu berpura-pura terkejut dan tidak tahu begitu. Kau pasti tahu kalau adikku ini seorang janda,” sambung Dena.
Seperti saudara yang kompak secara batin, Deshara mengapresiasi besar ungkapan sang kakak yang membantunya. Dan kini sekali lagi Bestian tidak mampu menyembunyikan perubahan ekspresi wajahnya.
“Oh, baiklah sepertinya itu membuatmu terlihat lebih baik,” kata Dena menyelidik. “Dan tambahan informasi untukmu, masa lajangnya sudah hampir berakhir. Dalam beberapa hari lagi dia akan segera melepaskan status jandanya dan kembali bersinar seperti layaknya kupu-kupu yang keluar dari kepompongnya. Seperti yang kau lihat, dia tampak cukup menikmati masa sendirinya dengan baik.”
Saat itu Deshara mengenakan sebuah gaun yang terbuat dari kain muslin berwarna biru tua, dengan potongan terbaru karya butik ternama dari Paris. Dilengkapi dengan kalung bermata safir senada dengan gaunnya tergantung manis dilehernya. Deshara kerap menyentuh batu tersebut, ketika dia merasa gugup.
“Kurasa suamimu adalah pria yang sangat beruntung,” kata Bastien yang kembali buka suara setelah tercengang, dan sumringah hanya dalam hitungan detik.
“Kalimatmu tidak pantas diucapkan pada seorang janda,” tegur Dena. “Seolah kau bermaksud menekankan pada kami bahwa suami adikku tidak pantas bersamanya. Meskipun aku yakin bahwa kau tidak bermaksud begitu.”
Bastien bergidik, dia sama sekali tidak menyangka soal itu. “Maaf, aku tidak bermaksud begitu.”
“Kau tidak perlu menghiraukan kakakku, dia memang selalu seperti itu sejak aku masih kecil,” kata Deshara mencoba membuat Bastien sedikit nyaman dengan situasi. “Kakakku sepertinya sedang berada dalam suasana hati yang buruk. Karena itulah ungkapan kata-katanya sedikit tajam. Kurasa kau pasti lebih suka menjauh darinya. Aku akan mengantarkanmu berkeliling hotel ini. Kita bisa menghilang bersama-sama, kalau kau mau? Bukankah sepertinya kau juga punya urusan yang kau ingin selesaikan denganku?” tambah Deshara ketika dia melihat gelagat Bastien yang sedikit ragu.
“Jika kau tidak keberatan.” Dia mengatakan hal itu seolah sedang menyakinkan Deshara dan juga dirinya sendiri. “Aku senang bila kita bisa berkeliling. Tapi bukankah kakakmu juga ingin bicara denganmu makanya dia ada disini?”
Deshara memaksakan diri untuk tersenyum. “Aku punya waktu untuk bicara dengannya kapan pun, tidak sepertimu. Jadi bagaimana?”
Dena mendengus dari balik badan Deshara. Wanita itu melirik dan menatap kakaknya sebentar. Sebelum akhirnya Bestian mengulurkan tangannya untuk wanita itu sambut. Dia tersenyum penuh kemenangan. Ini dia, para pria memang selalu lemah dengan hanya sedikit keramahan dan senyumannya.
Ya, mari mulai dengan cara ini. Deshara akan mencari tahu sambil lalu, memanfaatkan pemuda naif nan ingusan ini untuk menyelesaikan urusannya menghadapi Josep si tua bangka.
Anda Mungkin Juga Suka





