Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Godaan Sang Mantan Pacar

Godaan Sang Mantan Pacar

Nisa kembali bertemu dengan Leon, pria yang dahulu menjadi pusat dunianya. Namun, sebuah perubahan besar terjadi karena kini Nisa sama sekali tidak mengingat sosok Leon. Alih-alih cinta, Nisa justru merasakan kebencian mendalam dan berusaha menjauh dari pria tersebut. Di tengah situasi yang rumit ini, Leon harus berjuang keras untuk memenangkan kembali hati Nisa. Mampukah Leon membangun kembali puing-puing asmara saat sang wanita telah melupakan segalanya?
Bab
Bagikan

Bab 2

Nisa masuk rumah sewaan. 

Melihat sekeliling ruangan. Ruangan kecil dengan satu kamar tidur, mini dapur yang bersebelahan dengan kamar mandi dan sisa sedikit ruangan untuk dirinya duduk sejenak melepaskan lelah. Tanpa ada suasana mewah sedikit pun, sangat berbeda dengan masa lima tahunnya.

Nisa menyeret satu demi satu koper masuk ke dalam kamar. Kembali melihat sekeliling kamar,  dengan satu single kasur lantai, lemari baju dan meja rias kecil.

Nisa menghela nafasnya sesaat.

"Sabar, Nis. Kau pasti bisa melewati semua, demi mama dan dirimu sendiri, semangat Nis." Nisa menyemangati dirinya sendiri.

Dia membuka satu persatu koper, menyusun baju-baju kedalam lemari. Usai semua tersusun dengan rapi dia mengambil satu baju tidur dan handuk, ber bebersih sebelum dia tidur.

Terdengar suara bel pintu berbunyi.

Nisa meraih ponsel, menyalahkan layar dan melihat jam menunjukkan pukul tujuh pagi. Dia tidak merasa punya janji, jadi dia bangun dengan malas dan bergerutu.

"Sepagi ini siapa yang datang sih?"

Nisa berjalan menghampiri pintu dan perlahan membukanya.  Wajah Adam sudah berada di ambang pintu dengan seorang wanita.

"Pa–pagi, Dam?" Nisa canggung dengan menunjukkan wajah bantalnya.

"Maaf ganggu, Nis. Kamu baru bangun ya?" Adam terdengar merasa bersalah karena mengganggu tidurnya.

"Eh, nggak Dam, ayo masuk, maaf masih berantakan soalnya semalam aku hanya sempat merapikan beberapa barang." 

Nisa menuntun mereka masuk dan duduk di lantai dengan satu meja bundar di tengahnya.

"Maaf ya, Dam, masih seadanya, rencana hari ini aku baru akan berbelanja barang-barang."

Nisa mencoba menghilangkan rasa tidak enaknya dengan memulai obrolan.

"Nggak apa-apa, Nis. Makanya kita pagi-pagi datang, mau membantu kamu biar pekerjaan cepat selesai dan kamu bisa istirahat penuh besok sebelum memulai hari pertama kerja kamu," jelas Adam memberitahu maksud kedatangannya.

"Wah ... terima kasih banyak Dam. Eh, ini siapa, Dam?"  Nisa melirik wanita yang duduk di samping Adam. Dia terlihat malu-malu.

"Oya, ini aku perkenalkan, dia, Sarah teman dekatku. Ayo Sar." Sarah mengeluarkan tangan untuk berkenalan dengan Nisa.

"Faranisa Aznii, seenaknya kamu saja memanggil akunya, Sar." Nisa menjabat tangan Sarah dengan ramah.

"Sarah. Aku panggil, Nisa saja yah biar sama seperti Adam panggil kamu," ucap Sarah.

"Sarah jangan cemburu yah dengan kedekatanku dengan Adam, Adam sudah seperti kakak laki-laki buat aku," jelas Nisa agar tak terjadi kesalahpahaman di kemudian hari.

"Iya, Nis. Aku tahu kok, Adam sudah banyak cerita soal kamu dan keluarga sebelum kepulangan kamu," ucap Sarah yang langsung mengakrabkan diri.

"Ehem, ngobrol dilanjut nanti. Ini aku bawa sarapan dan air, kita sarapan bareng nanti keburu dingin!" sela Adam.

Suara nyaring dari perut Nisa langsung terdengar.  Berbunyi ketika mendengar kata sarapan.

"Yahh, ketahuan deh ... kalau cacing-cacing diperutku sudah kelaparan!" 

Mereka terkekeh bersama ketika mendengar candaan dari Nisa.

Beberapa jam berlalu. 

Semua sudah tersusun dengan rapi, lantai dingin tadi sudah di sulap beralaskan karpet dengan empat bantal duduk yang mengelilingi meja bundar kecil tadi. Dinding ruangan Nisa ganti dengan memakai wallpaper yang bernuansa cerah agar bisa merubah mood menjadi lebih baik.

Kulkas satu pintu yang memang sudah tersedia juga, dia sudah isi dengan beberapa bahan makanan setidaknya cukup untuk satu dua minggu. Atau Nisa berharap bisa mencukupi untuk satu bulan sebelum dirinya mendapatkan gaji pertama. Beberapa alat masak dan peralatan makan dia pun membeli.

"Kalian tunggu disini dulu ya, aku keluar sebentar!" Nisa meraih tas kecilnya yang menggantung di balik pintu.

"Aku antar Nis," Adam langsung berdiri bersiap mengantar.

"No. No. No. Thanks, Dam. Tidak usah diantar, biar aku bisa menghafal jalan juga, pokoknya kalian duduk manis disini nggak boleh kemana-mana, kalau boleh pinjamkan aku motormu?" ucap Nisa sambil menodongkan tangannya pada Adam.

"Kamu bisa naik motor? Itu motor bebek loh, Nis?" Adam setengah tak percaya sambil menyerahkan kunci motornya.

"Kamu meremehkan aku? Begini-begini aku mantan kurir pengantar makanan saat aku kekurangan uang disana," ucap Nisa menyeringai langsung menutup pintu.

Tempat sewa yang dipilih Adam adalah bangunan dua lantai. Dengan Nisa kebetulan mendapatkan bangunan lantai kedua. Nisa turun melalui tangga besi berwarna hijau, motor Adam sudah terparkir di samping tangga besi tadi.

Nisa berencana akan membelikan mereka makan siang. 

"Mungkin ke sebelah sini." 

Nisa  berpikir sambil mengendarai sepeda motor Adam melewati dua blok dan berbelok bertemu jalan raya.

"Ah, benar."

Nisa terus melajukan motor Adam secara perlahan. Dia menuju salah satu restoran siap saji. Nisa memarkirkan motor pada parkiran motor restoran makanan siap saji. 

Namun, matanya teralihkan oleh toko kue di seberang jalan.

Nisa masih berdiri menunggu mobil yang melintas lalu lalang di lampu merah. Bertepatan saat lampu merah mobil Leon berhenti. 

Mobilnya berada di bagian tengah jalan dan paling depan dekat trotoar penyeberangan jalan. Leon tampak bosan melipat kedua tangannya di dada memperhatikan orang yang lalu-lalang menyebrang jalan.

Matanya membulat lebar, kali ini siang hari, dia tidak sedang bermimpi dan Marko tidak mengajaknya minum. Sosok yang selalu dirindukan sekaligus di bencinya  tepat melintas  di hadapannya.

Tanpa ragu Leon membuka pintu mobil, disaat bersamaan dengan lampu hijau menyala. Suara klakson mobil terus berbunyi menghamburkan penglihatannya yang sudah tak mendapati sosok tersebut.

"Tuan, ada apa?" ucap Bisma, bingung melihat tingkah tuannya.

Leon membanting pintu mobilnya dengan kasar. Kesal sendiri.

"Aku yakin itu dia. Ternyata selama ini dia bersembunyi di kota ini. Pantas saja orang-orang suruhanku tak bisa melacak keberadaan, ternyata dia bersembunyi di lubang yang aku duduki."

Leon meracau dalam hati, seperti sosok dua tanduk monster berkepala merah tiba-tiba saja muncul dijiwanya.

"Putar mobil, aku mau ke toko kue itu," perintah Leon  meyakini bahwa sosok yang dicarinya masuk kedalam toko kue.

"Lihat pembalasanku. Ketika aku menemukanmu, aku pastikan kali ini akan mengikatmu lebih erat. Kalau perlu aku pasangkan rantai di lehermu."

Nisa sibuk memilih beberapa roti dan satu kue berukuran kecil untuk sekali santap. Sudah mendapatkan yang dia mau segera membayarnya.

Mobil Leon masih belum terparkir dengan benar.  Dia langsung membuka dan menerobos keluar.  Leon berlari ke dalam toko kue, matanya terus berkeliling mengawasi setiap sudut. Namun, sosok yang dicarinya tak ditemukan.

"Ah, shit. Dia menghilang lagi. Aku yakin kali aku tak salah lihat."

Batin Leon bertambah kesal karena dia tetap kalah cepat mengejar sosok tersebut.

"Ada apa, Tuan? Akan sangat berbahaya jika Tuan berlari seperti tadi," Bisma lari tergagap mengejar tuannya yang seperti sedang mengejar maling.

"Kau ingat dulu aku pernah menyuruhmu menyelidiki seseorang? Apa orang-orang mu sedang membohongiku, hah?" Leon langsung menarik kedua kerah kemeja Bisma menahan amarahnya dengan eratan gigi yang terdengar jelas.

Bisma mencermati semua ucapan yang keluar dari mulut tuannya lalu dia mengingatnya, "Saya tidak berani, Tuan. Mana mungkin saya membohongi anda, memang benar tidak ada jejak tertinggal untuk orang itu," sahut Bisma dengan tubuhnya yang sudah bergetar.

"Kalau begitu, cari lagi dia. Selidiki ulang dimana keberadaan dia sekarang. Aku menginginkan data itu sampai di tanganku paling lambat hari senin!" 

Perintah Leon sambil menghempaskan kasar kerah kemeja Bisma yang sudah dicengkramnya tadi.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel CANDU CINTA CEO AROGAN
9.7
Erlan Levin adalah CEO sukses di Jakarta yang terus menghindar dari desakan menikah keluarganya. Namun, hidupnya berubah total saat ia tertangkap basah berada di satu kamar dengan gadis asing. Terjepit situasi memalukan ini, ia terpaksa menikahi wanita yang sangat disukai keluarganya itu. Kini, sang istri harus berjuang memenangkan hati Erlan yang dingin. Akankah cinta tumbuh di antara mereka, atau ia hanya akan menjadi sosok yang terabaikan?
Sampul Novel CINTA DI ANTARA TASBIH DAN ROSARIO
8.5
Pertemuan dan perpisahan adalah bagian dari garis takdir yang tak terelakkan. Sepasang kekasih terjebak dalam dilema besar saat cinta tulus mereka terbentur tembok perbedaan yang nyata. Di tengah tangis dan dekapan erat, sang pria berusaha meyakinkan bahwa perasaan mereka tidaklah salah. Namun, perbedaan keyakinan menjadi ujian berat bagi masa depan mereka. Di dunia di mana jodoh dan maut telah tertulis, mampukah mereka bertahan saat takdir seolah memaksa untuk menjauh?
Sampul Novel Forgive Me, I can't Stop Loving You
8.8
Dua tahun Nia berjuang meluluhkan hati Raka, tetangga sekaligus kakak sahabatnya yang bersikap kasar dan dingin. Harapannya hancur saat Raka mengumumkan pertunangannya di depan umum tanpa peduli pada perasaan Nia. Memilih menyerah, Nia pun menghilang tanpa jejak dari hidup lelaki itu. Enam tahun berlalu, takdir mempertemukan mereka kembali. Raka tertegun saat melihat Nia bersama seorang anak laki-laki yang memanggilnya Bunda dengan penuh kasih sayang.
Sampul Novel Gairah panas sang presdir
8.0
Joshua berubah menjadi pria dengan gairah seksual berlebih yang tak terkendali setelah dikhianati oleh kekasih masa lalunya. Luka perselingkuhan itu mengubah kepribadiannya secara drastis tanpa ia sadari sepenuhnya. Namun, takdir mempertemukannya dengan seorang mahasiswi muda dalam sebuah pertemuan yang tidak terduga. Akankah kehadiran gadis ini mampu menyembuhkan trauma Joshua dan mengembalikannya menjadi sosok pria yang dulu, atau justru memperumit keadaan?
Sampul Novel Hasrat Liar Darah Muda
8.1
Firhan Ardana, pemuda 24 tahun, memulai karier magangnya di kota asal sembari menghadiri reuni SMP yang penuh kenangan. Namun, pertemuan itu justru menjeratnya dalam pusaran gairah yang rumit. Ia terjebak di antara pesona Puspita yang misterius, daya tarik Meilani yang blak-blakan, serta godaan berbahaya dari sang primadona, Azaliya. Di tengah gejolak darah muda, Firhan harus menghadapi konflik batin antara cinta dan nafsu yang mengaburkan batas moralitasnya.
Sampul Novel Kau Bersandiwara Seolah Tak Bersalah
8.0
Pernikahan Nadira hancur seketika saat terungkap bahwa Fadlan, calon suaminya, masih berstatus suami orang. Demi menutupi aib keluarga besar, Nadira terpaksa menyetujui usulan ibunya untuk menikahi Rafli, tetangga duda yang dingin dan jauh lebih tua. Meski awalnya menolak karena asing, Nadira mulai melihat sisi lembut dan tanggung jawab di balik ketegasan Rafli. Kini ia harus beradaptasi dalam pernikahan mendadak ini dan menemukan makna cinta sejati.